Bab 10. Masa Lalu Arga

1092 Words
"Anna, apapun yang terjadi ... tolong, jangan pernah tinggalkan Arga." Retno menggenggam lembut jemari tangan wanita muda yang ada di hadapannya. Anna terkesiap, bingung harus menjawab apa. Dia pun beralih menatap pria yang ada di sebelahnya. Arga tampak mengangguk memintanya untuk mengiyakan. Wanita itu menarik segaris senyum paksa sebelum akhirnya berkata, "Nek, gak usah berpikiran macam-macam! Yang penting nenek sehat dulu." "Aku akan tenang kalau kamu mau mengiyakan permintaanku," sahut Retno yang masih menuntut jawaban. Wanita itu menghela nafas panjang, dengan terpaksa mengangguk mengiyakan. "Janji?" "Iya, Nek ... aku janji." Segaris senyum terukir di wajah Retno yang terlihat pucat. Kini, dia merasa tenang telah menitipkan cucu kesayangannya pada orang-orang yang dapat dipercaya. "Sekarang nenek istirahat! Udah minum obat, 'kan?" Retno mengangguk disertai sebuah senyuman. Dia pun menuruti calon cucu menantunya. Anna membantu wanita baya ìtu untuk berbaring tanpa lupa menyelimuti. Dia juga menemaninya hingga terlelap. Setelah memastikan Retno terlelap, dia segera beranjak keluar kamar wanita itu supaya waktu istirahatnya tidak terganggu. "Nenek sakit apa?" tanya Anna pada Arga setelah berada di luar ruangan. "Serangan panik nenek kambuh karena tadi sempat mendengar aku dan pamanku bertengkar. Nenek paling tidak bisa mendengar orang marah," jawab pria itu apa adanya. Dia memang tidak akan menutupi apapun pada calon istrinya, termasuk hubungannya yang tidak baik dengan sang paman. Anna hanya manggut-manggut mendengar penuturan tersebut, tanpa bertanya lebih jauh lagi. Dia merasa bukan ranahnya untuk mengetahui permasalahan keluarga Arga. Wanita itu tampak berjalan menyusuri kediaman yang tak kalah mewah dengan kediaman orang tuanya, sementara Arga setia mengekori kemana pun dia melangkah. Sehingga langkah Anna terhenti di sebuah tempat yang diyakini sebagai ruang keluarga. Sebuah figura berukuran besar berhasil menarik perhatiannya. Di dalam figura tersebut terdapat potret sebuah keluarga lengkap dengan senyum bahagia tersemat di wajah mereka. Seorang muda-mudi tengah diapit pasangan paruh baya. "Itu siapa?" "Almarhum kedua orang tuaku dan adik kembarku." Anna sangat terkejut mendengar pernyataan itu. Dia tidak mengira jika Arga memiliki saudara kembar perempuan. Sebab, yang dia ketahui Arga adalah cucu tunggal Retno Suseno. "Mereka meninggal kenapa?" "Kecelakaan." Melihat raut murung yang ditunjukkan pria itu, membuat Anna menghentikan rasa keingintahuannya. Dia sangat paham pasti berat kehilangan orang-orang terkasih, terutama keluarga. Tanpa diminta pun, Arga mulai menceritakan masa-masa itu. Lima tahun lalu, merupakan tahun terberat yang harus dilalui Arga. Pada saat itu, dia harus kehilangan tiga orang yang berarti dalam hidupnya sekaligus. Tepatnya ketika Arga baru pulang dari study-nya di Amerika. Sebelum lepas landas, dia sempat menghubungi sang ibu dan ibunya berkata akan menjemput kedatangannya di bandara saat tiba di Indonesia. Arga sempat menolak secara halus. Namun, Yuliana tetap memaksakan diri karena ingin memberi kejutan. Arga yang sejatinya tidak bisa menolak keinginan sang ibu, akhirnya hanya mengiyakan dan pasrah mengenai apapun yang akan ibunya lakukan. Namun, keanehan terjadi ketika dia berusaha menghubungi ibunya sesaat setelah turun dari pesawat. Berulang kali mencoba, baik nomor ayah, ibu maupun adik kembarnya tidak bisa dihubungi. Semua panggilan hanya berakhir dengan suara operator. Sehingga tak berselang lama, kedatangan asisten ayahnya berhasil mengejutkannya. "Pak Pram, di mana papa sama mama? Kenapa hanya bapak yang datang. Kata mama semalam ingin menyambut kedatanganku," cecar Arga pada saat itu. Pria paruh baya yang seumuran ayahnya hanya diam membisu. Bukannya menjawab, dia justru mengalihkan perhatian. "Tuan Arga, sebaiknya ikut saya! Saya akan membawa Anda menemui tuan besar." Entah kenapa ada perasaan mengganjal di hati Arga setelah mendengar jawaban itu. Perasaannya seolah mengatakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Tanpa banyak bicara, Arga segera menuruti ucapan asisten sang ayah. Bukan ke rumah, mobil yang ditumpanginya justru terhenti di sebuah rumah sakit. Tanda tanya besar semakin bersarang dalam benaknya, firasat buruk seketika mendera dirinya. Tanpa banyak bertanya lagi, Arga segera mengikuti langkah Pram. Pria itu membawanya ke sebuah ruangan yang bertuliskan "Ruang Jenazah". Arga sempat protes, tetapi Pram tidak menjawab justru mengajaknya melangkah masuk lebih dalam. "Silakan, Tuan!" Dengan tangan bergetar, Arga membuka kain putih yang menutupi tubuh yang telah terbujur kaku. Dia berusaha menguatkan hati. Betapa terkejutnya dia, saat mendapati jika tubuh yang tergolek itu adalah Bimantara–ayahnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Luka bakar tampak memenuhi keseluruhan wajahnya. Arga yang tidak sanggup melihat hal itu, dengan segera menutup kembali kain putih tersebut. Pandangannya kemudian beralih pada dua tubuh yang ada di sisi ayahnya. "Mereka siapa, Pak?" "Nyonya besar dan Nona muda, Tuan. Keadaan mereka tak jauh berbeda dengan tuan besar." Mata Arga seketika memanas, dia tidak sanggup bila diminta untuk melihat keadaan ibu dan adiknya. Lantas memilih keluar ruangan. Pram pun bergegas menyusul langkah tuan mudanya. "Apa yang terjadi, Pak Pram? Bagaimana bisa mereka seperti itu?" tanya Arga dengan mata memerah, amarah dan sedih menjadi satu membuat emosinya tidak stabil. Bukan kejutan seperti ini yang dia harapkan dari sang ibu. Dia pulang ingin menunjukkan di depan orang tuanya kalau dia telah lulus sebagai lulusan terbaik. Dia ingin membuat kedua orang tuanya bangga. "Mobil yang dikendarai Tuan Bima mengalami rem blong saat hendak menuju bandara. Beliau membanting setir hingga menabrak pembatas jalan. Entah berasal dari mana, ada api yang tiba-tiba membakar hebat mobil itu," tutur Pram dengan penuh kehati-hatian. Tangan Arga mengepal kuat, kemudian bergerak mencengkeram kerah baju pria paruh baya itu. "Kenapa kamu biarkan papa berkendara sendirian? Biasanya papa memakai supir," teriaknya dengan penuh penekanan. Dia masih belum bisa menerima keadaan. "Tu-tuan besar melarang saya untuk ikut, Tuan. Be-beliau bilang ingin merayakan kelulusan Anda dan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya." Cengkeraman tangan Arga berangsur mengendur. Dia memundurkan tubuh hingga membentur dinding, lalu meluruh seraya menjambak kedua sisi rambutnya. Air mata lolos begitu saja. Sungguh, dia tidak siap menerima kenyataan ini. Mata Anna mengembun mendengar serangkaian cerita pilu itu. "Apa kamu gak menyelidiki tentang kecelakaan itu, disengaja atau murni kecelakaan?" "Sudah! Polisi bilang itu murni kecelakaan." Arga menatap nanar figura besar yang ada di depannya. Tanpa diminta, tangan Anna tergerak mengusap lembut pundak pria itu. "Menangislah, kalau ingin menangis! Tidak ada yang melarang. Kehilangan memang menyakitkan, tapi bukan berarti hidup kita harus berhenti." Arga segera mengusap buliran kristal bening yang mengenang di kedua sudut matanya. Sungguh memalukan, Anna mengetahui sisi rapuhnya. Pria itu meraih jemari tangan Anna, lalu menggenggamnya dengan lembut. "Setelah ada kamu, tidak ada alasan lagi bagiku untuk menangis." Wanita itu sontak memukul pelan lengan kekar yang ada di sampingnya. "Gombal!" "Aku sungguh-sungguh kalau denganmu." Namun, Anna menanggapi dengan sebuah cebikan. Arga tetaplah Arga, pria dengan sejuta rayuan mautnya. Interaksi keduanya terlihat sangat mesra. Hal itupun, tak luput dari pandangan seorang wanita yang baru menginjakkan kaki di atas tangga. Tatapan penuh kebencian dia layangkan untuk pasangan di hadapannya. Tak tahan melihat kemesraan itu, dia berbalik menuruni tangga dan mengurungkan niat untuk menjenguk Retno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD