A Day With OldSis

1875 Words
Hari bersama seorang Kakak. Menyenangkan atau tidak? -Adhitakarya Nagara Bahkti- "Kak?" panggilku setelah membuka pintu kamar Kak Sena tanpa mengetuknya lagi. Alhasil, boneka biru mendarat di wajah imutku. "Kakak ih!" keluhku mengembalikan boneka itu dengan amarah saat melemparnya ke arah Kak Sena. Sayangnya Kak Sena pintar menghindar. "Ya, habisnya! Bilangin Papa loh!" bangkit dari tempat berbaring nya. "Apa-apa ngadu sama Papa, dipikir Papa itu SapaMas Karanganyar apa? Yang setiap hari menerima keluhan warga Karanganyar." Ya, SapaMas Karanganyar, merupakan program dari Bupati Karanganyar, di mana semua warga bisa melaporkan keluhan ataupun pengaduan lewat SMS maupun w******p. "Isshh," desah Kak Sena kesal. "Ngapain sih?" Sedikit mengangkat dagunya. Angkuh sekali. "Ke asrama yuk, Kak, nemuin Om Jodan. Kemarin dia janji mau cerita soal pendidikan infanterinya dulu sampai bisa masuk Kostrad. Belum selesai soalnya cerita itu," pintaku memasang wajah yang memelas, karena biasanya hanya ini cara yang berhasil. "Ogah!" jawabnya cepat dan tegas. Harus pakai cara yang lain kalau sudah begini. Sebenarnya tak masalah jika aku pergi sendirian, tapi nanti nggak ada temen ngobrol di jalan. Jarak rumah dan asrama tidak begitu jauh, mungkin satu kilometer. Oke, itu jauh atau tidak? Jauh memang kalau jalan kaki, tapi aku dan Kak Sena biasa begitu. Jalan kaki kalau mau ke asrama. Memangnya tidak ada motor? Ada kok, ada motor Papa, ada mobil juga, tapi kami belum punya SIM. Jadi itu barang haram bagi kami. "Kak," rengekku lebih memelas lagi. "Nggak mau, Dik!" pelan tapi menekan. "Lagian kakak di sana nanti cuma bengong doang." "Ya, nggak bengong doang lah, tebar-tebar pesona kek sama Perwira baru. Itu si Letda yang baru bulan lalu tugas di tempat Papa." Memang ada seorang Perwira yang baru aku kenal, dia komandan Om Jodan. "Ganteng banget uluh-uluh." "Nggak minat, Dik. Yang doreng-doreng sampai kapan pun nggak minat!" mendorong tubuhku untuk menjauh dari tempat tidurnya. "Ih, awas ya kalau sampai dapat jodoh tentara," umpatku kesal berlalu pergi meninggalkan kamar Kak Sena. "Nggak akan!" tolakan yang berlebihan. Siapa yang tahu ke depannya bagaimana? Belum tentu Kak Sena tetap teguh pada pendiriannya kan? Ingat ada Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati manusia. "Semoga dapat jodoh tentara," teriakku dari luar kamar Kak Sena. "Aamiin." Kemudian aku berlari menuju kamarku sendiri. Berhubung aku masih kesal dengan Kak Sena, hanya ada satu obatnya. Dengerin lagu-lagu TNI dengan volume tertinggi. Siapkan laptop, siapkan speaker, siapkan camilan, siapkan minum, lagu siap diputar. Tentara Nasional Indonesia Siap mempertahankan Negara Dengan sumpah prajurit dan Sapta marga Kobarkan semangat Pancasila Tentara Nasional Indonesia Siap membela Nusa dan Bangsa Membangun persatuan dan kesatuan Di darat di laut di udara Prajurit TNI Patriot Nusantara Bersama rakyat bangun negeri tercinta Negara Republik Indonesia Tinggalkan Ayah tinggalkan Ibu Izinkan kami pergi berjuang Di bawah kibaran Sang Merah Putih Majulah ayo maju menyerbu... Serbu Tidak... Brakkk! Kak Sena membanting pintu kamarku. Aku hanya menoleh padanya santai. Tidak ada yang salah, kan? "Matiin nggak!" pintanya dengan wajah garang itu. Tahu serial kartun dari Malaysia, kan? Dia punya kakak yang galak. Nah, kakaknya itu sama kaya Kak Sena. Galak, garang, menakutkan. "Nggak!" tolakku sedikit mengecilkan volume musik. Kak Sena mendekat padaku. Meraih speaker yang baru dua bulan di belikan Papa. Speaker bercorak army. "Apa sih, Kak?" Mencoba meraih speaker milikku yang sudah di tangannya. "Mana, Kak?" sedikit memelas. "Nggak!" Kak Sena melenggang keluar dari kamarku. "Kakak tuh bosen ya, bisa nggak sih rumah ini tuh bebas dari dunia tentara? Sekali-kali ngertiin kakak lah, kakak nggak suka dunia tentara," bentaknya di ruang keluarga. Di depan kamar kami berdua. Terlihat frustasi. "Lagian siapa yang maksa kakak buat suka sama tentara? Papa sama Mama nggak maksa kakak kan?" suaraku ikut meninggi. "Papa emang nggak maksa, Dik, tapi kenapa ngasih nama Sad Satya Sri Sena? Kenapa Papa juga pengen kakak jadi tentara?" Mata Kak Sena sudah memerah. Mungkin akan jatuh hujan itu dari sana. "Papa kan cuma pengen, Kak, Papa nggak maksa kita. Mau kakak mengabulkan keinginan Papa atau tidak, itu urusan kakak, itu hak kakak. Jangan benci dunia Papa, dunia tentara!" Menurut anjuran Nabi Muhammad SAW, jika kamu marah saat berdiri, maka duduklah. Untuk itu aku duduk sekarang. Begitupun Kak Sena. "Ya, keinginan Papa agar kakak jadi tentara itu, Dik! Itu yang akhirnya membatasi gerak kakak, kalau kakak nggak mengabulkan keinginan Papa, kakak pasti bikin Papa kecewa tapi kalau kakak mengabulkan keinginan Papa, kakak nggak suka! Kakak nggak suka dunia Papa!" tangis Kak Sena pecah. "Ya, kenapa, Kak?" "Kamu tuh nggak pernah ngerti ya, Dik? Dunia Papa, dunia tentara itu sudah merebut semuanya dari keluarga kita. Sekarang dunia itu juga akan merebut kamu. Dik, dunia itu sudah merebut waktu, merebut kebersamaan, merebut perhatian, bahkan merebut cinta yang seharusnya untuk keluarga ini." Kak Sena semakin menjadi. Aku diam. Memang dunia Papa merebut semuanya. Tapi negara tetaplah yang utama, tidak bisa juga dikatakan bahwa dunia itu merebut semuanya dari kami. "Papa mau bicara sama kakak dan adik. Cuma ada waktu hari ini," kata Mama yang entah kapan sudah berdiri di dekat pintu masuk ke ruang keluarga. Aku dan Kak Sena menatap Mama. Kak Sena segera menghapus air matanya. Kemudian Mama mendekat dan memberikan ponselnya pada kami. Mama pergi setelah Kak Sena menerima ponsel Mama. Ponsel yang sudah sejak tadi bergetar karena panggilan video call dari Papa. Kak Sena mengangkatnya, kemudian mengarahkan kamera depan ponsel Mama padaku. "Pa," panggilku parau. Hampir saja menangis karena ucapan Kak Sena tadi. "Adik berantem ya sama kakak?" tebak Papa untuk pertama kalinya setelah dua Minggu lebih tak ada kabar. Beliau terlihat lelah, seragamnya kucel berwarna cokelat. "Nggak kok, Pa," jawabku bohong. Papa pasti tidak percaya. Beliau pasti bisa tahu kami berantem atau tidak. "Terus kakak mana?" Aku langsung memutar pergelangan tangan Kak Sena agar kamera depan ponsel bisa merekam wajahnya. "Kakak habis nangis?" tanya Papa pada Kak Sena. "Papa kapan pulang?" tangis Kak Sena kembali pecah. Kak Sena tidak peduli dengan pertanyaan Papa. "Sebentar lagi, Kak," jawab Papa begitu tenang. "Kak, Dik. Dengerin Papa, ya?" Berubah begitu serius. Aku bergeser ke dekat Kak Sena, agar papa juga bisa melihatku. "Kalian kan sudah pada besar, sudah masuk SMA, sudah masuk SMP, sudah bukan waktunya berantem kaya Tom and Jerry. Dari tadi Papa telepon ponsel kalian tapi nggak diangkat, sampai akhirnya Mama harus pulang dari toko biar kalian bisa bicara sama Papa. Mama sudah capek di toko, Nak. Terus pulang harus lihat kalian berantem, tahu kan gimana perasaan Mama?" Berbicara lembut pada kami. "Nih, minum dulu, Kak. Adik juga," Mama dengan penuh kasih sayang dan kelembutannya memberiku dan Kak Sena segelas air putih, masing-masing. Kak Sena menatap wajah lelah Mama, sejenak lalu pergi bersama dengan tangisannya. Tidak peduli dengan segelas air putih pemberian Mama. Melempar ponsel yang masih menampakkan wajah Papa. Aku langsung memungut ponsel Mama. Hendak mengikuti Kak Sena ke kamarnya. Kak Sena pasti masih merindukan Papa. Waktu Papa tak banyak, jadi harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidak bisa terus-menerus waktu habis untuk membuat drama. Mama menahan tanganku. "Kakak butuh waktu untuk sendiri," kata Mama menyunggingkan senyumnya padaku. "Kakak marah?" tanya Papa sedikit samar. Kalah dengan suara angin di sana yang terdengar begitu kencang. "Kakak cuma butuh lantai untuk bersujud, Pa," jawab Mama. Kak Sena itu punya dua level kesedihan. Yang pertama, kalau Kak Sena sedih dalam kategori ringan, misalnya nilainya jelek, dimarahin guru atau yang lainnya. Kakak hanya butuh bahu Mama atau yang paling mujarab, bahu Papa untuk bersandar. Yang kedua, kalau level kesedihannya parah, seperti sekarang ini. Maka yang dibutuhkan Kak Sena adalah lantai untuk bersujud pada yang Maha Kuasa. "Adik jangan berantem terus sama Kakak ya, Dik. Nggak baik, kalian kan lahir dari rahim yang sama," nasihat Papa padaku. Entah kenapa, selalu aku yang Papa nasehati untuk tidak berantem dengan Kak Sena, padahal Kak Sena juga memulai pertengkaran. Seperti harus aku yang mengerti dan mengalah sama Kak Sena. "Iya, Pa," menurut saja pada Papa, walaupun terkadang aku akan bertengkar lagi dengan Kak Sena. Hariku bersama dengan Kak Sena memang selalu menyebalkan. Tapi kami saling merindukan saat berpisah. Seperti saat Kak Sena masih SMP. Ada acara kemah tiga hari. Dan aku sangat merindukan Kak Sena waktu itu. Sampai memaksa Mama untuk mengantarkan aku menjenguk Kak Sena di Bumi Perkemahan Cakra Palawasri, Delingan, Karanganyar. Entah terjadi dengan kakak-adik yang lainnya atau hanya aku dengan Kak Sena saja yang begini. "Papa nggak bisa lama-lama video call-nya. Gantian sama prajurut lainnya. Cuma ada ponsel Papa yang boleh diambil, Dik. Jaga Mama dan Kakak, ya? Ingat syarat jadi tentara itu harus bisa jaga keluarga sebelum jaga negara," memberiku pesan seperti biasanya saat Papa berada di jauh. Ketika tugas negara menciptakan jarak antara kami semua. "Siap, Pa!" ucapku tegas. "Papa nggak mau bicara dulu sama Kakak?" tanyaku. Aku memang sering bertengkar dengan Kak Sena, tapi aku tetap peduli dengan kondisi psikisnya. Kalau Kakak tidak cukup puas bicara dengan Papa mungkin Kakak akan gila. Dan kalau Kakak gila, kan nggak mungkin orang waras berantem dengan orang gila. "Iya, coba sebentar saja ya." Papa setuju. "Kak, Papa mau pamitan ini, nggak bisa lama-lama," seruku setengah berteriak dari tempat dudukku. Sedangkan Mama sudah berada di depan pintu kamar Kak Sena dan hendak mengetuknya. "Kak, sebentar saja, Kak." Mama berseru pelan. "Bilang aja cepet pulang, Ma," seru Kak Sena dengan suara sendunya dari dalam kamar. Kak Sena selalu seperti ini, tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Dan pada akhirnya akan menyesali juga menyalahkan orang lain. Terutama menyalahkan negara, Kakak selalu bilang negara tidak memberi waktu lah, negara selalu menjauhkan jarak lah atau apalah itu. Tapi ketika negara memberiku waktu Kak Sena tidak memanfaatkan itu, ketika negara juga mendekatkan jarak Kakak juga tidak memanfaatkan momentum itu dengan baik. Ah, ya begitulah Kak Sena. "Hemmm." Mama menyerah dan kembali duduk di sampingku. "Cepet pulang katanya, Pa." "Ya, pasti Papa akan segera pulang. Titip anak-anak ya, Ma. I love you." Menyunggingkan senyum beliau untuk Mama. Meski Papa selalu memberi kesusahan untuk Mama, selalu memberi hal-hal yang menyiksa untuk Mama, baik waktu, jarak, maupun tanggung jawab kepala keluarga yang terabaikan tapi sumber kebahagiaan Mama adalah Papa, laki-laki yang begitu dicintai adalah Papa, laki-laki yang menguatkan Mama adalah Papa. "I love you too, Pa. Mama pasti jaga anak-anak. Pulanglah dengan selamat." Mama juga memberi senyum termanis beliau untuk laki-laki yang paling dicintainya. Sudah biasa aku melihat Mama dan Papa seperti ini. "Sudah dulu ya, Ma, Dik Adhit. See you. Assalamualaikum," pamit Papa dan video call langsung terputus. Padahal aku dan Mama belum sempat membalas salam dari Papa. Pasti prajurit lain juga sudah tidak sabar untuk segera menghubungi keluarga mereka masing-masing. Terlebih yang berangkat latihan kali ini adalah prajurit yang sudah memiliki anak. Bahkan kata Papa salah satu diantara mereka ada yang anaknya baru saja lahir. Kasian ya? Aku beralih pada pintu kamar Kak Sena setelah memberikan ponsel kepada Mama. Terlihat Kak Sena mengintip dari celah pintu yang terbuka. Kakak pasti ingin sekali berbicara lagi dengan Papa tapi pasti dia tidak bisa menahan tangis juga amarahnya. Terlambat sekali! "Kakak kalau disuruh bicara nggak mau giliran sudah selesai ngintip-ngintip gitu," celetukku dengan senyum mengejek. Sebenarnya agar Kak Sena tidak larut dalam kesedihan. Pasti banyak yang sedang bergejolak di dalam hatinya, dimana itu semua membuat Kakak sedih. "Apa kamu, Dik?" Seru Kak Sena kesal lalu membanting daun pintu dengan kasar. "Adik ini suka banget bikin Kakak marah!" Mama menepuk bahuku lembut. Habis mau bagaimana lagi, kemarahan Kak Sena adalah kebahagiaan bagiku. Haha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD