Zeyn terkejut dan bahkan hampir terhuyung ke belakang karena apa yang dikatakan dokter kepadanya.
"Tidak. Itu tidak mungkin."
"Jangan bicara sembarangan, Brengsekk!" Umpat Zeyn bahkan mencengkrambaju sang dokter namun dokter hanya diam saja dengan wajah sendu karena ikut sedih sekaligus dengan Zeyn.
Zeyn melepaskannya dan langsung masuk ke dalam di mana Zoe terbaring dengan semua alat sudah di lepas.
Perawat yang tau menyingkir dari sana karena Zeyn yang mendekat.
"Zoe. Bangun! Kita akan hiduo bersama. Kau sudah janji denganku." Ucap Zeyn. Tangannya mengepal. Hatinya sangat sakit karena masih tidak menyangka jika dia harus kehilangan wanita yang sudah seperti hidupnya.
"Aluna Zoe, bangun!" Teriaknya bahkan menggoyangkan tubuh Zoe dengan keras namun sahabatnya menyadarkannya.
Mereka juga ikut bersedih dnegan kepergian Zoe karena mereka pun sudah menganggap Zoe sebagai adik mereka.
"Zoe sudah pergi, Zeyn. Kau harus merelakannya." Ucap Luca yang bahkan nyaris ingin menangis karena melihat hancurnya sahabtnya unruk yang pertama kalinya.
"Pergi ke mana? Dia tidak pergi, brengsekk! Jangan bicara sembarangan atau aku akan membunuhmu." Teriak Zeyn yang masih belum menerima, sedangkan Anya yang bisa menerima bahkan sudah jatuh pingsan dan kini di temani oleh Reyhan sang suami.
"Bagaimana ini bisa terjadi," ucap Anya yang benar-benar shock, dia sudah menyayangi Zoe seperti putrinya sendiri, namun dia tidak menyangka jika dia akan pergi selamanya.
Reyhan hanya diam saja karena dia sendiri juga tidak menyangka jika Zoe akan pergi secepat ini.
Hari ini yang seharusnya menjadi hari bahagia Zeyn dan Zoe. Tapi malah menjadi hari duka untuk mereka, di mana Zoe benar-benar meninggalkan mereka semua.
Di pemakaman, bahkan Zeyn hanya diam saja, matanya sebenarnya sudah tidak seperti biasanya di balik kaca mata hitamnya,
Hatinya merasa sakit melihat pemakaman Zoe yang bahkan sudah selesai.
Dia mengepalkan tangannya namun lalu langsung pergi dari sana karena hatinya terlalu sakit jika harus berlama di sana dan harus menerima kenyataan ini.
Para sahabatnya dengan setia menemani Zeyn dan bahkan sering mengunjunginya.
Satu minggu berlalu, bahkan Zeyn jarang tidur, dia akan tidur hanya satu atau dua jam saja, selebihmya dia hanya diam saja di kamar dan tidak pergi ke manapun.
Orang tua Zeyn sendiri tak kuasa mengingat kenangan Zoe di negara ini, untuk itu mereka memilih untuk kembali ke negara mereka dan menitipkan Zeyn kepada sahabat-sahabatnya.
"Zeyn, ada meting penting yang harus kau datangi, aku sudah mengirimkan pesan padamu semalam." Ucap Luca memberitahu.
Meskipun Zeyn adalah pimpinan mafia, namun dia memiliki banyak bisnis, bahkan dia adalah pemilik beberapa hotel terbesar di negara ini.
Zeyn hanya mnoleh sekilas kepada sahabatnya tanpa berkata apapun.
"Aku tidak bisa mewakilinya, dan pertemuan ini menyangkut banyak orang, aku tau kau hancur. Tapi banyak orang yang terlibat dalam meting kali ini, jika gagal. Maka kau juga akan menghancurkan pekerjaan mereka. Dan aku tau kau bukan seperti itu." Lanjutnya.
"Aku dan Ronald mati-matian bahkan kualahan menghandle semuanya, termasuk bisnis gelap kita, untuk saat ini saja. Aku mohon kau datang dalam meting kali ini." Luca benar-benar membujuk Zeyn yang memang hidupnya seperti tidak berselera lagi.
Dia memang sangat kejam terhadap musuhnya, namun dia memiliki hati baik dan tidak akan membiarkan orang lain kesulitan karenanya. Apalagi jika itu adalah karyawan teladannya.
Namun semenjak kematian Zoe, dia benar-benar berubah dan seperti tidak memperdulikan siapapun.
"Jika Zoe masih hidup dan kau memiliki sikap seperti ini, itu akan melukainya dan kau sudah berjanji kepadanya untuk tidak bersikap kejam dan tidak mempersulitkan orang lain yang bukan musuhnu, Zeyn."
Perkataan Luca akhirnya membuat Zeyn menghentikan aktifitasnya yang sedari tadi meminum minumannya.
"Kau melanggarnya!"
"Berdirilah dan selesaikan tanggung jawabmu sebagai pembisnis, karena—
Belum Luca meneruskannya Zeyn sudah berdiri dan meninggalkan Luca.
Namun Luca tersenyum miring dan benar-benar lega ketika Zeyn masuk ke dalam walk in closet-nya dan sudah pasti akan berganti baju untuk ikut dengannya.
Luca memilih untuk keluar dari sana dan menunggunya di mobil saja karena dia yakin jika Zeyn akan menyusulnya.
Benar saja, tak lama Zeyn masuk ke dalam mobil dan langsung saja Luca menyalakan mobilnya.
"Jangan banyak bicara, dan lebih baik kau fokus dengan jalanmu sebelum aku berubah pikiran." Zeyn mengomel sebelum tadinya dia melihat Luca yang ingin berbicara sesuatu kepadanya.
Luca akhirnya diam saja dan tidak memulai pembicaraan karena takut jika Zeyn tidak main-main dengan perkataannya dan akan berubah pikiran nantinya.
Setelah sampai, bertepatan Ronald juga baru datang karena dia juga menghandle meting lainny.
Memang semenjak Zeyn berubah, mereka berdua yang sibuk sendiri karena harus menggantikan Zeyn dan Zoe, karena sebenarnya seharusnya mereka beremoat yang menghandlenya.
Ronald tidak banyak bicara dan membiarkan Zeyn masuk ke dalam dan mmeulai metingnya. Entah bujukan apa yang digunakan Luca, namun dia sangat berayukur karena Zeyn akhirnya mau datang.
Meting kali ini memiliki suasana yang sangat menegangkan karena Zeyn yang datang dan bahkan lebih dingin dari biasanya.
Hampir semua orang tau jika Zeyn memang sangat mencintai Zoe. Untuk itu mereka tidak ada yang berani menyinggung nama Zoe meskipun itu hanya mengucapkan bela sungkawa.
Hampir tiga jam berlalu, meting akhirnya berjalan dengan lancar, Zeyn meminta kunci mobil kepada Luca karena ingin pulang sendiri namun Luca mencegahnya.
"Biar aku yang mengantarmu, aku yakin tunuanmu bukan pulang, tapi ke tempat lain, dan aku tau ke mana kau akan pergi." Ucap Luca yang masuk ke dalam movil.
Zeyn menghela nafas panjanganya dan akhirnya masuk diausul dengan Ronald yang juga ikut bersama mereka.
Luca menghentikan mobilnya di toko bunga, dan benar saja jika Zeyn langsung turun dan membeli bunga yang nantinya akan diberikan di pemakaman Zoe.
Luca dan Ronald masih setia menemani Zeyn yang berada di pemakaman meskipun dia hanya memandanginya tanpa mengatakan satu kata apapun.
"Bisakah kau hidup kembali, Zoe? Kau menginginkanku melanjutkan hidupku di mana hidupku adalah dirimu, dan kau sudah meninggalkanku." Ucap Zeyn pada akhirnya.
Zeyn mengepalkan tangannya namun lalu pergi dari sana dan di ikuti kedua sahabatnya.
"Kau ingin ke kantor?" Tanya Ronald.
"Tidak!" Jawab Zeyn yang di mengerti olehnya dan akhirnya Luca melajukan mobilnya menuju mansion.
Namun saat di lampu merah, pandangan Zeyn mengarah kepada satu wanita yang sedang naik motor di sampingnya.
Zeyn melihat dengan jelas dan terkejut ketika melihat wanita itu.
"Zoe." Ucap Zeyn yang membuat kedua sahabatnya menoleh.
"Ada apa?" Tanya Ronald yang bingung.
Wanita itu mulai menjalankan motornya yang membuat Zeyn terkejut.
"Kejar wanita itu, b******k!" Zeyn mengumpat yang membuat Luca terkejut dan akhirnya mengemudikan mobilnya.
"Yang mana?"
"Depanmu dia naik motor." Zeyn menunjuk yang di mengerti oleh Luca meskipun dia tidak tau siapa wanita itu.
"Sial." Zeyn semakin mengumpat ketika ternyata mobilnya terkena macet, dia bahkan keluar namun wanita itu sudah memasuki gang kecil yang membuat dia semakin marah.
"Siapa sebenarnya yang kau kejar?" Tanya Ronald penasaran.
"Zoe! Wajahnya sangat mirip dengan Zoe." Ucap Zeyn yang merasa kesal karena kehilangan jejaknya.
Sedangkan kedua sahabatnya hanya saking pandang karena mengira jika Zeyn sedang berhalusinasi.
"Kenapa dengan wajah kalian? Kau pikir aku berbohong dan berhalusinasi." Zeyn marah dan mengomeli kedua sahabatnya karena memandangnya dengan tatapan seperti tidak percaya.
"Bukan seperti itu, hanya saja—
"Temukan wanita itu, aku menginginkannya"