Bab 6. Mood Anjlok!

1059 Words
Tidak hanya Anna, Arga pun ikut menoleh ke asal suara. Dilihatnya, seorang pria tengah menggandeng mesra seorang wanita. Pria itu tampak menyipitkan mata merasa tidak asing dengan sosok yang ada di hadapannya. Mengenyahkan rasa penasarannya, Arga memilih bertanya pada Anna, “Kamu kenal mereka?” “Mantan suamiku dan selingkuhannya,” jawab wanita itu datar dengan tatapan lurus ke depan. Kavia tampak mengetatkan rahang mendengar ucapan Anna. “Enak aja kalau ngomong! Aku istri sahnya Harris, ya,” sergahnya tidak terima. Suara Kavia terdengar lantang,hingga dalam waktu sekejap mereka menjadi pusat perhatian. “Perlu kamu ingat! Sebelum menjadi suamimu, Harris masih berstatus suamiku. Kamu yang merebutnya! Dasar pelakor!” sahut Anna tak kalah lantang. Dia yakin ucapannya bisa didengar semua pengunjung yang ada di butik itu. Dia menyunggingkan senyum puas karena membalas wanita ular itu di waktu yang tepat. Wajah Kavia merah padam menahan malu sekaligus kesal. Dia memerhatikan penampilan Anna yang tampak berbeda. Pakaian yang melekat di tubuhnya merupakan dress bermerek kenamaan kelas dunia, begitu pun dengan aksesories yang dikenakan. Wanita itu seketika merasa sangsi, bahwa setelah bercerai dari Harris, Anna beralih profesi menjadi simpanan pria kaya. Amarahnya semakin memuncak kala sang suami hanya diam melihat dirinya dipermalukan seperti itu. Sejak tadi Harris hanya menatapa wajah Anna tanpa berkedip. Hawa panas seketika menjalari hati Kavia saat mengetahui hal itu. “Harris, kenapa kamu diam saja? Bela aku, dong …,” protesnya dengan menggoyangkan lengan sang suami. Harris seketika tergagap, gestur tubuhnya seperti menunjukkan salah tingkah. Jujur, dia memang terpesona dengan penampilan mantan istrinya yang sekarang. Namun, dia berusaha menjaga sikap. Anna terlihat dekat dengan Arga, bahkan kedekatan mereka sangat intim. Sementara Arga merupakan salah satu investor di perusahaannya. Dia hanya tidak mau mengusiknya Anna menyunggingkan senyum sinis saat mendengar rengekan Kavia. Tak lama kemudian datang seorang pelayan yang menyela ketegangan di antara mereka, membawa serta banyak barang dengan dibantu salah seorang temannya, lalu menata semua barang bawaannya di atas meja, tepat di hadapan Anna dan Arga. Mata Kavia terbelalak sempurna, di antara barang-barang branded itu ada satu tas incarannya. “Pilih mana saja yang kamu suka! Aku yang akan membayarnya,” ujar Arga tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel. Anna hanya menatap semua barang itu tanpa minat. Nyatanya dihadapkan dengan barang-barang mewah tidak lekas membuat mood-nya lekas membaik. Terlebih setelah bertemu dengan duo pengkhianat itu. “Aku mau ke tempat lain.” Wanita itu tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, tindakan spontan itu sontak mengejutkan semua yang melihat, tak terkecuali Arga. “Kenapa? Kamu gak suka? Aku akan meminta mengambilkan koleksi mereka yang lain, masih ada yang limited edition.” Arga segera menyimpan ponselnya ke dalam saku jas. Mendengar hal itu, hawa panas yang dirasakan Kavia semakin menjadi. Rasa iri dan dengki telah menyelimuti seluruh hatinya. Menurutnya, Anna hanyalah seorang wanita kampungan yang tidak pantas mendapat perlakuan istimewa seperti itu. “Aku gak mood belanja, Arga! Aku mau ke tempat lain. Kalau kamu masih mau di sini, terserah! Aku bisa sendiri.” Anna segera menyambar tas kecilnya, lalu melenggang keluar begitu saja. Arga yang mengetahui kepergian calon istrinya pun bergegas menyusul. Setelah berhasil mensejajari langkahnya, dia segera merengkuh mesra pinggang ramping itu. "Kamu pergi karena masih gak rela dicerai sama Harris, 'kan? Kamu cemburu, 'kan?" Suara lantang Kavia sontak menghentikan langkah Anna yang hampir mencapai pintu. Wanita itu segera berbalik serta menatap angkuh pasangan suami istri di depannya. "Kamu itu udik, gak salah kalau Harris lebih milih aku yang jelas-jelas lebih bening dari kamu.” Kavia berucap pongah dengan kepercayaan tingkat tinggi. Dia hanya ingin menegaskan kalau dirinya-lah yang lebih dari Anna dalam segi penampilan dan paras. Pada akhirnya, wanita itu memilih membela dirinya sendiri karena sang suami tak kunjung memberikan respon. Dia tidak mau harga dirinya dijatuhkan begitu saja di depan umum, terlebih oleh Anna–wanita yang jelas-jelas jauh lebih rendah darinya. Anna terperangah mendengar hal itu, apa katanya tadi “gak rela”? Wanita itu menggeleng pelan, buat apa mempertahankan pria yang tidak bisa setia pada satu wanita. Seandainya, dia yang lebih dulu mengetahui perselingkuhan Harris, bisa dipastikan dia yang menggugat cerai terlebih dulu. “Via, diamlah! Kamu ngajak kemari mau belanja atau nyari ribut.” Harris yang mulai jengah pun menegur istrinya. “Kamu kok belain dia, Ris!” “Aku gak belain siapa-siapa. Apa kamu gak malu dari tadi dilihatin banyak orang? Aku malu, Via!” bisik Harris penuh penekanan. “Dia duluan yang mulai.” “Jadi, belanja apa tidak? Kalau gak, kita keluar!” Kavia terpaksa menahan amarah yang belum tuntas. Dia segera menyeret lengan sang suami menjauhi tempat itu. Tentu saja, dia lebih memilih belanja. Ada tas incarannya di sini, dia harus mendapatkannya hari ini karena besok mereka harus kembali ke Surabaya yang tidak tahu lagi kapan akan berkunjung kesini lagi. “Benar yang dikatakan wanita itu?” tanya Arga disertai sorot tajamnya, timbul rasa tidak suka di hati ketika mengetahui sikap Anna yang hanya diam seolah membenarkan anggapan Kavia. Anna tidak menjawab justru melenggang pergi meninggalkan Arga dengan segudang pertanyaan. Kepergian Anna tak luput dari pandangan Harris yang masih berada di tempat itu. Hingga perhatiannya teralih saat mendengar perkataan Kavia. "Tuh, liat mantan istrimu! Setelah cerai darimu alih profesi jadi ani-ani, memalukan!" ***** "Anna, kamu belum menjawab pertanyaanku," protes Arga seraya mengejar kepergian wanita itu. Setelah berhasil mensejajarkan langkahnya, lagi-lagi dia merengkuh pinggang ramping itu. Namun, kali ini Anna berhasil melepas belitan tangan Arga, mood-nya benar-benar anjlok hari ini. Dia hanya butuh ketenangan untuk meredam hawa panas di hatinya. Arga memilih mengalah. Dia sadar tidak mudah menaklukkan wanita seperti Anna, terlebih masih menyimpan luka di hati. Namun, tekad di hatinya sangat kuat untuk meluluhkan hati wanita itu. “Aku sangat benci pengkhianatan, sampai aku melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Maka, saat itu juga kamu kuanggap sampah! Dan semua kesepakatan di antara kita batal.” Anna tiba-tiba berucap seraya menatap tajam ke depan. Mendengar hal itu, terbit seutas seringai dari bibir Arga. Dari perkataan Anna, dia bisa menyimpulkan jika Anna sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap mantan suaminya. Maka dengan itu, jalan untuk meluluhkan hati wanita itu semakin terbuka lebar. “Kamu tenang saja, Baby. Aku hanya menginginkanmu, maka aku tidak butuh lagi wanita lain," ucap Arga diiringi senyum manisnya. Anna menganggap perkataan itu sebagai angin berlalu, tidak ingin terlalu memercayai ucapan Arga. Perkataan itu dia anggap hanya sebagai rayuan khas buaya darat. "Jadi, kapan aku bisa memulai membalaskan dendammu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD