"Tidak, aku tak bisa lakukan ini," ujar Zavier menolak.
Dia buru-buru memungut pakaiannya yang berserakan. Tak ada yang bisa dia lakukan karena Dyra terus membayang dalam angannya. Wajah istrinya itu terus muncul menghantui Zavier yang hendak berbuat hal menjijikan.
"Kenapa, Zavier?" teriak Kikan kecewa.
Wanita itu duduk di atas ranjang dengan sangat kesal. Wajahnya merah redam karena dia merasa dipermainkan. Kikan memang tak suka penolakan, terlebih dia sudah menerima Zavier dengan kondisinya sekarang. Gadis itu mempertaruhkan segalanya demi perasaan yang disimpan saat ini.
"Kamu bukan siapa-siapa, Zavier. Kamu hanya pria kesepian yang aku jadikan raja dengan apa yang aku miliki," hina Kikan sengaja. "Bukankah kamu menginginkan investasi dariku? Tidakkah seharusnya kamu menjilat dulu tubuhku agar aku mau memberikan itu?" Semakin lama kalimat yang Kikan lontarkan semakin menjijikan.
Hati Zavier mencelus, dia seperti berada di posisi Dyra jika benar wanita itu harus dia tukar dengan bantuan dari Tuan Anan. Harga dirinya terinjak-injak dan dipandang sebelah mata. Zavier tak biasa dengan itu semua.
"Kamu bisa pergi dari sini, tapi ingat, jangan pernah muncul dan merengek lagi untuk mendapatkan apa yang aku bisa berikan untukmu," tantang Kikan.
"Tapi, Kikan," sanggah Zavier.
"Penawaran akan hilang setelah kamu keluar dari kamar ini," ancam Kikan.
Pikiran pria itu berkelana, dia dan Kikan baru saja membicarakan proyek investasi untuk menyelamatkan perusahaannya itu. Kikan tertarik dan berniat mengabulkan apa yang Zavier inginkan karena perasaan yang mendalam pada pria itu. Terlebih, Kikan begitu tergila-gila dengan suami Dyra itu. Sehingga dia rela memberikan apa pun yang dia miliki asal bisa menjadikan Zavier miliknya.
"Kikan, ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak bisa melakukan ini," balas Zavier.
"Tapi kenapa, Zavier? Kenapa?" sentak Kikan dan Zavier hanya diam tanpa kata. Dia tak pernah bisa menyangkal jika apa yang Kikan tawarkan benar-benar sangat penting.
Kikan bangkit dan berjalan ke arah Zavier, langkahnya sedikit sempoyongan karena pengaruh alkohol yang masih cukup kuat. Hingga saat jarak keduanya sudah lebih dekat, Kikan ambruk ke pelukan putra Nyonya Affandi itu.
"Aku mencintaimu, Zavier. Hatiku mengatakan jika aku mencintaimu," ujarnya tegas.
"Tapi, Kikan," sangkal Zavier lagi.
"Aku akan berikan segalanya untukmu. Segalanya. Bahkan jika perlu, aku akan menyelamatkan perusahaanmu dan membawamu ke puncak karirmu dengan semua yang aku miliki," rayu Kikan.
Zavier hanya manusia biasa yang masih memiliki sisi putih dalam hatinya. Tak bisa dipungkiri jika selama ini dia terus berkutat dengan tekanan akan perusahaan dan juga keuangannya. Zavier tak bisa melupakan itu semua sampai jaraknya untuk berkhianat tinggal setipis kertas.
"Kehidupanku akan berubah jika aku menerimanya, perusahaan dan keuanganku akan selamat." Zavier mulai terintimidasi.
Jalan singkat untuk bangkit ada di depan matanya. Zavier dihadapkan dengan pilihan yang bisa dia pastikan menyelamatkan segalanya. Segalanya bisa berubah jika Zavier menerima Kikan, mengingat kekayaan dan aset berharga wanita itu begitu besar.
"Kikan, apa kamu serius dengan yang kamu katakan?" desak Zavier meyakinkan.
"Bunuh aku dengan caramu jika sampai aku mengingkari semua yang aku janjikan padamu," ujar Kikan.
Zavier masuk dalam rayuan Kikan, pria itu mengangkat tubuh Kikan kembali ke ranjang dan menuruti semua yang wanita itu inginkan. Untuk pertama kali Zavier melakukan dosa besar itu bersama wanita yang berjanji akan menyelamatkannya. Begitu juga dengan Kikan, dia menemukan pria yang bisa selalu berada di bawahnya. Dia merasa dibutuhkan dan diagungkan. Wanita yang haus kasih sayang itu memulai hubungan gilanya dengan Zavier secara lebih serius. Bukan hanya harta dan kekayaan yang dia pertaruhkan, tapi juga nama baiknya sebagai model terkenal.
Malam itu habis dengan kisah Zavier dan Kikan, mereka bermain tanpa ada yang menganggu. Bahkan pikiran Zavier yang sempat terombang-ambing kini tenang, dia terbelenggu sebuah lingkaran keselamatan yang Kikan janjikan.
Sedang di sisi lain, Dyra sudah lelap dalam mimpi buruknya. Dia yang sudah mengetahui separuh dari cerita pengkhianatan suaminya terlalu lelah karena hingga fajar menyingsing, Zavier tak kunjung datang. Wanita itu membuka matanya pelan dan tak mendapati siapapun di ranjang. Pria yang dia nantikan semalam tak juga kembali. Entah apa alasannya, yang jelas Zavier tak pulang semalam.
"Dia belum kembali?" Dyra bergumam.
Dia bangkit dari ranjang dan mencoba membuka jendela. Udara segar dia hirup dalam-dalam. Dyra mengisi paru-parunya dengan oksigen secara penuh. Wanita itu masih berusaha menepis segala stres yang mencoba menggedor pikirannya. Dia masih ingin santai dengan segala kecamuk yang tak usai sejak semalam.
"Sial, pria b******k itu membuatku semakin muak," umpatnya kesal.
Setelah memastikan dirinya tenang, Dyra menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya. Setidaknya dia bisa menyiapkan energinya untuk sebuah kemungkinan terburuk nanti.
"Wah, nyonya rumah baru bangun?" Nyonya Effendi sudah mengejek Dyra saat menantunya itu baru selangkah masuk dapur.
"Anak kesayangan Mama belum pulang?" Dyra mengalihkan pembicaraan.
Nyonya Affandi sedikit terkejut, dia sama sekali tak mengetahui jika putranya itu belum kembali sejak semalam. Dia mengangkat kedua bahunya serentak menandakan jika dia tak tahu.
"Mama tau kemana Zavier semalam? Kenapa dia tidak pulang?" Dyra memancing.
"Mana Mama tau, bukankah kamu istrinya?" Nyonya Affandi membalikkan pertanyaan.
"Sungguh Mama tidak tahu?" desaknya paksa.
"Kemanapun Zavier semalam sampai tidak pulang, pasti karena dia terlalu stres. Dia butuh menenangkan diri dan mencari solusi untuk masalahnya sendiri." Nyonya Affandi memberi pembelaan. "Salahmu sendiri tak bisa memberi solusi untuk suamimu," lanjutnya ketus.
"Ah, seperti itu?" jawab Dyra. "Bagaimana jika ternyata Zavier memiliki wanita lain di luar sana? Apa itu juga bagian dari kesalahanku?" tanya Dyra dengan berani.
Nyonya Affandi berusaha melihat lebih dekat pembicaraan macam apa yang coba menantunya itu katakan. Dia membuat sebuah keadaan menjadi lebih sempit dengan menyimpulkan sebuah alasan.
"Dia selingkuh? Apa kamu punya buktinya? Siapa yang mau menjadi selingkuhan pria yang hampir bangkrut itu? Kamu pikir wanita-wanita di luar sana sekarang bodoh?" Nyonya Affandi tak percaya.
Melihat keadaan Zavier saat ini, hampir bisa dipastikan tak akan ada wanita luar yang ingin mendekat. Sehingga wanita itu berpendapat jika menantunya terlalu mengada-ada dengan apa yang dia bicarakan.
"Bagaimana jika Zavier yang menjeratnya? Bagaimana jika Zavier memanfaatkan wanita itu dan wanita bodoh itu terperangkap? Apa Mama masih akan tutup mata jika putra Mama melakukan pengkhianatan pada pernikahan kami?" cecar Dyra.
"Terima saja jika memang ini demi perusahaan dan demi kelangsungan hidup Zavier, semua juga karena kamu yang terluka egois." Kalimat pemutus itu menjadi tamparan keras untuk Dyra yang masih sangat mencintai Zavier.