Pura-pura Bodoh

1054 Words
Dyra beranjak dari duduknya, pria yang dia tunggu berada di depan pintu keluar. Dia nampak berdiri dengan senyuman yang begitu lebar. Wajah penuh kantuk dan penat Dyra, tak mampu ia sembunyikan sama sekali. Kesal bercampur amarah menjadi semakin tak tertahan. Zavier berjalan ke arahnya perlahan sembari membawa kopernya, langkah kaki pria itu bahkan kini sedang dihitung oleh Dyra. Tak ada reaksi apa pun, hatinya terlanjur kesal. Banyak sekali pendapat dan prasangka yang harus segera dia klarifikasi kebenarannya. "Dyr," panggil Zavier dengan membentangkan kedua tangannya. Entah apa yang pria itu inginkan, tapi yang jelas dia tengah membuka kedua tangannya untuk memeluk sang istri. "Apa yang dia lakukan? Mengapa menjadi manis dan hangat seperti sekarang. Bukankah dia berkhianat di belakangku? Apa ini hanya sebuah kamuflase atas apa yang dia lakukan?" batin Dyra. "Tidak, aku tidak boleh termakan aktingnya," lanjutnya lagi. "Dyra." Untuk kali kedua Zavier memanggil istrinya itu. "Ah, ya," balas Dyra dan dia menyerobot koper yang suaminya bawa tanpa memeluknya. Dia berbalik arah dan berjalan mendahului Zavier. "Aku sudah sangat mengantuk," katanya berkilah. Seperti yang sudah Dyra rencanakan, dia harus berusaha untuk pura-pura percaya apa yang suaminya katakan. Dia harus dianggap bodoh untuk bisa membongkar apa yang sebenarnya terjadi. "Kamu kenapa, Dyra?" tanya Zavier yang merasa Dyra aneh. "Pesawatmu pasti delay, kamu juga pasti lelah. Aku hanya ingin buru-buru pulang," balas Dyra menutupi. Zavier tahu jika Dyra bukan wanita bodoh yang akan menyimpulkan masalah dengan sangat singkat dan mudah. Apalagi dia terlambat lebih dari lima jam. Perjalanan yang seharusnya hanya singkat itu menjadi sangat panjang untuk diceritakan oleh apa yang sebenarnya terjadi. "Sungguh? Kamu tak mendebatkan ini? Biasanya kamu akan bertanya dengan detail apa yang terjadi." Zavier bicara dalam hatinya. Dia tak ingin menambah beban yang ada sehingga dia hanya mengikuti langkah kaki istrinya yang sudah berjarak cukup jauh darinya. Mereka menuju tempat Dyra memarkirkan mobil dan saat Zavier siap menancap gas, ponsel pria itu berdering. Sebuah panggilan tak tepat waktu berbunyi sehingga membuat Dyra langsung mengarahkan pandangan kepada sang suami. "Maaf, Dyra. Ini penting," kata Zavier. Pria itu kembali melepas seatbelt-nya dan keluar dari mobilnya. Dia nampak berada di sisi mobil menjawab panggilan telepon itu. Selang beberapa menit, handel pintu mobil sudah bergerak, tanda Zavier akan segera masuk. Sayup terdengar ucapan terima kasih pria itu pada seseorang yang berada di ujung telepon. "Wajahmu sumringah sekali," celetuk Dyra. "Iya, Sayang. Mereka setuju mendanai perusahaanku," balasnya kesenangan. "Wah, fantastik. Kamu hebat, Zavier," kata Dyra dengan ekspresi yang sangat terpaksa. "Bagaimana bisa ini terjadi sementara kehancuran sudah di ujung tanduk?" batinnya meneruskan. Dyra mencurigai aliran dana besar untuk perusahaan suaminya berasal dari Kikan. Seperti halnya yang sudah dia ketahui sejauh ini, pasti akan banyak sekali masalah dan juga rahasia yang memang sengaja disembunyikan oleh suaminya itu. Sehingga dengan pasti, Dyra harus membongkar dengan caranya sendiri. "Aku bisa meyakinkan mereka, Dyra. Mereka percaya pada kemampuanku," ujar Zavier. "Aku bertemu stafmu, bahkan dia mengatakan jika sudah tak ada harapan. Pasti dia akan senang saat kamu kembali dengan investasi besar yang akan kamu gunakan untuk membangun kembali perusahaan," jelas Dyra. "Bukan hanya mereka, kamu juga pasti senang, kan? Suamimu berhasil membuat perusahaan kembali menerima dana besar untuk ini," kata Zavier. Dyra hanya mengulas senyuman, dia tak ingin membuat semua manjadi rumit. Lagipula badannya sudah remuk duduk seharian di bandara. Hatinya yang semula percaya apa yang Zavier katakan, kini mulai melemah. Tak ada yang bisa dia percaya lagi dari pria itu. Termasuk keterlambatan Zavier datang hingga berjam-jam. "Zavier, Sayang," sambut Nyonya Affandi pada putranya. "Mama belum tidur?" sela Zavier. "Sejak kamu mengirim pesan dua jam lalu, Mama sudah tak bisa tidur." Wanita paruh baya itu menjelaskan. "Kamu mengirim pesan pada Mama?" tanya Dyra. Zavier dan Nyonya Affandi terpergok saling berhubungan sesaat sebelum pesawat lepas landas dari Singapura. Zavier salah memperhitungkan karena di tempat transit sebelum Singapura terjadi delay hingga lebih dari tiga jam, sehingga dia mengalami keterlambatan. "Jika kamu bisa menghubungi Mama, kenapa tidak bisa menghubungi aku? Aku yang menunggumu di bandara, Zavier." Dyra melancarkan protesnya. "Bukan begitu, Dyra. Aku hanya ...," jawab Zavier beralasan. "Hanya apa, Zavier? Hanya Mama yang kamu pedulikan? Hanya dia yang menjadi prioritas utamamu sementara istrimu kamu biarkan mengering di bandara tanpa kabar?" omel Dyra dengan mata melotot. Kekesalannya memuncak di saat dia mengetahui suaminya sempat memberikan kabar pada sang ibu, sementara tidak padanya. Dia seperti orang yang tidak ada pekerjaan sehingga dibiarkan menunggu lama di bandara. "Dyra, tunggu, Dyra. Bukan seperti itu," jelas Zavier menahan istrinya yang sudah kepalang marah dan berjalan menuju kamarnya. Pria itu meninggalkan begitu saja ibunya yang berada di ruang tamu, dia mengikuti langkah kaki Dyra menuju kamar dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Pria itu kini sudah berada di hadapan istrinya yang hatinya dibalut dengan emosi dan kemarahan. "Dyra, maafkan aku. Aku tak sempat melihat ponselku. Bahkan aku membalas pesan Mama karena aku melihatnya sebelum aku naik pesawat," jelas Zavier mengelak. "Tentu, Zavier. Kamu hanya akan memperhatikan mereka yang terlihat. Kamu tidak akan melihat mereka yang sudah berjuang keras untukmu saat mereka tak ada di pandangan matamu. Bagimu, Mama adalah yang terpenting, bahkan di saat aku sudah mengorbankan jiwa ragaku, kamu tetap menomorsatukan ibumu itu," jelas Dari. "Bukan, Dyra. Bukan seperti itu, kamu tahu Mama, kan? Seperti apa Mama jika dia tak diutamakan. Bukan hanya kamu yang akan menerima konsekuensinya, tapi kita semua," balas Zavier. "Teruskan, Zavier. Teruslah menjadi putra membanggakan baginya. Jangan pernah kamu menjadi suami kebanggaan istrimu. Bukankah hidupmu cukup hanya dengan melihat ibumu bahagia walau istrimu tak bahagia?" Dyra masih terus melawan. Zavier terdiam, dia tak berkutik karena teringat akan sebuah cerita tentang uang dan aset Dyra yang dijual dan diinvestasikan atas nama Myra. Dia ingat benar bagaimana ibunya mengabarkan hal itu dan memvalidasi kebenarannya melalui staf perusahaan saat dia berada di Hawaii. "Apa setelah ini kamu akan mengungkit uang 250 milyar yang sudah kamu investasikan?" tanya Zavier dengan nada meledek. Dyra terkejut, suaminya pasti mengetahui hal itu dari Nyonya Affandi. Hanya dia yang bisa memberitahu Zavier tentang hal itu. Zavier mencoba menggunakan hal itu untuk membuat Dyra bertekuk lutut. Sehingga dengan cepat Dyra mengatur siasatnya sendiri untuk menentukan langkah. "Tidak, sama sekali tidak. Aset itu aku pertaruhkan atas nama cinta. Jika aku kalah, maka aku tak akan memintanya kembali. Hanya saja aku peringatkan dirimu, Zavier. Jangan sampai kamu menyesal dengan apa yang pernah aku lakukan untukmu, tapi tidak pernah kamu sadari dan jaga," ancam Dyra tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD