Anna sontak menghentikan langkahnya, lalu menatap lekat wajah Arga. Helaan nafas kasar terdengar dari bibirnya.
"Jangan buru-buru! Kasihan mereka baru merasakan jadi orang kaya," sahut Anna datar.
Arga menatap wanita itu dengan kening berkerut. Otaknya seketika berpikir keras berusaha menerka-nerka mengenai sosok mantan suami Anna. Kenapa dia merasa tidak asing melihat wajah itu? pikirnya. Bukan Arga jika tidak mencari tahu. Semua yang berhubungan dengan Anna wajib dia ketahui, termasuk masa lalunya.
“Oke, aku akan bergerak setelah mendapat titah Yang Mulia Ratu.”
Langkah kaki membawa Anna ke area foodcourt, berbagai jenis makanan begitu memanjakan mata bagi para pecinta kuliner. Mata Anna tampak berbinar menyaksikan aneka dessert yang terpajang di etalase. Wanita itu memang penggemar berat makanan manis nan creamy.
Senyum manis secara perlahan mulai terbit di bibirnya. Dia segera memesan makanan tersebut, bomboloni dengan berbagai varian rasa dan dessert box yang tengah viral menjadi pilihannya.
Senyuman itu ikut menular kepada Arga. Semakin dekat dengan wanita itu, membuat Arga semakin penasaran mengenai kepribadian Anna. Sesuai dugaannya sejak awal, dia berbeda dari para wanita yang pernah dekat dengannya.
Kini, Arga tahu moodbooster Anna dikala badmood adalah makanan manis. Dia akan mencatat itu di kepalanya.
“Kamu mau?” Anna menyodorkan bomboloni yang berisikan selai coklat di hadapannya.
Kini, mereka tengah duduk di meja yang berada di sekitaran foodcourt tersebut.
“Mau asal kamu suapin.”
Anna merotasi bola matanya. Namun, tak urung dia menuruti keinginan Arga.
“Nikmat,” ucap Arga seraya menatap lekat wajah wanita di depannya.
“Rasa coklat emang senikmat itu … aku aja ketagihan.”
“Bukan makanannya, tapi kamu ….” Pria itu segera mencekal tangan yang ada di depannya. “Kamu terlalu nikmat sampai buat aku ketagihan. Kamu membuat aku pengen ngerasain lagi dan lagi.”
Anna terkejut melihat tindakan spontan itu. Dia sempat mematung sejenak, sebelum akhirnya tersadar.
“m***m!” teriaknya dengan kesal.
Wanita itu segera menghentakkan tangannya yang berada dalam kuasa Arga, bahkan menggeser tubuh untuk memberi jarak. Kini, dia menyesal telah berlaku baik dengan menawari Arga salah satu makanannya.
“Sekali m***m tetap mesum."
*****
"Harris, bagus, gak?" tanya Kavia seraya menempelkan gaun malam yang baru dibeli ke tubuhnya. Mereka telah kembali ke hotel tempatnya menginap.
Dia tengah meminta pendapat pada suaminya, tetapi Harris justru sibuk melamun. Pria itu bahkan mengabaikan kelakuan sang istri yang tengah membongkar barang belanjaannya.
"Ris, kamu dengerin aku gak, sih? Dari tadi aku ngomong kok dicuekin," tanya Kavia dengan kesal saat menyadari sikap suaminya.
Lamunan Harris seketika tersentak. Dia sempat terkejut, tetapi dengan segera bersikap normal.
"Bagus, kok, semuanya bagus. Kamu cantik pakai itu semua," jawab pria itu sekenanya.
Kavia mendengus kesal, sebab tau suaminya hanya asal menjawab. Sejak tadi memang Harris terlihat lebih banyak diam, tepatnya setelah bertemu Anna.
Harris yang biasanya antusias saat diajak berbelanja berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Kavia tipikal wanita yang suka meminta pendapat mengenai barang pilihannya saat berbelanja. Tak jarang pula, dia meminta pendapat pria itu, terutama soal pakaian.
Biasanya, Harris akan aktif memberi pendapat mengenai warna dan model pakaian yang cocok atau tidak untuk tubuhnya. Namun, kali ini berbeda. Berkali-kali, dia mencoba meminta pendapat, tetapi Harris seperti enggan memberi respon.
"Kamu berubah!"
Harris mengalihkan tatapan pada sang istri, dilihatnya Kavia tengah menunjukkan wajah muram.
"Berubah bagaimana?"
"Ya, kamu berubah setelah ketemu mantan istrimu yang udik itu," sahut Kavia ketus.
Entah kenapa kali ini ada rasa tidak suka ketika mendengar Kavia menghina Anna. Akan tetapi, Harris tidak berani menunjukkan ketidaksukaannya secara langsung.
"Aku capek, Via ... kamu tau sendiri 'kan bagaimana kesibukanku selama di sini?" Pria itu menyahut dengan nada lemah. Dia menyandarkan tubuh pada sandaran sofa dengan memejamkan mata.
"Alasan!"
Kavia tidak menerima alasan Harris begitu saja. Meskipun, suaminya mengelak, tetapi dia yakin jika sikap Harris berubah karena Anna, terlebih penampilannya yang sekarang sangat jauh berbeda dengan dulu sewaktu menjadi istri Harris.
"Sudahlah, Via! Jangan memperbesar masalah sepele. Aku memang capek. Bukan karena habis bertemu siapa pun. Beberapa hari ini aku kurang tidur. Tolong, ngertiin aku, oke ...." Pria itu berucap tanpa memandang sang istri yang sudah meradang.
"Tolong, jangan buat aku makin capek sama tingkahmu yang mirip anak kecil itu," sambung pria itu.
Setelah mengatakan sederet kalimat itu, Harris meninggalkan sang istri begitu saja. Kavia menggeram kesal tidak terima mendengar perkataan terakhir suaminya. Dia menatap tajam punggung kekar yang mulai menghilang di balik pintu.
"Aku ini kenapa?" gumam Harris seraya menatap pantulan diri sendiri di depan cermin kamar mandi.
Wajahnya tampak basah. Dia memang sengaja mencuci muka untuk menghilangkan bayangan wajah Anna kembali menghantui pikiran.
Ada perasaan tidak nyaman di hati ketika teringat kedekatan Anna dengan pria lain. Ada sejenis perasaan tidak rela, tubuh Anna disentuh pria lain.
"Apa aku cemburu?"
Namun, sedetik kemudian dia segera mengenyahkan segala prasangka itu.
Dia tidak pernah mencintai Anna, menikahi Anna hanya sebatas pelarian saat Kavia dijodohkan dengan pria lain dulu. Selama menjalani biduk rumah tangga, Harris selalu mengabaikan wanita itu, bahkan saat ibu dan kakaknya memerlakukan Anna layaknya pembantu. Dia memilih menutup mata dan telinga.
Setiap kali, Anna mengadu atas perlakuan ibu dan kakaknya, dia selalu menekankan jika itu adalah bentuk bakti seorang istri. Tapi, kenapa setelah berpisah dengan wanita itu segala perasaan aneh bermunculan di hatinya.
"Gak mungkin aku mulai tertarik dengan mantan istriku. Kalau memang iya, kenapa gak dari dulu?"
Semua pertanyaan kembali memenuhi kepala. Sungguh, Harris tidak nyaman dengan semua yang dirasakan saat ini.
Terdengar suara ketukan pintu disusul dengan suara Kavia yang memanggilnya.
"Sebentar," sahut Harris dengan berteriak.
Pria itu segera menyambar handuk untuk mengelap wajahnya, lalu bergegas membuka. Kavia melihatnya dengan raut keheranan. Pasalnya, dia terlalu lama berada di kamar mandi, tetapi pakaian yang dipakai masih melekat di tubuhnya.
"Kamu ngpain aja sih di dalam? Kukira tadi mandi."
"Niatnya memang begitu, tapi urung. Air di dalam terlalu dingin." Harris menjawab sambil berlalu.
Kavia memandang dengan kening berkerut. Cuaca sedang panas-panasnya, tetapi Harris justru merasa kedinginan. Padahal dia dalam keadaan sehat, tidak mengeluh sakit sama sekali. Semakin diperhatikan sikap Harris semakin aneh. Dugaannya seketika mengarah pada pertemuan dengan Anna tadi.
"Ris, kamu gak lagi mikirin wanita udik itu, 'kan?" Wanita itu tak tahan lagi menahan rasa penasarannya.
Langkah Harris seketika terhenti, lalu berbalik menatap lekat istrinya.
"Sudahlah, Via! Aku capek, jangan cecar aku dengan semua pertanyaanmu yang gak jelas itu. Bisa, gak, sih, gak usah mancing keributan?"
Kekesalan yang sempat mereda kembali bangkit saat mendengar ucapan Harris. Dia hanya bertanya, kenapa respon Harris terlalu berlebihan?