Tengah berada di sebuah kapal yang biasa membawa sejumlah turis untuk berkeliling menikmati pemandangan keindahan lautan kota ini, karena terlalu bingung dan tak tahu harus berbuat apa lagi akhirnya sepuluh menit yang lalu kunaiki kapal ini. Aku pikir dengan ikut berlayat aku bisa menemukan sebuah pencerahan.
Angin dan aroma laut sedikitnya bisa membuatku bernapas dengan lebih lepas.
“hhhh…”
Drttt drtt drtt
Handphoneku bergetar, dan kulihat ada satu panggilan masuk di sana.
“Pak Jackson?”
“ehmm… dia pasti kaget pas bangun dan liat aku gak ada di sampingnya…”
Ting
From Pak Jackson:
Irene kamu dimana? Hubungi saya
….
“hhh… aku gak berani ketemu kalo mutiaranya belum bisa aku ganti… aku gak punya muka buat ketemu Pak…. Nanti kalo udah bisa aku ganti, aku juga pasti langsung lari peluk kamu Pak…ahh…”
Ting
From Pak Jackson:
Kamu dimana sayang?
….
“sayang?? OMG!!! dia panggil aku… sayang…hhhh”
Dadaku tiba-tiba berdegup kencang sekali, Meskipun semalam panggilan itu sudah keluar dari mulutnya di tengah bercinta dengannya, tapi… itu rasanya benar-benar berbeda… mungkin saja semalam itu tak sengaja atau tanpa sadar terlontar begitu saja saat ia tengah menikmati miliknya berada dalam milikku. Tapi hari ini… aku pikir dia dengan sadarnya mengirimiku pesan begini… OMG!!! aku benar-benar harus kembali padanya dengan satu mutiara yang sudah ada di tanganku.
“ahhh…”
Kapal tiba-tiba berguncang dengan keras. Hingga tubuhku oleng kehilangan keseimbangan.
“noooo!! Ireneee!! Kenapa di jatohiiin???!!! Ah bego begooo!!!”
Baru saja dengan bodohnya handphone yang ku pegang terlepas dari tanganku dan tercebur sudah kedalam lautan,
“Pak bisa pelan gak sih… handphone saya sampe jatoh!”
“yaah… itu ombaknya cukup besar barusan..”
Balas sang nakoda.
“aku harus gimana sekarang… ah... Pak Jackson pasti nungguin balesan dari aku…”
Rasanya ingin sekali aku menangis sekencang-kencangnya, tapi sialnya tak ada Pak Jackson yang akan memelukku dan menjadi tempat bersandarku jika aku menangis saat ini. aku harus memutar otakku. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan kembali handphoneku juga mutiara yang bisa membuatku kembali pada Pak Jackson.
“aahh… gimana ini??”
Sampai ku lihat di ujung sana ada beberapa orang yang sepertinya bisa menjadi solusi dari masalah yang terjadi karena kecorobohanku ini.
“Mas… ini… mau pada diving?”
Tanyaku pada salah satu pria yang memang sudah siap dan lengkap dengan pakaian selamnya.
“tadinya… tapi instruktur bilang cuaca hari ini gak bagus, di bawah gak begitu aman jadi gak tau deh kita jadi turun atau engga… aku sama yang lainnya malah di suruh nunggu dan di gantung kaya gini”
“ahh… gitu yaa… boleh saya gabung?”
Tanyaku lagi.
“tentu aja boleh… itu masih ada satu pakaian selam di sana, tapi kaya yang aku bilang tadi aku gak bisa pastiin kita bisa turun atau engga hari ini…”
“okey gak papa…”
Balasku, setidaknya aku pikir aku memiliki peluang untuk turun dan mendapatkan handphoneku kembali.
Akhirnya kini aku sudah memakai perlengkapan selamku, dan hanya duduk menunggu instruksi lanjutan bersama yang lainnya.
Lautan di kota ini memang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, karang-karang yang di budidayakan menjadi salah satu pilihan spot terbaik para pencinta diving. Lautnya cukup jernih, bening, jadi besar harapanku untuk bisa kembali mendapatkan handphone yang ku jatuhkan. Yah pertama temukan kembali handphoneku kemudian mencari cara untuk mutiara itu.
Selagi aku menunggu dengan tak ada kepastian apapun, aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan mereka. dan aku di beritahu bahwa mereka itu adalah para pegiat lingkungan yang akan membersihkan dan memunguti sampah di bawah sana. aku pikir jika sampah saja bisa di punguti, maka handhoneku juga pasti bisa ku temukan lagi.
“handphoneku berapa besar bisa ku temukan lagi?”
Tanyaku pada instruktur yang sedang mengajari beberapa tips dan arahan mendadak karena aku yang baru saja bergabung dengan kelompok ini.
“ehmm… handphone itu pasti memantulkan cahaya dari matahari yang cukup cerah hari ini, dan karena baru jatuh beberapa menit yang lalu… ya seharunya belum terkena lumut atau tertutup apapun… jadi kayanya bisa kita bantu buat cari nanti”
Aku tersenyum senang mendengar hal itu.
“apa di bawah indah banget ya sampe kayanya banyak banget yang antusias buat turun?”
Tanyaku lagi penasaran.
“tentu… kamu bakal tau setelah turun nanti, laut ini juga terkenal sama legendanya looh…”
“legenda siren sama mutiaranya? Atau rumor yang bilang atlantis ini sebenernya tenggelem di sini?”
Balasku, karena aku juga terkadang jadi seorang pemandu wisata, jadi aku sedikit banyak tahu soal kota ini. banyak rumor yang bilang kalau atlantis, kota yang hilang itu sebenernya ada di bawah sini. Meskipun belum terbukti tapi cukup untuk mendatangkan turis yang penasaran akan keindahan di bawah lautan ini. tapi soal legenda mutiara itu baru ku dengar dari professor tadi.
“di bawah itu katanya ada kerajaan laut yang indah banget, soalnya emang viewnya juga bagus banget kann… Tapi kalo soal mutiara itu ehm… banyak yang bilang buat jangan punya niat buat coba-coba cari itu soalnya kamu pasti bakal langsung di kutuk terus di seret masuk ke dunia lain…iiih seremm”
“hahahah…”
Aku tertawa saja mendengar instruktur yang terdengar sedang menakut-nakutiku itu.
“serius, jangan remehkan omongan saya ini loh yaa…”
“ya… ya… yaa… bukannya di sana ada penelitian biota, tapi masih aja ada cerita-cerita yang gak ilmiah kaya gini beredaran ckckkk…”
Heranku.
“sebenernya bukan tanpa alasan juga cerita ini masih berkembang, justru penelitian itu sendiri yang jadi awal mula keanehan sama rumor ini berkembang …”
“maksudnya?”
Aku tak mengerti.
“jadi dulu ada seorang penyelam yang gak sengaja nemuin mutiara di bawah laut ini terus dia minta pihak lab dan ahli di sana itu buat neliti keaslian mutiaranya dan…. sesuatu yang cukup aneh, bahkan aneh banget terjadi di lab itu, tiba-tiba aja… gak tau gimana ceritanya kecelakaan besar-besaran terjadi, sampe beberapa bangunannya ada hancur waktu itu”
Dengan serius ku dengarkan semua ceritanya itu, dan ku perhatikan tangannya yang mulai mengeluarkan handphonenya dari sakunya itu. ia mengetikan sesuatu di sana.
“ini… pernah baca artikel ini?”
Tanyanya padaku.
“ehmm? Keanehan yang terjadi saat penelitian mutiara- oh… itu??!!”
Tak lengkap k*****a baris tajuk artikel yang sudah sepuluh tahun yang lalu terbit itu, saat kemudian mataku menemukan gambar yang tak asing sebagai cover utamanya.
“itu mutiara yang Pak Jackson sempat liatin ke aku hari itu…”
Gumamku, jelas sekali aku bisa mengenalinya karena hari itu Pak Jackson memperlihatkan gambar yang sama di layar lapotopnya, sampai kemudian aku juga kembali mendengar suara aneh yang membuatku sampai hampir jatuh dan untunglah Pak Jackson langsung menangkapku ke dalam pangkuannya.
“pernah liat?”
“ehmmm… kebetulan dosenku lagi meneliti mutiara dan dia juga punya ketertarikan sama mutiara yang satu ini”
Jelasku padanya.
“aahhh… bilang sama dosenmu itu untuk berhenti tertarik atau sesuatu yang gak baik bisa terjadi sama dia…”
Aku tersenyum saja sebagai balasnya, karena sialnya aku juga mulai tertarik untuk bisa menemukan mutiara yang menjadi incaran Pak Jackson itu. dalam kepalaku saat ini jelas tergambar raut Pak Jackson yang sedang memperhatikan mutiara itu dengan tatapan penasaran bahkan sampai lekat-lekat ia melihatnya kala itu.
Tiba-tiba saja terbesit keinginan di hatiku untuk bisa memberikan apa yang di inginkannya itu.
“kita pasti bakal diving hari ini?”
Tanyaku memastikan.
“ehmmm… masih belum tau. Kita tunggu tekanan di bawah kalo menurut pantauan aman, kita bisa turun, tapi kalo engga yaa… sadly No! demi keselamatan kayanya kita tunda sampe besok”
“yahhh…”
Aku sedikit kecewa mendengar itu.
“handphonenya jatuh di deket garis itu kan?”
Tanyanya padaku, tadi aku sempat menceritakan soal kecerobohanku yang menjatuhkan handhponeku itu padanya.
“ehmm…”
“itu mungkin akan jatuh ke area karang… tenang aja pasti ketemu…”
Ucapnya padaku. tapi jujur saja aku tak lagi peduli soal handphoneku setelah aku tahu, aku bisa menemukan yang lebih hebat dari itu.
‘Pak Jackson tunggu aku… aku akan kembali nanti sama mutiara yang Pak Jackson incar itu…’
Tekadku dalam hati.
“ehmm… soal mutiara tadi, apa gambarnya cuma ada satu yang burem itu?”
Tanyaku pada istrukturku itu. karena mungkin aku tak akan bisa membedakan mutiara itu dengan mutiara lainnya jika di lihat dari bentuk nyatanya.
“itu memang satu-satunya foto yang ada”
“apa ada tanda atau ciri istimewanya dari mutiara lainnya?”
Tanyaku padanya
“emm… saya gak tahu, gak ada yang tahu persis mutiara itu wujud aslinya kaya gimana, Cuma nelayannya sama beberapa orang lab aja yang tau… dan setauku mereka juga udah gak ada di kota ini lagi sejak kejadian di lab hari itu”
Meskipun aku di beritahu begitu, aku pikir aku tetap harus menemukan mutiara itu. ku tatapi genangan air di sampingku.
‘di bawah sana… iya… aku harus bisa temuin mutiara itu di bawah sana apapun yang terjadi”
Tekadku.
…..
Sudah satu jam aku dengan yang lainnya menunggu instruksi, tapi sepertinya jelas kalau aku dan beberapa orang yang tengah menunggu tak bisa turun hari ini.
“sayang sekali kita harus menundanya… kalian semua bisa menghabiskan waku ini untuk melihat-lihat saja pemandangan dari atas kapal ini, di bawah terlalu berbahaya dan perkiraan cuaca juga di prediksi akan memburuk… jadi ya…sangat di sayangkan kita harus tunda diving hari ini”
Semua orang tampak berkeluh dan ber-ahh ria karena tak jadi menyeburkan diri ke lautan biru itu. ku tatapi langit yang cukup cerah hari ini, lantas aku terheran, bagaimana cuaca buruk akan datang saat ku lihat kini langit tengah begitu terang.
Aku sangat ingin turun, untuk mencari handhponeku juga karena di buat sangat penasaran akan apa yang ada di bawah sana itu.
‘kalo aja beneran di bawah ada mutiara itu… pasti…’
Selagi yang lain mulai melepas semua pakaian selam mereka aku justru masih berdiam diri memandangi kakiku yang mengapung-apung, dan ku tenggelamkan berayun-ayun di air laut ini. kilauan air yang terkena pantulan cahaya matahari sungguh sangat cantic sekali.
Kusipitkan mataku saat ku temukan sesuatu yang bercahaya dari bawah air sana.
“itu... kamu liat cahaya itu?”
Tanyaku pada seorang wanita yang ada di sampingku.
“mana? Aahh… itu paling cuma barang yang tenggelem atau mungkin sengaja di jatohin ke bawah sana”
Jawabnya santai. Karena memang air ini tampak bening jadi apa yang ada di bawah sana jelas terlihat olehku.
“maksudnya?”
“ehm… pernah denger istilah kaya ‘buang mantan ke laut aja sana…’ yah paling-paling mereka yang mau buang kenangan gitu… Kadang segalanya di jatohin, di lemparin ke laut sini mulai dari botol yang isinya surat sampe cincin dan benda-benda gitu… ada lengkap di bawah sana…”
“cincin?”
“ehm… ada banyak cincin di bawah, karena katanya kalo cewek yang patah hati terus buangin semua kenangannya di sini, plus keluarin semua unek-uneknya … nanti bakal di denger siren yang cantik yang juga bisa balesin si cowok yang udah bikin patah hati cewek itu…”
Aku menyiritkan dahiku tak percaya.
“kenapa?? kok bisa?”
“yaa… karena katanya sih dulu Siren penunggu lautan ini juga pernah alamin hal yang sama… di bikin sakit hati gitu sama manusia yang udah bener-bener di sayanginnya… jadinya mungkin dia punya perasaan senasib kali yaa… sampe dia mau balasin dendam hati cewek-cewek yang patah gitu…”
Ceritanya, entah kenapa di sini banyak sekali rumor dan mitos aneh yang kedengarannya sangat fiktif dan hanya ada dalam dongen saja yang masih di percaya oleh masyarakat local.
“hahahhh… kalo iya mungkin laut ini udah banyak banget ketumpuk sama barang dari mantan dong…”
“bener banget, itu nyata loh… makanya kita dari pegiat lingkungan itu harus rajin bersihin di bawah sana… percaya gak, kemarin sampe ada cewek yang buangin satu set kalung sama anting mutiara cuma gara-gara udah kesel banget sama suaminya …”
Mendengar kata mutiara lagi-lagi aku jadi sangat antusias dengan ceritanya.
“hah?”
“ehm… jadi suaminya itu katanya baru aja ketauan selingkuh sama sahabatnya sendiri, jadilah dengan penuh drama kemaren di sini ada cekcok pertengkaran rumah tangga, sampe akhirnya si cewek narik kalung mutiara yang di pakenya dan di buang ke bawah sana…”
Aku diam mendengar cerita itu. apa ‘si cewek’ itu gak sayang ya sama mutiaranya, atau dia berharap siren bisa balesin sakit hatinya juga.
“apa siren itu bener-bener bisa balesin sakit hati?”
Tanyaku penasaran.
“ehm…. banyak yang udah buktiin kok, meskipun kedengerannya kaya mustahil dan apa benget gitu ya… percaya takhayul gitu gitu… tapi banyak cerita mereka yang patah hati terus buangin barangnya ke sini puas sih katanya, si cowoknya jadi nyesel dan kemudian dapet balesannya gitu…”
Aku mengangguk-anggukan kepalaku saja karena sudah banyak testimoninya sepertinya.
“apa selain dari balesin sakit hati dia juga bisa kabulin permintaan… maksudnya siapa tau aja dia bisa bikin suatu hubungan jadi berjalan lancar gitu…”
Ia malah tertawa saja mendnegar ucapanku,
“hahahha… jadi kamu mau minta hubungan kamu itu di bantuin sama si siren gitu? Padahal cantic banget gini… pasti semua cowok juga langsung mau dan gak akan ada hambatan deh kayanya…”
Aku menggaruk-garuk kepalaku saja jadinya, malu mendengar ucapannya. dalam hati kalau benar seperti itu kejadiannya, aku tak akan ada di kapal ini sendiri dan hanya akan menghabiskan waktu bersama Pak Jackson saja di apartemennya. Semuanya tak berjalan lancar untukku sayangnya, berbeda sekali dengan tebakannya barusan itu.
“maksud aku, siren kan kisah cintanya tragis dulu itu tuh… nah, siapa tau aja dia jadi dewi cinta gitu yang bisa bantu percintaan manusia biar gak senasib kaya dia…”
Tebakku asal.
“mungkin… yaah cobalah… siapa tau aja sirennya bisa sebaik itu mau bantuin hubungan kamu…”
….