Identitas dan Teman Baru

1622 Words
Mengungkap Identitsaku? Aku tidak mau! Karena aku benci kenyataan itu. Kemudian datang seorang teman yang mengerti kebencianku. -Sad Satya Sri Sena- Aku terus menutup nama dadaku saat orang-orang mulai melirik badge nama di d**a kananku. Aku tidak mau mereka bertanya arti namaku, karena berdasar pengalamanku memang begitu. Mereka yang tahu nama panjangku pasti bertanya apa artinya? Lebih baik kalau aku memperkenalkan diri dengan nama panggilan ku, tanpa mereka harus tahu nama panjangku. "Nama kamu siapa?" tanya seorang perempuan yang duduk di sebelahku. Hari ini hari terakhir kami para siswa baru menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah dan aku belum mengenal siapa pun di sini. Baru perempuan ini juga yang mengajakku berkenalan. "Sena. Kamu?" Tidak akan aku sebutkan nama yang lebih panjang dari itu. "Aku Nitya." Mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Aku membalasnya. Sudah empat hari ini kami selalu duduk berdampingan, melewati masa pengenalan lingkungan sekolah yang sangat membosankan. Tapi kami baru saja berkenalan. Memang kami yang sama-sama gengsi memulai perkenalan atau memang aku saja yang sebenarnya terlalu menakutkan untuk dia. Ah, toh mau diajak kenalan atau tidak, cukup tahu namaku Sena. "Kamu yang ada diperingkat satu kan?" tanyanya setelah semua terasa agak hangat. "Iya," jawabku sedikit lesu. Berarti dia tahu nama panjangku. Nama itu terpampang di situs web resmi sekolah ini, tapi kenapa tadi bertanya siapa namaku di awal? Basa-basi saja, kah? "Nama yang bagus. Bukan mawar penghias taman tetapi melati pagar bangsa," pujinya dan begitu lengkap dengan artinya. Bagaimana dia bisa tahu arti namaku? Argh, membuat perkenalan ini begitu menyebalkan, seharusnya tidak aku tanggapi tadi. "Jangan bahas soal nama, aku tidak suka," celetukku ketus. "Oh, I'm Sorry, Sena. I don't know about it." Wajahnya merasa bersalah lalu terdiam. Dari sekian juta ratus manusia yang tahu arti namaku, hanya Nitya yang respon akhirnya seperti ini. Mengucapkan maaf dan diam tak lagi mengungkit namaku. Biasanya, "Loh kenapa orang nama kamu bagus kok? Tahu nggak orang tua kamu itu ngasih nama yang indah, malah nggak terima. Nama itu doa loh?" Intinya mereka semua menyalahkan aku karena tidak menerima nama panjangku, tapi Nitya tidak. Atau karena dia memang tidak akan menyalahkan aku sekarang, tapi nanti? Ah, tidak tahu. "Em..." Aku ingin mencairkan suasana yang kaku, karena sikapku yang ketus, memintanya tidak membahas soal nama panjangku. "Kamu kenapa nggak nyalahin aku kaya yang lain? Karena aku tidak suka dengan namaku." Sebenarnya lebih ke penasaran, kenapa si Nitya ini berbeda dari yang lain? "Hehe." Nitya tertawa lembut. "Hak kita kan suka atau tidak dengan nama kita sendiri? Tapi juga hak orang tua kita mau ngasih nama apa. Kan kita nggak bisa milih. Masa iya baru lahir bisa langsung protes, 'Jangan kasih aku nama itu, Pa atau Ma.' Hahaha," penjelasan yang tegas darinya diikuti candaan tak masuk akal. Membuatku ikut tertawa bersamanya. Baik lah, setidaknya ada satu teman yang mengerti aku. Bukan hanya bisa menyalahkan aku. "By the way, kita satu kelas loh." Nitya dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Dia tahu saja kalau aku juga tidak betah lama-lama membicarakan namaku. "Kok tahu? Belum ada pengumuman deh." Sekolahku ini memang sedikit unik. Pembagian kelas biasa dilakukan pada masa orientasi hari terakhir, seharusnya setelah ini. Maka, masuk sekolah pertama, para siswa di sini tidak tahu dia masuk kelas sepuluh apa? Sepuluh satu kah? Sepuluh dua kah? Semua akan terjawab di hari terakhir masa orientasi, tapi Nitya sudah tahu. "Dari kakak kelas tadi, katanya pembagian kelas untuk siswa kelas sepuluh di sekolah ini berdasarkan peringkat. Jadi ranking satu sampai tiga puluh di kelas sepuluh satu, rangking tiga puluh satu sampai enam puluh di kelas sepuluh dua, begitu seterusnya. Aku peringkat lima, jadi kita sekelas," jelas Nitya. "Oh, gitu ya?" Aku mengangguk paham. "Tapi yang tidak aku suka dari sistem ini adalah menimbulkan kesenjangan dan kesan diskriminatif," dugaan awalku Nitya adalah orang yang suka mengkritik, orang yang detail, orang yang dewasa. "Gini loh, seolah-olah orang awam melihat kalau kelas paling pintar itu kelas sepuluh satu. Padahal nggak ada yang bisa jamin itu, kan? Kadang hidup juga bicara soal keberuntungan kan?" Nitya begitu bersemangat. "Tapi kamu masuk sepuluh satu loh? Harusnya yang bilang begini anak sepuluh lima," selorohku. "Kan mereka yang berada seolah-olah di bawah padahal mereka sebenarnya punya kecerdasan yang tidak banyak orang tau." Maksudku seharusnya Nitya bersyukur bisa masuk ke kelas yang biasa dipandang sebagai kelasnya orang-orang pintar. Kalau aku sendiri, mau di kelas mana pun aku tidak peduli. Yang terpenting aku belajar yang giat dan bisa kuliah. Otakku harus pintar dan fisikku harus lemah. Karena kalau otak pintar, fisik kuat aku harus jadi tentara. Nah kalau fisikku lemah kan aku bisa menggunakan otakku saja. "Ya, aku mewakili mereka. Gimana ya? Kita kan harus punya kepekaan sosial ke depannya gimana, Sena. Ya mungkin mereka yang di kelas lain nggak masalah, tapi yang tidak aku suka adalah anggapan orang bahwa kelas sepuluh satu itu tempatnya orang-orang pintar. Seakan kelas yang lain bukan orang pintar. Itu aja sih. Padahal kan sama aja, sama-sama manusia, sama-sama makan nasi. Ya paling nggak orang lain anggap sepuluh satu itu sama dengan yang lain." Nitya begitu emosional. Entah apa yang merasuki jiwanya, atau memang dasar orangnya begitu. "Iya sih, apalagi beberapa wali murid kadang begitu mempermasalahkan anak mereka yang tidak bisa masuk ke kelas sepuluh satu atau sepuluh dua misalkan. Padahal kelas juga tidak mempengaruhi nilai akademik nantinya, yang mempengaruhi mungkin lingkungannya, teman-temannya itu. Kalau temannya suka belajar pasti juga ikut giat belajarnya, kalau punya temen yang suka mengkritik dan berpikir kritis macam kamu ini mungkin aku juga akan seperti kamu." Itu sebenarnya antara sindiran dan godaanku saja. Aku tak begitu paham. Atau memang kepekaan sosial ku tak begitu bagus. "Haha haha, bisa saja kamu, Sena." Kami tertawa bersama. Aku menutupi identitasku dan aku mendapatkan teman baru yang begitu hangat. Nitya Gatri Guwana. "Waktu istirahat pertama sudah habis. Semua peserta diharapkan segera masuk ke dalam ruangan dalam hitungan ke sepuluh," suara lantang seorang laki-laki, yang ku tahu dia senior kelas sebelas. Wajahnya tidak asing lagi, semua senior yang terlibat dalam acara ini sudah tidak asing lagi bagiku. Tapi kenapa yang satu ini terasa begitu dekat. "Ganteng, ya?" Nitya berbisik di telinga kananku. "Suka?" alisku ikut menggoda Nitya. "Iya, suka gantengnya saja. Doi anak pengusaha, Sis. Nggak berani lebih jauh," jelas Nitya tak mengalihkan pandangannya matanya pada senior yang sudah menghitung. "Ya, lebih baik dari pada anak tentara," celetukku ingat akan Papa yang belum kembali bahkan belum menghubungi kami, sudah dua Minggu. "Kenapa kalau anak tentara?" Nitya bertanya padaku tetapi tetap fokus pada sang senior pujaannya. Senior tinggi, tampan? Ya sedikit, kharismatik? Ya bisa jadi. "Nggak suka aja, jadi anaknya tentara kan nggak enak," keluhku tanpa sadar. Nitya langsung menatapku tajam. "Kamu anaknya tentara kah?" Membuatku tersadar. "Em... Em..." Aku bingung. Nitya sudah begitu hangat denganku dalam waktu yang singkat, dia juga bukan orang yang mempermasalahkan banyak hal terkait pribadiku, terkait hakku, mungkinkah aku menutupi kenyataan ini dari Nitya. Kenyataan kalau aku tidak suka punya Papa seorang prajurit. Karena itu menyakitkan dalam segala hal. Tapi kalau aku mengutarakan yang sebenarnya, apa Nitya akan bereaksi sama dengan teman-temanku sebelumnya? Huah! "Sena!" teriaknya keras sampai membuat senior di depan mengalihkan pandangannya pada kami. "Kalian ngapain?" Memicingkan mata pada kami berdua. "Maju kalian!" bentaknya. Aku langsung mendorong tubuh Nitya untuk maju lebih dulu. Walaupun pada akhirnya kami berdua maju bersama-sama. "Kalian ngapain tadi? Ngobrol?" galak sekali ini senior. "Tidak, Kak," jawab Nitya merasa bersalah. "Bohong!" bentaknya sedikit melembek. "Iya, Kak, ngobrol," jawabku tidak merasa bersalah. Menampilkan wajah ketusku. "Ngobrolin apa?" Loh, ini senior kepo sekali sih. Tapi harus dihadapi, walaupun sistem MOS dengan k*******n telah dihapuskan seperti penjajahan di atas dunia yang harus dihapuskan akan tetapi hukum bahwa senior selalu benar tetap berlaku. "Banyak hal, Kak," jawab Nitya mendahuluiku. Nitya jauh lebih tenang dan sopan dibandingkan aku. "Kalian itu!" Sudah berada dititik kejengkelannya, lihat saja bibir indah yang menahan amarah itu. "Hey? Indah? Ya kali! Apa yang baru saja aku ucapkan?" batinku. Aku diam. Nitya juga. Ratusan pasang mata sedang memperhatikan kami di depan aula. Beberapa orang bahkan mengolok kami. "Perkenalkan dulu nama kalian? Setelah itu minta maaf karena kalian kegiatan pagi menjelang siang ini terhambat," memberikan microphone padaku. Aku melempar itu pada Nitya. Biar Nitya saja yang memulainya. Berhubung Nitya bukan orang yang punya masalah, dia memulainya dengan mudah. Memperkenalkan namanya beserta dengan alasan kenapa ayahnya memberikan nama itu. Menurutnya, nama yang orang tua Nitya berikan itu berasal dari pataka yang ada di TNI AU lalu di gabungkan. Entah lah, aku tidak tertarik. Hingga tiba giliranku. "Perkenalkan nama saya, Sena. Saya minta maaf karena saya memperlambat acara pada hari ini." Kemudian memberikan pengeras suara itu pada senior yang badannya menjulang tinggi ini. "Gitu aja?" tanya si senior manis. "Nama panjangnya siapa? Artinya apa? Orang tua kerja apa? Hobi?" Dua terlihat begitu berkeringat. Padahal ini ruangan ber-AC. "Cukup panggil saya dengan Sena. Dan kakak kok kepo sekali ya soal saya? Suka sama saya?" tanyaku sedikit memojokkan dia. Membuatnya begitu kaku. Padahal aku biasa saja. Mungkin sorakan dari seluruh siswa baru yang menggema ini membuat Kakak kelasku ini kaku. "Em..." Semakin terlihat canggungnya. "Du... duduk!" perintahnya hampir saja gagap. "Kamu gila ya? Lihat tuh, langsung keringat dingin," bisik Nitya sambil mentertawakan senior itu tadi. Haha. Salah sendiri terlalu kepo soal nama dan kehidupan pribadiku. Dia siapa memangnya? Pokoknya sampai kapanpun, mungkin sampai umurku 32 tahun. Karena itu batas umur menjadi Perwira TNI, itupun Perwira Prajurit Karir yang lulusan S1. Ya, intinya sampai saat itu aku bertekad untuk mengenalkan diriku sebagai Sena, mengenalkan Papa tidak sebagai tentara, cukup tahu kalau itu Papaku. Setelah 32 tahun aku akan mengenalkan diriku sebagai Sad Satya Sri Sena. Aku duduk kembali ke tempatku sebelumnya. Tunggu, aku ingat, dia kan senior yang datang ke toko kue Mama sama anaknya pelanggan Mama itu? Ah, lupa aku kalau pernah bertemu sebelumnya di luar sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD