Irene pov
Aku benar-benar sudah seperti ABG labil kemarin sore saja, bagaimana aku bisa membenci dan menyukai (bukan dalam artian jatuh cinta atau perasaan seperti itu… tapi ehmmm maksudku hanya suka bagaimana sikapnya padaku^^) pria yang ada di sampingku di saat yang bersamaan. Aku sungguh benci sifanya yang sering kali mengomeliku dan marah hanya karena alasan sepele. Tapi kemudian anehnya, aku merasa seperti ada sesuatu yang menarikku padanya dan entah bagaimana bisa Pak Jackson selalu datang menyelematkanku di saat aku membutuhkan tangan kokohnya juga tubuhnya untuk bersandar dari segala hal yang bisa membuatku jatuh, terluka dan bahkan mungkin bahaya.
Oh satu lagi jangan lupakan soal dia yang sudah memelukku bahkan untuk kedua kalinya saat aku menangis seperti anak kecil tadi. Bisa cukup di mengerti bukan, alasan mengapa hatiku sudah berubah saat ini karena sikapnya yang seperti itu.
‘aaahhh… malu-maluin banget sii… kenapa harus nangis depan diaaa… udah gitu pakek acara di pelukin manusia itu…. kedua kalinya lagi…aarghhh’
Gerutuku dalam hati. Tapi harus ku akui, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bisa merasa tenang dalam dekapan seseorang. Bahkan hatiku bisa meluluh dan terasa amat damai begitu ia menarikku ke dalam pelukannya itu. Aku yang malangnya tak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, kutebak mungkin seperti itulah sentuh dan aman kasihnya. sampai hangat hawanya kini meninggalkan jejak di tubuhku.
‘kalo dia sampe bener-bener bisa selametin dan bikin aku aman lagi di pelukannya itu…meskipun ini kedengerannya gila… cukup gila bahkan bener-bener gila, tapi aku pikir… aku bisa kasih semua hati aku buat si dosen yang hobinya ngomel ini”
Kataku dalam hati. meski aku tak tahu scenario tuhan itu akan seperti apa nantinya. namun aku pikir dengan aku berada di sampingnya saja saat ini dan sudah begitu banyak momen yang terjadi antara aku dengannya, aku rasa ini bukan hanya kebetulan biasa. ada benang yang terpaut pada garis hidupku dan dosenku ini. jadi aku pikir baiknya aku hanya harus membiarkan takdir memapahku, jika memang benar pada akhirnya aku harus memiliki hubungan yang istimewa dengannya.
Tiba-tiba fantasiku yang cukup menggelikan dengannya muncul di kepalaku.
“iih geliii…”
“ehmm? Apa yang geli?”
Tanyanya padaku, aku larut dalam bayangan gilaku sampai berkata begitu dan sialnya malah terdengar oleh Pak Jackson.
“ahahh… engga Pak, itu kayanya kaki aku kesemutan… geli gitu”
Kataku asal.
“kesemutan?”
Pak Jackson kemudian memberikanku sebuah bantal kecil.
“di ganjel kakinya pake itu”
“oooh… ah iya makasih Pak”
Aku tiba-tiba merasa malu atas sikap perhatiannya itu padaku, pipiku sampai panas dan ku tebak pipiku sudah sangat merah saat ini.
“kamu gak papa?”
Tanya Pak Jackson padaku, ia pasti sadar kalau pipiku jadi merah begini.
“engga kok Pak”
Tiba-tiba Pak Jackson mengalihkan pandangannya padaku dan memperhatikanku lekat-lekat. Aku jadi sangat kikuk di buatnya.
‘OMG! Kenapa dia liatin aku kaya gituuuu’
Racauku dalam hati, jantungku jadi tak karuan sekali. sampai kurasakan ada yang bergerak-gerak dan tengah menggeliti perutku juga saat ini. Rasanya benar-benar tak nyaman.
“ehemm… kenapa Pak? Ada yang aneh sama wajah aku?”
Akhirnya aku berani bertanya, dan itu berhasil membuatnya mengalihkan perhatiannya itu dariku. Pak Jackson sudah kembali memperhatikan jalanan di depan.
“ehm… apa kita pernah ketemu sebelumnya?”
Aku menoleh begitu ia bertanya seperti itu.
“apa? ehmm… aku pikir gak pernah Pak”
Jawabku, kulihat dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja sambil terus focus mengemudikan mobilnya.
“kenapa Pak?”
“ehmm… engga, saya cuma ngerasa udah kenal kamu lama, bahkan saya bisa lakuin hal yang gak pernah saya lakuin ke orang lain…”
“maksudnya?”
Tanyaku, tak mengerti dengan maksud perkataannya itu.
“gak tau kenapa… bawaannya setiap kali ketemu kamu, saya pinginnya omelin kamu terus, dan lagi rasanya lucu aja gitu ternyata saya bisa tenangin bocah yang nangis kaya tadi… selama ini saya gak pernah bisa berurusan sama emosi orang kaya gitu…”
“bocah?”
Tanyaku sedikit tersinggung di katai ‘bocah’ olehnya.
“terus apa namanya kalo bukan bocah? Orang dewasa mana ada yang nangis sampe kaya kamu tadi…”
Balasnya, memang benar apa yang di katakannya itu. aku benar-benar terlihat kekanak-kanakan sekali tadi. Kenapa aku sampai bisa menumpahkan semua rasa sedihku padanya itu, aku sendiri pun tak tahu. bahkan pada Wendy maupun Roy sekalipun yang memang dekat denganku, aku tak bisa dengan gamblangnya menunjukan betapa sedihnya hatiku sampai bisa menangis sekeras tadi atau kemarin itu, seperti yang kulakuan di hadapan Pak Jackson.
“mungkin itu… itu karena gak ada yang ajarin aku caranya nangis… selama ini aku cuma terus tahan semua air mata aku, karena gak punya waktu buat nangisin semua rasa lelah, susah, apalagi hidup keras yang udah aku jalanin… sampe belakangan aku pikir itu puncaknya dan udah limit banget… sampe aku gak bisa buat gak nangis lagi…hhhh”
Ungkapku, sebenarnya aku sangat malu dan tak memiliki muka untuk mengakui semua itu padanya, sampai aku harus menolehkan pandanganku ke samping dan lebih memilih untuk melihat jalanan dari kaca jendela mobil Pak Jackson.
“hhh….”
“ini… makan, pisang bisa bantu atasin stress”
Ucapnya sambil memberiku pisang yang telah di bukakan kulitnya, olehnya itu.
“ehmm… Pak, aku lagi gak mood makan”
Balasku padanya
“makan, ini tangan saya pegel tau”
Perintahnya dengan wajah yang sudah kembali di buat menyebalkannya itu. Aku benar-benar bingung padanya, sebentar bisa terlihat manis, dan kemudian bisa tiba-tiba berubah jadi orang yang ingin sekali ku beri tinju di wajah tampannya itu.
“iya… pak maaf”
Kataku sambil ku terima pisang darinya itu dan mulai memasukannya kedalam mulutku. Menggigit kemudian ku kunyah baik-baik pisang itu, atau aku akan bisa mendapat omelan lagi darinya.
“Irene…”
“iya Pak”
“saya gak pernah tau atau sampe bisa paham kehidupan sulit mahasiswa kaya kamu yang sedikit ‘apes’ harus berjuang buat kuliah dan hidup… tapi dari apa yang saya pelajarin selaku orang yang menekuni psikologi, terkadang bersedih dan menangis itu perlu di lakukan”
“ehmm? Masa?”
Tanyaku, sambil menatap kearaahnya dengan sorot mata penasaranku.
“ehmmm…. Emosi seperti itu ada untuk menunjukan keadaan kita yang sedang tak baik-baik saja. dari pada di sembunyikan dan berpura-pura kuat… itu justru akan membuat orang lain gagal paham atas semua rasa sakit kamu itu, dan di situlah fungsi kesedihan… agar membuat orang lain sadar bahwa kita sedang membutuhkan batuan mereka. Jangan juga abaikan perasaan lelah, karena itu isyarat juga alarm tubuh untuk mengambil break. Beristirahatlah, menangislah, marahlah, tak usah menghindari semua emosi itu. jangan abaikan perasaan buruk yang kamu rasain. Terkadang marah, nangis, malas-malasan sekalipun itu baik buat kamu dari pada berusaha kuat tapi ujung-ujungnya cuma lukain diri sendiri aja”
Ucapnya, Aku merasa seperti tengah mendapat bimbingan konseling dadakan darinya. namun begitu aku juga jadi tersenyum karena kata-katanya itu terdengar healing sekali di telingaku, bahkan hatiku menghangat karenanya.
“ehmm… siap Pak, aku pikir… nanti aku mau marah sama nangis yang keras aja lagi, kalo Pak Jackson sampe bentak dan marahin aku”
Jawabku, ia terkekeh dan menatapku kini. aku dengan Pak Jackson jadi saling melemparkan senyum bahagia dan sampai bisa melupakan permasalahan besar yang terjadi antara aku dengannya.
“hhh… dosa apaa saya harus tiba-tiba punya mahasiswa yang hobinya kebentur sama nangis sampe bikin geger kaya kamu…”
Ucapnya.
“Pak Jackson percaya reinkarnasi atau kehidupan dunia sebelum sekarang ini?”
Tanyaku padanya.
“ehmmm… saya seorang kristian. Jadi kayanya itu ehmmm…”
“ah… maaf Pak, aku gak maksud-“
“gak papa… lagian banyak yang percaya juga, kenapa? ada apa soal kehidupan sebelumnya? Atau reinkarnasi itu?”
Tanyanya padaku.
“ehmmm… kalo kita pernah ketemu sebelumnya di masa lalu, hubungan kita ini kira-kira kaya apa ya Pak?”
Iseng aku bertanya begitu pada dosenku yang satu ini.
“ehmmm… aku pikir, itu hubungan antara kucing sama majikannya. Kamu itu tipekal kucing manja yang nakal dan hobinya bikin ulah. terus suka cakarin sofa di rumah saya, lompat-lompat sampe lari-lari sana sini bikin saya pusing”
Aku terperanga saja mendengarnya.
“jahat banget si Pak, gimana bisa aku cuma di jadiin kucing peliharaan, nakal lagi... hhffttt”
Protesku
“yaaa… itu karena emang cocok banget sama kamu. ceroboh, setiap ketemu saya sukanya lari-lari sampe takut jatoh saya liatnya, sering nabarak, kebentur juga, mirip banget sama kelakuan kucing nakal, bikin ulah aja kerjanya”
Untuk itu memang harus aku akui. Aku sudah berulah banyak padanya.
“hati-hati loh Pak, bisa kangen nanti”
Kataku malah berani berkata begitu padanya.
“hahaahaaa… kayanya ada banyak hal yang lebih bagus buat di kangenin deh yaaa…”
Balasnya sambil tertawa.
“seriuuussss… ngangenin itu berawal dari nyebelin loh Pak”
Tambahku.
“berhenti ngelantur. Itu mending kamu bawa semua kotak yang ada di kursi belakang”
Ucapnya, kemudian aku menoleh dan di sana ku temukan tiga kotak besar. Penasaran apa saja isinya, aku mengintip dengan membuka sedikit kotak-kotak itu.
“blubbery? Pisang? Ini… satu lagi obat apa Pak? Dan lagi… kenapa Pak Jackson kasih ini semua buat aku?”
Tanyaku sedikit heran padanya yang tiba-tiba ingin memberiku semua itu, yang jujurnya masing-masing isi kotak itu jumlahnya tak sedikit, banyaaaaakkk sekali.
“itu bagus buat motorik sama konsentrasi. Kayanya kamu butuh semua itu biar gak kebentur dan bisa sedikit kurangin sifat ceroboh kamu itu…”
Ucapnya padaku, aku tersenyum kini menatapnya, terharu tapi kemudian juga jadi ada sedikit tanya dan curiga. Sampai dalam hati aku bertanya-tanya
‘kenapa Pak Jackson perhatian banget sampe kasih aku semua ini...’
“Pasti ada maunya… iya kan?”
curigaku pada Pak Jackson. Dan ia malah tertawa terbahak-bahak begitu mendengarku berkata begitu.
“hahahahh… kira-kira apa mau sayaa dari mahasiswa kaya kamu Irene? Hah? Aduuuuh… Saya itu cuma gak tega aja… kamu udah kena masalah sama saya soal mutiara kemarin, dan saya gak mau kamu bikin ulah yang lebih gede lagi… itu aja”
Jawabnya.
“aah… itu ya…”
“emangnya kenapa? kamu pikir saya mau minta apa dari kamu?”
Tanyanya padaku,
“sshhhh… biasanya yang baik-baik sama aku tuh, pasti aja ujung-ujungnya minta yang engga-engga. Jadi aku agak was was buat terima kebaikan dari orang”
“terus kamu pikir saya mau minta yang engga-engga kaya gimana? Ehmm?”
Ku tatapi dirinya, yang sepertinya penasaran dengan apa yang ku pikirkan tentangnya.
“eemmm… mungkin Pak Jackson kasih aku semua itu… biar aku bisa lebih sehat. Terus abis aku sehat, organ aku jadi memenuhi syarat buat di jual dengan harga yang tinggi”
“APAA??? Kamu pikir saya ini criminal apa? buat apa saya pake acara jualin organ kamu segala?”
Aku tertawa saja mendengarnya yang kini sedang memasang wajah terkejut dan tak percayanya dengan apa yang ku pikirkan tentangnya. Karena memang kalau di pikir lagi curigaku itu benar-benar tak masuk sekali di akal.
“hahahahh… abisnya biasanya orang yan kelewat ganteng kaya Pak Jackson itu berpotensi jadi psikopatnya itu cukup tinggi, jadi kadang aku pikir Pak Jackson itu tipikal evil di novel-novel gitu loooh”
“Evil? waah saya ini seharusnya jadi angel … sembarangan kamu ini!”
Balasnya.
“aahahahhh…”
Aku hanya terus saja tertawa, tak menyangka aku bisa memiliki obrolan yang menyenangkan selama perjalanan pulang bersama Pak Jackson. hubunganku dengan dosenku ini rupanya bisa menjadi seperti sebuah pelangi yang mucul setelah semua badai. Aku pikir aku bisa memiliki hubungan baik dengannya terlepas dari kekacauan penelitian dan mutiara yang tetap harus ku ganti.
….
“hhhh…. “
Ku hempaskan tubuhku ke kasurku.
“aduh kenapa aku senyum-senyum gini yaaa…”
Kataku merasa sangat aneh, aku seperti mendapat suntikan dopamine yang besar setelah turun dari mobil Pak Jackson beberapa menit yang lalu.
“aah… buahnya… harus aku masukin kulkas”
Kataku sambil bangun dan mulai membawa kotak blubbery juga pisang pemberian Pak Jackson.
Ting
From Pak Jackson:
Vitaminnya di minum jangan lupa baca aturan makan sama dosisnya
“cih… dia ini… aku gak tau Pak Jackson punya sisi perhatian kaya gini…”
…..
…..