Ku perhatikan dirinya yang sedang tertidur dengan tangan yang masih memelukku. wajah tampannya dan hangat sentuh tubuhnya yang membuatku sampai rela di cumbu, beradu saling memadu kasih dengan bersetubuh hingga diriku ambruk sudah, kini hanya bisa meringkuk lemas sambil memeluk dirinya yang tengah sama kelelahannya denganku.
ku belai tampan wajahnya itu.
“emmhhhh….”
Pak Jackson menggumam dengan seringai senyum begitu merasakan tanganku yang kini berada di pipinya, lalu ia menangkap tanganku itu kemudian di hirupnya lembut untuk merasakan aromaku.
“Irene…”
Ia memanggil namaku dengan pelan, rendah, berat dan sedikit serak. hatiku di buat bergetar mendengar suaranya itu, sampai ku rapatkan dan kuhapuskan kembali jarak yang ada untuk menenggelamkan diri dalam pelukannya. Kurasakan hangat tubuhnya, aroma tubuhnya yang memenuhi relung dan palung diriku, kuciumi bau yang begitu semerbak mewangi sangat menyejukan hati.
Kusapukan jari-jariku di dadanya yang polos karena busananya yang semula berhasil di loloskanya saat di mulainya permainan yang membuatku sudah bukan lagi menjadi wanita polos.
“ehmm…”
Ia mendekapku erat, sentuh tubuhnya membuat suhuku berada jauh di atas hangat, jadi menggeliat dan tak mampu mengingat lagi siapa aku dan siapa dirinya, juga hal gila apa yang telah ku lakukan dengannya.
Sedikit ku jauhkan tubuhku darinya untuk melirik jam yang ternyata sudah menunjukan pukul 11 malam. kupikir sudah saatnya untukku bangun dan pulang. Sampai baru saja akan ku bangunkan tubuhku…
“jangan berpikir untuk pulang…”
Ucapnya dengan tangan yang sudah menahan pinggangku yang masih satu selimut dengannya itu.
“udah waktunya aku pulang Pak…”
Ia menjawab dengan menggelengkan kepalanya tak setuju,
“tidur di sini… saya gak bisa biarin kamu pulang malam ini…”
Sepertinya keputusanku yang cukup gila tadi itu, malah membuatku harus terjebak semalaman bersama pria yang merupakan dosenku ini. tangan kekarnya bahkan sudah kembali menarikku untuk merapat ke dalam pelukannya.
Bibirnya pun sudah menjalar kembali menciumi kulit tubuhku.
“berhenti Pak… aku geli”
Kataku sambil tersenyum kegelian saat kurasakan sensasi bibirnya yang begitu lembut menyesap kulit punggung menuju dadaku.
“kamu ini nakal, godain saya sampe kaya gini emmhhh…”
“ahhh… jangannhhh lagii…”
Setiap sentuhnya benar-benar membuatku tubuhku bergetar.
“ehmmm… sebentar… ahh… calm down Pak ahhh”
Pintaku saat ia tengah bermain di dadaku.
“hhh… okey sayang….”
Ucapnya sambil menghentikan aksinya dan melesakan wajahnya pada belahan di antara dadaku ini, di hirupnya dalam-dalam.
“Pak…”
“ehmmm apa sayang”
Suaranya teredam karena wajahnya yang masih bersembunyi di dadaku. Sampai kuraih wajahnya itu, dan ku tatapi dirinya.
“emhh apa?”
Ku majukan kepalaku untuk ku raih bibirnya, dan kukecupi singkat di sana. aku tak percaya bisa mencium bibir yang selalu mengomel padaku itu. dan tak pernah kubayangkan tubuhnya yang akan berada di atas dan tengah menghimpitku seperti sekarang ini.
Tubuh polosku dengannya yang kini sudah saling bersentuhan dan bergesekan tak bisa lagi untuk mengabaikan soal ingin hati untuk kembali melakukan aktivitas yang banyak menghasilkan peluh keringat, yang tadi sudah sempat meluruh deras.
“hhh…”
Ku pejamkan mataku ketika aku tahu apa yang akan di lakukannya di balik selimut yang di pakainya bersamaku.
“pelanhh…”
Pintaku,
“ahhh…”
Wajahnya yang sedang mengerang, tengah berusaha memasukan batang tebal dan panjang mendobrak paksa agar bisa memasuki liang yang membuatku mengelinjang tak tahan.
“shhhh… aaahhh…itu terlalu penuh di dalem emmhh”
Ia hanya tersenyum puas setelah miliknya kembali memasuki milikku dan di buat bersarang di dalam.
“eunghhh... saya... ah saya merasa tak asingg dengan tubuhmu ini sayang ahhh ahhh ahhhh”
Ucapnya yang sudah mulai memompa miliknya in and out pada milikku.
“ini… terlalu nyaman… ahhhh”
Ia terus meracau, tapi jujur saja rasanya memang tak canggung bahkan bingungnya aku merasa sudah seperti yang kesekian kalinya aku melakukan ini dengannya.
“hhh… akhhh… Pak itu terlalu dalemmm ahh…akhh”
Dia menyentuh G-spotku. Rasanya sungguh gila.
“ini… gak akan jadi skandal pelecahan s****l kan?”
Tanyanya padaku dan entah kenapa terdengar sangat lucu sampai aku ingin tertawa di tengah peraduan yang mulai memanas ini.
“pelecehan itu tergantung siapa yang melakukannya… ahh ahhh jika… orang yang menyentuhku itu adalah orang yang kumau untuk menikmati milikku … ahhhh… ssshhhh… itu gak papa”
Kataku harus sedikit berusaha saat ku ucapkan itu padanya.
“jadi… akhhh… s*x ini… gak papa buatmu?”
Sedikit geram aku padanya karena ia terus bertanya, sampai ku bangkitkan tubuhku dan ku ubah posisiku mejadi di atasnya.
“ini bisa di katakan s*x kalo aku sama Pak Jackson sama sama saling ingin untuk melakukannya... ahh ahhh… tapi kalo salah satu gak siap atau gak mau itu baru pelecehan namanya… dan ini… eunghhh bukan pelecehan karena akuhh… aaahhh aku mau ini…”
“ahhh ahhhh… ahhh”
Aku mendesah semakin keras saat ku rasakan milikku di dalam sudah berkedut hebat. Tangannya Pak Jackson meremas gemas dadaku yang berguncang bersamaan dengan tempo tubuhku yang memompa naik turun di atas tubuhnya.
“sayangg… aahhh… kamu hebat… itu- ahhh terusss enguhhh”
….
…..
Pukul 5 pagi
Aku sudah berpakain rapi dan siap pergi menginggalkan rumahnya, setelah semalam bergumul aku tahu ia pasti sangat lelah.
Cup
Kuberi kecupan singkat di keningnya. Dan tak lupa ku belai lembut pipinya. Setelah kuserahkan diriku untuknya semalam, aku pikir itu bisa menjadi sebuah harga yang bisa membayar semua rasa penat, lelah, kebingungan dirinya setelah ku kacaukan penelitian yang jadi pekerjaannya.
Penelitian kemarin seharusnya bisa berjalan dengan mulus agar ia tak sampai mengalami kerugian yang luar biasa besarnya, perusahaannya sampai kehilangan dua sponsor besar yang kecewa akan kegagalan proyek yang semestinya tengah berjalan itu.
Aku tak tahu bagaimana Pak Jackson menangani itu, namun aku tahu seberapa memusingkannya semua itu baginya.
‘aku harus bisa mengganti mutiara itu bagaimanpun caranya..’
Aku pergi meninggalkan apartemen Pak Jackson dan langsung menaiki bis yang menuju ke kota tempat berlangsungnya penelitianku kemarin. meskipun aku tak tahu apa yang bisa ku dapatkan dengan pergai ke sana tapi setidaknya aku berusaha untuk mendapatkan informasi lengkap dari ahli yang kemarin sempat mendampingi penelitian yang jadi sebuah kekacauan itu.
Dalam tiga jam aku sudah bisa sampai dan kini tengah menunggu Prof. Pitter,
“oh… selamat pagi Prof”
Sapaku padanya,
“selamat pagi, sendiri? Jackson?”
Aku tersenyum saja padanya,
“baiklah ayo masuk”
Di dalam ruangannya aku banyak berbincang dengannya soal mutiara yang mungkin saja ada yang bisa menggantikannya dalam waktu cepat, hingga Pak Jackson bisa melakukan proyek besaranya itu kembali.
“……”
“tiram itu sulit untuk di cari, terlebih kita tak bisa membudidayakannya di sini hhh… jujur saja harus ku katakan padamu kita tak mungkin bisa mendapatkan mutiara seperti itu lagi dalam waktu secepat itu, tapi mungkin jika beruntung kamu bisa menemukan tiram itu di lautan sana….”
“benarkah? Di laut itu?”
Tanyaku menanggapinya dengan serius sambil menunjuk lautan yang sewarna dengan langit cerah yang membiru, yang berjarak tak jauh dariku itu.
“hahhhh… konon katanya di sana ada mutiara cantik yang di jaga oleh seorang Siren”
“siren?”
Mataku membulat saat mendengar ceritanya itu, tak bisa ku percaya mahluk mistis itu rupanya menjadi penunggu laut yang indah itu.
“hahahha… jangan tanggapi aku serius begitu… aku hanya mengisahkan dongeng saja untuk menghiburmu yang sangat kebingan itu…”
Aku hanya tertunduk saja malu, karena hampir percaya akan hal itu.
Pertemuan dengan sang professor harus dengan cepat ku akhiri, karena prof. Pitter adalah orang yang cukup sibuk jadi harus segara ku sudahi saja perbincangan soal mutiara itu.
Tak bisa menemukan jalan keluar dan malah kudapati kebutuan kini. aku jadi hanya berjalan-jalan saja di area pantai, berharap menemukan pencerahan.
“aaaaa!!! aku harus gimana buat ganti mutiaranyaaa???!!”
Aku berteriak pada lautan biru yang ada di hadapanku ini. sudah putus asa dan terlihat seperti orang gila.
“bantu akuuuuu!!!”
Teriakku sekali lagi meminta pada lautan di depan mataku, namun sayang malah hanya deburan ombak saja yang kudengar sebagai balasnya.
“hhhh….”
Suara berat napasku tak kalah keras dan beratnya beradu dengan suara ombak di pantai ini. tiba-tiba terbayang wajahnya yang sedang terlelap tidur tadi pagi, jujur aku tak ingin membuatnya kesulitan karena kecerobohanku ini.
“seharusnya aku bisa lebih baik… hhh… aku gak bisa diem aja kaya gini… atau aku bakal gak punya muka buat ketemu lagi sama Pak Jackson”
Aku ingin jadi wanita yang bisa lebih pantas untuk berada di sampingnya. karena jauh dalam hatiku aku merasa sangat tak layak bagi dirinya yang setinggi langit, untukku yang rendah dan selalu berulah ini.
“andai aja… andai aja ada keajaiban yang bisa ubah hidup aku… andai aja ada kehidupan dimana aku bisa hidup dengan keadaan yang lebih baik”
Haruskah aku menyelami lautan untuk mendapatkan kehidupan itu, mungkin bisa ku temukan atlantis, kota yang hilang itu, lalu kucuri mutiara yang mungkin saja ada di sana.
…..