Mobil melaku dengan cukup kencang. Dyra hilang kendali dan beberapa kali hampir menyelakai dirinya sendiri. Ringsek di bagian depan mobilnya saja bahkan masih tercetak jelas, tapi dia yang sudah tak bisa menahan segala amarahnya hanya ingin segera sampai rumah.
"Hati-hati, apa kamu ingin mati!" Beberapa orang bahkan sampai meneriakinya gila karena terlalu ceroboh dan hampir membuat pengguna jalan lainnya celaka.
Namun, dewi keberuntungan masih melindungi nyawanya. Takdir masih membawanya pulang ke rumah dengan selamat. Walau dirinya sudah kacau, tapi Dyra masih cukup waras untuk membuat perhitungan dengan wanita tua yang sudah membuat perusahaan mengalami failed.
"Mama!" Dyra memanggil ibu mertuanya sejak masuk pintu utama rumah itu. Dia berteriak seperti orang yang datang menagih hutang. Matanya bahkan masih lembab dan hidungnya masih berair saat ini.
"Keluar, Ma!" perintah itu menjadi sebuah panggilan paling dibenci oleh Nyonya Affandi, sehingga begitu mendengar kalimat perintah itu, dia segera berjalan keluar kamarnya.
"Ini rumah, Dyra. Kenapa kamu teriak-teriak seperti berada di hutan?" protesnya.
"Ini hutan, Ma. Rumah ini bahkan lebih mengerikan dari hutan," jawab Dyra lugas.
"Sudah gila kamu, ya? Datang teriak-teriak dan sekarang mengatakan jika rumah ini seperti hutan," omel wanita itu.
Dyra hanya tertawa, bahkan tawanya kali ini juga sangat lantang.
"Mama dari bandara, kan? Mama antar Xavier tadi," desak Dyra.
"Bandara? Ma-mama tidak kemana-mana. Mama di rumah, justru Mama yang seharusnya tanya kamu ini dari mana?" elak wanita itu penuh dusta.
"Alah, Mama tidak perlu berbohong, aku lihat semuanya." Dyra dengan cepat membantah. "Sekarang Mama tinggal jelaskan saja, kemana Zavier akan pergi?" desaknya penuh paksaan.
Nyonya Affandi terdiam, dia terpojok dan tak bisa mengelak lagi. Dia terlihat sekali sangat gugup hingga matanya terus saja bergerak tanpa arah.
"Ma, katakan sekarang!" Nyonya Affandi mendapat gertakan yang cukup mengerikan dari menantunya.
Ini adalah kali pertama Dyra mengatakan kalimat yang terdengar penuh dengan kemarahan. Jelas sekali setiap penekanan yang ada dalam kalimatnya adalah sebuah desakan untuk mengakui apa yang sebenarnya terjadi.
"Zavier pergi ke Hawaii, Dyra." Akhirnya pengakuan itu meluncur begitu saja. Seperti halnya sebuah bom yang diluncurkan di medan perang, kalimat itu membuat hati Dyra porak-poranda. Semua yang ada hancur berantakan tak bersisa. Walau kenyataannya Dyra sudah mengetahui apa yang terjadi, tapi kali ini perasaan itu semakin parah dengan fakta ternyata ibu mertuanya itu tahu segalanya.
"Dia pergi demi perusahaan," jelasnya singkat.
"Murahan sekali kalian, menganggap sebuah pengkhianatan menjadi alasan untuk perusahaan. Sedangkal itulah otak kalian berdua sehingga membuat alibi rendahan semacam itu?" Dyra tak memandang lagi dengan siapa dia bicara. Yang dia sampaikan benar-benar hadir dari hatinya yang terluka parah.
"Tutup mulutmu, Dyra. Ini adalah rahasia, dia bukan wanita sembarangan," bela Nyonya Affandi.
"Kikanaya Aloudy, bukan?" sahut Dyra. "Dia juga tak lebih dari jalang murahan, Ma. Sama sampahnya seperti Mama dan juga Zavier," maki Dyra penuh dengan amarah.
Plak ...
Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Dyra, Nyonya Affandi kehabisan kesabaran setelah mendengar berbagai caci maki menantunya itu. Harga dirinya seperti diinjak-injak hanya dalam sebuah kalimat.
"Mama menamparku hanya untuk seorang jalang?" tanya Dyra dengan mata yang memicing. "Aku akan pastikan kalian membayar ini semua dengan sangat mahal," ancamnya dengan sangat yakin.
"Tak ada gunanya sumpah serapahmu itu, Dyra. Kamu bukan orang yang bisa diandalkan lagi untuk keluarga ini, jangan berharap masih ada tempat untukmu, Dyra." Nyonya Affandi dengan penuh percaya diri mengatakan jika Dyra akan segera tersingkir dari keluarga itu. Entah apa yang membuat wanita itu terlalu yakin dengan kalimat itu, tapi yang Dyra pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menyelamatkan rumah tangganya dengan Zavier. Pria yang sangat dia cintai hingga detik itu.
"Kalian berharap banyak padaku. Mulai dari seorang anak sampai dengan menjadi dewa penyelamatan perusahaan. Misi kalian terhadapku kalian anggap gagal hanya karena aku menolak meminta bantuan pada papaku." Dyra berusaha membuat ibu mertuanya menjadi paham.
"Kamu mengungkit? Apa yang kamu katakan tak satupun kamu penuhi. Bahkan kamu menolak untuk hamil hanya karena keadaan keuangan yang sedang tidak stabil," jawab Nyonya Affandi memberikan pendapat.
"Ini bukan tidak stabil, Ma. Apa Mama tahu berapa hutang perusahaan? Apa Mama menghitung berapa uang yang Mama habiskan untuk hobi Mama itu? Alasanku menunda kehamilan sekarang sangat jelas, karena aku tak mau anakku hidup menderita dan menanggung hukuman atas apa yang nenek dan papanya lakukan." Dyra melakukan pembelaan dirinya.
Hal itu tak bisa diterima oleh Nyonya Affandi, hingga tangannya tergerak lagi untuk mendaratkan tamparan keras ke pipi Dyra. Wanita itu membabi buta menyakiti Dyra yang hatinya bahkan sudah hancur tak bersisa.
"Jangan pernah lupa jika aku menghabiskan lebih dari dua ratus lima puluh milyar dari total semua asetku untuk menyelamatkan perusahaan Zavier tahun lalu, Ma." Dyra membongkar sebuah fakta yang membuatnya merasa dikhianati oleh sang suami setelah apa yang dia korbankan.
"Lancang sekali, kamu. Bahkan kamu tak membawa apa pun dari rumah papamu saat kamu menikah dengan putraku," balas Nyonya Affandi tak percaya.
"Myra. Mama ingat padanya? Seorang investor yang Mama dan Zavier temui di sebuah apartemen. Wanita yang pernah Mama juluki dewa penolong," jelas Dyra mencoba membangun ingatan ibu mertuanya.
Nyonya Affandi nampak diam, dia jelas sekali ingat pada sosok wanita yang memberikan dua ratus lima puluh milyar pada Zavier tanpa syarat itu pada putranya. Dia bahkan tak menamai sahamnya itu atas nama dirinya melainkan atas nama Zavier.
"Mama ingat?" tanya Dyra lagi tapi masih tak ada reaksi. "Oh, Mama tak ingat? Biar aku bantu ingatkan lagi, saat itu perusahaan mengalami kerugian besar karena permintaan pasar yang turun drastis, ditambah dengan harga saham yang anjlok karena Mama kedapatan mabuk di tempat umum, dan mungkin sebenarnya saat itu Mama juga sudah mulai berjudi." Dyra membuat semua semakin jelas.
"Stop, Dyra. Jangan bicara omong kosong," seru Nyonya Affandi menepis kenyataan.
"Ini bukan omong kosong, Ma. Ambil ponsel Mama dan hubungi Myra. Tanyakan padanya siapa pemilik uang 250 milyar itu sebenarnya," perintah menantunya.
"Tidak, Dyra. Tidak mungkin yang kamu katakan. Aku tak akan percaya apa pun," elaknya terus.
"Silakan, Ma. Silakan Mama tidak percaya dengan kenyataan itu, tapi yang jelas kalian akan membayar mahal atas 250 milyar itu dan juga pengkhianatan ini." Ancaman itu terdengar sangat serius hingga membuat tubuh Nyonya Affandi gemetar.
"Berhenti, Dyra. Sungguh, bukan aku, ini bukan salahku. Ini salahmu," teriak Zavier dengan tanpa sadar.