Dyra tak bisa memaksa temannya itu mengatakan apa yang sebenarnya. Wajah Myra nampak penuh tekanan sehingga tak mampu bagi istri Zavier itu meminta lebih. Baginya sekarang, mendengar langsung pernyataan Myra sudah lebih dari cukup. Walau hatinya masih merasa ragu dan tidak bisa percaya.
"Dyra, aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku menimbulkan kesalah pahaman atas hubunganmu dengan suamimu," jelas Myra.
"It's oke, aku hanya merasa harus bertemu denganmu saja." Dyra mengakhiri pembicaraan yang dia rasa hanya sia-sia dan percuma saja.
Dyra segera pamit undur diri begitu dia selesai bicara. Dia berpikir akan mendapatkan kenyataan yang sesuai dengan apa yang dia pikirkan, tapi ternyata salah. Tak ada yang terjadi dan tak ada yang berubah. Mereka saling berpelukan sesaat dan Dyra segera pergi dari apartemen temannya itu.
"Kamu pasti dibungkam, Myra. Aku yakin, mereka pasti mengancammu," kata Dyra dalam diamnya.
Wanita itu beranjak dan segera melajukan mobilnya kembali pulang. Dia tahu jika Zavier berada di rumah saat ini. Sehingga dia tak bisa bergerak terlalu jauh saat pria itu ada di sekitarnya. Mobil segera sampai setelah menempuh perjalanan 20 menit. Dyra memarkirkan mobilnya dan segera masuk. Baru juga dia selangkah masuk rumah. Ibu mertuanya sudah menyambut di depan pintu dengan menyilangkan tangannya di d**a dengan tatap mata yang cukup mengerikan.
"Menanti tidak tahu sopan santun," makinya tiba-tiba.
"Aku lelah, Ma. Aku tidak mau ribut," jawab Dyra. Rupanya dia sudah cukup tahu dan mengerti arah pembicaraan yang ibu mertuanya itu inginkan. Dia tengah membahas kepergiannya yang tanpa pamit dan tegur sapa tadi.
"Aku ini kamu anggap apa? Apa kamu benar-benar sudah tak menganggapku sebagai mertuamu?" tantangnya.
"Ini bukan masalah besar, Ma. Kenapa Mama memaksaku untuk selalu mengikuti apa yang Mama inginkan. Lagi pula aku tadi terburu-buru," jelas Dyra.
"Sepenting apa urusanmu itu? Sampai kamu harus buru-buru seperti itu?" sentak Nyonya Affandi.
"Yang jelas, lebih penting dari menegur Mama." Dyra dengan tegas membangkang wanita itu.
"Sudah mulai kurang ajar lagi ya, kamu." Nyonya Affandi marah.
Mereka berdua terlibat situasi yang cukup panas, Nyonya Affandi memang sedikit kecewa pada Zavier yang ternyata justru memutar balikkan fakta hubungannya dengan Kikan untuk mempertahankan Dyra. Wanita tua itu sebenarnya menginginkan menantunya itu segera pergi dan Kikan bisa masuk rumah itu.
"Ma, cukup!" zavier yang mendengar kegaduhan itu muncul juga.
Dyra merasa terbantu dan menemukan jalan keluar dari situasi itu begitu melihat suaminya datang. Dia segera berjalan ke arah suaminya dan berdiri di belakangnya.
"Dia sudah hidup semaunya sendiri sekarang. Dia bukan hanya membantah Mama tapi juga mulai tak peduli pada orang tua. Masih pagi sudah keluar rumah dan pulang di jam yang hampir makan siang tanpa memikirkan suaminya butuh makan di rumah," omel wanita tua itu.
"Aku yang memintanya keluar, Ma. Dia terlalu bosan dan terlalu sering di rumah. Saat dia ingin keluar, aku membiarkannya," jelas Zavier.
Mereka terlibat adu mulut yang cukup sengit, Nyonya Affandi sedang mencari cela untuk membuat menantunya itu pergi dari rumah. Namun, nampaknya saat ini belum berhasil. Dyra masih bisa meloloskan diri dari hal itu. Zavier datang tepat waktu menyelamatkan Dyra.
"Masuk, Sayang. Aku akan bicara dengan Mama dulu," ujar Zavier memberi perintah. Dyra menurut dengan apa yang suaminya perintahkan dan dia segera masuk.
Setelah memastikan Dyra masuk kamar, Zavier menarik langan ibunya. Dia bicara dengan hati-hati agar tak membuat Dyra curiga.
"Ma, kenapa Mama malah bersikap buruk. Kita ini hampir saja ketahuan dan membuat semua menjadi hancur. Tidak bisakah lebih hati-hati?" Zavier menghardik ibunya.
"Zavier, semua sudah di depan mata. Bukankah sudah saatnya menendang wanita itu keluar dan membawa Kikan masuk ke rumah ini?" Nyonya Affandi takabur. "Dana sudah ditransfer dan kamu akan segera kembali menjalani hidup bergelimang hartamu," lanjutnya.
"Bukan seperti itu, Ma. Kikan adalah model yang punya nama besar, tidak mungkin aku membuat ini semua terlihat gamblang seperti yang hampir Mama lakukan. Pikirkan karir dan nama baik Kikan, Ma." Zavier menjelaskan.
"Dia punya banyak uang untuk membuat semua orang tutup mulut, Zavier. Kenapa kamu khawatir?" selanya.
"Jika Mama masih ingin melihat aku dan Kikan bersama, Mama harus mengikuti permainan yang aku dan Kikan ciptakan untuk Dyra. Jangan membuat semua menjadi rumit dan tak ada yang bisa dilakukan lagi," jelas Zavier.
"Mama sudah tidak sabar, Zavier. Mama juga terlalu muak pada Dyra," bantah Nyonya Affandi.
Zavier menyentuh kedua baju ibunya dan menatap lekat kedua matanya. Dia terlihat sangat lemah dan tak memiliki daya apa pun saat itu. Sorot matanya juga sangat menyedihkan. "Ma, saat ini hanya Kikan yang bisa membuat perusahaan bangkit. Dengan uangnya kita akan mengembalikan apa yang hilang dari hidup kita. Menurut padaku, Ma. Kikan adalah pemegang kuasa penuh atas apa yang dia berikan pada kita," jelas Zavier.
Rencana sudah disusun cukup matang, mereka membicarakan semua selama di Hawaii sehingga semua sudah disiapkan. Berbagai hal yang menjadi pertimbangan juga sudah diperhitungkan secara pasti. Zavier tak ingin menyalahi salah satu dari itu dan menyebabkan Kikan menjadi ragu untuk menginvestasikan uangnya.
"Dia pasti sangat kaya raya, Zavier. Dia berjanji penuh atas hidupmu dan juga perusahaan," ujar Nyonya Affandi.
"Tentu saja, Ma. Dia adalah dewa penyelamat," sahut Zavier.
Kikan bukan pemain yang bisa diremehkan. Dia pasti memiliki banyak jaringan sehingga bisa menutup rapat segala sesuatu dari media dan manajemen-nya. Dia sudah cukup ahli dalam perkara ini.
"Zavier, kamu harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil lebih banyak kesuksesan," kata ibunya.
"Ma, saat ini yang terpenting adalah ada dana untuk menjalankan kembali perusahaan," jawab Zavier yang sudah menang banyak atas Kikan. "Aku sudah mengambil banyak darinya, sampai hal paling pribadi juga sudah aku genggam, Ma." Zavier mengatakan semua dengan wajah yang berubah ekspresi.
Hal paling memalukan Zavier lakukan, dia tak lebih dari seorang pemuas nafsu dan juga pesuruh bagi Kikan. Hanya saja dia membayar mahal untuk itu semua. Kikan yang sedari awal biasa hidup bergelimang harta, pasti memiliki sisi yang sebagai kurang. Sehingga saat menemuka Zavier dan dia bisa mengisi kekosongan itu. Maka Kikan akan membuatnya seperti raja. Dia akan rela melakukan apa pun dan juga mengorbankan apa pun untuk memilikinya. Termasuk pada Zavier saat ini. Cinta gila Kikan membuatnya merasa harus melakukan apa pun untuk tetap bisa berhubungan dengan pria itu.
"Kamu bicara apa, Zavier?" Dyra bertanya dengan penuh penekanan.