DEMETRA “Tenang, Nan. Mungkin ada gangguan aja,” ucap gue sambil memerhatikan monitor lift yang mati. “Nanti juga jalan lagi.” “Gue takut, Mi,” isak Nanda dengan air mata yang beruraian. Saat gue menoleh ke dua teman gue yang lain, kondisi mereka pun nggak jauh lebih baik. Bila matanya berkaca-kaca menatap gue dan wajah Asti sangat pucat seperti habis melihat hantu. Gue mencoba mendekati tombol lift untuk menekan tombol panggil. Namun, tiba-tiba saja lampu lift berkedip-kedip dan kemudian mati. Teman-teman gue dan si cewek bohay pun teriak ketakutan. Selain Nanda, gue merasakan dua teman gue yang lain memeluk tubuh gue erat. Keduanya nggak lagi bisa menutupi rasa takut mereka. Alhasil, ketiganya menempel ke gue seperti koala. Belum cukup liftnya berhenti, sekarang ditambah lampunya ma

