Zavier dan Kikan berhasil membuat Dyra terkecoh. Kekuasaan dan uang Kikan bisa membeli fakta yang terjadi selama ini. Hubungan itu tertutup rapat berkat ancaman pada Myra yang diketahui berhubungan dengan Dyra dan menjadi sumber informasi istri Zavier itu tentang perselingkuhannya dengan Kikan. Orang dalam management membayar mahal untuk sebuah keamanan dan kenyamanan Kikan.
"Ma," panggil Dyra dari depan pintu kamar ibu mertuanya.
Wanita tua itu bergegas membuka pintu dan mendapati Dyra berdiri dengan menundukkan kepalanya di sana. Jelas sekali ada penyesalan di wajah wanita itu, setelah memikirkan segalanya, Dyra memutuskan untuk menemui sang ibu mertua.
"Kamu kenapa?" tanya Nyonya Affandi.
"Ma, Mama tahu hubungan Zavier dengan Kikan, bukan?" Dyra bertanya dengan lembut.
"Hubungan proyek, itu saja," jelasnya singkat.
"Ta-tapi, tadi Mama bilang mereka bersama," balas Dyra.
"Mama mengatakan semua itu karena kamu sudah terlanjur dikuasi emosimu, Dyra. Mama juga merasa harus membela anak Mama," ujarnya berdusta.
"Mama yakin? Bukanlah tadi Mama mengatakan jika Zavier akan segera menendangku dan membawa Kikan ke sini?" desak Dyra.
Nyonya Affandi sulit untuk berkilah dengan apa yang sudah terjadi. Dia dan Dyra sudah terlanjur beradu mulut dan banyak rahasia yang sudah Nyonya Affandi ungkap tanpa sadar.
"Dyra, kamu membuat suamimu bekerja keras untuk perusahaan. Seharusnya dia tak perlu melakukan ini, jika kamu membuang sikap egoismu itu." Nyonya Affandi mencari celah untuk menyalahkan menantunya.
"Apalagi, Ma? Aku sudah bicara berulang kali dengan Zavier, ini tidak ada hubungannya dengan semua itu." Dyra masih bertahan.
"Kenyataan seperti itu, Dyra. Suamimu harus ke Singapura untuk mengejar klien, tapi kamu malah mencurigainya ini itu dengan Kikan. Apa kamu pikir gadis sekelas Kikan tertarik pada Zavier?" Nyonya Affandi berdalih untuk menutup kembali hal sudah dia buka.
Dyra mencerna apa yang ibu mertuanya jelaskan, dia mencoba untuk membuat pertahanannya kuat. Perlahan dia menjernihkan pikirannya dan ingin mencari tahu lebih lanjut dahulu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Kikan dan Zavier. Dua orang yang semula mengatakan hubungan Zavier dan Kikan memang terjalin, menarik kembali fakta yang mereka berikan. Sehingga Dyra berasa di posisi yang sangat lemah.
"Oke, Ma. Aku akan percaya pada Zavier kali ini," balas Dyra yang akhirnya memilih mundur selangkah. "Tapi, jika ini semua adalah kebohongan, kalian akan terima balasan yang bertubi-tubi," lanjutnya dalam hati.
Tekad dan ancaman itu terdengar mengerikan bagi Dyra sendiri. Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan Zavier, ini sudah entah keberapa wanita itu menarik kalimat ancamannya. Dia mengalah dan lagi-lagi harus menerima kenyataan jika hubungannya dengan putra tunggal Keluarga Affandi itu memang masih harus bertahan.
Hingga hari-hari Zavier dan Kikan semakin nyaman di Hawaii. Walau pada akhirnya Zavier harus pulang terlebih dahulu untuk menghindari konflik, hal itu cukup memuaskan hati Kikan sebagai wanita yang memiliki hasrat berlebih. Dia seperti menemukan pasangan yang paling dia inginkan saat ini, sehingga bersedia memberikan dunia seisinya pada Zavier.
Dyra yang memang sudah membuat janji dengan Zavier tengah bersiap untuk menjemput suaminya ke bandara. Sesuai dengan waktu tiba yang Zavier kabarkan, Dyra bergegas karena tak ingin terlambat. Beberapa hari ditinggal Zavier dalam keadaan yang gonjang-ganjing cukup membuatnya merasa muak. Sehingga kabar kepulangan sang suami cukup memberinya udara segar, walau dia belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Mobil Dyra melaju cukup santai, waktunya masih banyak sekalipun dia tampak terburu-buru. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat, tapi kenyataannya itu yang terjadi. Dyra seperti dituntun untuk bahagia dan semangat menyambut suaminya pulang.
"Di sini saja," gumamnya sembari duduk di bangku pintu keluar bandara untuk menunggui Zavier.
Dia duduk dan sesekali mengecek ponselnya, dia berpikir mungkin saja Zavier sudah mendarat dan mengabarkan keberadaannya. Namun ternyata belum ada pesan atau apa pun itu dari sang suami. Dyra masih dengan setia menunggu suaminya walau sekarang sudah cukup terlambat. Waktu yang Zavier janjikan sudah meleset hampir dua jam.
"Penerbangan Jakarta-Singapura hanya memakan waktu satu jam empat puluh lima menit, tapi kenapa belum mendarat?" tanya Dyra merasa aneh.
Walau sudah lama Dyra tak bepergian ke luar negeri, tapi dia tak pernah lupa jarak waktu yang diperlukan untuk sebuah penerbangan dari Jakarta ke Singapura. Dia merasa ada yang aneh dan tak biasa. Hingga waktu berlalu dengan cukup lambat karena tak ada yang bisa dia lakukan selain mondar-mandir dan memainkan ponselnya saja. Dyra dirundung kebosanan, kesepian, kesia-siaan dan berbagai hal yang tidak menyenangkan lainnya.
Wanita berusia 28 tahun itu sudah hampir menyerah saat sudah lebih dari lima jam dia di sana tapi tak ada tanda-tanda kedatangan sang suami. Jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, udara semakin dingin dan dia sudah ratusan kali menguap karena mengantuk.
"Dia kemana?" tanyanya tanpa ada jawaban.
Karena memang itu adalah tempat umum, tentu saja masih cukup ramai walau sudah malam. Masih terlihat lalu lalang orang-orang yang akan melakukan perjalanan dan juga staf-staf bandara yang masih nampak melakukan pekerjaan mereka.
"Pesawat dari Singapura apakah sudah mendarat semua?" tanya Dyra pada seorang penjaga pusat informasi.
"Yang jalur khusus Singapura-Jakarta penerbangan hari ini sudah berakhir pukul enam sore tadi, Nyonya. Yang tersisa hanya penerbangan yang hanya transit saja," jelasnya.
"Transit? Tidak mungkin jika dia berangkat dari Singapura dia akan ke negara lain dahulu kemudian transit lagi ke Singapura dan baru ke Indonesia," batinnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi.
"Ah, tidak. Terima kasih atas jawabannya, aku pergi sekarang," jawab Dyra dan dia berlalu.
Wanita itu berjalan sambil menundukkan kepalanya, dia masih memikirkan penerbangan yang sebenarnya dilakukan oleh Zavier. Jika terjadi sebuah kecelakaan-pun, pasti akan ada kabar beritanya setelah beberapa jam berlalu, tapi semua aman terkendali. Tak ada hal-hal yang terjadi terkait lalu lintas penerbangan.
"Akh, maaf!" Dyra tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Astaga," keluh seorang pria yang ketumpahan kopi kemejanya.
Dyra mengutuk dirunya sendiri yang begitu ceroboh. Lamunannya membuat dirinya sendiri mencelakai orang lain. Dia yakin jika dia akan terkena masalah atas ulahnya sendiri. Sehingga dia masih menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya.
"Cukup," kata pria itu saat beberapa pengawalnya hendak mendekati Dyra. "Dia tak sengaja, ayo pergi," ajaknya.
"Tapi, Tuan," balas pengawal.
Dyra baru berani mengangkat wajahnya setelah rombongan itu pergi melewatinya. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan memutar tubuhnya 180 derajat untuk melihat pria itu. "Mengapa pria-pria yang aku temui sejak kemarin begitu pengertian dan lembut, sangat berbeda dengan Zavier yang bahkan tak pernah menanyakan kabarku kecuali kemarin," katanya membandingkan.
Dyra kembali ke kursi panjang tempatnya menunggu di awal kedatangannya tadi dan duduk sembari memeluk kedua kakinya. Sampai tiba-tiba terdengar suara koper yang ditarik datang ke arahnya.
"Dyra." Suara yang Dyra nantikan sudah memanggilnya.