Bab 9. Menahan Amarah

1108 Words
"Aku harap ibu gak ingkar janji." Kedatangan seorang pria berhasil mengejutkan Retno yang tengah menikmati pagi tenangnya. Dilihatnya, seorang pria berusia 55 tahun tengah menatap intens ke arahnya. Pagi-Pagi sekali, Barata-putra bungsunnya sudah menyambangi kediamannya. "Janji yang mana yang kamu tagih? Bukannya semua sudah aku penuhi?" Retno menyahut dengan acuh, tanpa mengalihkan tatapan pada sebuah buku yang ada di pangkuannya. "Ada satu janji yang belum, katanya ibu akan menyerahkan induk perusahaan padaku," ucap pria yang biasa yang dipanggil Bara dengan lantang. Retno seketika melepas kacamata baca miliknya. "Itu kalau Arga gak mau menuruti perjodohan yang kuajukan, tapi ternyata anak itu mau menurut malah menerima calon pilihanku dengan senang. Otomatis janji itu batal! Lagian aku sudah memberikan salah satu anak perusahaan padamu. Apa itu kurang? Induk perusahaan memang haknya Arga." Bara seketika mengepalkan tangan kuat. Ibunya dari dulu memang seperti itu selalu pilih kasih. "Dari dulu, ibu gak pernah berubah. Ingat, Bu ... aku ini anak kandungmu! Anakku juga cucumu. Seharusnya, ibu bisa adil pada kami," protes pria itu yang tidak bisa menahan kekesalannya. Sungguh, Bara sangat muak dengan situasi ini. Sejak Ayah Arga masih hidup, hingga kini sudah tiada. Dia selalu menjadi opsi nomor dua. Ibunya selalu mengutamakan Ayah Arga yang jelas-jelas hanya anak tiri. Perlakuan itu juga berlaku untuk anaknya. Untuk ke sekian kalinya, dia merasa dikecewakan oleh ibunya sendiri. Retno menutup buku yang sejak tadi menjadi titik fokus perhatiannya. Helaan nafas panjang terdengar dari bibirnya. Dia berusaha untuk adil pada kedua putranya, tetapi kenapa selalu dianggap tidak adil. Sejak dulu, sikapnya memang selalu dipandang sebelah mata oleh anaknya ini. "Kenapa ibu diam? Semua yang kuucapkan benar, 'kan?" "Jaga ucapanmu, Paman! Jangan menyudutkan nenek terus-terusan!" Suara Arga menyela perdebatan antara ibu dan anak itu. Tatapannya yang tajam dia layangkan pada pria yang berdiri angkuh di depan sana. Bara seketika mengalihkan tatapan pada keponakannya yang masih berdiri di tengah tangga. Tatapan sengit penuh permusuhan yang dia layangkan karena sejak dulu, dia sangat tidak menyukai anak itu. Sama seperti ayahnya, anak itu selalu menjadi penghalang dari setiap tujuannya. "Gak usah ikut campur kamu! Ini urusanku dan ibuku." "Aku akan ikut campur kalau menyangkut perusahaan yang mati-matian diperjuangkan papaku. Selebihnya bukan urusanku!" sahut Arga sarkas. Retno memijat pelipis yang tiba-tiba berdenyut mendengar perdebatan itu. Impiannya di usia senja, dia hanya menginginkan ketenangan dengan dikelilingi kasih sayang anak dan cucunya. Akan tetapi, kenapa itu semua hanya sebatas angan dan impian semata. Bukan perebutan harta dan kekuasaan seperti ini yang dia inginkan. Seandainya bisa memilih, dia lebih memilih kehidupannya yang seperti dulu yang serba pas-pasan. Meski dalam kesederhanaan, tetapi dilimpahi ketenangan. "Sudah cukup! Hentikan perdebatan kalian!" bentak wanita baya itu. Dia kemudian memanggil asisten pribadi yang selalu setia mendampinginya. "Marta, bawa aku menyingkir dari sini! Kepalaku pusing mendengar perdebatan mereka." "Baik, Nyonya!" Wanita berusia tiga puluh tahunan itu bergegas memapah nyonya besarnya menuju kamar. Retno memang paling tidak bisa mendengar suara orang marah. Tubuhnya akan merespon lebih cepat, hingga membuatnya lemas. Dia memiliki riwayat serangan panik semenjak Ayah Arga meninggal. Bara hanya bisa mendengus, selalu berakhir seperti ini. Dia menganggap sikap sang ibu hanyalah sebuah kepura-puraan semata untuk menghindari perdebatan. Merasa sia-sia, akhirnya dia memilih pergi dengan membawa sisa amarahnya. Dia akan memikirkan cara lain untuk merebut jabatan yang dimiliki Arga saat ini. ***** [Nenek sakit, ingin bertemu denganmu. Sebentar lagi mobil jemputanmu akan tiba.] Anna membaca sebuah pesan yang dikirimkan calon suaminya. Dahinya membentuk kerutan dalam, berusaha menerka-nerka mengenai apa yang akan terjadi. Sebab, tidak biasanya Retno seperti itu. Meski dilanda rasa penasaran hebat, tak urung Anna tetap mengiyakan. Tangannya pun tampak bergerak lincah mengetikkan sederet pesan yang akan dikirimkan pada asistennya bahwa dia akan datang terlambat karena ada urusan mendadak. Setelah selesai dengan urusannya, wanita itu segera memakai sepatu yang senada dengan dress yang dikenakannya. Tak lupa pula menyambar tas selempang bermerek Hèrmes Constance berwarna hitam. Setelahnya, dia segera keluari dari unit menuju lobby untuk menunggu mobil jemputan dari Arga. Sembari menunggu, Anna tampak memainkan ponsel. Dia tengah membaca email yang dikirimkan Rio. Terlalu asik dengan gawai di tangan, dia sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. "Anna, ngapain kamu di sini?" Suara wanita yang sangat dia kenal berhasil mengalihkan perhatiannya. Betapa terkejutnya dia melihat kehadiran mantan kakak iparnya. Namun, sejurus kemudian raut keterkejutan itu berubah menjadi ekpresi datar. "Bukan urusanmu!" sahutnya ketus. Hanny menyilangkan tangan dengan angkuh, meneliti penampilan Anna dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Dia yang mencintai dunia fashion, tentu sangat memahami jika outfit yang melekat di tubuh mantan adik iparnya bukan barang-barang murahan. Semua yang dipakai Anna bernilai fantastis hingga puluhan juta rupiah. "Kamu terlihat berbeda, ya, An." Wanita berpakaian seksi itu berkomentar. Namun, Anna hanya menganggapnya sebagai angin berlalu. Baginya membaca email pekerjaan yang dikirimkan Rio lebih penting. Hanny mendengus kesal saat merasa diabaikan, kemudian berinisiatif mensejajari Anna. Sebab posisi keduanya ada di depan lobby apartemen. "Baru berapa bulan berpisah dari adikku ... penampilanmu terlihat berbeda. Semua yang kamu kenakan berasal dari merek ternama, terutama tasmu itu. Pertanyaannya ... apa kamu alih profesi jadi simpanan, Anna?" Anna sontak mengalihkan tatapan pada wanita di sebelahnya. Tatapan remeh yang dia dapatkan. "Jaga ucapanmu!" desisnya, "Aku bukan wanita rendahan sepertimu!" Hanny sontak naik pitam mendengar kalimat terakhir Anna. Dia tidak terima dikatai seperti itu. "Kamu yang rendahan! Mustahil wanita miskin sepertimu bisa tinggal di apartemen mewah ini, apalagi semua yang kamu pakai ini ...." Wanita itu menunjuk seluruh penampilan Anna. "Dari mana kamu dapatkan uang untuk membeli semua ini." Anna menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia berusaha menetralisir amarah yang telah bersarang di dalam d**a, tidak ingin terpancing dengan ucapan Hanny. "Diam 'kan kamu gak bisa jawab, berarti semua ucapanku benar, 'kan?" Anna kembali menulikan telinga, meski hatinya meradang. Meladeni Hanny akan sama gilanya seperti wanita itu. Lagipula, tidak penting juga untuk menjelaskan semuanya mengenai asal-asul dari mana dia mendapat uang untuk penampilannya saat ini. Biarlah Hanny menganggap dirinya sesuka hati. Akan lebih baik, jika dia tidak mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Kekesalan Hanny semakin menggunung saat tak kunjung mendapat respon dari wanita itu. Dia seperti orang gila yang sedang berteriak seorang diri. "Hello, Baby ... sudah lama menunggu?" Kedatangan seorang pria berhasil membuat Hanny terperangah. Terlebih ketika pria itu dengan tidak tau malunya merangkul mesra pinggang Anna di depan umum. "Lumayan," jawab Anna dengan senyum manisnya seraya melirik mantan kakak iparnya. Dia sangat terkejut kalau ternyata Arga langsung yang menjemputnya. Namun, dia segera merubah raut wajah itu seperti biasa. Meskipun risih, tetapi Anna tetap menerima semua perlakuan Arga, bahkan membalasnya tak kalah mesra dengan mengecup bibir pria itu. Hanny tak dapat berkata-kata melihat Anna bisa sebinal itu. Sedetik kemudian tangannya tampak terkepal kuat saat mendengar ucapan Anna. "Kak Han, perkenalkan Laksamana Arga calon suamiku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD