Kelas Biopsikologi 11B1
Ada yang aneh dari Irene, ia terlihat berbeda dari biasanya, wajahnya lebih murung dan tak bersemangat di kelas favoritnya hari ini, begitu pikir dosen yang kini duduk di mejanya tengah menerka-nerka ‘ada apa dengan’ salah satu mahasiswanya itu.
Bahkan sampai akhir kelas Irene Kim tetap hanya diam lesu. sampai akhirnya semua mahasiswa mulai pergi meninggalkan kelas, menyisakan Irene yang masih membereskan beberapa bukunya dengan sangat malas.
“Irene, kenapa? hari ini kelas saya ngebosenin ya, sampe kamu keliatan males duduk di kelas saya?”
Tanya dosen wanita yang terlihat masih sangat muda itu, langsung to de point saja dirinya bertanya seperti itu pada Irene. dan Irene sampai menaikan kedua alisnya, membelalakan matanya begitu mendengar pertanyaan dari dosen yang cukup dekat dengannya itu.
“aah… tidak Bu Wina, hari ini… ehm hari ini aku cuma sedikit gak enak badan aja kok… jadi gak bisa ikutin kelas kaya biasanya”
Jawab Irene, ia jadi merasa bersalah pada dosennya yang telah membantunya banyak selama ini. ia tak tahu jika suasana hatinya yang tak begitu baik hari ini akan di tanggapi begitu oleh Bu Wina.
Biasanya Irene memang paling bersamangat saat mengikuti kelas Biopsikologi. karena menurutnya mata kuliah biopsikologi itu yang paling ilmiah, yang di buktikan dari penelitian fisik yang mendukungnya. berbeda dari mata kuliah psikologi lainnya yang butuh pemahaman lebih karena menyangkut dan melibatkan psikologis manusia seperti kebiasaan, sikap, sampai perasaan dan emosi yang tak nyata bentuknya.
“ohh… apa jadi asisten peneilitian Pak Jackson berat ya sampe kamu jadi gak enak badan hari ini?”
Tanya bu Wina pada Irene.
“ehmm? …. Ah, sebenernya Pak Jackson baik Bu, dia banyak banget bantu dan ajarin aku… tapa yaaa ibu tau sendiri kalo aku ini orangnya ceroboh jadi masalah-masalah kecil itu pasti aja terjadi terus bikin susah sendiri…”
Ucap Irene, dan dalam hatinya ia diam diam berkata
‘andai aja beneran cuma malasah kecil, aku pasti gak akan sampe gak focus kaya gini, aahh… mutiaranya bener-bener bikin aku kacau banget’
“Pak Jackson hari ini juga gak masuk, saya pikir penelitian kalian berat sampe bikin kesehatan kamu sama Pak Jackson jadi turun kaya gini”
“APA? Pak Jackson sakit? tapi- tapi kemarin-“
Irene sedikit terkejut mendengar pria yang banyak membentaknya kemarin itu ternyata bisa sakit juga sampai tak mengajar hari ini. namun ia juga jadi sedikit khawatir dan gelisah pada keadaan dosen yang selalu memarahinya itu.
‘apa mungkin karena mutiaranya yang aku ancurin yaa, makanya Pak Jackson sampe sakit gini … aduh kok bisa siii…’
“Irene… Irene… semua baik-baik aja kan?”
Irene kini jelas menampilkan wajah gelisahnya, sampai bu Wina merasa harus bertanya untuk memastikan keadaannya.
“aah… saya harus cepet pergi bu Wina… maaf soal kelas hari ini… permisi”
Irene terburu-buru pamit dan kemudian pergi meninggalkan dosennya yang masih tak mengerti dengan dirinya, di kelasnya itu. Irene langsung membuka handphonenya dan mencaritahu informasi alamat rumah Jackson yang di ketahuinya sedang sakit itu. Irene bermaksud ingin melihat keadaannya, dan meminta maaf padanya soal penelitian yang di buatnya berantakan kemarin.
“atau … aku hubungin aja dulu kali ya Pak Jacksonnya … tapi-“
Drrttt
Drtt drtt
Panjang umur sekali pikir Irene, baru saja Pak Jackson akan di hubunginya, tapi kini justru satu panggilan masuk darinya tengah membuat handphone Irene bergetar dan menungu dirinya untuk segera menjawab panggilannya itu.
“ooh Pak Jackson nelpon… aduh gimana ini? kok jadi deg deg-an gini ya… padahalkan juga aku tadi niat nepon, tapi giliran sekarang dia yang nelpon aku jadi … aduh angkat jangan yaa??”
Meskipun Irene sedikit ragu dan takut, tapi akhirnya ia menjawab panggilan itu.
“ya hallo… Pak- Pak Jacskon “
Tergagap-gagapa Irene menjawabnya.
“ehm… Pak Jackson baik-baik aja kan? Gak kenapa-kenapakan?”
“……”
“kafe? Kafe di mana? Aah… iya- iya iya Pak saya langsung ke sana sekarang juga”
Tiba-tiba Pak Jackson ingin menemuinya dan menyuruhnya datang ke sebuah kafe di dekat area komplek perumahannya. Dari suaranya, Irene pikir dosennya itu baik-baik saja, masih bernada sama seperti biasanya, tidak terdnegar serak seperti orang terkena flu, demam atau batuk.
“apa Pak Jackson pengen aku ganti mutiaranya itu sekarang juga ya?? Atau jangan-jangan karena dia tau kalo aku ini gak mempu buat ganti, jadi dia mau ketemu aku buat keluarin semua organ aku… terus- terus di jual gitu buat ganti mutiaranya??? Ahhhhh… serem bangett!”
“tapi Pak Jackson gak nyuruh ke rumahnya dan malah minta ketemu di kafe, tunggu itu berarti…”
Irene terus menggumam dan berpikir yang tidak-tidak tentang Pak Jacksonnya itu.
“ahh… engga-engga gak mungkin Pak Jackson gitu, dia itu normal kok, cuma kadar gantengnya aja yang gak normal dan over itu”
“dan lagi aku ketemu dia di tempat yang rame, jadi kalo sampe ada apa-apa aku bila langsung minta tolong sama orang-orang…”
“Irene”
Panggil Roy pada wanita berbalut sweeter biru yang sudah di perhatikannya sejak tadi tengah bergumam aneh sendiri,
“kenapa ngomong sendiri gitu? Udah kelasnya? terus sekarang mau kemana? Kantin?”
Seperti biasa Roy selalu tak bisa bertanya satu-satu, sampai Irene selalu hanya menjawab pertanyaan terakhirnya saja karena tak dapat mengingat semua pertanyaannya itu.
“engga, aku harus ketemu Pak Jackson di kafe One Coffee sana”
“Pak Jackson? Serius? Waah… pasti mau bicarain mutiaranya itu ya…”
Tebakan Roy sama persis seperti apa yang Irene pikirkan sebelumnya, pasti Pak Jackson ingin bertemu karena mutiara yang hancur itu.
“kayanya si iya… ah, aku harap dia gak tuntut aku deh…”
“aku doain kamu selamet, balik dengan tangan, kaki sama kepala yang masih lengkap deh…”
Roy malah menakut-nakuti sahabatnya dengan mendoakannya seperti itu.
“iiih… nyebelin, jangan ngomong gitu dongg… aku jadi takut kaannn…”
Irene merengek hampir menangis karena di takuti-takuti sahabatnya itu. Irene sampai memukul-mukuli d**a Roy karena kesal dengan perkataan baru saja itu.
“ooh..ooh sakit! ampun, becanda- becanda… gak lah dia juga mikir-mikir kali masa iya mau apa-apain cewe cantik kaya bestie aku ini…”
Ucapnya sambil menghentikan tangan Irene dengan memeluknya.
“nanti kalo ada apa-apa kamu langsung hubungin aku okey… atau mau aku anter sekalian?”
tawarnya pada Irene, tapi yang di tawari hanya menggelengkan kepalanya masih dengan raut kesal di wajahnya.
“makasih, tapi engga deh. Kayanya pergi sendiri aja”
“yaudah, hati-hati”
“yaaa…”
Setelah berpisah dari Roy, Irene langsung pergi menuju kafe tempatnya akan bertemu dengan dosennya itu. ia berusaha untuk tak terlambat menemuinya, sampai-sampai Irene memilih untuk berlari begitu turun dari kendaraan umum yang membawanya untuk bisa sampai di kafe itu.
Matanya mulai di edarkannya ke sekeliling, mencari sosok tampan tapi menyebalkan, Si Pak Jackson itu.
“ah… itu dia”
Irene langsung menghampirinya begitu ia menemukan Pak Jackson yang sedang duduk dan menunggu dirinya.
“kamu ini… gak usah lari-lari gitu kalo jatoh nanti gimana…”
Baru saja bertemu, Irene sudah harus di marahi oleh Pak Jackson karena berlari-lari.
“maaf Pak”
Ia tertunduk.
“duduk, ngapain berdiri terus”
Irene menurut dan duduk saja sesuai perintah Si Pak Jackson dosennya itu, Ia harus benar-benar ekstra sabar menghadapi dosennya yang satu itu. lucunya Irene terlihat seperti anak nakal yang tengah di marahi oleh gurunya saat ini.
Hening untuk beberapa saat. Irene menunggu Jackson untuk memulai pembicaraan.
‘duh… di marahin gak enak, di diemin gini apalagi… bener-bener deh ni orang... ngomong dong, apa kek gitu… kenapa nyuruh ke sini tapi malah diem-dieman gini…hhfffttt ’
Irene memberanikan diri untuk melirik dosennya itu, ia tampak tenang dan sedang menyeruput kopinya saat ini. karena kelihatannya Jackson tak berniat untuk memulai pembicaraan, dengan ragu Irene merasa harus mulai mengatakan sesuatu dan memecah situasi canggung itu.
“Pak Jackson demam? Atau sakit-“
“saya cuma stress gak bisa tidur. Dan itu gara-gara kamu”
Irene langsung merapatkan bibirnya, ia menyesal sudah bertanya. kini ia sudah menundukan kepalanya siap untuk meminta maaf.
“maaf Pak… soal yang kemarin… aku-“
“kamu punya pacar?”
Tanya Jackson tiba-tiba, Irene mendongak begitu di tanyai soal pacar oleh dosennya itu.
“ehm? pacar?”
“iya pacar? Kamu punya pacar di kampus?”
Pertanyaan itu di rasa terlalu random bagi Irene. sampai-sampai ia menyirit tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaannya itu.
‘bukannya itu terlalu privasi, soal pacar dan hubungan… ehmm kayanya itu bukan hal yang bisa di atur dan gak pas jadi pembicaraan antara mahasiswa sama dosennya deh’
“iya… karena mungkin aja sikap kamu yang ceroboh itu gara-gara kamu terus gak bisa focus pikirin pacar kamu”
‘huhhhh… ini udah kelewatan… kenapa dia tiba-tiba sok tau gini sih’
Irene jadi emosi saat ini, Jackson sudah terlalu keterlaluan menurutnya.
“Pak, saya ini gak punya pacar, dan soal sikap saya yang ceroboh itu-“
“apa di kampus ada mahasiswa yang namanya Julian?”
“Ju… Julian?
Irene benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan dosennya saat ini, kenapa dirinya sampai membawa-bawa nama orang yang bahkan tak pernah di kenalnya sama sekali. it’s nonsense, begitu pikirnya.
“hhhh…. Pak, jika Pak Jackson seperti ini sama saya karena mutiara kemarin itu, saya akan coba ganti. jadi gak usah ngerembet kemana-kemana pake bahas-bahas soal pacarlah, soal sikap ceroboh saya lah… dan lagi saya gak tau Julian yang Pak Jackson maksud itu siapa”
Ucap Irene pada dosennya,
“soal mutiaranya-“
“saya janji bakal ganti itu Pak, jadi tenang aja…”
Namun sebenarnya yang ingin di bicarakan oleh Jackson pada Irene bukanlah soal mengganti mutiara yang tak sengaja di remukannya itu. ia hanya terus di hantui oleh bayang-bayang Irene yang tak henti-hentinya muncul di kepalanya sambil menyebutkan nama Julian. Karena itulah Irene di mintainya datang menemui dirinya hari ini.
bahkan karena saking penasarannya ia tak tidur semalaman karena si Julian yang entah siapa itu, terus di dengarnya. Dan suara itu persis sekali suara wanita yang sedang berbicara dengannya saat ini. Jackson sampai tak bisa mengajar karena baru bisa tidur pukul 7 pagi tadi.
“hhh… jika kamu kesulitan nanti, kamu bisa tanya informasinya sama saya soal itu… jadi-“
“terimakasih Pak, tapi saya pastiin saya bisa dapetin mutiara itu sendiri tanpa bantuan anda, Pak Jackson”
Ucap Irene. ia kemudian berdiri.
“permisi”
Pamitnya langsung berjalan pergi dan meninggalkan Jackson sendiri di meja itu.
“hhhh… kenapa dia marah-marah gitu ya… apa aku salah ngomong tadi? Padahal itukan pertanyaan biasa, emang apa salahnya saya tanyain orang yang mungkin aja salah satu mahasiswa di kenalnya atau soal dia yang udah punya pacar atau belum… sentitif banget si”
Kemudian Jackson memandangi satu kotak vitamin untuk melatih focus bermerek Blackmores dengan kandungan omega-3, vitamin D, vitamin B-kompleks, vitamin C, asaam folat, zink, biotin, iodin yang di bawanya tadi.
“padahal sebenarnya aku cuma pingin kasih vitamin ini buat dia, supaya dia bisa lebih focus dan bisa kurangin sifat cerobohnya itu… tapi malah marah-marah apa lagi PMS kali ya…”
Jackson sedikit kesal, ia tak menyangka niat hatinya yang ingin membantu Irene malah membuatnya jadi emosi seperti tadi.
Bahkan dia juga sampai membawa sekotak penuh blubbery dan pisang yang di percaya bisa meningkatkan kemampuan konsentrasi otak dan kerja motoric tubuh. Jackson ingin memberikan semua itu panya karena ia tak ingin melihat Irene yang hobi sekali terbentur, karena tak bisa focus.
“ini… kalau aku kasih ke dia, pasti dia bakal anggap niat baik aku ini adalah hal yang engga-engga lagi…”
“ckk… tapi dia butuh ini. kalo dia sampe kebentur dan gak ada aku di sana… terus jatuh… terus-“
“tunggu! ngapain aku peduliin dia sampe kaya gini… aduh Jackson ngapain si… kenapa harus sampe kepikiran gini… apa mungkin karena… ehm belakangan aku yang suka nangkap tubuhnya yang hampir jatoh kali yaa, jadi aku- aku- aahhhh… tau ah pusing”
“lah… terus ini gimana?”
Jackson tampak kebingungan sendiri karena mahasiswanya itu. ia terlihat seperti orang gila yang meracau tak jelas sendiri duduk di kafe itu.
…
Sampai akhirnya Jackson berdiri dengan semua kotak-katak yang tak jadi di berikanya pada Irene, dan kemudian berjalan keluar kafe.
“ooh… ada apa itu?”
Perhatian Jackson kini terfokus pada salah kerumunan orang yang sepertinya telah terjadi keributan di sana.
“apa sih… kok ribut-ribut gitu”
Karena penasaran, Jackson kemudian berjalan menghampiri beberapa orang yang tengah berkerumun itu.
“oooh… apa-apan ini??!!”
Jackson sangat terkejut saat ia tahu siapa yang sedang menjadi pusat kerumunan itu. Ia bahkan langsung masuk ke tengah-tengah mereka,
“lepas! Ada apa ini??!!!”
Jackson dengan sangat marah berkata begitu pada wanita bertubuh gemuk dan terlihat begitu kasar yang sedari tadi tengah memaki dan menjambaki orang yang membuat jackson sampai harus terlibat dalam keributan itu.
“aaah… ahh… sakitt sakittt”
Irene yang masih di jambaki keras-keras oleh seorang wanita yang sedang terlihat begitu marah padanya itu, hanya bisa meringis dan pasrah saja tak bisa melawannya.
“biarin!! Cewek genit sok kecantikan ini… harus di kasih pelajaran biar tau rasa!!”
Jackson jadi terseulut emosinya, tak terima begitu mendengar wanita itu mengatai Irene sembarangan seperti itu.
“Lepasiiin!!!!”
Dan dengan sekuat tenaga Jackson akhirnya berhasil memisahkan Irene dari wanita itu. Namun karena terlalu kuat Jackson memisahkan keduanya, sampai-sampai rambut Irene banyak yang lepas karena terlalu erat di jambaki wanita itu.
“aaaah!!! Sakit! pelan-pelan lepasinnyaaa!!!”
Irene yang baru saja terlepas dari wanita itu lantas marah pada Jackson, karena banyak helaian rambutnya yang sampai lepas dari kulit kepalanya.
“maaf… maaf…sakit ya…”
Jackson meminta maaf pada Irene sebelum kemudian ia menyembunyikan Irene di belakang tubuhnya untuk melindunginya, takut-takut wanita itu akan kembali menjambaknya.
“sebenernya ada apa ini? Kenapa kamu sampe ngejambak dia kaya gitu hah?”
“aduh Mas ganteng… mending jauh-jauh deh dari cewek kecentilan kaya dia itu … dia itu udah godain pacar saya”
Jelasnya.
“godain???”
Jackson menyirit tak percaya kaget juga, mendengar penuturannya yang berkata bahwa Irene baru saja menggoda seorang pria.
“hhh…”
Jackson menatapi Irene yang di sembunyikannya di belakang tubuhnya itu, lewat sorot matanya Jackson mempertanyakan kebenarannya, dan ia menggelengkan kepalanya sebagai balasannya.
“jangan sembarangan ya! godain gimana maksudnya?”
“iya… jadi, cewe ini tadi kecentilan, tebar pesona gitu. bikin pacar saya liatin dia sampe gak ngedip-ngedip … terus pacar saya itu jadi gak perhatiin saya dan pergi gitu aja samperin dia!”
Jelasnya, Jackson ingin sekali mengamuk pada wanita yang menjambak Irene barusan itu, yang ternyata penyebabnya adalah hanya karena alasan seperti itu.
“hah? Jadi cuma karena pacar kamu yang lebih pilih perhatiin dia dari pada kamu… kamu jambak dia gitu aja? Sarap gak waras emang!”
Jackson kesal sampai mengatai wanita di hadapannya itu, sekasar itu.
“ya… karena itu salah-“
“itu salah kamu, kenapa kamu gak lebih menarik buat di perhatiin dari pada cewek aku ini”
Jawab Jackson dengan tiba-tiba mengaku kalau Irene ini adalah ‘cewek-aku’
“Cewek?”
Irene sampai terheran-heran dengan penakuan dosennya yang tiba-tiba itu.
“ooh… jadi situ pacarnya”
“iya… dan kamu salah udah berani gangguin pacar saya ini… jadi minta maaf sebelum saya laporin kamu ke polisi…”
Ancam Jackson padanya.
“laporin aja, saya gak salah kok”
“gak salah? Kamu gak sadar apa yang ada di tangan kamu itu?”
Semua mata langsung menuju kepada apa yang ada dalam genggaman tangan wanita bertubuh besar yang sedang marah itu.
“ini… ini rambutnya… bisa sampe lepas kaya gini… yaa... karena rambutnya aja kali yang rontok… di pegang dikit udah kelepas kini”
Alasannya itu tak di dengar Jackson, ia malah mengeluarkan handphonenya dan di dekatkannya handphonenya itu pada telinganya, siap untuk menghubungi seseorang.
“hallo… Pak Polisi saya ingin mengajukan-“
“maaf! Maaf!! Maafin aku… tadi aku cuma gak terima dan kelewat cemburu aja, jadi maafin aku”
Akhirnya ia meminta maaf dan tanpa babibu lagi ia langsung terbirit-b***t berlari ketakutan, berusaha melarikan diri mejauh sebisa mungkin dari Irene juga Jackson.
Semua orang akhirnya bisa membubarkan diri dan tak lagi mengerumuni Irene. kini di area itu hanya menyisakan dirinya yang sudah berpenampilan tak karuan juga berantakan, dan Jackson yang tengah menatapinya dengan kasihan.
“hhh… kamu ini… bisa gak sih sekali aja gak terlibat masalah…”
Ucap Jackson pada Irene yang baru saja menjadi korban karena perlakukan tak adil itu.
“dan Pak Jackson bisa gak sih sekali aja gak marahin aku… aku… aku gak salah apa-apa… tapi kenapa - kenapa aaaahhhh…. Ahahhahhhh”
Irene mulai menangis, dan lagi-lagi ia menangis tepat di saat Jackson tengah ada di sampingnya.
“oooh… jangan lagii… kenapa kamu nangis kaya gini lagi…”
Ucap Jackson,
“ahahaaaaa… aaaa!!”
Irene benar-benar mengeluarkan semua air matanya dan sudah menangis dengan sangat keras saat ini, Jackson merasa ini seperti de ajvu baginya.
“berhenti nangisnya… udah yaaa…cup cup cup”
Ucapnya sambil mengahapus air mata yang deras mengalir di wajah Irene dengan jari-jari lembuatnya, tangannya juga kini mulai membenarkan rambut-rambutnya yang tadi di buat berantakan. Jackson menatanya kembali untuk Irene yang masih menangis itu.
“ini sakit?”
Tanya Jackson sambil mengusapi bagian kepala yang tadi di jambak wanita itu, sampai dirasakan oleh Jackson kalau rambut Irene di bagian itu jauh lebih tipis dari bagian lainnya.
“ehmm… sakit… dasar cewek nyebelin! Aahhhh”
“cup cup udah… udah nangisnya… udah”
Jackson berusaha menghentikan tangisan Irene dengan menarik tubuh Irene mendekat padanya lalu memeluknya dan mengusapi lembut punggungnya.
“udah yaa… ssttttt”
Jackson berusaha menenangkan Irene. Dan perlahan suara tangisan Irene sudah mereda dan hanya napasnya saja yang berusaha untuk di normalkannya setelah lama terisak.
“udah gak papa?”
Tanya Jackson. Irene mengangguk saja menjawabnya.
“ahhh… kamu ini udah ceroboh, suka bikin ulah, cengeng lagi…”
“hikks hiksss…”
Irene seperti akan mulai menangis lagi mendengar kata-kata Jackson itu. sementara Jackson yang menyadari hal itu langsung mendekap Irene kembali dalam pelukannya.
“engga… enggaaa engga kok. Becanda serius… kamu itu cantik serius deh, jadi jangan nangis lagi yaaa… udah”
“sekarang masuk mobil saya, kamu saya anter pulang”
….
….
….