DEMETRA “Pagi!” sapa Revan, membuatku menengadah dari tumpukan dokumen yang sedang kuperiksa pagi ini. Revan berjalan menghampiriku dengan wajah tanpa ekspresinya yang selalu dia pasang setiap di kantor. Menjaga wibawa yang membuat bawahan segan pada dirinya. “Pagi, Pak,” jawabku memberikan senyuman padanya. “Untuk meeting hari ini sudah siap?” tanya Revan tanpa menatapku, karena dia sedang sibuk melihat ponselnya. Dia pasti sedang mengecek e-mail yang masuk seperti biasa. “Sekretaris Pak Raymond menelepon. Dia bertanya apakah bisa memundurkan jadwal meeting hari ini. Karena dia ada tele-conference urgent dengan representatif dari Jerman. Kalau bisa, dia minta diundur setelah makan siang.” “Oke,” jawabnya singkat. Aku menghela napas pelan. Sejak kejadian beberapa minggu lalu, Reva

