15

3007 Words
"Wah, ada apa nih Kakak ke kantor?" tanya Elise. "Tentu saja mau bertemu dengan Lyla." Balas William sambil nyengir. "Ayo silahkan duduk Kak." Kata Elise sembari menunjuk kursi yang ada di depan Lyla. William pun segera duduk di sana. Cora mendelik ke arah William, Elise dan Lyla secara bergantian. Dia tahu Elise sangat senang dengan kedekatan William dan Lyla, karena dari awal dia memang kurang menyukai Christ. "Kakak mau sekalian bertemu Christ?" tanya Lyla. "Christ?" William mengernyitkan kening, mendengar Lyla memanggil Bosnya tanpa 'Pak. "Ah, maksud ku, Pak Christ?" kata Lyla gelagapan. "Iya, tapi nanti lah, setelah ngobrol dengan mu dulu." Balas William sembari tersenyum. "Kakak pesan dulu saja, atau mau aku yang pesankan?" tutur Lyla. "Tidak perlu, aku bisa pesan sendiri. Sebentar ya?" William bangkit berdiri, dan pergi untuk memesan. Tapi tasnya ditinggal. Elise tiba-tiba meraih tangan kanan Lyla, dan hendak melepas cincin pernikahan Lyla, yang membuat Lyla terkejut. "Hei, kenapa?!" protes Lyla. "Kalau Kak William lihat, dia jadi tahu kau sudah menikah." Kata Elise. "Y-ya, cepat atau lambat juga dia akan tahu, tidak apa-apakan? Hubungan ku dengan Christ juga sudah membaik." Kata Lyla. Elise mendengus. "Jangan hilangkan kesempatan mu, untuk bersama pria yang bisa membalas perasaan mu." Cora menepuk bahu Elise. "Elise, kau itu jangan ikut campur terlalu jauh." "Aku kan hanya mau Lyla bersama yang terbaik." Kata Elise. "Iya, tapi masalah pasangan itu urusan Lyla sendiri. Kita hanya perlu mendukung. Apa lagi ini sudah menyangkut masalah rumah tangga." Nasihat Cora. Elise akhirnya berhenti memaksa Lyla melepas cincinnya, tapi masih cemberut. Sementara Lyla memilih tidak banyak bersuara, pikirannya entah kenapa tiba-tiba jadi menumpuk. Membuatnya sampai tidak bisa bicara. ••• Christ menggigit kuku ibu jarinya, dengan pandangan fokus ke layar televisi, yang menayangkan acara variety show yang dihadiri Tania. Setiap melihat senyuman gadis itu, selalu membuat perasaan Christ tersayat. Karena dia tahu, senyuman Tania hanya palsu. Tiga tahun ia menjalin hubungan dengan Tania, bukan waktu yang sebentar. Bahkan sangat lama. Beberapa kali dia mau menikahi gadis itu, tapi selalu terhalang restu orang tuanya. Christ tidak akan secepat itu bisa melupakan Tania, apa lagi mereka sudah lama bersama. Meskipun memang mereka sesekali akan sulit bertemu karena Tania sibuk, tapi Christ memaklumi, karena Tania sedang kerja keras. Tania juga pasti akan memberinya kabar kalau ada waktu. Christ menghela napas, dengan pandangan yang teralih ke tangan kanannya, dimana cincin pernikahan tersemat di sela jarinya. Dia tahu jahat, ada Lyla di sini, dan dia sudah berjanji untuk mencoba membuka hati, tapi sekarang malah memikirkan Tania. Christ menggembungkan pipi, dan memilih mematikan televisi. Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka tanpa permisi, Christ tersentak saat melihat kehadiran William. Ia buru-buru melepas cincin pernikahannya, dan melemparnya ke bawah meja kerjanya. "Astaga! Ketuk dulu dong!" seru Christ sembari bangkit berdiri. "Ah, kenapa aku harus ketuk ruangan orang yang bukan Bos ku?" balas William sembari tersenyum. Ia kemudian duduk di sofa tanpa menunggu dipersilahkan. Christ pun menghampiri William, dan duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki William. "Hah, aku rasa aku patah hati." Kata William sembari memajukan bibir bawahnya. "Patah hati bagaimana maksud mu?" tanya Christ. "Aku tiba-tiba melihat Lyla pakai cincin, aku tidak tahu sih itu cincin biasa, cincin couple, atau cincin nikah. Tapi kalau dia memang sudah menikah, dia pasti memberitahu ku kan?" ujar William. "Tunggu, memangnya kau menyukai dia?" tanya Christ. "Eung, menyukai sih tidak, tapi aku mulai tertarik. Dia gadis yang baik, dan parasnya manis. Aku suka matanya." Balas William. "Kalau kami mengobrol dan tanpa sengaja kontak mata, jadinya seperti tersetrum." Christ tidak merespon, dia malah tanpa sadar menatap William dengan tatapan tajam, yang membuat salah satu alis William terangkat. "Kenapa? Ada masalah dari perkataan ku?" tanya William. "Tidak." Balas Christ. "Mau aku pesankan kopi?" "Tidak usah. Aku sudah makan dan minum jus tadi di kantin. Oh, iya, bagaimana kau dengan Tania? Aku dengar dia pacaran dengan artis baru itu, siapa namanya? Jeffrey ya?" "Itu hanya settingan, untuk menaikan popularitas." Kata Christ. "Wah, jahatnya dunia entertainment ya. Jadi hubungan mu dengan Tania masih baik-baik saja?" Christ mengerjapkan matanya. Tapi kemudian menganggukkan kepalanya. Awalnya anggukan itu terlihat ragu, tapi kemudian yakin di akhir. 'Iya, benarkan hubungan kami masih baik-baik saja. Meskipun hanya sebatas teman.' Batin Christ. "Syukurlah kalau memang begitu. Selama ini kan kau sangat menyukainya, sampai sering mengiriminya hadiah waktu pendekatan." Celoteh William. "Hahaha, iya, sampai aku dikira sesaeng fansnya." Timpal Christ. "Dia juga jadi bahagia saat bersama mu. Aku harap kalian bisa terus langgeng." ••• To: Lyla Mau pulang bersama? From: Lyla Tentu! To: Lyla Aku tunggu di parkiran. From: Lyla Tidak di depan kantor saja? To: Lyla Banyak karyawan lain. From: Lyla Mereka masih belum boleh tahu hubungan kita ya? To: Lyla Eung, aku hanya takut mereka jadi berpikir macam-macam. Yah, kau mengertilah maksud ku. Pasti mereka akan merasa aneh. From: Lyla Oh iya sih, kau benar. Aku hanya karyawan yang belum punya bawahan, sementara kau Direktur. Pegawai lain mungkin bisa jadi canggung dengan ku. To: Lyla Iya, maksud ku begitu. Syukurlah kalau kau mengerti. From: Lyla Kalau begitu aku akan segera ke parkiran. To: Lyla Baiklah, aku tunggu. Christ menghela napas, sembari menyandarkan punggungnya di jok mobil, setelah meletakan ponselnya di atas dasbor. Bingung. Christ sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Saat sedang asik melamun, kaca jendela mobilnya tak lama tersengar diketuk. Ia menolehkan kepalanya, dan mendapati Lyla di luar mobilnya, sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum. Christ pun segera membuka kunci pintu mobilnya, agar Lyla bisa masuk. Sesaat setelah Lyla masuk ke mobil, dan menutup pintunya kembali. Christ mulai menyalakan mesin mobilnya. "Huaaa, hari ini lelah sekali!" seru Lyla sembari merenggangkan kedua tangannya ke atas. "Mau makan sesuatu?" tanya Christ. "Hot pot!" sahut Lyla bersemangat. Christ menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, sebagai jawaban kalau dia menyetujui keinginan Lyla. "Hari ini William datang, kau tidak melepas cincin mu?" tanya Christ. "Iya, aku tidak mau menyembunyikan pernikahan kita lagi padanya. Tapi aku tidak akan memberitahu kalau dia tidak tanya, tapi juga tidak menutupinya." Balas Lyla. "Tapi sepertinya William tidak tanya ya?" Lyla mengangguk. "Apa kau lalu memberitahunya?" Christ terdiam sejenak, dan malah mengalihkan pembicaraan. "Aku rasa kita harus isi bensin dulu." Raut wajah Lyla jadi kecewa, karena Christ tidak menjawab pertanyaannya. Ia melirik ke arah tangan Christ yang ada di stir. Cincin pernikahan mereka tidak ada. "Christ, cincin mu kemana?" tanya Lyla. "Ah, oh, astaga! Ya ampun! Aku lupa. Sepertinya ketinggalan di kantor. A-aku tadi agak terganggu pakai cincin waktu menanda tangani berkas, jadinya aku lepas dulu. Aduh, malah ketinggalan." Dusta Christ. 'Sial, aku lupa kalau tidak pakai cincin. Mana aku juga lupa aku letakan dimana.' Lyla tidak merespon. Dia terdiam sejenak, sembari mengulum kedua belah bibirnya. "Apa... kau benar-benar bisa menyukai ku?" Lyla bertanya dengan hati-hati, karena takut pertanyaannya salah. "Kenapa pertanyaan mu begitu? Bukankah kau bilang percaya pada ku?" respon Christ. "Yah, aku hanya... ingin bertanya seperti itu." Gumam Lyla sembari menggaruk lehernya. Suasana mobil mendadak canggung. Mobil mereka pun mulai memasuki pom bensin. Christ tidak sepenuhnya bohong, mobilnya memang butuh diisi bensin. Lyla menatap keluar jendela, menatap kendaraan yang sedang keluar masuk pom bensin. Ada mobil yang baru menurunkan Ibu serta tiga orang anak kecil, mereka sepertinya mau ke minimarket yang tersedia di pom bensin, selagi mobil yang mereka tumpangi di isi bensin. Mendadak, Lyla jadi rindu keluarganya. Lyla pun mengambil ponselnya, untuk mengirimi Thomas pesan. To: Kakak ku? Kak, hari ini aku mau makan enak. Pastikan Ayah, Ibu, Kakak dan Leon juga makan malam enak hari ini. From: Kakak ku? Kami selalu makan enak kok, kau tidak perlu khawatir. To: Kakak ku? Malam ini kalian mau makan apa? From: Kakak ku? Sashimi. Kau mau makan apa? To: Kakak ku? Hot pot, From: Kakak ku? Selamat makan. Entah kenapa perasaan ku tidak enak setelah kau chat. To: Kakak ku? Maaf... From: Kakak ku? Bukan begitu maksud ku. Kau baik-baik sajakan? Perasaan mu sedang tidak baik ya? To: Kakak ku? Aku baik-baik saja kok. From: Kakak ku? Benar? To: Kakak ku? Iya. Jangan khawatir. From: Kakak ku? Kalau ada apa-apa katakan pada ku, apa lagi kalau itu ulah suami mu. To: Kakak ku? Dia tidak akan melukai ku kok. From: Kakak ku? Oke, aku mencoba percaya. Pria itu kadang susah dipercaya. To: Kakak ku? Berarti Kakak juga? From: Kakak ku? Pengecualian aku dong. Bahkan Ayah saja tidak bisa, kemarin Ayah makan ayam bumbu ku, satu porsi dihabiskan sendiri, kata Ayah mau diganti, tapi sampai sekarang tidak diganti-ganti. To: Kakak ku? Aish, Kakak ini. Tinggal beli lagi sendiri kan juga bisa. From: Kakak ku? Tapi Ayahkan sudah janji TT TT. To: Kakak ku? Aku akan pesankan ayam ke rumah, mau? From: Kakak ku? Tidak usah, aku akan beli sendiri. To: Kakak ku? Dasar Kakak ini. Christ melirik Lyla yang sedang sibuk dengan ponselnya. Saking sibuknya dengan ponsel, dia sampai tidak sadar kalau mobil sudah selesai diisi bensin. "Sedang chat dengan siapa?" tanya Christ. "Kak Thomas," balas Lyla. "Kalau dipikir sudah lama ya kau tidak pulang? Besok mau mampir?" ujar Christ. "Tunggu suasana hati ku baik dulu, mereka bisa sadar kalau mood ku sedang tidak bagus." Kata Lyla. "Kenapa mood mu jadi jelek? Karena aku tidak pakai cincin nikah?" tanya Christ dengan nada ketus. "Jangan kekanakan, lagi pula cincin itu kan hanya masalah sepele.' "Bukan begitu... aku tidak bilang begitu." Kata Lyla. "Lalu apa yang membuat suasana hati mu buruk? Aku memangnya melakukan kesalahan?" Kening Lyla mengernyit mendengar nada suara Christ jadi meninggi. "Apa sih? Kenapa kau jadi marah-marah?" tanya Lyla. Christ akhirnya bungkam, tapi keningnya mengkerut, dan alisnya bertaut. Menunjukkan ia masih marah. "Lebih baik kita pulang saja. Aku sudah tidak selera makan." Kata Lyla. Christ tiba-tiba menggertakan gigi, yang membuat Lyla sedikit terkejut mendengarnya. 'Sebenarnya Christ kenapa sih?' batin Lyla. "Kau tidak percaya pada ku," ucap Christ tiba-tiba. "Apa yang kau bicarakan sih? Memangnya aku bilang begitu?" Tidak Christ, bukan Lyla yang tidak percaya pada mu. Tapi diri mu sendiri yang takut tidak bisa jadi orang yang dipercayai. ••• Christ menatap Lyla yang terlelap di sebelahnya. Mereka tetap makan hot pot tadi, tapi dengan suasana yang tidak enak. Anehnya malam ini mereka memutuskan tidur bersama, tanpa keduanya bilang apapun. Awalnya Lyla masuk ke kamarnya —kamar tamu— terlebih dahulu, lalu Christ menyusul. Tapi Lyla tidak protes, dia hanya diam saja. Christ mendengus, ia kemudian bangkit duduk dan menatap tangan kanannya. Kalau dipikir, kenapa juga tadi dia secara spontan melepas cincin pernikahannya saat William datang? Dia sendiri tidak yakin dengan alasannya. Christ tidak punya rencana untuk menutupinya, tapi juga tidak ada keinginan untuk memberitahunya ke orang-orang terutama William. 'Yah, anggap saja persiapan, agar kalau aku tetap tidak bisa menyukai Lyla. Lyla jadinya bersama William. Tapi pikiran ku ini jahat sekali tidak sih?' Christ kembali menatap Lyla. Manis, menyenangkan dan baik, meskipun kadang tingkahnya nyeleneh. Tapi perasaan tidak bisa dipindah semudah itu. Salah tangan Christ terulur tanpa sadar, dengan jari telunjuk yang mengacung. Ujung jarinya pun mendarat di atas pucuk hidung Lyla. Kening Lyla seketika mengernyit, membuat Christ buru-buru menarik tangannya. Tapi melihat Lyla ternyata tidak bangun, Christ melakukannya lagi. Dan terus seperti itu, sampai akhirnya Lyla benar-benar terusik dan akhirnya membuka matanya secara perlahan. Buru-buru Christ menutup matanya, kemudian menarik selimut sampai menutupi wajahnya. "Kau mau apa sih?! Menganggu saja!" protes Lyla kesal. "Aku tidur kok," balas Christ. Lyla mencubit pinggang Christ, sembari menggerutu, lalu merubah posisinya jadi memunggungi pria itu. Sementara Christ sedang meringis sambil memegangi bagian pinggangnya yang dicubit. Christ kemudian menurunkan selimut yang digunakannya, dan menatap punggung Lyla. Entah kenapa rasa bersalah tiba-tiba meliputi perasaan Lyla. "Lyla, aku minta maaf untuk hari ini." Ucap Christ. Kening Lyla mengernyit, mendengar Christ tiba-tiba minta maaf. "Kau sudah hampir 40 tahun ya?" respon Lyla tanpa berbalik badan. "Huh?" kali ini Christ yang kebingungan. "Menjelang umur 40 tahun, biasanya pria akan puber lagi. Kau saat ini seperti remaja yang sedang puber." Ujar Lyla. "Ck, aku bahkan belum 30 tahun!" seru Christ. "Mendekati," sahut Lyla. "Serius, aku minta maaf. Aku hanya sedang bingung." Kata Christ. "Bingung kenapa?" tanya Lyla dengan nada suara serak. Christ terdiam, tidak mungkin dia jujur dengan perasaannya. Jadi bukannya menjawab pertanyaan Lyla, Christ malah memeluk gadis itu dari belakang, sembari menghirup aroma rambut gadis itu. Lyla antara sadar dan tidak dengan perlakuan Christ, karena dia masih ngantuk berat. "Lyla, apa kau punya cara agar aku hanya fokus pada mu?" tanya Christ. "Aku pikirkan besok." Balas Lyla sambil memejamkan matanya. "Tapi jangan yang mempersulit diri mu." Kata Christ, namun tidak direspon Lyla. Yang terdengar malah suara dengkuran halus gadis itu. ••• Lyla mengusap-ngusap matanya sembari beranjak duduk, membuat tangan Christ yang berada di pinggangnya otomatis jatuh. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, untuk melihat Christ yang masih terlelap. Lyla kemudian mendengus, kemarin tiba-tiba marah tidak jelas, lalu malamnya minta maaf. Lyla turun dari kasur, dan bergegas ke kamar mandi. Ia memilih tidak mau memikirkannya. Yang ia perlu pikirkan, caranya membuat Christ hanya fokus padanya. Dari dulu juga aku sudah melakukannya! Batin Lyla. Tapi yah itu Lyla lakukan di zaman sekolah. Lyla sering pakai baju cantik, bahkan yang ada roknya, juga berdandan dan menata rambut, namun apa ada pengaruh? Yah, memang sih dulu mereka jarang berinteraksi, jadi Christ mungkin tidak melihat Lyla yang berpenampilan manis seperti itu. Tapi penampilan sajakan tidak cukup. 'Tapi aku harus bagaimana lagi?' batin Lyla. 'Sudahlah, seperti biasanya saja. Untuk apa menyusahkan diri? Aku selama ini sudah berusaha. Christ pasti memikirkan Tania lagi, makanya bilang begitu.' Lyla mulai menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Karena sekarang cuacananya makin dingin, Lyla sepertinya akan skip mandi. 'Aku tidak berkeringat, dan ada parfum, hehe.' Monolog Lyla dalam hati sembari mengoleskan skincare pagi harinya. Toner, essence, pelembab, dan sunscreen, ia aplikasikan secara bertahap di wajah. Terlalu asik dengan wajahnya sendiri, dia tidak sadar dengan Christ yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Selesai berkutat dengan skincare, Lyla pun bergegas keluar dari kamar mandi. Saat baru membuka pintu, Lyla otomatis memekik karena langsung bertatap muka dengan Christ. "Aish! Kau ini membuat ku terkejut saja!" seru Lyla. "Ah, berlebihan, aku kan hanya sedang antri. Cepat keluar dari kamar mandi, aku sudah tidak tahan." Kata Christ. Christ masih tampak mengantuk, bahkan setengah matanya tertutup. Lyla menggerutu sembari melangkahkan kakinya keluar kamar mandi. Tapi baru beberapa detik dia menjauh dari kamar mandi, tiba-tiba dia mendengar suara gaduh di kamar mandi. Lyla sontak berbalik badan, dan membuka pintu yang untungnya tidak Christ tidak tutup rapat. "Aaaaa!!!" teriak Lyla, melihat skincare- nya bertebaran di lantai. Yang lebih parah, essence serta serum wajahnya yang botolnya menggunakan kaca pecah. "Ya Tuhan, Christ! Kenapa bisa begini?! Essence- nya harganya satu juta!" teriak Lyla. Terlalu fokus pada skincare- nya, dia sampai tidak menyadari Christ yang tergeletak di lantai sembari meringis memegangi kepalanya. "Ma-maaf, aku tidak sengaja. Tadi aku tergelincir, tidak sadar malah memegangi keranjang perawatan mu itu." Tutur Christ. Karena Christ bicara, Lyla jadi sadar kalau Christ jatuh. Ia akhirnya memilih mengesampingkan skincare- nya, dan membantu Christ untuk duduk, meskipun sambil kesal. Christ menatap Lyla dengan tatapan merasa bersalah, apa lagi melihat raut wajah Lyla yang ketara kesalnya. "Aku minta maaf, aku akan ganti yang rusak." Kata Christ. "Sudahlah!" seru Lyla ketus. "Pikirkan itu nanti, sekarang coba aku lihat dulu kepala mu." Lyla menekuk kedua lututnya di sebelah Christ, kemudian meraih kedua sisi kepala Christ, agar menoleh ke arah lain. Lyla khawatir kepala Christ terluka, memar, atau apa. Lyla mengusapinya, untuk lebih memastikan. Terdengar Christ langsung meringis, saat Lyla sedikit menekannya, Christ langsung memekik kesakitan. "Aku rasa kepala ku memar, harus dikompres." Kata Lyla. Christ menatap Lyla yang masih memeriksa kepalanya. "Kau pakai kamar mandi lain sana, banyak pecahan di kamar mandi karena botol essence dan serum ku pecah, nanti langsung ke dapur, aku akan mengompres kepala mu." Ujar Lyla. Bukannya menuruti perkataan Lyla, Christ malah tidak bergeming.. "Hei, kenapa malah diam. Sana," kata Lyla. "O-oke, aku akan ke kamar mandi yang lain." Christ akhirnya tersadar dari lamunannya, dan buru-buru berdiri, tentu saja dengan bantuan Lyla. Setelah Christ melangkahkan kakinya keluar kamar mandi, Lyla pun berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca yang menyebar di lantai. Christ menolehkan kepalanya sejenak ke arah Lyla yang memunggunginya, Christ bisa mendengar Lyla sedikit terisak. Hah, Christ jadi merasa sangat bersalah. Sementara Lyla sedih bukan karena mahalnya skincare itu, tapi essence dengan harga jutaan itu, Thomas yang membelikannya menggunakan gaji pertamanya. Kalau bukan dari Thomas, dia mungkin tidak akan jadi sesedih sekarang. ••• "Aku akan menggantikannya," ucap Christ saat Lyla sedang mengompres kepalanya. "Tidak usah, itu tidak bisa diganti dengan apapun." Balas Lyla. "Aku bisa belikan yang lebih mahal." Kata Christ. "Bukan masalah harganya saja, itu pemberian Kak Thomas. Dia menghabiskan gaji pertamanya untuk membelikan aku itu. Hah, mau kau ganti dengan yang lebih mahal pun, aku tetap merasa sedih." Kata Lyla. "Maaf, aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Christ. "Tapi sungguh, aku akan menggantikan semuanya." "Sudahlah, lupakan saja." Kata Lyla. "Lyla, tidak bisa begitu dong. Biarkan aku bertanggung jawab. Kita pergi hari ini untuk beli yang baru, oke?" kata Christ sembari tiba-tiba meraih salah satu tangan Lyla dan memeganginya. "Tapi kau cari sendiri barang yang sama seperti yang kau pecahkan. Aku hanya akan memperhatikan, aku tidak mau memberitahu. Kalau salah aku tetap marah." Christ mengernyitkan kening. "Jangan begitu dong, aku kan tidak tahu." "Aku tidak mau tahu. Karena itu berarti, aku mau mempersulit minta maaf mu." Kata Lyla. "Hei, bukankah itu jahat?" "Maaf ya, tapi agar aku puas, dan tidak terlalu sedih. Jadi kau memang memilih aku marah dan sedih terus ya?" "Ya tidak. Oke, oke, aku akan lakukan sesuai apa kata mu." "Tapi tidak usah hari ini, kepala mu kan baru kebentur." Kata Lyla. "Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku." "Aku gila kalau tidak seperti itu. Masak hanya karena barang aku membiarkan orang menderita atau sakit?" "Bukan karena aku seorang Christ?" "Bukan, tapi karena kau makhluk hidup." Kata Lyla sembari menyerahkan kompresan yang sebelumnya ia pegangi ke tangan Christ. "Kompres kepala mu sendiri, aku mau masak." "Tapi serius Ly, aku tidak apa-apa. Hari ini ayo belanja setelah pulang kerja. Kita pulang lebih awal saja, jam lima sore." Kata Christ. "Kalau kau memang merasa baik-baik saja terserah." Balas Lyla. ••• Christ dan Lyla memasuki toko kosmetik dan skincare khusus brand high end. Lyla langsung memisahkan diri dari Christ, agar Christ usaha sendiri mencari essence dan serum yang dia pecahkan. Sebenarnya untuk serum itu barang drugstore, jadi belum tentu ada di sini. Karena hal itu, Christ kemungkinan harus pergi ke dua toko berbeda. Lyla hanya memberi clue, kalau serumnya untuk kulit sensitif dan mudah berjerawat, dan essence- nya berbahan utama pitera, harga serum di atas seratus ribu, dan harga essence di atas satu juta. Christ tentu saja bingung setengah mati. Selama ini dia perawatan hanya sabun cuci muka, pelembab dan sunscreen. "Permisi Pak, ada yang bisa kami bantu?" seorang pegawai tak lama menghampiri Christ dan menyapanya. Lyla memperhatikan dari jauh. Dia sedikit kesal karena pegawai itu dekat-dekat dengan Christ. Mereka mulai berkeliling toko, dan Christ banyak tanya, dan sangat memperhatikan setiap penjelasan pegawai tersebut. Christ sesekali akan mencoba alat-alat makeup juga, dan bertanya kegunaannya pada pegawai itu. Lyla mendesis kesal, saat si pegawai meraih tangan Christ untuk membersihkan punggung tangan Christ yang Christ olesi berbagai macam warna lipstick menggunakan tisu. Sepertinya idenya salah, batin Lyla. Sekarang yang menemani Christ bukan hanya satu pegawai lagi, tapi sampai ada tiga. "Ah, kalau boleh tahu, Bapak beli semua ini pacar Bapak ya?" tanya salah satu pegawai basa-basi. "Bukan, untuk istri saya." Balas Christ, yang membuat Lyla tercenung mendengarnya. Yah, Lyla berdirinya tidak terlalu jauh, jadi dia masih dapat mendengar obrolan Christ dengan pegawai-pegawai itu. "Oh begitu, wah, beruntung sekali istri Bapak. Bapak sampai susah-susah mencarikannya skincare dan makeup begini untuknya." "Ah tidak kok, saya juga memang baru membuat kesalahan padanya." Lyla mendengus. Apa-apaan tangan-tangan pegawai itu? Kenapa tiba-tiba mereka dengan lancangnya memegangi lengan Christ? Christ juga terkejut, dan otomatis menghindar. Mungkin maksudnya untuk menghibur atau menenangkan Christ, tapi mereka kenal saja tidak. Lyla buru-buru mendekati Christ, dan menggandeng tangannya. "Wah, ramainya yang menemani suami ku. Maaf ya sudah meninggalkan mu, soalnya aku tadi cari parfum." Kata Lyla sembari menatapi satu persatu tiga pegawai yang mengelilingi Christ. 'Pergilah! Pergi!' seru Lyla dalam hati. "Oh, Nyonya istrinya, apa anda perlu bantuan?" "Ah tidak, tidak perlu, terimakasih." Tiga orang pegawai itu pun akhirnya pergi, meninggalkan Christ dan Lyla. "Makanya jangan meninggalkan aku sendiri, sudah tahu punya suami tampan, malah aku ditinggal di tempat yang banyak perempuannya." Celetuk Christ. Lyla mencubit pinggang Christ. "Senang hah dikelilingi banyak perempuan begitu?" sungut Lyla sembari menatap jengkel Christ. "Ya ampun, kau kalau cemburu menyeramkan. Pinggang ku sakit." Keluh Christ. "Lagi pula aku memang butuh bantuan mereka kok." "Essence yang ada pitera- nya itu mudah dicari, untuk apa kau tanya-tanya alat makeup juga?" omel Lyla. "Aku niatnya memang mau memberi mu hadiah sekalian. Aku juga suka warna lipstick yang ini, aku pikir kau akan cantik kalau memakainya." Kata Christ, sambil mengambil sample lipstick dengan warna merah yang sangat gelap. "Itu terlalu gelap," "Ini seksi." "Hei!" teriak Lyla. "Kalau mau memberikan barang seperti itu, berikan saja pada Tania sana!" Christ terkejut mendengar perkataan Lyla, Lyla sendiri kaget karena keceplosan, sudah mengungkap kekesalannya yang berusaha ia pendam sejak pagi. Ditambah di kantor, banyak pegawai yang menyebar gosip kalau Christ akan kembali dengan Tania, karena ada yang melihat Christ bertemu Tania di kafe. "Kenapa kau bilang begitu?" tanya Christ. "Cepat selesaikan belanjanya." Balas Lyla sambil membuang muka dari Christ. Meskipun Lyla sepertinya tidak suka, Christ tetap memasukan lipstick warna merah gelap tadi, serta beberapa warna lain, ditambah eyeshadow, bedak dan face palette ke keranjang belanjanya. Lyla sudah mau melarangnya, tapi akhirnya memilih diam. ••• "Semuanya benarkan?" tanya Christ setelah mereka sudah masuk ke dalam mobil, dan Lyla sedang memeriksa isi paper bag dari toko kosmetik tadi. Essence- nya benar, tapi serumnya salah. Merknya beda, meskipun kegunaannya sama seperti yang Lyla pakai sebelumnya. Tapi Lyla memilih membenarkan semuanya. Padahal niat awalnya kalau Christ salah, dia harus cari lagi barangnya, sampai ketemu yang benar. Tapi mood- nya sedang buruk sekarang. "Kenapa kau tiba-tiba membahas Tania?" tanya Christ, saat Lyla terlihat sudah menutup kembali paper bag- nya. "Kau masih memikirkannya kan?" Christ terdiam sesaat sembari menatap lurus ke depan, tidak langsung menjawab pertanyaan Lyla. "Iya, aku masih, jujur. Tapi... aku mau berusaha melupakannya, sungguh, aku sudah bertekad untuk berusaha. Awalnya aku masih kebingungan, dan merasa perasaan ku terlalu dalam untuk Tania. Tapi sekarang aku sadar, itu hanya karena aku belum terbiasa untuk berusaha melupakan Tania. Sekarang aku akan sungguh-sungguh." Celoteh Christ. "Cincinnya mana? Kau bahkan masih tidak menggunakannya."[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD