"Nek, udah berapa kali aku bilang … aku gak mau dijodoh-jodohin kayak gini. Aku bisa nyari pasangan sendiri,” protes seorang pria yang berada dalam satu mobil bersama seorang wanita berusia 60 tahunan.
Akan tetapi, wanita itu hanya menganggap penolakan cucunya sebagai angin berlalu. Dia justru melemparkan arah pandang ke luar jendela. Keputusannya sudah bulat tak bisa diganggu gugat.
“Nek, ini udah jaman modern bukan lagi jaman Siti Nurbaya,” ucap pria itu lagi disertai mimik frustasi. Kekesalannya semakin menggunung saat sang nenek mengabaikannya.
“Sudah diam!” bentak Retno yang mulai jengah dengan kecerewetan cucunya. “Kamu harus nurut! Kalau membangkang lagi … siap-siap keluar dari rumahku tanpa membawa sepeser pun dari hartaku. Dan jabatanmu di perusahaan akan ‘ku serahkan pada anakku.”
Arga mendengus kesal, neneknya selalu berhasil memanfaatkan kelemahannya dengan baik. Tentu, dia tidak rela perusahaan yang peninggalan mendiang ayahnya yang diperjuangkan dari nol diserahkan begitu saja kepada pamannya. Anak yang dimaksud Retno adalah adik tiri ayahnya.
“Oke, demi mempertahankan perjuangan papa … aku turuti keinginan nenek,” pungkas Arga pada akhirnya.
Retno tersenyum penuh kemenangan.
Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di depan sebuah rumah mewah. Kedatangan mereka disambut oleh pemilik rumah secara langsung. Sebelum turun dari mobil, Retno kembali memperingatkan cucunya untuk tidak membuat ulah yang akan membuat dirinya malu, serta memasang senyum terbaiknya.
Arga yang sudah malas mendengar ocehan wanita tua itu memilih mengangguk mengiyakan. Keduanya turun setelah sopir membukakan pintu.
“Selamat datang di gubukku, Nyonya Retno Suseno.” Bram menyambut tamunya dengan ramah.
Arga berusaha menarik senyum paksa di hadapan pria yang akan menjadi calon mertuanya.
“Jangan terlalu merendah, Bram! Rumah mewah begini dibilang gubuk,” sanggah wanita tua itu.
Bram hanya menanggapi dengan tawa sumbang. Dia pun segera mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
Suasana ruang tamu tampak lengang ketika Retno dan cucunya memasuki rumah. Tuan rumah yang menyambut hanya Bram dan putranya.
“Mana calon cucu menantuku?”
“Dia sedang berhias, silakan duduk dulu, Nak Arga dan Nyonya Retno. Biar saya panggilkan. Biasalah … wanita kalau dandan selalu lama, meski kata mereka natural,” ucapnya diakhiri sebuah bisikan.
Retno pun mengangguk mempersilakan. Kini, tinggallah Abraham yang tengah menyambut tak kalah ramah, hingga dalam waktu sekejap mereka terlibat pembicaraan hangat.
Tak berselang lama, Bram telah kembali, kemudian di belakangnya disusul Meliana dengan menggandeng seorang wanita muda. Retno menyunggingkan senyum penuh arti saat melihat cucunya menatap calon cucu menantunya tak berkedip.
“Kamu?!” Anna memekik saat melihat kehadiran Arga. “Jangan bilang kamu–”
“Iya, An … dia calon suamimu,” sahut sang ibu.
Keterkejutan di wajah Arga dalam sekejap berubah menjadi sebuah seringai. Pria itu bergegas bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Anna.
“Hai, kita bertemu lagi.”
Kelopak mata Anna tampak berkedip beberapa kali, berusaha menyadarkan diri. Bagaimana bisa pria yang pernah melecehkannya malam itu justru sekarang menjadi calon suaminya.
“Loh, kalian saling mengenal?” tanya Meliana yang tak bisa menahan senyumnya.
“Iya, Tan. Hubungan kita bisa dibilang sangat dekat,” jawab Arga seraya melirik wanita di depannya.
Anna hanya bisa mengepalkan tangan kuat. Tanpa banyak bicara, wanita itu segera menarik tangan Arga, lalu membawanya menjauh sebelum pria itu berbicara lebih jauh lagi.
Tindakan spontan wanita itu sontak disambut bahagia oleh semua yang menyaksikan. Mereka tak pernah menyangka rencana perjodohan yang mereka kira akan sulit justru dipermudah dengan kenyataan.
Retno yang memang berambisi dalam perjodohan ini pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera meminta Bram untuk segera mengatur tanggal pernikahan.
*****
“Apa maksud semua ini?” Anna menghempaskan kasar tangan Arga ketika berada di tempat sepi. Wanita itu membawanya ke tepian kolam renang.
“Gak ada maksud apa-apa. Aku hanya menuruti keinginan nenekku,” jawab pria itu santai.
Sejak tadi tatapannya tak pernah lepas dari wajah Anna yang terlihat semakin memesona terkena sorot cahaya bulan yang memantul pada kolam.
“Itu artinya kamu juga terpaksa, ‘kan?”
Arga mengangguk pelan.
“Kalau begitu sama. Jadi, mari kita batalkan! Perjodohan ini tidak akan berlanjut kalau kita sama-sama tidak menginginkannya.”
“Siapa bilang? Aku menginginkanmu.”
Wanita itu terperangah mendengar jawaban yang terlontar dari bibi Arga. Kebenciannya terhadap pria itu semakin bertambah.
“Asal kamu tau, aku pernah menikah. Aku baru berpisah dengan suamiku. Dia berkhianat. Jujur, aku masih trauma untuk menjalin hubungan baru. Aku gak siap!”
Anna membuka masa lalunya berharap Arga mau mengerti dan menyetujui keinginannya. Akan lebih baik jika pria itu merasa ilfeel dengan statusnya sebagai janda, lalu pergi menjauh. Akan tetapi, semua yang diharapkan Anna tidaklah terjadi.
Sejak malam itu, Arga telah menginginkan Anna. Dia berusaha mencari keberadaannya selama beberapa bulan terakhir. Namun, pencariannya masih belum membuahkan hasil, meski telah mengantongi sidik jari wanita itu.
Kini, wanita yang dicari justru ada di hadapannya tanpa harus bersusah payah mencari. Lantas, apa dia akan melepaskannya begitu saja? Sudah tentu jawabannya tidak. Terlebih perjodohan dengan Anna akan mengamankan posisinya sebagai pemimpin tertinggi di perusahaan. Para petinggi perusahaan menginginkan dirinya untuk segera menikah untuk menutup rumor buruk tentangnya, yang akan memperburuk citra perusahaan.
“Suka tidak suka, setuju tidak setuju, aku akan tetap menikahimu,” cetus Arga tanpa bisa dibantah.
Anna menyilangkan tangan, menatap angkuh pria di depannya. Ucapan Arga bagaikan genderang perang yang ditabuh. Kalau begitu pantang bagi Anna untuk tidak melawan.
“Baik, aku setuju menikah denganmu. Dengan syarat ….” Wanita itu menjeda ucapannya seraya melayangkan tatapan tajam.
“Balaskan dendamku pada mantan suamiku.”
Arga mengangkat sebelah alisnya. “Hanya itu?”
“Hancurkan keluarga mereka sehancur-hancurnya,” geram Anna dengan tatapan tajam ke depan.
“Deal!” Arga segera mengulurkan tangannya meminta persetujuan. Namun, tangan itu hanya menggantung di udara tanpa ada sambutan.
Anna melayangkan tatapan penuh selidik uluran tangan yang ada di depannya.
“Kenapa? Gak percaya?”
“Bukan, aku hanya ragu … kamu menyetujui tanpa mengajukan syarat balik.”
“Aku akan membantumu balas dendam asalkan kau bersedia menikah denganku. Karena pernikahan ini sudah sangat menguntungkan untukku. Dengan menikahimu posisiku di perusahaan akan aman.”
Kini, Anna paham atas motif pria itu yang menyetujui perjodohan meski dalam keterpaksaan. Demi jabatan dan kekuasaan.
Setelah mendengar pemaparan itu, Anna tanpa berpikir panjang segera menjabat tangan Arga sebagai tanda persetujuan.
“Deal!” sahutnya mantap.
“Selama menikah aku ingin menjalani kehidupan rumah tangga pada umumnya, yang bebas menyentuhmu kapan pun aku mau. Tidak ada drama kepura-puraan di depan umum, karena aku ingin mengakuimu seutuhnya sebagai istriku.”
Meskipun jengah, tetapi Anna tetap mengiyakan. Bagi Anna, Arga tetaplah pria b******k yang selalu memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Dia akan membentengi diri untuk tidak mengikutsertakan hati dalam drama pernikahan ini.
“Selama menjadi suamiku, kau tidak boleh bermesraan dengan wanita mana pun, selain aku. Perlu kamu ingat, aku sangat membenci pengkhianat!” Wanita itu menekan ucapannya di akhir kalimat.
Arga sama sekali tidak merasa keberatan. Pada akhirnya kata sepakat keluar dari bibir masing-masing. Mereka menganggap pernikahan ini hanyalah sebatas kontrak kerjasama yang kapan saja bisa diakhiri ketika salah satu dari mereka melanggar perjanjian.