Sejak pagi, Anna tampak sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Wanita itu tengah memeriksa laporan bulanan dari divisi keuangan dan pemasaran yang membutuhkan tanda tangannya. Matanya tampak awas mengawasi satu per satu angka yang tertulis dan saling mencocokkan. Tak ada satu digit angka pun yang terlewat dari pengawasannya.
Setelah selesai dengan satu berkas, dia segera berganti dengan berkas yang lain. Namun, saat hendak memeriksa berkas terakhir. Netranya tampak mengernyit saat mendapati sebuah proposal kerjasama dari HS Group, yang tidak lain perusahaan milik mantan suaminya.
Beberapa hari terakhir, dia memang sibuk menyiapkan acara pernikahannya dengan Arga yang akan digelar dalam waktu dekat, ditambah dengan kepindahannya ke apartemen. Jadi, dia tidak terlalu memerhatikan urusan kantor. Semua pekerjaan, dia serahkan pada asistennya.
Anna segera memanggil Rio–asisten yang merangkap sebagai sekretaris pribadinya untuk meminta penjelasan karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
"Sejak kapan proposal ini ada di sini?" Anna membanting pelan berkas tersebut tepat di hadapan pria itu.
"Baru dua hari yang lalu."
Anna mengerutkan kening, lalu membuka berkas tersebut dan membacanya sekilas.
"Hubungi mereka! Proposal yang mereka ajukan sudah 'ku ACC," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
Rio mengerjap beberapa kali memastikan tidak salah dengar
"Anda yakin, Nona?"
"Ya," jawab wanita itu mantap, "Kenapa memangnya?"
Rio menggaruk kepala belakang yang tidak gatal bingung hendak menjawab. Tatapan Anna yang penuh intimidasi berhasil membuat lidahnya kelu.
"Apa gak terlalu cepat? Anda baru memeriksanya. Biasanya tuan besar sangat memikirkan keuntungan yang didapat dari kerjasama dan memerhatikan progres ke depannya, apa akan bagus atau tidak."
"Yang jadi atasanmu sekarang aku atau papaku? Keputusan mutlak sekarang ada di tanganku. Paham?!" Anna yang merasa kesal sontak mengeluarkan semburan mautnya.
Pria itu hanya mengangguk. Sikap Anna tak kalah tegas dengan Bram, bahkan tatapannya yang tajam berhasil melumpuhkan siapa pun yang melihat.
"Baik, akan segera saya kerjakan."
Selepas kepergian asistennya, Anna membuka kembali dan membaca isi berkas tersebut. Seutas senyum sinis terbit dari bibirnya. Rupanya perusahaan Harris sedang membutuhkan perusahaannya untuk proyek pembangunan gedung pemerintahan. Perusahaan Harris bergerak di bidang jasa kontruksi, yang menyediakan desain bangunan, sementara perusahaannya bergerak di bidang kontruksi yang bertugas sebagai pelaksana pembangunan.
"Semoga kamu gak menyesal, ya, Ris ... telah mengajukan kerjasama dengan perusahaan ini."
Anna hanya membaca poin-poin pentingnya, setelah itu dia menutup berkas tersebut.
"Well, sebuah kejutan telah menantimu, Ris. Aku pastikan kamu akan menyesal telah mencampakkan aku."
"Nona, mereka minta bertemu dalam waktu dekat. Apa Anda bersedia? Kalau iya saya akan segera atur jadwalnya." Suara Rio terdengar melalui sambungan interkom.
Anna berpikir sejenak, berusaha menimbang-nimbang. Apakah tidak terlalu cepat menampakkan diri sekarang.
"Atur saja karena itu tugasmu."
"Baik."
*****
"Apa maksudmu asal menerima proposal kerjasama itu, Anna?" Bram berucap marah seraya membanting berkas yang dibawanya.
Anna yang tengah memejamkan mata di sebuah sofa dikejutkan dengan kehadiran ayahnya. Wanita itu menghela nafas panjang ketika melihat Bram telah berdiri di hadapannya disertai tatapan tajamnya.
"Pa, kalau mau ngajak debat nanti aja. Aku capek!" sahut wanita itu acuh seraya kembali bersandar di tempatnya.
Wanita itu baru tiba di tempat tinggalnya, bahkan masih mengenakan pakaian kerja. Gurat keletihan tergambar jelas di wajahnya, seharian ini jadwal lumayan padat karena harus meninjau pembangunan proyek pembangunan pusat perbelanjaan yang ada di luar kota. Tubuh yang letih membuat wanita itu tidak terlalu memedulikan kehadiran ayahnya.
Bram yang mendapati sikap abai putrinya pun sontak memberang.
"Anna, ini masalah penting! Kalau gak penting gak mungkin papa nyamperin kamu malam-malam begini. Jangan karena itu perusahaan mantan suamimu, kamu bisa membuat keputusan seenaknya." Pria paruh baya itu berucap dengan nada tinggi.
"Kalau papa gak terima sama keputusanku, ya tinggal ambil alih posisi papa, beres!"
Rasa pening seketika menggelayuti, Bram sampai harus memijat pelipisnya sendiri. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menasehati Anna yang keras kepala ini. Menurutnya, tindakan Anna terlalu ceroboh.
Proyek kerjasama yang disetujui sang putri memiliki progres yang tidak jelas untuk kedepannya. Tentu saja, hal itu bisa berimbas pada pemasukan perusahaan. Dia khawatir para pemegang saham tidak puas dengan kinerja Anna sebagai pimpinan dan mengganti posisinya dengan orang lain yang lebih kompeten. Sungguh, Bram tidak ingin usaha yang telah dirintis orang tuanya dari nol dipimpin oleh orang lain.
"Anna, jangan mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan! Itu sangat tidak profesional," sarkas Bram.
Wanita itu seketika menatap lekat ayahnya, bagaimana bisa niat terselubungnya bisa dibaca dengan mudah?
"Aku hanya membantu perusahaan kecil untuk berkembang, apa itu salah?"
Bram menggeleng pelan, sudah ketahuan masih menyangkal. Itulah putri bungsunya. Dia bahkan tidak habis pikir jika sang putri memanfaatkan jabatan sebagai ajang balas dendam.
"Cukup pernikahanmu yang kau jadikan ajang pembalasan, tetapi tidak dengan jabatanmu."
Lagi-lagi, Anna merasa terkejut ketika kesepakatan pernikahannya dengan Arga telah diketahui sang ayah.
"Dari mana papa tahu?"
"Itu tidak penting! Satu yang pasti, papa minta cabut persetujuan kerja sama proyek ini!" titah Bram tidak ingin dibantah.
"Gak bisa, Pa. Kami sudah melakukan pertemuan dan sepakat. Kontrak kerja sudah ditandatangani, kalau dibatalkan sepihak kita harus bayar penalti dalam jumlah besar."
Tangan pria baya itu semakin terkepal kuat mendengar jawaban putrinya. Tentu saja, Bram tidak ingin dirugikan, dengan terpaksa dia menerima proyek itu.
"Berarti Harris sudah tau posisimu?"
Anna menggeleng pelan. "Aku serahkan semuanya pada Rio."
"Papa tenang aja ... kata Rio proyek ini lumayan menjanjikan. Meski perusahaan kecil, perusahaan Harris memiliki klien kelas atas yang banyak memakai jasa mereka. So, aku sangat yakin proyek ini pasti mendatangkan keuntungan," sambung wanita itu.
Bram hanya diam seperti enggan menanggapi. Sesungguhnya, dia sudah mendengar laporan ini dari asisten putrinya. Selain alasan keuntungan, dia juga tidak suka Anna kembali berhubungan dengan pria itu. Meski hanya sebatas pekerjaan.
Memang untuk saat ini, Harris belum mengetahui sosok Anna yang sebenarnya. Akan tetapi, sampai kapan mereka bisa menyembunyikannya. Lama-lama pasti akan terbongkar.
"Oke, papa pegang omonganmu! Papa akan terus memantau kinerjamu dan pendapatan perusahaan. Kalau sampai terjadi penurunan atau stuck di tempat, kamu harus memutus kontrak sepihak."
Setelah mengatakan itu, Bram segera berlalu meninggalkan unit berlantai dua itu. Anna hanya bisa menatap marah punggung sang ayah yang kian menghilang di balik pintu. Ingin rasanya dia meluapkan seluruh amarah saat itu. Jujur, dia merasa sangat tertekan dengan posisi ini.
Dia belum siap mengemban tugas berat itu, meski sudah mengantongi gelar M.B.A (Master in Bisnis Administration) di usianya yang ke-22 tahun. Nyatanya, ilmu yang diperoleh lima tahun lalu masih sangat kurang jika tidak disertai dengan pengalaman yang memadai.
Mungkin dalam bidang akademik, dia sudah memiliki modal, tetapi untuk pengalaman sangatlah nol.