Bab 5. Hidup yang Diatur

1106 Words
“Anna, segera bersiap! Pakai baju ini!” Anna yang baru keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan kehadiran sang ibu yang sudah menyiapkan pakaian semi formal untuknya. “Memang mau kemana?” Dia masih memerhatikan Meliana yang berlalu-lalang disekitaran kamarnya menyiapkan berbagai aksesories yang akan dikenakan untuk menyelaraskan dengan gaun yang dipakai. “Hari ini kamu harus ikut ke kantor. Kamu akan menggantikan posisi papa.” Anna sontak terkejut mendengarnya, apa katanya tadi? Menggantikan posisi papa? Itu artinya kepemimpinan perusahaan akan beralih ke tangannya. Dia seketika menggeleng keras. “Gak, aku gak siap! Aku gak mau, Ma.” Dia menolak secara terang-terangan. Meliana seketika menatap lekat putrinya. “Kamu harus mau! Keputusan ini sudah disetujui para pemegang saham,” ucap wanita berpenampilan anggun itu dengan tegas. Bram sengaja mengusulkan putrinya sebagai penggantinya di perusahaan sewaktu rapat pemegang saham beberapa bulan lalu. Karena memang Bram tidak ingin tonggak kepemimpinan perusahaan jatuh ke tangan orang lain. Perusahaan itu adalah usaha keluarga turun-temurun, sejak dari generasi pertama para pendahulu memang memercayakan kepemimpinan hanya pada keturunan asli. “Ma …,” ucap wanita itu dengan wajah memelas. “Mama gak bisa bantu, Anna. Kamu memang harus menerima keputusan ini.” Anna tak dapat lagi membendung kekesalannya. Kemarahannya mengenai perjodohan semalam belum reda, kini ditambah lagi masalah ini. “Kenapa sih kalian selalu memutuskan segalanya secara sepihak?” teriaknya, “Ini hidupku! Kalian gak berhak mengaturnya. Aku bukan robot!” “Semua demi kebaikanmu, Sayang ….” “Kebaikan dari mana, hah?!” teriaknya. Meliana yang sedang malas berdebat memilih mengabaikan. Setelah selesai menyiapkan segala keperluan putrinya, wanita itu justru melenggang keluar begitu saja. “Segera bersiap, 10 menit lagi segera turun! Kita berangkat bersama,” titahnya sebelum menghilang di balik pintu. Anna menggeram saat tak mendapat respon dari ibunya. Alasan yang diutarakan selalu sama, dia sungguh muak mendengarnya. Dengan kasar, dia segera menyambar pakaian yang ada di tempat tidur, lalu memakainya. Kemudian, segera merias diri. Seperti kata ibunya, dia hanya punya waktu 10 menit. Karena tak ingin mencari masalah dengan sang ayah, dia terpaksa menurut. ***** “Papa, aku ingin mengajukan syarat,” ucap Anna dingin setelah resmi dilantik sebagai pimpinan tertinggi perusahaan. Wanita itu kini telah menempati ruangannya–ruangan yang semula milik sang ayah–. Bram segera mengalihkan tatapan ke arah putrinya, di sana juga ada ibunya. “Apa?” tanya Bram dengan tatapan menelisik. “Aku mau tinggal terpisah … dan aku tidak menerima penolakan. Sama seperti aku yang harus menuruti semua keinginan papa, papa juga harus menuruti keinginanku.” Anna berucap tegas disertai tatapan tajamnya. Meliana yang mendengar hal itu, tentu saja menentang keras keinginan putrinya. Anna baru kembali, dia tidak rela berpisah lagi dengan putrinya. Wanita paruh baya itu menggeleng pelan ke arah suaminya sebagai tanda ketidaksetujuan. Sementara Bram masih diam tampak berpikir keras, berusaha menimbang keputusan yang akan diamblinya. “Kalau papa tidak setuju, aku akan membatalkan sepihak perjodohan dengan Arga,” ancam Anna yang tak kunjung mendapat jawaban. Dia sengaja menyinggung masalah perjodohan. Tanggal pernikahan telah ditentukan dan sudah diumumkan di depan para petinggi di acara pelantikan tadi, sudah tentu Bram tidak ingin menanggung malu. “Papa tau sendiri ‘kan kalau aku bisa nekad?” Bram menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata, “Baiklah … papa akan siapkan sebuah rumah untukmu.” Meliana ingin protes mendengar keputusan suaminya. Namun, urung saat melihat tatapannya yang tajam. “Bukan rumah tapi apartemen. Aku ingin menempati apartemenku dulu.” Lagi-lagi, Bram hanya mengiyakan dengan mudah tanpa embel-embel syarat atau apapun itu. Anna menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Dia memang sengaja memutuskan untuk keluar dari rumah. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin kedua orang tuanya kembali mengatur hidupnya dengan sesuka hati. Dia sangat memahami bila Bram akan selalu mengawasi gerak-geriknya di luaran sana. Itulah sebabnya dia berani mengambil keputusan itu. “Pa, gak bisa gitu, dong …,” protes Meliana yang merasa keberatan. “Biarlah, Mel! Toh, Anna masih ada di sekitaran Jakarta. Kamu bisa mengunjunginya kapan saja. Sebentar lagi Anna juga akan berpisah dengan kita karena harus menikah dengan Arga.” Bram memotong cepat ucapan istrinya. Ketegangan di dalam ruangan itu teralih ketika seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Arga menyapa kedua calon mertuanya terlebih dahulu sebelum mendekati Anna. Baik Bram maupun Meliana berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. “Ada apa kemari?” Anna menatap tubuh yang menjulang di hadapannya. “Aku ingin mengajakmu keluar, itung-itung kencan,” ucapnya seraya menaik-turunkan kedua alisnya. Anna sungguh jengah melihat Arga yang selalu bersikap “sok kecakepan” di depannya. “Kamu gak liat aku lagi kerja?” Anna membalas dengan ketus. Suasana hatinya sedang buruk dan kedatangan pria itu semakin memperparah keadaan. “Keluarlah! Papa ijinkan. Sebenarnya, hari ini adalah hari terakhir papa bekerja. Biarkan papa yang mengerjakan semuanya. Kamu mulai besok saja,” ujar Bram yang berada di tempatnya. “Tuh, papa ngijinin. Jadi, gak ada alasan lagi buat nolak.” Arga segera menggandeng tangan Anna tanpa meminta persetujuan. Keduanya melenggang keluar ruangan. Meskipun kesal, tetapi Anna tetap membiarkan. Toh, dia juga butuh pelarian dari semua yang dirasakan hari ini. ***** "Mau kemana?" tanya Arga ketika sudah berada di dalam mobil. Anna hanya melirik sekilas, kemudian menjawab, "Terserah." Pria itu menyunggingkan senyum penuh arti. Dia tahu calon istrinya itu sedang badmood, maka dia berinisiatif membawanya ke suatu tempat. "Aku bisa memperbaiki suasan hatimu. Kamu cukup diam dan ikut saja." Anna hanya merotasi kedua bola matanya. Dia tidak peduli dengan apapun yang pria itu lakukan. Dia hanya ingin diam seraya meredam hawa panas yang masih membara di hatinya. "Let's go, Baby!" Mobil yang dikendarai Arga perlahan mulai melaju meninggalkan gedung perkantoran itu. Dia berkendara dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan tidak ada pembicaraaan apapun di antara mereka. Anna lebih banyak diam sembari memandang ke arah luar jendela. Suasana di dalam mobil didominasi suara musik yang sengaja diputar Arga untuk menemani perjalanan mereka. Sehingga tak berapa lama berselang mereka tiba di sebuah Mall yang ada pusat kota. Arga memasuki pusat perbelanjaan tersebut dengan menggandeng mesra calon istrinya. Rengkuhannya terkesan posesive, sungguh Anna merasa tidak nyaman. Karenanya dia menjadi pusat perhatian banyak orang. Berulang kali, melepaskan tetapi Arga selalu punya cara cerdik untuk menyentuhnya. Langkah kaki mereka membawanya ke sebuah butik. Arga yang menjadi tamu VIP di sana segera mendapat pelayanan terbaik. "Tunjukkan koleksi terbaru kalian! Entah baju, tas atau pun sepatu," titahnya pada pelayan. Seorang wanita muda yang berseragam butik tersebut segera mengambilkan apa yang diminta tamunya. Arga dan Anna menunggu di sebuah sofa, di sana juga tersaji minuman dan camilan. "Anna, kamu di sini juga?" Anna yang merasa namanya dipanggil pun segera menoleh. Betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang yang ditemuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD