"Bangun, Tuan. Bangun!" Penumpang lain membangunkan Zavier yang tampak sedang mimpi buruk. Mereka mendengar pria itu mengatakan sebuah kalimat yang menyatakan sanggahan atas kesalahan.
"Anda bermimpi?" tanya pramugari pesawat.
"Ah, aku baik-baik saja. Maaf, membuat kalian tidak nyaman," jawabnya.
Dahi Zavier dipenuhi dengan keringat, dia ingat jelas kalimat yang Dyra katakan saat hadir dalam mimpinya. Matanya bergetar ketakutan karena apa yang terjadi dalam mimpi itu seperti nyata.
"Ini bukan kesalahan, ini awal dari perjuangan, Dyra. Pergi kamu!" cerutu pria itu sembari menyingkirkan wanita itu dari pikirannya. Walau merasa tak tenang sama sekali, akhirnya Zavier segera berasa satu pesawat dengan Kikan. Mereka berdua sengaja berangkat secara terpisah, hingga akhirnya keduanya menyatu setelah transit.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kita hanya terpisah barang kali tiga jam saja," tanya Kikan.
"Hm, tapi rasanya aku sangat kesepian tanpamu," jawab Zavier.
Pria itu memang berencana membuat Kikan semakin tergila-gila padanya. Dia akan berusaha menjilat perempuan itu agar dana segera membuat kerongkongannya yang kering kerontang segera terisi.
"Ah, manis sekali kamu, Sayang." Kikan sudah kepalang terhasut. Dia dibutakan oleh cinta dan rasa kesepiannya.
"Ini jet pribadimu?" tanya Zavier ingin tahu.
"Bukan, tepatnya ini milik papaku," jelas Kikan.
Ternyata bukan Kikan saja yang kaya raya, ayahnya juga seorang kaya raya yang memiliki beberapa bisnis besar di bidang tambang. Tak heran jika kemewahan selalu membuat Kikan merasa bisa memiliki apa yang dia inginkan. Walau terkadang hal-hal yang tak masuk akal.
"Papamu sama saja milikmu," balas Zavier. "Di mana orang tuamu? Kamu mengatakan mereka akan ikut bersama kita, kenapa hanya ada kita berdua saja di sini?" desak Zavier.
"Aku hanya berbohong pada management. Tidak mungkin orang tuaku bisa ikut denganku. Mereka terlalu memikirkan diri mereka sendiri, sedang kru dan asistenku, mereka naik pesawat komersil. Aku tidak mau bau miskin mereka menjadi aroma utama di jet pribadi papaku ini," jelasnya dengan sangat sombong.
Citra model itu di media sangat baik. Dia begitu ramah, sopan dan berprestasi. Banyak dari prestasinya yang sudah menjadi rahasia umum. Mulai dari pencapaiannya dikancah dunia, sampai dengan terkenalnya dia sebagai model terkaya seantero negeri. Semua dibungkus apik dengan pemberitaan tentang kedermawanannya yang sering diabadikan melalui kamera para juru warta.
"Seperti inikah dirimu?" batin Zavier yang terkejut.
Dia cukup kaget dengan kalimat merendahkan yang Kikan katakan. Rasanya sangat mustahil itu keluar dari mulut seorang Kikanaya Aloudy. Pria itu sampai diam mematung tanpa reaksi apa pun.
"Sayang, perjalanan kita akan panjang. Aku butuh kamu," ujarnya nakal.
"Apa yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Zavier dengan cepat menanggapi godaan Kikan.
Kikan membuka satu persatu kancing kemeja Zavier, dia membuat d**a pria itu terbuka dengan cepat. "Lakukan ini untukku," pinta Kikan yang mengarahkan Zavier untuk menyentuhnya sekali lagi.
"Apa kamu mabuk?" tanya Zavier menyakinkan.
"Sama sekali tidak," balasnya tegas. "Apa kamu mencium bau alkohol?" Kikan menegaskan dan dibalas dengan gelengan kepala oleh Zavier.
"Bukankah ini akan membuat orang-orang yang ada di sini tahu apa yang terjadi pada kita?" tanya Zavier merasa risih.
"Mereka semua orangku, mereka juga biasa melihat hal seperti ini," jelas Kikan.
Zavier kemudian menyimpulkan jika bukan hanya dia pria yang pernah menyentuh Kikan. Gadis yang terlihat sangat polos di media itu ternyata memiliki kebiasaan mengerikan untuk menghapuskan setiap kesepian yang dia rasakan.
"Tidak perlu heran, Zavier. Aku bukan gadis munafik yang akan mengatakan jika aku baru tidur denganmu. Aku adalah pecandu, aku harus mendapatkan apa yang hasratku inginkan," jelasnya tegas. "Kamu adalah pria yang kesekian yang aku pakai untuk itu, tapi aku berani bersumpah hanya kamu yang aku inginkan lebih dari sekali." Penjelasan yang terdengar sangat menjijikan.
"Tak masalah, aku tahu artinya," balas Zavier menjatuhkan harga dirinya serendah-rendahnya di hadapan Kikan. Dia tak ragu untuk menjadi pemuas model itu.
"Walau aku terlihat menjijikan, tapi aku tak gunakan lebih dari tiga pria. Semua adalah kekasihku, kamu yang ketiga dan aku katakan hanya kamu yang bisa masuk ke dalam hatiku. Yang lain hanya sebatas bonekaku untuk bersenang-senang," jawab Kikan.
Wanita itu segera membuka dress yang dia kenalan di bandara tadi. Pakaian berbahan satin sutra itu adalah keluaran merek terkenal Paris yang harganya sangat mahal. Bahkan bisa dibilang barang langka. Siapa sangka Kikan merusaknya dengan mudah dengan menarik kasar bagian kancingnya sehingga membuat dadanya menyembul dari balik kain sutra itu.
"Dia tidak memakai bra?" Zavier terlihat heran.
Wanita yang bentuk tubuhnya diakui seluruh dunia itu terlihat begitu mempesona dengan dress yang digunakan di bandara tadi. Namun siapa sangka jika ternyata wanita itu tak memakai bra di dalamnya.
"Kenapa, Sayang? Kamu merasa aneh? Bukankah ini sudah kali kedua?" goda Kikan.
Seperti sudah diberi lampu hijau oleh sang model, Zavier segera mengambil perannya. Dia berubah menjadi seekor kuda liar yang mengendalikan perjalanan keduanya mengarungi beberapa klimaks dalam satu cerita ranjang. Seperti yang Kikan inginkan, Zavier membuatnya mengerang dan melenguh penuh dengan sensasi yang tak bisa dia jabarkan dengan kalimat.
"Sayang, kamu membuatku gila," kata Kikan berulang kali.
Yang ada di dalam benak Zavier hanya berusaha membahagiakan Kikan, bukan tentang apa yang dia lakukan untuknya sekarang. Dia bagai b***k yang ditugaskan untuk meladeni sahayanya yang sudah setengah gila karena kesepiannya. Setelah dua pencapaian yang melelahkan, Zavier terbaring penuh peluh di ranjang. Dia bahkan lupa jika mereka tengah berasa di atas ketinggian.
"Anggap saja ini perjalanan perayaan hubungan kita, Zavier. Percayalah ini baru awal dari perjalanan kita. Di depan nanti, akan banyak moment penuh cinta yang akan kita lewati," kata Kikan.
Dia memang terlalu bodoh jika tentang cinta. Dia tak peduli apa yang terjadi di luar sana saat hasratnya sudah mencapai puncaknya. Wanita itu memiliki keinginan untuk lebih dan lebih lagi setiap kali bersentuhan dengan Zavier.
"Sayang, aku tahu ini terlalu dini untuk bertanya. Tidaklah kamu takut jika ini akan tercium oleh media?" tanya Zavier khawatir.
"Kamu takut istrimu melihat berita kita di televisi?" Kikan mengejek Zavier.
"Bukan, Sayang. Bukan itu." Buru-buru pria itu menepis. "Aku khawatir pada karirmu," lanjut Zavier.
"Aku punya segalanya, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau tanpa memikirkan media. Syaratnya hanya mudah, bermain di belakang kamera dan bergerak dengan rapi." Kikan menjelaskan.
"Aku akan dapat investasimu setelah ini, bukan?" Zavier terlalu mata duitan.
Pertanyaan itu membuat Kikan murka, baru saja perjalanan dimulai, Zavier sudah menanyakan perihal uang investasi.
"Lakukan apa yang aku inginkan selama kita bersama, setelah kita mendarat di tanah air, aku akan berikan secara langsung," jawab Kikan tertantang.
Zavier menarik lagi dagu wanita itu dan mencumbuinya dengan garang. Kikan hanya bisa menuruti ritme permainan sang pengendali yang membuatnya berada dalam kungkungan. "Akan aku habisi kamu sekali lagi, Sayang," bisik Zavier yang sudah profesional.