Masih Teguh Pendirian

1033 Words
Ancaman Dyra menjadi sebuah cambuk bagi Zavier. Walau hatinya ingin bersikap masa bodoh dan tak peduli, kenyataannya dia masih tak bisa. Bagaimana juga hubungan Zavier dan Dyra dibangun atas nama cinta. Sehingga tak mudah untuk dirobohkan, sesekali memang Zavier bersikap tak peduli dan berkhianat, tapi saat berhadapan lagi dengan Dyra, pria itu akan teringat masa lalu mereka yang dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang. Pagi menjelang dan saat itu Dyra bangun lebih awal. Dia melihat Zavier masih lelap dalam tidurnya. Terlihat sekali gurat lelah dan stres di wajah suaminya itu. Dyra mencoba untuk bersikap tak peduli, tapi kenyataannya dia masih merasa harus melihat. "Aku tak akan membongkar sebelum aku mengetahui yang sebenarnya terjadi. Hanya saja aku tidak tahu harus mulai mencari dari mana, aku bingung dengan apa yang ada saat ini," ujarnya dalam hati. Matanya mendadak menjadi panas dan air mata mulai meremang di kedua mata indahnya. Wanita cantik itu, menangis dalam diamnya. Tiba-tiba tangan Zavier memeluknya dengan tanpa sengaja. Entah ini sebuah ikatan batin atau apa, yang jelas Dyra rasakan saat itu bahkan suaminya belum bangun. Pelukan itu hanya gerak reflek Zavier saja, sehingga Dyra mudah untuk melepaskan dirinya setelah beberapa saat dalam dekapan Zavier. Dia memilih turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi. Dyra membuat sekujur tubuhnya dibasahi oleh air, dia ingin menyingkirkan segala kegundahan hatinya dan berisiknya pikiran sejak beberapa hari lalu. Walau tak mudah, tapi Dyra berusaha melakukan itu. Setidaknya ini untuk dirinya sendiri dan demi kewarasannya. Saat dia kembali dari kamar mandi, Zavier sudah bangun dan tengah memegang ponselnya. Dia masih berada di balik selimut dan masih tanpa baju atasan seperti semalam. "Kamu mau keluar hari ini?" tanya Zavier. "Hm, aku ingin jalan-jalan sebentar. Aku merasa bosan dan hariku terlalu kacau beberapa hari ini," jelasnya. "Sungguh? Kenapa? Bisa cerita padaku?" desak Zavier peduli. "Entahlah, aku hanya merasa pikiranku berisik dan hatiku bergemuruh. Banyak sekali hal yang tak sesuai dengan apa yang aku pikirkan." Dyra menyindir. "Bukankah hidup memang seperti itu? Tidak semua harus seperti yang kita inginkan dan pikirkan," jawab Zavier. Dyra hanya mengulas senyum mendengar jawaban Zavier, dia tak bisa membalas dengan argumen apa pun saat itu. Yang ada hanya sebuah kesetiaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan apa pun. Zavier melihat istrinya berganti pakaian dan bersiap keluar. Dia sama sekali tak melancarkan protes apa pun seperti biasanya. Padahal biasanya Zavier akan meminta Dyra menyiapkan sarapan, bajunya sampai tas kerjanya. Namun, saat ini berbeda, dia sama sekali tak meminta apa pun. Dyra juga menanti suaminya itu memberi perintah, tapi nyatanya tidak sama sekali. Zavier diam tanpa kata dan tak menyatakan perintah apa pun. "Kamu mau turun?" tanya Dyra. "Nanti saja," balas Zavier. "Aku keluar sekarang," pamit Dyra tanpa mendekati suaminya. "Sejak kapan kamu melakukan ini? Bukankah biasanya kamu akan mendekat dan mencium bibirku?" Zavier protes. Dyra menghentikan langkah kakinya. Kemudian dia berbalik arah dan mendekati sang suami. Dia dengan penuh sandiwara mengulas senyuman dan duduk manja di atas pangkuan Zavier. "Apa kamu masih butuh ini dariku?" tanya Dyra sebelum mencium suaminya. "Tentu saja, kenapa berpikir aku tak butuh ini darimu?" desak Zavier. "Apa benar aku masih menarik bagimu? Bukankah aku sama sekali tak terlihat untukmu lagi?" cecar sang istri. "Tidak, Dyra. Kamu tetap Dyra-ku. Wanita yang bisa membuatku berdiri sampai sekarang," jawab Zavier meyakinkan. Dyra mengeluarkan senyum dinginnya, dia tak percaya dengan apa yang suaminya ucapkan. Dia hanya sedang mengintimidasi Zavier agar mengatakan apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan darinya. Banyak hal yang tak bisa dia ungkapkan secara gamblang sehingga harus dengan sindiran atau pancingan-pancingan untuk tahu apa yang terjadi. Wanita itu segera mendaratkan kecupan singkat di bibir sang suami. "Jika memang ini masih penting, setidaknya kamu yang lakukan untukku, jangan aku yang melakukannya untukmu," kata Dyra setelahnya. "Aku selalu lakukan untukmu," balas Zavier. "Kamu sudah hampir lupa, Zavier. Kapan terakhir kamu menyentuhku? Bukankah sudah sangat lama?" protes Dyra. Zavier terpancing, dia merasa bersalah karena beberapa minggu terakhir dia dan Dyra memang tidak berhubungan intim. Selain karena Zavier sudah terlalu lelah karena harus melayani Kikan, mereka berdua juga terlibat perang dingin karena keadaan perusahaan. Sehingga semua menjadi pemicu dinginnya hubungan mereka berdua sampai saat ini. "Pergilah, Sayang. Aku tahu kamu sangat tertekan, aku akan di rumah menunggumu. Aku pastikan, hari ini akan bersamamu," jelas Zavier. "Aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar, aku akan menagih janjimu setelah kembali," kata Dyra dan dia segera beranjak. Dia melewati ibu mertuanya yang sedang duduk santai di ruang tengah. Tanpa kata dan tanpa pamit, Dyra pergi begitu saja. Sehingga muncul umpatan kasar yang keluar dari mulut Nyonya Affandi saat melihat hal itu. Dia melontarkan kalimat hinaan yang pasti Dyra mendengarnya. Hanya saja dia berlalu tanpa menanggapi. Mobil wanita itu segera keluar dari halaman rumah, dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Hari ini Dyra memutuskan untuk mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia akan mulai dengan menghubungi Myra sebagai sumber pertama berita perselingkuhan suaminya dengan Kikan. Walau pada akhirnya Myra mengatakan jika semua itu salah paham, tapi Dyra masih membutuhkan penjelasan yang utuh dan tidak terpotong oleh kepentingan apa pun dan siapapun. "Aku yang akan datang padamu, kamu tak perlu khawatir," kata Dyra. "Dyra, apa lagi yang kamu inginkan?" desak Myra yang masih diselimuti rasa bersalah. "Aku hanya ingin bertemu denganmu, Myra. Aku tidak butuh tahu apa pun, yang aku butuhkan hanya melihatmu," jelas Dyra. Setelah debat alot itu, Myra mengizinkan Dyra datang ke apartemennya. Setidaknya sekarang apartemen adalah tempat paling aman bagi keduanya untuk bertemu. Ada banyak hal yang Myra takutkan karena ini berhubungan dengan pekerjaan dan karirnya di perusahaan. Dalam dua puluh menit, Dyra sudah berdiri di depan pintu apartemen Myra. Dia menekan bel pintu dan tak lama kemudian Myra sudah berada di balik pintu menyambut dirinya. Mereka berpelukan dan saling menyapa, menanyakan kabar dan ada sedikit nostalgia diantara keduanya. "Dyra, sungguh aku bersalah padamu." Myra mulai bicara dengan nada penuh penekanan. "Tak masalah, Myra, setidaknya aku menjadi waspada sekarang ini," balas Dyra hati-hati. "Aku tak tahu jika saat itu Kikan mabuk berat dan mengira suamimu adalah kekasihnya. Sehingga aku dengan cepat menyimpulkan jika mereka berdua memiliki hubungan khusus selain kesalahpahaman," jelas Myra lagi. Dyra terkejut, dia tak menyangka jika setelah bertemu secara langsung pun, Myra masih berusaha menguatkan fakta jika yang terjadi adalah salah paham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD