"Mau kemana, Dyra!" Nyonya Affandi melihat menantunya jalan terburu-buru.
Dyra tak mengindahkan dan terus saja mengikuti ayunan kakinya yang begitu tak sabar. Wanita itu dikuasi amarah dan rasa dikhianati yang tak tertahankan lagi. Baginya, apa yang terjadi saat ini sudah cukup membuat otaknya mendidih.
"Dyra, stop!" Teriakan ibu mertua Dyra itu memekik telinga sang menantu dengan cepat. "Kamu mau ke mana? Kenapa kamu tak menjawab pertanyaan dariku dan justru sengaja mengabaikanku," lanjutnya ketus.
Masih tak bergeming, Dyra masih diam seribu bahasa. Mulutnya bagai dikunci dan tak ada yang ingin dia ucapkan sama sekali. Hingga tiba-tiba tanpa permisi Nyonya Affandi menarik rambut menantunya dengan cukup kasar.
"Akh, sakit, Ma." Dyra mengeluh sembari mengikuti arah tarikan rambut Nyonya Affandi.
"Sakit? Sakit mana dengan orang tua yang diabaikan?" sesaknya kasar.
"Lepas, Ma. Sakit," rintihannya kesakitan.
Dengan kasar juga, Nyonya Affandi melepas cengkeraman tangannya pada rambut indah Dyra. Wanita paruh baya itu segera berdiri di hadapan menantunya yang nampak kesakitan.
"Maaf, Dyra. Mama spontan melakukan itu. Mama kesal karena kamu tidak menghiraukan panggilan Mama." Wanita tua itu berdalih.
"Maaf? Sejak kapan Mama bisa mengatakan kata maaf? Bukankah selama ini Mama selalu benar?" Dyra masih bisa mengumpulkan keberanian melawan.
"Kamu mau kemana? Kenapa buru-buru?" tanya Nyonya Affandi mengalihkan pembicaraan.
"Bukan urusan Mama. Lagipula Mama tak akan percaya dengan apa yang akan aku ceritakan." Dyra menebak.
Nyonya Affandi terlihat bingung, dia tak mengerti apa yang menantunya sedang bicarakan.
"Kenapa berbelit-belit? Mama rasa mudah saja, kamu hanya perlu mengatakan kemana kamu akan pergi dan semua selesai," balas Nyonya Affandi.
"Bukan, Ma. Ini belum selesai, ini baru akan dimulai," balas Dyra dengan menyunggingkan senyum tipis.
Kalimat itu membuat Nyonya Affandi menjadi semakin bingung. Menantunya tak mengatakan semua dengan gamblang sehingga yang ada hanya klu-klu yang tak ada jawabannya sama sekali. Melihat mertuanya tak berdaya dengan kalimat itu, Dyra segera pergi. Dia tak mengindahkan apa yang Nyonya Affandi katakan.
Dyra berada di balik kemudinya, dia dengan terburu-buru menginjak pedal gas mobilnya. Dengan cepat mobil berwarna putih itu melaju menembus padatnya jalanan ibukota yang begitu sibuk. Sesekali mobilnya terpaksa berhenti karena kemacetan yang biasa terjadi di jam-jam pagi seperti saat itu.
"Sial!" Dyra terjebak macet yang cukup panjang, dia merasa jika dirinya akan terlambat sampai bandara untuk mencegah suaminya pergi. Ada berbagai hal yang berkecamuk di dalam pikiran wanita itu. Mulai dari kabur dari mobil dan mencari tumpangan ke bandara, sampai memesan ojek online untuk mempercepat perjalanannya.
"Tapi, apa aku bisa melakukan itu?" katanya yang ragu pada keputusan yang dia buat. Hingga tiba-tiba terdengar suara benturan yang amat keras dari depan mobilnya. "Astaga, apa yang terjadi?" serunya terkejut.
Wanita itu turun dari mobil, dia melihat apa yang terjadi di luar mobilnya. Bersamaan dengan Dyra yang berjalan ke arah depan mobil, dari dalam mobil keluar seorang pria berwajah tampan, berperawakan kekar dengan kacamata hitam yang menutupi kedua mata indahnya.
"Maaf, Tuan." Dyra segera minta maaf karena dia yang membuat semua itu terjadi. Karena terlalu banyak melamun, Dyra menabrakkan bodi depan mobilnya ke bodi belakang mobil pria berkacamata itu.
Pria itu nampak melihat dengan detail apa yang sebenarnya terjadi. Dia mendapati bagian bawah bodi mobilnya ringsek ditabrak mobil Dyra. Tatapannya bersembunyi di balik kacamata hitam yang dia kenakan, sehingga membuat Dyra merasa ketakutan. Dia tak mengetahui pasti mimik wajah pria itu seperti apa. Sehingga Dyra hanya bisa memainkan jarinya dan menundukkan kepalanya.
"Kamu baik-baik saja, bukan?" tanya pria itu dengan sangat sopan.
Dyra yang semula tertunduk takut, mengangkat wajahnya perlahan. Dia melihat ke arah pria bersuara lembut itu. Semua di luar prediksinya, dia yakin benar jika pria yang mobilnya di tabrak itu akan marah besar. Namun, semua salah. Pria itu justru mengkhawatirkan keadaan Dyra.
"Sa-saya baik-baik saja," balas Dyra gugup.
Senyum terutama dari bibir manis pria itu, semua tampak semakin misterius. Dyra juga kelihatan bingung dengan sikapnya. "Bagaimana ini? A-aku membuat mobilmu rusak," lanjut Dyra dengan sangat hati-hati.
"Tidak masalah, hanya lecet sedikit saja," jawabnya santai sembari melihat ke arah ringsek.
"Ini bukan lecet, i-ini ringsek, Tuan." Dyra menegaskan.
Sedetik kemudian terdengar suara klakson bersahutan, mobil-mobil yang terjebak dalam kemacetan tak bisa bergerak karena mobil mereka berdua. Pria itu segera pergi dan masuk mobilnya untuk bergerak maju. Saat itu juga, ringsek yang terjadi di belakang mobil mewahnya terlihat. "Astaga, separah itu," lirih Dyra singkat dan sudah dihujani suara klakson yang bersahutan lagi.
Dyra yang masih cukup ayok segera menggerakkan mobilnya maju agar suara klakson para pengguna jalan lain berhenti mengintimidasinya. Pikirannya masih terlalu berisik oleh kejadian tabrakan itu. Hingga matanya tak lepas dari mobil yang berada di depannya, sampai-sampai Dyra dan mobil itu tanpa sadar memiliki tujuan yang sama, keduanya masuk ke jalur bandara setelah melewati kemacetan panjang. Sesaat kemudian, Dyra segera ingat tujuannya datang ke bandara. "Di mana mereka?" Dyra mulai turun dengan wajah penuh kemarahan.
Mata wanita itu segera fokus memindai orang-orang yang berlalu lalang di sana. Dia mencari sosok pria bernama Zavier untuk dihajar habis akibat perbuatannya itu. Tangannya mengepal dan wajahnya mengeras karena tegang. Wanita itu mencari mangsanya dengan cukup jeli.
"Zavier," panggilnya pada seorang pria yang sedang naik eskalator. Dia berlari ke arahnya dan segera menarik tangan pria itu, "maaf, aku salah orang." Ternyata bukan Zavier, perawakannya saja yang mirip.
"Apa-apaan ini?" omel pria itu.
"Maaf, Tuan. Saya pikir Anda orang yang saya cari," jawabnya dengan penuh rasa malu.
Beberapa kali Dyra melakukan itu, sampai dia terlihat sangat lelah. Pandangan matanya sesekali kabur dan napasnya begitu tersenggal. Entah di bagian mana Zavier berada saat ini. Dyra hampir menyerah, tapi tiba-tiba terlihat kerumunan yang nampak seperti sebuah pengamanan orang penting.
"Kikan, apa itu dia?" tebaknya.
Biasanya akan ada pengamanan khusus jika seorang artis berjalan di bandara. Semua semakin jelas karena nampak diantara orang-orang itu ada beberapa wartawan. Mungkin sebagian lagi adalah penggemar. Dyra mencoba mendekati kerumunan itu untuk memastikan.
"Benar, itu dia," lirihnya memastikan jika Kikan-lah yang menjadi biang keributan di bandara saat itu.
Dia melihat tim pengaman menggiring model itu ke sebuah boarding langue VVIP bandara dan segera menutup akses masuk untuk siapa pun itu. Setelah itu beberapa dari mereka nampak berjaga di depan pintunya. Hal tersebut membuat Dyra putus harapan, tak ada jalan untuknya bisa masuk tempat itu saat ini. Mengingat pengawalan dan pengawasan yang super ketat.
"Tuan, masih ingat aku? Bisakah aku ikut dengan Tuan masuk ke boarding langue itu? Ada yang ingin saya bicarakan tentang kejadian tadi," pinta Dyra pada pria yang mobilnya dia buat ringsek tadi.