Pandangan Pertama

2379 Words
Cinta Pandangan Pertama? Aku tak percaya itu -Manggala Yudha- "Libur tlah habis, libur tlah habis, ayoo sekolah..." kiranya begitu lirik laguku di pagi hari ini. Setelah tidak genap dua Minggu libur panjangku. Sebagai salah satu pengurus OSIS, jelas tidak bisa aku menikmati libur sepanjang siswa lainnya. Aku tetap masuk dan ikut membantu PPDB, Penerimaan Peserta Didik Baru. Tak apa, hitung-hitung mengisi waktu liburan yang pastinya akan sangat membosankan. Hari pertama masuk setelah libur panjang pun tidak bisa aku gunakan untuk langsung mengikuti pelajaran. Aku harus mengurus beberapa hal di acara Pengenalan Lingkungan Sekolah atau yang biasa disebut dengan MOS, Masa Orientasi Siswa. Bahkan aku adalah orang kedua yang bertanggung jawab atas acara ini, setelah sang ketua OSIS yang masih aktif. Ya, dengan kata lain aku adalah wakil ketua panitia sekaligus wakil ketua OSIS di sekolahku sekarang ini. Sekolah Menengah Atas terfavorit di Karanganyar, kalian yang orang Karanganyar pasti tahu. Aku siswa kelas XI IPA 1. Kedengarannya pintar, tapi tidak juga, berpikirlah jernih bahwa kepintaran tidak ditentukan dimana kelasmu berada. "Hey, Yudha," panggil seseorang yang tidak asing lagi dari depan aula sekolah, sang ketua OSIS. Mungkin dia sudah menungguku, aku memang sedikit terlambat dari waktu yang telah dijanjikan, satu menit mungkin waktu keterlambatanku. "Ya, Kak sebentar," berlari kencang menuju ruang OSIS untuk meletakkan tasku. Aku seorang pelari yang cepat, jadi tidak butuh waktu yang lama. Tapi... Brukk... Kejadian ini membuat waktuku tidak lagi singkat. "Maaf, Kak, maaf," ucap seseorang yang masih mengenakan seragam putih-birunya. Jelas dia adalah siswa baru. Aku membantunya untuk bangkit. "Maaf," ucapku sedikit kaku, karena parasnya yang cantik begitu menggodaku. Kulitnya putih bersih dan rambut pendeknya yang terurai rapi, juga senyum bersalahnya yang begitu menyejukkan hati. Timbul tanya, siapakah gerangan yang di depan mata? Siswi baru nan cantik bak Rapunzel yang telah berambut pendek ini segera menutup nama d**a-nya yang cukup panjang. Sepertinya dia tahu jika aku sedang menanyakan namanya di dalam hati. Tunggu, kenapa harus ditutup, ada masalah dengan namanya atau tampangku seperti dukun? jadi dia pikir aku akan menyantetnya kalau aku tahu nama-nya, tapi itu pemikiran yang sangat kuno. Cukup sudah aku terpesona oleh parasnya. "Maaf ya," aku langsung berlari menuju aula. Siap menerima hukuman sesuai kesepakatan dan menerima cacian dari beberapa senior. Bisa-bisanya seorang wakil ketua OSIS terlambat, baru kali ini aku terlambat, biasanya aku tepat waktu. Mungkin mereka akan memaafkan aku dan memaklumi keterlambatan pertamaku. "Push up dulu, dua porsi!" perintah sang ketua OSIS begitu aku datang dan menghadap. Hanya dua porsi, padahal seharusnya lebih dari itu. "Siap, Kak!" Apes sekali aku hari ini. Tahu, semua ini awalnya salah siapa? Salah Ayah yang terlalu sibuk dengan telepon-nya. Urusan bisnis katanya. Sampai lupa kalau harus mengantar putra keduanya. Ayah memang pengusaha terkenal di Solo Raya, Alhamdulillah atas nikmat Tuhan, maka tak pantas pula aku menyalahkan Ayah. Setelah hukuman ringan yang aku jalani bahkan saat kabut Gunung Lawu baru saja turun, sekarang waktunya bekerja. Pengenalan lingkungan sekolah untuk siswa baru sudah dimulai. Zaman sekarang sudah enak, MOS yang berat sudah dilarang. Kalau tahunku, lebih tepatnya satu tahun yang lalu. Berat sekali, pakai acara jalan jongkok, push up, sit up setiap saat, belum lagi disuruh mencari resitasi yang aneh-aneh. Bagaimana pun aku bersyukur sebab pada akhirnya aku memiliki karakter yang lebih kuat dibandingkan hanya duduk mendengarkan penjelasan tentang sekolah, aku juga merasa lebih beruntung karena memiliki pengalaman yang begitu mengesankan soal masa sekolahku di putih abu-abu. Sangat tidak lucu ketika nanti cerita sama anak cucu, "Eh dulu Kakek tuh pas MOS SMA tuh cuma disuruh duduk, ngantuk, lalu pulang," lebih baik kalau cerita, "Eh dulu Kakek waktu MOS SMA seru loh, masa di suruh lari keliling lapangan pakai topi dari kukusan nasi, terus di suruh bawa lele goreng yang mulutnya nggak boleh terbuka, seru deh pokoknya." Itu hanya pendapatku mengenai MOS, tapi aku juga tidak setuju mengenai senior yang semena-mena hingga menghilangkan nyawa. Senior itu punya kasih sayang yang tidak mudah dimengerti banyak orang. "Kak, mau izin ke toilet, ya?" Seorang perempuan, siswi baru, mendatangiku dengan parasnya yang cantik membuatku terpana, membuyarkan pikiranku tentang MOS atau pengenalan lingkungan sekolah ini. Sungguh pesonanya bisa mengalahkan pesona Indonesia bagian tengah. "Em... itu." Menunjuk ujung aula yang memang tidak nampak kalau di sana ada toilet yang tertutup dinding pintu toiletnya. Sedikit agak canggung. Dia perempuan yang bertubrukan denganku tadi. "Terima kasih, Kak," sopan sekali siswi baru itu. Senyuman terakhirnya membuat gunung es meleleh dalam sepersekian detik. Jantungku, juga tidak bisa dikendakikan. Melompat-lompat bak atlet lompat indah pada kejuaraan dunia. "Cantik, kan?" Salah satu rekan OSIS menggodaku. Temanku ini tahu jika mataku tidak lepas dari perempuan tadi, sekalipun dia sudah pergi menjauhiku. "Apaan?" Pura-pura tidak mengerti. "Ibunya yang punya toko kue yang di jalan Lawu, depan Kodim." Informasi yang penting dan tidak penting sebenarnya. "Nggak penting!" Padahal aku juga sedikit tertarik. "Asal bapaknya bukan tentara aja, Bro," selorohku, aku memang sedikit ngeri dengan tentara. "Kenapa memangnya?" Masih tak paham rekanku ini. "Tentara galak, Man, ngeri lah," alasanku memang terlalu cemen. Sekarang ayah perempuan mana yang tidak galak pada laki-laki? Semua juga galak apalagi pada laki-laki yang hendak mendekati anak perempuan tercintanya. Yah, 90% lah. Apalagi kalau tentara, tahu kan bagaimana kesan pertamanya seorang tentara? Ya, kaku, jutek, cuek, galak, disiplin banget, ya begitu lah. "Ah elah, tapi kalau nggak salah sih bapaknya Polisi, Bro." "Tahu dari mana?" Aku heran, itu perempuan sepupunya si Rendy ini kah? Ya, temanku ini bernama Rendy. Dia tahu banyak hal begitu? "Bundaku pelanggan setia di toko kue milik ibunya itu. Enak banget kue-kue nya. Jadi sering ke sana, akrab deh Bundaku sama ibunya. Terus kemarin Bundaku cerita soal perempuan itu." Melirik ke arah siswi baru yang berhasil membuatku olahraga jantung di pagi hari. Dia baru saja melewatiku dan Rendy sambil menyunggingkan senyum manisnya. "Terus-terus apalagi yang kamu tahu tentang dia?" tanyaku terkesan sangat antusias, lebih mirip perempuan yang penasaran dengan berita gosip terbaru mengenai Oppa-oppa Korea. Aneh, kenapa aku menjadi antusias begini? Apa pentingnya informasi tentang siswi baru itu? "Kamu jatuh cinta ya sama dia?" ceplos Rendy menyentak hatiku. "Nggak lah!" elakku cepat. "Jatuh cinta pada pandangan pertama nih?" Rendy tidak percaya dengan jawabanku sebelumnya. Cinta pada pandangan pertama? Mana ada? Orang kalau jatuh cinta itu butuh waktu, butuh proses, bukan ketemu langsung jatuh cinta. Katanya cinta pandangan pertama itu hanya bualan seekor buaya berkepala hitam. "Ya, dia cantik banget sih, apalagi dia pintar banget. Masuk ke sini di peringkat pertama loh, ramah juga, Bundaku yang bilang," lanjutnya bahkan aku belum mengelak pertanyaan terakhirnya. "Apaan coba? Nggak jatuh cinta aku, beneran!" Meyakinkan padahal sekeras apapun aku meyakinkan Rendy, mau aku jatuh cinta atau tidak itu nggak penting untuk Rendy. "Jatuh cinta juga nggak apa-apa kali, Yud. Toh, cantik gitu siapa yang nggak jatuh cinta coba?" Rendy memperhatikan perempuan itu, dia yang duduk di kursi paling depan bersama dengan siswi baru lainnya. "Berarti kamu juga jatuh cinta dong?" Setidaknya jangan aku terus yang dituduh jatuh cinta, harus ada korban lain kan selain aku? "Ya, jatuh cinta sih nggak, Yud. Cuma suka aja," mata Rendy tidak hengkang dari petempuan itu. "Terus mau kamu gebet?" Semoga saja tidak, jawabannya tidak. Eh, kenapa aku jadi berharap begini? "Mungkin, Yud," jawaban yang menggantung. "Toh, Bundaku sudah akrab sama ibunya, ya adalah jalan lurus." Rendy menyeringai penuh kemenangan. Aku sedikit kesel karena pernyataan Rendy soal ada jalan lurus. Jalan lurus? Lah, aku masih sangat terjal. Mengenal namanya saja tidak bagaimana bisa mengenal ibunya? *** Hari pertama masuk sekolah langsung pulang jam tiga sore. Bukan karena pelajaran atau yang lain sebagainya, ya karena masih mengurus pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru. Risiko jadi pengurus kan? Yang lain sudah pulang tidur, mengulas materi pelajaran pertama, aku masih di sini, rapat, menyiapkan materi buat besok, dan lain sebagainya. "Yudha," panggil Rendy dari arah belakang sambil berlari mendekatiku. "Ikut aku, yuk! Ayahmu nggak bisa jemput, kan?" Merangkulku, seakan dia adalah orang terdekatku selama di sekolah. Jujur, ya memang iya. Rendy adalah teman sekelas ku, teman satu organisasiku, teman seperjuangan sejak SMP, teman dalam banyak hal. Ayahku memang orang yang sibuk sekali. Beliau tadi pagi sudah bilang agar aku pulang naik angkutan umum. Meskipun berada, banyak motor di rumah tapi Ayah adalah orang yang taat hukum. Aku tidak diperbolehkan mengendarai motor sampai aku dapat SIM. Ke mana-mana harus diantar dan naik kendaraan umum. Lebih baik sekarang memang membonceng Rendy saja. "Ke mana?" tanyaku sambil melepas rangkulannya, terlalu risih karena banyak pasang mata yang melihat kami. Ya, pengurus-pengurus organisasi yang masih menetap di sekolah. "Sudah naik saja!" katanya sambil memberi ku helm begitu sampai di dekat sepeda motornya yang terparkir rapi. Yah, Rendy memang bukan anak yang taat lalu lintas. Dia belum tujuh belas tahun, jadi dia belum punya SIM, tapi dia sudah mengendarai sepeda motor. Bahkan sudah berkali-kali jatuh tapi masih naik motor saja. Rendy juga tidak sepenuhnya salah,rumahnya lumayan jauh dari sekolah, tidak ada kendaraan umum yang lewat di sekitar rumahnya, belum lagi tidak ada yang sempat mengantarnya ke sekolah, Bundanya pegawai Bank yang harus berangkat pagi sekali, Ayahnya juga sama. Jadi cukup sepeda motor yang menemaninya. Aku naik di jok belakang sepeda motor Rendy, sepeda motor tahun 90-an yang masih kinclong. Rendy, temanku ini memang menyukai hal-hal yang klasik dan jadul, dia bukan orang yang suka dengan motor-motor masa kini, seperti motor sport yang sekarang sedang banyak digandrungi anak muda. Rendy melaju kencang, yah, kencang ala sepeda jadul. Entah kemana dia melajukan sepeda motornya. Setahuku ini arah ke jalan utama Kabupaten Karanganyar. Jalan Lawu atau Jalan Solo-Karanganyar. "Mau ke mana sih, Ren?" tanyaku memajukan kepalaku, mendekati samping kanan kepalanya. "Ke tempat cinta pandangan pertamamu," jawabnya sambil cekikikan. "Bercanda aja kamu ini." Aku tak percaya. Tapi mulutku menganga begitu sampai di sebuah toko kue yang cukup besar dan agak ramai. Kira-kira ada tujuh orang di dalam sana. Belum lagi yang datang bersama kami ada dua orang. "Bercanda?" menggodaku, ya, Rendy tidak bercanda. Ini toko kue yang Rendy bicarakan tadi di sekolah, toko kue milik ibu dari perempuan cantik tadi. "Ngapain sih?" protesku. "Mau ambil pesanan Bundaku," jawabnya sambil melepas kaitan helm-nya. "Mau di sini apa ikut ke dalam?" tawarnya meletakkan helm di kaca spion. "Lama?" tanyaku. "Mungkin iya," Rendy langsung nyelonong masuk tanpa menungguku. Aku langsung mengikutinya. "Selamat datang, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang karyawan dengan ramah. "Mau ambil pesanan..." "Loh, Rendy, ya?" Seseorang memotong jawaban Rendy untuk Mbak Karyawan yang senyumnya benar-benar ramah ini. "Iya Tante, kok tahu?" Rendy sedikit canggung, apalagi aku? "Tadi Bundamu telepon bahkan kirim fotomu, bilang kalau putranya, Rendy yang ambil pesanan. Brownies dan donat cokelat, kan?" Ibu yang baru saja keluar dari balik kasir itu terlihat masih cantik diusianya yang mungkin sudah empat puluhan. Inikah ibu dari perempuan di sekolah tadi? Sama cantiknya. "Iya, Tante, sampai hafal." Rendy memang orang yang pintar dalam bergaul dengan yang lebih tua. "Bundamu kalau ke sini dua kue itu nggak bakalan ketinggalan. Duduk dulu ya, Tante siapin." Memberiku dan Rendy dua kursi. "Maaf loh ini, Tante sengaja nggak nyiapin dari awal, biar kamu sekali-kali mampir lebih lama di sini," jelas ibu itu dengan telaten menyiapkan brownies-brownies yang terlihat lezat itu ke dalam kardus kue. "Nggak apa-apa kok, Tante, sekalian bisa istirahat dulu di sini." "Eh, itu teman kamu?" Menatapku beberapa detik, membuatku kaku sejenak lalu membungkukkan leher untuk memberi hormat. "Iya, Tante." Menyenggol bahuku. Membuatku terkesiap. "Saya Yudha Tante, teman sekolah Rendy," memperkenalkan diri. "Kakak kelasnya Sena juga dong?" ujar beliau. Siapa? Siapa tadi itu? Telingaku mendadak tuli. "Siapa?" bisikku pada Rendy. "Assalamu'alaikum." Seseorang dengan kesal melenggang masuk ke dalam toko kue dan duduk di kursi kasir, sebelah ibu yang sedang menyiapkan kue. Salam itu membuat Rendy tak menjawab pertanyaanku, aku juga seakan tak butuh jawaban itu lagi. Jantungku serasa berhenti sejenak saat melihat orang yang baru saja datang, begitupun napasku. Serasa mau mati. "Wa'alaikumsalam." Ibu itu menjawab penuh kelembutan. Aku dan Rendy menjawab salam hanya dengan hati kami. Terpesona. "Dari mana Kak?" tanya ibu itu tanpa pernah berhenti dari pekerjaannya. "Adik tuh, Ma." Mata bulat perempuan itu menatap kesal seorang laki-laki yang lebih muda dariku, juga lebih muda darinya, yang baru saja datang dengan senyum tanpa merasa bersalah. "Ngajakin ke baraknya Papa, katanya cuma mau ambil pesanan baret Pramuka sama Om Jodan, tahunya malah lari sore, eh, bukan ding, lari siang lebih tepatnya." Wajah cemberut nya begitu lucu. Membuat jantungku semakin tidak karuan saat melihatnya. "Hehe." Laki-laki yang dipanggilnya adik itu hanya tertawa. "Adik kan sudah dibilangin Papa, jangan sering-sering ke sana kalau bukan urusan yang penting. Toh, lari sendiri sama kakak juga bisa kan?" Ibu itu mendekati kami sambil mengulurkan dua kotak di dalam plastik yang cukup besar. "Ini, Nak." "Berapa Tante?" tanya Rendy mengeluarkan dompet hitam dari saku celananya. "Sudah di bayar Bundamu tadi," jelas Tante. Mungkin dengan m-banking. "Terima kasih Tante Agni," ucap Rendy. Oh, nama ibu ini Agni, Tante Agni. Nama yang bagus. "Loh, eh, Kak?" Perempuan, adik kelasku itu bangkit, seperti kaget melihatku dan Rendy yang berdiri di depan ibunya. "Kakak kenal? Mereka kakak kelas..." Tante Agni, hampir memperkenal kan kami. "Iya, mereka pengurus OSIS di sekolah kakak, Ma." Ternyata perempuan itu mengenal kami. Sungguh membahagiakan. Aku dan Rendy tersenyum kompak. "Mari Tante, nanti keburu sore," pamit Rendy. Cepat sekali anak ini. "Oh, Iya. Hati-hati ya, salam buat Bunda," Kemudian kami meninggalkan toko kue itu. Jantungku masih berdetak kencang. Perasaan macam apa ini? Kondisi macam apa? "Yudha," panggil Rendy di tengah perjalanan menuju ke rumahku. "Tadi kamu denger nggak dia namanya siapa?" tanyanya. Aku pikir Rendy mendengar. "Tidak," jawabku singkat. Aku pulang tanpa hasil yang memuaskan, hanya bahagia karena dia mengenaliku dan jantung yang masih berdetak. "Eh, tapi tadi dia bilang habis dari barak? Yang bener ayahnya tentara apa polisi? Biasanya barak kan digunakan di kalangan tentara, Ren." Memastikan lagi. "Ya, polisi juga menggunakan kata itu, Yud. Mungkin yang di maksud barak itu Polres atau Polsek gitu," semacam tahu banyak hal. "Seingatku ayahnya itu polisi kok," lanjutnya. Aku diam, kenapa justru profesi ayahnya yang aku permasalahkan? "Lagian kalau bapaknya tentara nggak ada urusan juga sama kamu, Yud. Kamu kan nggak jatuh cinta sama dia, jadi nggak ada keinginan untuk pacarnya kan?" Aku diam. Kenapa aku peduli pada profesi ayahnya? Kenapa jantungku masih saja berdetak kencang saat mengingat wajah cantiknya? Kenapa? Kenapa? "Jangan bilang sebenarnya kamu jatuh cinta pada pandangan pertama, Yud?" Aku diam, benarkan aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Tapi kan aku tidak percaya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD