Pagi itu, Dara berdiri di depan cermin kecil di dapur sewa, menyematkan jarum pentul di kerudung yang sudah dua kali disetrika agar tampak rapi. Wajahnya pucat. Tapi senyumnya dipaksakan—karena pagi ini ia akan datang ke tempat catering Bu Mila, untuk wawancara. "Bu, semoga cocok ya dengan tempat kami," kata Bu Mila semalam lewat telepon. "Kami butuh tenaga yang niat. Bukan cuma cari uang, tapi sayang sama masakan." Dara menjawab pelan, “Saya nggak punya apa-apa selain niat, Bu.” Dan hari itu, Dara benar-benar bangun lebih pagi, meminjam baju bersih dari Bu Salamah, bahkan menyemprot sedikit parfum yang sudah hampir habis sejak lebaran tahun lalu. Hari itu bukan hari biasa. Sementara di rumah, Zahra bangun sambil rewel. Biasanya Dara yang menyiapkan roti cokelat dan s**u kotaknya. Tap

