Bisikan dari Dapur Belakang

1612 Words
Sudah seminggu mertua tinggal di rumah. Dara mulai menghitung jumlah helai sabar yang tersisa dalam hidupnya. Dari awal hanya komentar kecil soal cucian, sekarang sudah naik level ke “kode keras berselimut doa”. “Astagfirullah… zaman sekarang ibu-ibu tuh lebih sibuk megang HP dari pada sendok sayur.” “Ya Allah, jaman mama dulu, kalau istri sering selfie… tandanya kurang kerjaan.” “Mas, kamu jangan terlalu dimanjain sama konten-konten istri. Laki-laki itu harus memimpin, bukan difoto-fotoin kayak anak t****k!” Dan sayangnya… Rafi mulai mendengarkan. Mulanya halus. Rafi mendadak jadi lebih diam setiap kali Dara minta tolong motretin makanan. Biasanya langsung sigap ambil ringlight, sekarang malah bilang: “Ra, kamu nggak capek terus-terusan begini? Kita hidup ini kan bukan buat dapet likes doang…” Dara kaget. “Mas, ini bukan soal likes. Aku kerja. Konten ini bantu kita dapet uang. Kamu sendiri yang bilang mau dukung aku…” Rafi mengangguk, tapi wajahnya berat. "Ya, tapi... Mama bilang, kamu jadi kayak lebih mentingin kerjaan daripada rumah." Lalu mulai meningkat. Hari itu, Dara masak makanan endorse: ayam karamel madu, sup jamur, dan salad pelangi. Begitu makanan siap, Rafi duduk di meja dan mengomel: “Ini makanan enak, tapi Mama tadi bilang kamu jarang masak buat Mas dari hati. Katanya, istri tuh harus masak buat suami dulu, baru buat kamera.” Dara berhenti sejenak. Wajahnya menegang. “Mas… kamu pikir aku masak ini bukan dari hati? Mas pikir aku masak ini cuma buat kamera? Mas pikir yang aku lakuin semua ini main-main?” Rafi tidak menjawab. Tapi sorot matanya... menyebalkan. Seolah menghakimi, seolah Dara ini cuma wanita yang terlalu sibuk main HP dan lupa kodrat. Puncaknya datang malam itu. Dara sedang edit video bareng Zahra. Mereka ketawa-ketawa saat lihat hasil video slow-mo sambal meletup. Mendadak, Rafi masuk ke kamar sambil lempar tatapan tajam. “Udah malam loh, Ra. Anak-anak tidur. Kamu masih sibuk sama HP. Kamu ini ibu rumah tangga atau konten kreator sih?” Dara menatap suaminya, jantungnya nyeri. “Mas, aku capek. Tapi aku senang. Ini caraku bantu keluarga. Aku nggak ke salon, nggak belanja barang mahal, tapi aku kerja dari dapur ini.” Tapi Rafi mendesis, “Mama bilang, perempuan zaman sekarang susah taat karena terlalu sibuk cari validasi orang lain.” JLEB. Kalimat itu kayak sembilu. Dara terdiam. Bukan karena kalah, tapi karena kecewa.Besoknya... Dara tetap masak. Tetap senyum di depan kamera. Tapi kali ini... tawanya hambar. Senyumnya datar. Matanya sendu. Di balik layar, ada luka yang mulai menganga. Dan dari ruang tamu, mertua terus menonton dengan senyum tipis. Senyum yang berkata: "Akhirnya, anak saya mulai sadar siapa pemimpinnya." Catatan Dara, Hari ke-6: Katanya cinta itu saling mendukung. Tapi kalau cinta mulai berubah karena bisikan, masihkah itu cinta… atau hanya bayang-bayang dari rahim yang melahirkanmu? Dua hari setelah bisikan mertuanya, Rafi resmi berubah menjadi versi mini dari ibunya sendiri. Tak lagi hangat. Tak lagi suportif. Tapi… lebih cerewet dari biasanya. Contoh kecil: Dara baru selesai edit video jam 11 malam. Belum sempat rebahan, Rafi nyeletuk: “Lain kali kamu kalau kerja jangan malam-malam, Ra. Istri itu sebaiknya ikut tidur pas suami tidur. Katanya rumah tangga harmonis dimulai dari ranjang yang bareng.” Dara menoleh perlahan, dengan mata setengah panda.“Mas, aku tadi masak, mandiin anak-anak, cuci piring, bantuin Zahra PR, terus baru bisa pegang laptop jam 10. Kalau Mas bisa nyihir pekerjaan rumah selesai semua jam 5 sore, aku siap tidur bareng.” Rafi tidak menjawab. Tapi wajahnya mengeruh. Dan itu baru pembukaan. Hari berikutnya, pertengkaran pecah… hanya karena sepiring telur dadar. Pagi itu, Dara masak sarapan cepat karena harus take konten jam 9. Telur dadar keju dan roti panggang madu—cepat, enak, dan hemat. Tapi saat Rafi duduk di meja makan, dia tampak kecewa seperti anak kecil yang dibelikan pensil padahal minta robot. “Sarapan begini? Kamu tahu nggak, Mama bilang istri tuh harus nyiapin makanan yang bikin suami semangat kerja. Telur begini mana bikin semangat…” Dara berhenti di tempat. Menatap suaminya seperti sedang lihat manusia baru hasil kloning mertua. “Mas, kamu minta semangat dari telur? Kalau begitu, aku mending beliin kamu ayam hidup sekalian. Biar bisa berkokok dan bangunin kamu tiap pagi!” Sorenya, lebih parah lagi. Dara pakai dress floral sederhana—hadiah endorse—buat take video. Tapi Rafi yang biasanya kagum, sekarang malah bersungut: “Kamu nggak merasa baju itu agak… gimana gitu ya? Mama bilang, perempuan itu harus jaga aurat meski di rumah. Jangan terlalu dandan pas suami nggak minta.” Dara menarik napas. Kali ini dia tak jawab. Dia hanya masuk kamar, tutup pintu, dan berdiri lama di depan kaca. Dalam hati, ia bicara: “Ini tubuhku. Dandanan ini buatku. Aku ingin merasa cantik. Kalau suamiku merasa itu salah, lalu siapa yang harus membuatku merasa cukup?” Malamnya, ledakan kecil terjadi. Rafi mendadak minta Dara berhenti bikin konten untuk sementara waktu. “Aku cuma minta kamu istirahat sebulan aja, Ra. Fokus ke rumah. Ke anak-anak. Ke Mas. Mama bilang, kamu terlalu aktif di luar. Kayak nggak butuh suami.” Dara menatap Rafi, lama. Suaminya yang dulu bantu rekam video, bangga saat Dara tembus FYP, bangga saat Dara dapet endorse panci. Kini... berubah jadi juru ceramah dengan teks dari ibunya. “Mas,” kata Dara pelan. “Sebelum Mas minta aku berhenti dari dunia yang aku bangun, coba tanya ke diri Mas sendiri: kapan terakhir Mas bantu aku cuci piring?” Rafi terdiam. Dara lanjut, suaranya tenang, tapi dingin: “Kapan terakhir Mas urus anak-anak tanpa disuruh? Kapan Mas duduk bareng aku waktu aku stres karena konten direject? Kapan Mas peluk aku karena bangga, bukan karena Mama bilang aku berlebihan?” Keesokan harinya… Dara tetap masak. Tapi kali ini, tidak ada plating. Tidak ada video. Tidak ada lighting. Makanannya hambar—tapi cukup. Dia juga tidak dandan. Tidak menyisir rambut. Hanya pakai daster kuning lusuh dan sandal bolong. Rafi kaget melihat perubahan itu. “Ra, kamu kenapa?” Dara hanya menjawab singkat: “Lagi fokus jadi istri ideal. Nggak ngonten. Nggak dandan. Nggak nyari validasi. Seperti yang Mama bilang.” Hari ke-7, rumah jadi sunyi. Tidak ada suara klik kamera. Tidak ada aroma eksperimen masakan. Tidak ada gelak tawa anak-anak yang bantu ibunya bikin video. Semua berjalan hambar. Dara diam. Tapi diamnya bukan pasrah. Diamnya adalah... ancang-ancang. Sebab ia tahu: badai yang paling tenang adalah badai yang sedang mengumpulkan tenaga. Catatan Dara, Hari ke-7: Katanya, suami adalah imam. Tapi kalau imamnya ikut-ikutan makmum… siapa yang tuntun siapa? Pagi itu, Dara bangun lebih pagi dari biasanya. Dia ingin mencoba memperbaiki suasana hati suaminya. Dia ingin membuktikan: walau disudutkan, dia masih bisa jadi istri yang berkelas—bukan karena menurut, tapi karena memilih untuk tetap waras. Dia masak ayam kecap dengan telur rebus, sambal bawang, dan sayur bening bayam wortel. Semuanya disiapkan tanpa kamera. Tanpa lighting. Tanpa senyum palsu. Cuma Dara. Kompor. Dan pikirannya yang sesak. Tapi saat hidangan siap, Rafi duduk sambil mengernyit. “Mama mana? Katanya mau masakin soto Banjar hari ini.” Dara menoleh, kaget. “Soto Banjar? Aku… udah masak, Mas.” Rafi melihat meja. “Aku cuma bilang pengen makan soto. Terus Mama bilang mau masakin.” Tak lama, mertua keluar dari dapur belakang, bawa mangkuk besar soto. “Ibu ngerti kok, Mas. Istri kamu kan sibuk. Kasihan kalau disuruh masak berat. Ibu aja yang bantu. Mas makan masakan ibu, ya.” Rafi langsung mengambil mangkuk soto, tanpa menyentuh sepiring pun hasil masakan Dara. Dara berdiri. Memandang meja makan seolah-olah ia sedang menatap arena perang yang baru saja ia kalahkan tanpa sempat bertempur. Siangnya... Dara masih menahan diri. Sambil mencuci piring, ia mendengar mertua nyeletuk dari ruang tamu: “Ibu tuh heran, kok kontennya viral tapi anaknya masih makan nasi sama telur. Kalau ibu dulu, masak itu buat keluarga, bukan buat kamera.” Zahra, anak sulungnya, membalas polos: “Tapi Mama kan masaknya enak, Oma. Banyak yang suka, banyak yang bayar juga.” Tapi si Oma tak kehabisan akal. “Iya, tapi tetap... kalau terlalu sibuk cari pujian orang luar, nanti lupa pujian suami sendiri.” Dan Rafi—lagi-lagi—diam saja. Tidak membela. Tidak menjelaskan. Hanya duduk dan memainkan HP-nya. Sikapnya seperti anak kecil yang tak tahu cara melawan ibunya, tapi juga tak cukup dewasa untuk berdiri di sisi istrinya. Malamnya, Dara akhirnya meledak—sendirian. Ia duduk di lantai dapur sambil memeluk lutut.Tangannya masih bau sabun cuci piring. Punggungnya pegal. Hatinya remuk. Ia tidak menangis keras. Tidak ada drama. Hanya tetes air mata yang turun perlahan... seperti hujan pertama yang malu-malu jatuh di tanah kering. Hari-hari berikutnya, konflik makin menjadi. Mertua mulai ikut urus anak-anak, bahkan sampai menegur gaya parenting Dara. “Zahra jangan terlalu sering main HP, ya. Ibumu sibuk terus, jadi Oma aja yang ajarin kamu ngaji.” “Si adek kok belum disapih juga? Ibu tuh dulu dua bulan aja udah lepas nyusuin. Kamu itu kurang tegas.” Dan Rafi? Lagi-lagi… diam. Bukan hanya diam, kadang ikut-ikutan menyindir, “Ra, Mama bener juga sih. Kamu terlalu memanjakan anak. Kita harus lebih tegas." Dara hanya menunduk. Tapi di balik mata yang berkaca-kaca, dia mulai bertanya: "Kenapa aku harus bersaing dengan ibu dari suamiku sendiri?" Puncaknya, malam ketujuh. Dara sedang menyuapi adik kecil Zahra yang rewel. Rafi datang dan berkata pelan: “Besok kamu nggak usah masak. Mama mau ambil alih dapur. Katanya kamu butuh istirahat.” Dara tersenyum tipis. Tapi itu bukan senyum bahagia. Itu senyum putus asa. “Oke, Mas. Tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari, aku benar-benar berhenti. Bukan karena lelah… tapi karena tak lagi dianggap. Catatan Dara, Hari ke-8: Ada saatnya seorang perempuan tidak butuh dipuji, cukup dihargai. Tapi jika itu pun tidak kau beri… maka jangan heran jika besok-besok dia bangun, tanpa ingin lagi kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD