DEMETRA Aku bangun subuh seperti biasa. Setelah salat, aku menyiapkan sarapan untuk Revan dan anak-anak. Walau ada asisten rumah tangga, aku tetap ingin melakukannya sendiri. Aku senang mengurus keluargaku tanpa campur tangan orang lain. Aku membangunkan Revan setelah Devan dan Livie selesai mandi. Setelah salat biasanya Revan tidur sebentar sebelum mandi, apalagi semalam dia pulang lewat tengah malam seperti biasanya. Dia pasti masih lelah dan mengantuk. “Re, bangun! Sudah jam setengah enam,” kataku pelan sambil mengguncang tubuhnya. Revan masih bergeming, dia sangat kelelahan sepertinya. Aku pun duduk di sebelahnya, lalu memperhatikan wajahnya. Dia tidak terlihat sehat. Pekerjaan perlahan menggerogoti tubuh dan juga jiwanya. Tanganku bergerak mengusap wajah tampannya. Sudah lama

