Hari ini aku melenggang masuk ke gedung fakultasku dengan suasana hati yang lebih ceria dari biasanya. Aku bahkan bisa bersenandung lagu bahagia di tengah cuaca yang sudah mengabu mendung tampak berkabung.
Aku tak tahu kenapa aku seperti ini, tapi kutebak ini karena apa yang terjadi semalam. Pak Jackson dan aku saling berbalas pesan sampai larut malam. Aku bahkan melakukan video call dengannya.
#Flashback semalam
“……”
“aaahh…. Bikin kaget aja si, Pak”
Kataku, begitu kulihat layar handphoneku yang tiba-tiba menampilkan wajah Pak Jackson yang sedang menirukan eskpresi joker dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya.
“hahahahaaa…”
Ia malah tertawa puas di sana. aku jadi sedikit menyesal sudah menerima panggilan video darinya yang ternyata hanya ingin menjahiliku saja sepertinya.
“iseng banget si Pak, ya ampuuun…”
“biarinnn…”
Ucapnya santai, mataku kemudian memperhatikan ruang tempat Pak Jackson berada saat ini. ia tampak sedang duduk di kamar tidurnya.
“ada apa Pak?”
Tanyaku pada Pak Jackson.
“ooohh… gak ada apa-apa, cuma pengen video call aja. Obatnya udah di minum?”
Aku mengangguk saja sambil tersenyum padanya. jujur saja aku sangat berterimakasih pada perhatiannya, seumur hidupku mana pernah ada orang yang sampai memberiku vitamin seperti dirinya.
“makasih banyak Pak”
Kataku malu-malu, bahkan sambil sedikit tertunduk aku mengucapkannya.
“tapi kok kaya gak meyakinkan yaaa… raut muka kamu tuh masih sama aja… masih punya peotensi buat jatoh dan gak bisa konsentrasi gitu”
‘Dia ini gak bisa apa sekali aja gak nyebelin’ kutukku dalam hati. Tapi aku harus bersabar karena dia sudah mau berbaik hati padaku.
“ehemm… ini karena udah malem aja Pak… muka aku emang kaya gini. Tapi otak aku kayanya mendingan deh abis minum obat itu”
“kenapa?”
“yaa… karena barusan aja aku gak lupa buat matiin lampu kamar mandi, terus gak lupa kunci pintu juga kaya biasanya”
Balasku,
“APAAA??!!! Jadi- jadi biasanya kamu sampe lupa kunci pintu?? Waaah… kalo ada maling gimana Irenee…”
Kulihat wajahnya dari layar handphoneku berubah jadi tampak sangat khawatir, ia sampai beberapa kali membangikitkan dirinya, bereaksi berlebihan mendengar kecerobohan yang sudah biasa bagiku.
“Pak… di rumah aku itu gak ada apa-apa jadi gak akan ada orang yang maling juga…”
Jawabku santai.
“tetep aja, kalo ada orang jahat yang mau sakitin kamu gimana??”
Ia bertingkah seperti seorang ayah yang sangat khawatir pada anak gadisnya yang sedang tinggal sendiri saja sekarang.
“hhhffttt… ya kan ini pintunya juga udah aku kunci”
Kataku pada Pak Jackson.
“saya pingin liat pintu kamu…”
“pintu? Ohhh… yang bener aja Pak”
“sssshhh…. Cepet!”
Akhirnya aku bangkit dan berjalan menuju ke arah pintu. Kemudian kutunjukan pintuku yang sudah terkunci ke depan layar handphoneku yang tersambung dengan Pak Jackson itu.
“jendelanya?”
Aku seperti tengah melakukan pemeriksaan dadakan saja saat ini.
“udah Pak, Liat ini… aiuuuhh”
“keamanan rumah itu wajib kamu periksa, apalagi kamu itu Cuma tinggal sendiri Irene”
Aku mendapat satu omelan darinya sebelum tidur malam ini.
“hhhh… Pak, gak cape apa omelin aku terus? Aku aja yang dengernya cape loh”
Kataku sambil merebahkan diriku menyamping dengan masih menatap layar handphoneku itu.
“cape… tapi rasanya adaaa aja kelakukan kamu yang harus dan mesti saya omelin”
“ahahahhh…”
Aku tertawa jadinya, geli mendengar dirinya yang memang ku sadari bahwa semua omelannya itu di lakukannya karena ia memperhatikanku dengan semua kelakuan cerobohku.
“ketawa lagi… jangan bikin saya ngomel terus makanya…”
Ucapnya, dan kulihat dirinya kini juga tengah berbaring dengan kepala yang sudah di jatuhkannya pada bantal putih di ranjang tempat tidurnya.
“iya Pak Jackson… aku gak akan ceroboh lagi deeeh… kan otak aku juga udah di upgrade pake obat tadi itu”
Balasku, kulihat ia tersenyum dengan sangat tampan disana.
“hhh… mana bisa otak kamu ke upgrade segitu cepetnya Irene… ah, kalo gitu jawab pertanyaan saya… apa yang bikin dunia terang dalam sekejap terus berubah jadi gelap dalam sekejap?”
Tiba-tiba aku harus menjawab pertanyaan seperti itu darinya.
“apa? eehmmm… apa yaa… matahari?”
Tebakku asal.
“bukan, butuh 12 jam lebih buat matahari tenggelem terus bikin hari jadi gelap… Irene Kim”
Benar juga apa katanya.
“ehmm… kalo gitu… listrik?”
“bukannn… yang lain”
“eehhmmm hati? Cinta?”
Aku sudah melantur tak jelas sampai mengaitkan hal-hal seperti itu.
“hahahahhh… ngaco kamu ini… Mana adaaaa… hahahhh”
ku lihat Ia tertawa sampai terguling-guling di tempat tidurnya itu.
“adaaa Pak… katanya cinta itu bikin kita buta…”
Balasku karena hanya itu yang terlintas di pikiranku.
“engga… engga yang lain ahhahhh… kamu ini ada-ada aja masa cinta si”
Aku mumet jadinya. otak ku sudah sangat lelah sampai tak bisa berpikir lagi.
“aah… gak tau Pak…nyerah deh”
“masa gak tau, apa obatnya gak ngaruh ya”
Ucapnya.
“tanyanya yang lain Pak… aku gak bisa jawab tebak-tebakan kaya gitu… emang apa si jawabannya?”
Aku menyerah akhirnya.
“kelopak mata”
“apaa? Kelopak mata? Hahahhhahhh”
Aku tertawa di buatnya. Kupikir jawabannya akan sehebat apa, ternyata itu hanyalah kelopak mata.
“serius… tutup mata kamu pake kelopak mata kamu itu…”
Aku melakukan apa yang di perintahkannya dengan masih sangat ingin tertawa.
“gelapkan?”
“aaah… iya iyaa…”
“sekarang buka”
Perintahnya lagi padaku, dan begitu ku buka mataku langsung menemukan dirinya yang entah bagaimana terlihat sangat mempesona di layar handphoneku itu.
“terangkan?”
“ehmmm… terang…. Banget”
Jawabku sambil tersipu menatapnya.
“……”
Untuk beberapa saat aku dengan Pak Jackson hanya diam, saling menatap. Dan rasa itu kemudian kembali lagi, di mana jantungku ini jadi berdetak tak karuan seperti ingin meledak karena terlalu cepat terpompa saat ini.
“ehmm… tidur gih”
“ehmmm… iya Pak”
Jawabku, tapi bukannya tidur. Aku malah terus ingin terjaga menatapi wajah tampannya itu.
“tidur yang nyenyak…”
“ehmm… Pak Jackson juga…”
Balasku.
“…..”
Hening.
Aku pikir ia akan mematikan sambungan video callnya, tapi ternyata tidak. Aku masih menunggunya.
“tidur…”
Ucapnya lagi paku.
“ehmm… ini mau tidur tapi- …ini gak akan di matiin dulu Pak? Atau aku yang harus tutup?”
Ia kemudian menggelengkan kepalanya.
“gak usah…. Kamu tidur aja… nanti saya yang matiin”
Jawabnya. Ehmmm…. rasanya akan aneh sekali. masa iya aku harus tidur dengan dirinya yang masih melihatku seperti itu.
“ehhmmm tapi-“
“tutup mata kamu…”
Perintahnya, aku malah membelalakan mataku.
“udah cepet tutup mata kamu itu… terus tidur”
Aku tersenyum geli harus melakukan apa yang di perintahkannya itu padaku.
“iya Pak… selamat malam Pak”
Balasku, akhirnya aku menutup mataku dengan sangat canggung. Rasanya aneh sekali saat aku harus tidur dengan di tontoni oleh orang lain, apa lagi orang itu adalah dosenku, hadeh.
“tidur Irene… ngapain senyum-senyum gitu… hahahha”
“yaa abisnyaa…. Aneh banget aku harus tidur terus di tontonin gitu… coba gantian, Pak Jackson yang merem sekarang…”
“saya?”
“iya buruan merem…”
Pintaku pada dosenku itu.
“ehmm…”
Ia kemudian memejamkan matanya. dan saat ini bisa kulihat betapa tampannya dirinya. garis wajahnya yang tegas, benar-benar seperti seorang malaikat yang tak nyata adanya. Aku kemudian ikut memejamkan mataku. Dan entah kenapa aku merasa saat ini aku tengah tertidur di sampingnya. rasanya… nyaman dan tenang.
“selamat malam Irene…”
“selamat malam juga Pak…”
Balasku dengan tak lagi mambuka mataku.
Aku tertidur setelah itu. dan aku benar-benar tidur dengan sangat nyenyak karenanya.
….
Dan yang mengejutkanku adalah paginya saat ku buka mataku untuk bangun ku lihat handphoneku masih menyala dan langsung menampilkan wajah dirinya yang sedang tersenyum, menatapku.
“ooh…Pak- Pak Jackson??”
“pagii…”
Sapanya, dengan masih setengah sadar aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Bertanya-tanya apa ini mimpi. Sampai kucubit pipiku sendiri untuk memastikannya.
“aww… sakit”
“ngapain kamu cubit cubit pipi kamu kaya gitu?”
“loh dari semalem ini gak di matiin? Apa… Pak Jackson gak tidur semaleman?”
Tanyaku terheran-heran padanya.
“tidur…. dan saya lupa matiin ini… baru aja saya bangun”
Aku tiba-tiba merasa malu, wajah bangun pagiku harus di saksikan oleh dosenku itu. sampai ku tutupi muka bantalku ini dengan boneka pandaku.
“ngapain di tutpin, saya udah liatin dari tadi juga…”
Jawabnya santai. Rasanya benar-benar aneh saat aku tahu semalaman aku telah ‘tidur’ bersama dirinya.
“aahh… malu Pak”
Kulihat ia terkehkeh di sana.
Drrttt
Kulihat notifikasi low bat di handphoneku yang semalaman on video call dengannya.
“ehmmm… kayanya handphone aku udah low bat Pak”
“yaudah saya matiin sambungannya… sampe ketemu di kampus yaa…”
“iya Pak”
Ia langsung mematikan sambungannya kemudian.
Tiba-tiba aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Menyadari apa yang baru saja terjadi antara aku dengan Pak Jackson.
“AAAAA!!!!”
“aahh… Irene… kenapa rasanya aneh giniiiii… aku… aku… aahh jantung! Diem bentar bisa gak sih… aduhh gimana ini…”
Kurasakan jantungku bisa saja melompat karena tak bisa tenang saat ini.
“aaaa!!! OMG!!! Apa aku- aahhh masa iyaaa aku punya perasaan sama Pak Jackson”
“tapi-“
Aku tak bisa menahan senyumku setiap bayang Pak Jackson muncul di kepalaku. Ku ingat lagi apa yang sudah di lakukannya padaku, perhatiannya, kebaikannya, bahkan omelannya terdengar lebih indah sekarang di telingaku.
“aaaahhh”
Aku menendang-nendang selimutku tak karuan.
“pagi-pagi udah di bikin gila ya tuhaaannn!!!”
….
Itulah yang terjadi, sampai kini aku sudah berdiri di depan kelas pun aku masih saja teringat padanya. sedang senyum-senyum sendiri seperti orang tak waras saja.
“eiiiitsss…. Cerah banget sih hari ini… ehmmm ada apa ni?”
“tau tuh, padahal masih kemaren ni anak nangis-nangis gak jelas gitu”
Sapaan aneh dari kedua sahabatku pagi ini.
“pagiii… gituloh caranya nyapa orang pagi-pagi tuh”
Balasku pada mereka. mengingatkanku pada sapaan Pak Jackson tadi pagi tepat begitu aku membuka mataku. aahh segalanya kini jadi selalu saja ku kaitkan pada dirinya itu.
“okey… pagii… jadi ada apa hari ini sampe kamu keliatannya sumbringah banget kaya gini? Ehm? dapet jackpot ya? Lotre?”
Wendy pagi-pagi sudah mengatakan yang tidak-tidak padaku.
“engga ih, apaan sii Wen“
Kataku, tak cukup dengan Wendy, Roy kini sedang mengendusi tubuhku seperti anak anjing.
“iihh… apaan sih kalian tuh…”
Kataku, sambil ku jauhkan tubuh Roy yang mungkin sudah menciumbau-bau keanehan dari diriku.
“abis ada yang beda aja gitu. Pertama, hari ini gak titip absen. kedua, gak kesiangan juga. dan terakhir, dateng pagi-pagi gini lagi… wangi, terus pake baju cerahan, terus ini- apa inii…”
Wendy mengusap bibirku dan memperlihatkan noda merah lipstikku di jarinya yang baru saja di sapukannya di bibirku itu.
“aaah… itu- ehmm… engga sih, tiba-tiba pengen aja”
Jawabku sambil senyum-senyum sendiri saat ini. malu akan perubahanku sendiri ini.
“iiih… horror. Liat dia senyum-senyum sendiri gitu”
Tambah Roy yang sedang memandangiku aneh. Apa aku bener-bener beda ya hari ini.
“pengen apa pengeeen… jadi curiga…”
Ucap Wendy, tapi ku abaikan saja dirinya, karena kini mataku tengah menemukan sosok yang menemaniku tidur semalam. Aku lalu bertemu mata dengannya, dan rasanya….
‘aaahh… pagi-pagi aku udah di senyumin orang genteng tuhaaannn!!’
Aku meleleh di buatnya pagi ini.
Ting
From: Pak Jackson
Abis minum obat langsung cerah gitu ya… jangan bikin masalah, jangan nangis, jangan kebentur hari ini.
Aku mendapat pesan itu darinya. OMG! aku pikir… aku bisa meledak saking senangnya menerima pesan seperti itu darinya. aku bahkan jadi lemas tak bisa berdiri tegak dan bersadar pada Wendy. Memelukinya, karena tiba-tiba wajahku jadi blushing tak jelas, sampai aku merasa harus menyembunyikan wajahku itu di tubuh sahabatku.
“ih ihh… aneh banget… kesambet apa si Ren?”
“adalaaah… orang nyebelin tapi ngangenin…”
Kataku, padahal aku yang memperingatakan soal kalimat itu pada Pak Jackson kemarin, tapi aku yang justru termakan omonganku sendiri sekarang ini.
Sadar akan tinggkah anehku, Wendy langsung melepaskan pelukanku di tubuhnya dan menatapku lekat-lekat.
“Sumpaah??!!! Jadi- jadi udah bisa suka sama orang?? OMGG!!!”
“serius?? Cowok kan? Manusia kan???”
Tanya Roy, kenapa tak pernah ada pertanyaan yang benar yang keluar dari mulutnya itu -__- hhftttt
“iya laah…cowok… pria… ganteng”
Malu tapi aku harus mengakui itu pada mereka akhirnya.
“YEAAYYYYY!!!! Akhirnyaaa!!!”
“bebyyy!!! Akhirnyaaa…. ya ampuuunnn!!! Kita bisa gak backstreet lagiii!!”
Ada yang aneh disini, bukannya mereka harusnya berbahagia untukku tapi kenapa-… dan apa katanya? baby? Backstreet? Aku hanya bisa diam memandangi mereka, Roy dan Wendy yang kini sedang berpelukan erat dan tampak sangat bahagia sekali.
“kalian?”
Tanyaku mencoba memastikan.
“ehmm… jadi- ehem… kita diem-diem… jadian.”
Jujur Roy padaku dengan senyum mengembang di wajahnya itu.
“APAAA???!! Terus- sejak kapan? Kenapa diem-diem? Kenapa gak kasih tau aku?!!!”
“yaa… abisnya gak enak. Maksudnya- mau tunggu timing yang pas aja sih… Ren hehe”
Jawab Wendy, aku tak percaya kedua sahabatku sekarang berubah jadi pasangan kampus. Padahal masih beberapa hari yang lalu Wendy mengejar seseorang yang begitu gencar di dekatinya.
“aahh… kalian ini… pokoknya kalian utang cerita sama aku. aku mau tau kronologinya dari awal sampe kalian diem-diem pacaran!”
“kita ada kelas Ren-“
“bodo amat, kita kantin aja. Dan kalian wajib aku introgasi hari ini”
“heh… masuk kelas! Nakal kamu yaa!”
Aku tiba-tiba kaget sekali saat ku dengar suara tak asing dari belakangku dan saat ku lihat Pak Jackson sudah berdiri di dekatku, tengah memasang wajah seriusnya, berpangku tangan di dadanya.
“aahh… Pak Jackson”
“ehmmm… mau bolos kamu ya?”
Tanyanya dengan sorot mata tajamnya padaku.
“engga Pak”
“itu… barusan mau ke kantin?”
“aah... mau beli minum doang kok… hehe”
Balasku berasalan.
“isshh…”
Pak Jackson mendesis dan mengacak-acak pelan puncak kepalaku. kemudian tangannya mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya, lalu membukakan tutupnya dan di berikannya itu padaku.
“ini ambil… di minum. bawa sekalian terus masuk kelas sana. abis kelas ketemu saya di perpustakaan”
Ucapnya dan kuterima botol minum pemberiannya itu, setelah itu ia langsung melenggang pergi begitu saja.
“haahhh….”
kini aku berdiri saja tak mengerti sambil menatapi punggungnya yang berjalan pergi.
‘Pak Jackson itu galak tapi manis….’
Pujiku padanya dalam hati. Dan langsung saja ku teguk dengan hati yang senang, air minum dari botol yang di berikan Pak Jackson padaku itu.
“eheeemmmm Ren…”
Wendy senyum-senyum menatapku kini.
“Ren, tau gak… minum dari botol yang sama sama orang itu… katanya sama aja kaya ciuman lohh”
Uhukkkk uhukkkk
Kata-kata Roy soal ciuman itu membuatku sampai tersedak saja.
“aaahh… Roy! Yang bener aja siii… masa bisa jadi ciuman cuma gara-gara minum di satu botol yang sama”
Protesku padanya.
“lah ya iyaaa… kan bibirnya pernah nempel di botol itu… terus bibir kamu juga barusan nempel di sana jadi-“
Plakkkkk
“kaya bocah SD bangeettt sihhh… udah Ren lupain… pacar aku ini kadang agak-agak miring soalnya, udah ah masuk kelas yuuu”
“eehmmm cie pacar nih sekarang”
“ehmm pacar… dan kamu juga harus cerita…. pasti ‘pria nyebelin tapi ngangenin’ yang kamu maksud itu…. yang barusankan???”
Tebaknya, aku sampai menyiritkan kedua alisku, tertangkap basah olehnya.
“udah masuk kelas dulu, nanti di omelin dosenmu itu… hahahahah”
Wendy akhirnya menyeretku masuk ke dalam kelas.
Tapi kemudian selama kelas aku justru jadi kepikiran. Bibirku juga rasanya jadi sangat aneh, sampai ku kulumi sendiri dan kurasakan dengan lidahku. Tiba-tiba terbayang bibir Pak Jackson yang tengah berada di botol minum ini.
“hhhh…. Ciuman? Hhhh…. Engga-engga… jangan mikir yang aneh-aneh…”
…..