Christ dan Lyla ketiduran di sofa ruang tengah setelah kegiatan mereka. Baju mereka masih lengkap, meskipun berantakan.
Mereka tidur dengan posisi menyamping. Lyla memunggungi Christ, kemudian Christ melingkarkan satu tangannya di pinggang Lyla.
Tepat jam setengah dua siang, Christ terbangun. Ia mengucek-ucek matanya, lalu bangkit duduk dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur. Saat ia sudah duduk, Christ pun merubah posisi tidur Lyla jadi telentang.
Lapar. Tadi pagi dia tidak sarapan, dan sekarang sudah masuk jam makan siang.
Christ memilih mandi terlebih dahulu, sebelum ke dapur untuk memasak. Masak untuk dirinya sendiri, sekaligus untuk Lyla tentunya. Dia tidak tega membangunkan gadis itu untuk memasak.
Jam dua lewat, Lyla baru bangun. Saat bangun Lyla melamun dulu, dia masih tidak percaya dengan apa yang sudah ia lalui bersama Christ beberapa waktu lalu. Rasanya merinding dan malu saat mengingatnya. Meskipun tidak sampai berhubungan, tapi tetap saja... Lyla meringis.
"Lyla, kau sudah bangun?!" suara Christ tak lama terdengar dari dapur. Karena mendengar ada suara gerakan dari ruang tengah, jadi Christ memperkirakan Lyla sudah bangun.
"Iya, sudah." Balas Lyla.
"Mandi dulu, nanti ke dapur makam siang." Kata Christ.
"Iya," sahut Lyla.
Lyla pun bangkit dari sofa, dan bergegas ke kamarnya dulu untuk mandi.
•••
"Nanti malam bagaimana kalau kita makan di luar?" ujar Christ, sebelum memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Boleh, mau makan dimana?" tanya Lyla.
"Restoran tradisional?"
"Boleh saja. Tapi... aku ingin nonton film sih. Sudah lama aku tidak nonton di bioskop."
"Kalau begitu nonton film dulu, baru makan setelahnya. Bosan jugakan di rumah terus?" Lyla menganggukkan kepalanya, bukan hanya bosan, dia takut ada kejadian hari ini yang terulang.
"Aku cek jadwal filmnya dulu." Christ mengambil ponselnya yang ia letakan di sebelah piringnya, dan mulai mengotak-atiknya.
Saat sedang sibuk melihat-lihat jadwal film, sebuah notifikasi adanya pesan baru masuk. Christ langsung menegakkan tubuhnya, begitu melihat siapa si pengirim pesan.
"Ada apa?" tanya Lyla, yang menyadari perubahan pada ekspresi dan gerakan tubuh Christ.
"Eumm, tidak apa-apa." Balas Christ sambil tersenyum simpul pada Lyla.
From: Tania
Christ, maaf baru bisa menghubungi lagi. Ponsel ku baru dikembalikan hari ini. Besok apa kita bisa bertemu?
To: Tania
Kenapa kita harus ketemu?
From: Tania
Ada yang mau aku bicarakan, aku mau menjelaskan sesuatu.
To: Tania
Besok, temui aku di kantor.
From: Tania
Aku tidak bisa ke kantor mu. Bagaimana dengan kafe yang ada di sekitar kantor?
To: Tania
Oke.
Christ melirik Lyla yang sedang menyantap makan siangnya, tanpa mengatakan apapun.
Lyla sebenarnya sadar dengan perubahan ekspresi Christ, tapi dia tidak berani tanya. Takutnya itu hal pribadi Christ, dia belum berani mencampuri urusan pribadi Christ lebih jauh.
Sementara Christ, dia awalnya hendak memberitahu Lyla, tapi pada akhirnya memilih diam. Lagi pula dia tidak akan macam-macam. Christ takut Lyla akan menahannya karena mau bertemu dengan Tania.
Selesai makan siang, Christ langsung membawa piring-piring kotornya ke cucian piring, dengan dibantu Lyla.
Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat, bahkan saat mencuci piring. Tugas terbagi secara otomatis tanpa ada yang bicara. Lyla yang menyabuni piring, Christ yang membilas dan menyusunnya di rak.
"Ekhem," Christ tiba-tiba berdehem, membuat Lyla otomatis menolehkan kepala ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Lyla.
"Aku hanya mau tanya sesuatu," balas Christ sembari menggaruk kepalanya dengan jari telunjuk.
"Tanya apa?"
"Kau percaya pada ku?"
"Percaya tentang?"
"Kalau aku tidak akan macam-macam di belakang mu."
Lyla sebenarnya sedikit bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Christ, tapi ia menjawab dengan anggukan tanpa ragu. Karena selama ini Christ juga tidak macam-macam, padahal pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak. Dan sekarang mereka sedang dalam masa pendekatan, masak iya Christ malah main gila? Pikir Lyla.
"Ya, aku percaya." Ucap Lyla. "Tapi kalau kau memang macam-macam, mungkin aku bisa mengacungkan jari tengah ke depan wajah mu tanpa ragu."
Christ berdecak. "Seram juga ancaman mu. Lalu ditambah apa? Menendang anak ku juga?"
"Iya, sampai pecah." Kata Lyla dengan nada pelan. "Lagian kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa senang saja bisa dipercaya." Kata Christ.
Lyla tersenyum kecil, sembari melirik Christ sejenak yang sedang membilas piring.
"Hei, bolehkan aku melakukan ini?" tanya Lyla.
"Apa?" Christ hendak menolehkan kepalanya ke arah Lyla, tapi bibir Lyla yang tiba-tiba mendarat di atas pipinya, membuat Christ tidak jadi menoleh, dan mematung.
Setelah saat dari keterkejutannya, Christ tertawa sembari memeluk kepala Lyla dan mengacak rambutnya.
"Kau mulai berani ya?" kekeh Christ.
Lyla tidak menjawab, dia hanya meringis sembari menundukkan kepalanya karena merasa malu.
•••
Tania memasuki kafe tempat ia janjian akan bertemu dengan Christ. Ia memesan ruangan vip yang tertutup, agar paparazi tidak bisa menangkap gambarnya dengan Christ.
Sesampainya di sana, dia menemukan Christ sudah berada di sana dan sedang menunggunya.
"Aku kira aku yang akan datang pertama." Kata Tania sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Christ.
"Tentu saja aku yang akan datang awal, kantor ku kan dekat dari sini." Balas Christ sembari tersenyum simpul. "Sudah lama tidak ketemu, bagaimana kabar mu?"
"Sedikit... kurang baik." Kata Tania sembari mengusap tengkuknya. "Kau juga bagaimana?"
"Aku baik-baik saja, malah sangat baik." Balas Christ jujur.
"Kau dan Lyla sepertinya sudah melupakan soal kontrak ya?" tanya Tania sembari terkekeh getir. "Aku melihat kalian berciuman di depan umum."
Christ terdiam sejenak sembari memainkan jari-jarinya. "Ya, aku dan Lyla memutuskan untuk... benar-benar menjalin hubungan, tanpa kontrak." Kata Christ ragu-ragu, dengan bola mata bergulir ke arah lain.
Tania terdiam sejenak, dengan mata yang ia kerjapkan berkali-kali, agar air matanya tertahan.
"Aku dengan artis pria itu sebenarnya hanya settingan, untuk menaikan popularitas. Aku tahu tidak ada gunanya aku menjelaskan tentang ini, hanya saja aku yakin kau sempat salah paham. Tapi yang popularitasnya naik, ternyata hanya Jeffrey, sementara aku tidak. Justru karir ku jadi berantakan." Ujar Tania.
Mata Christ melebar mendengar penjelasan Tania.
"Kau tahu aku tidak mungkin mencari pengganti mu secepat itu. Aku selama ini hanya menyukai mu." Kata Tania dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... sekarang sudah terlambat."
"Maaf," ucap Christ. "Aku memutuskan untuk benar-benar menjalin hubungan dengan Lyla juga, karena aku merasa hubungan kita memang tidak bisa diperjuangkan lagi. Bukan berarti aku menyerah, hanya saja..." Christ menggigit bibir bawahnya, dia mendadak bingung harus bilang apa lagi.
"Iya, aku mengerti kok." Ucap Tania sembari tersenyum. "Aku hanya mau menjelaskan itu, sungguh aku tidak ada maksud apapun. Aku juga berharap kita masih bisa jadi teman."
"Kepala ku pusing karena Direktur perusahaan marah-marah pada ku, kontrak iklan banyak yang di- cancel, cacian juga tidak berhenti datang pada ku, masa depan ku benar-benar suram. Aku rasa aku akan berakhir seperti Ayah ku."
"Hei, jangan bilang begitu!" sahut Christ. "Meskipun berat kau harus bisa menjalani hidup mu dengan benar. Aku akan tetap mendukung mu."
"Terimakasih." Gumam Tania.
"Apa Jeffrey itu tidak memperlakukan dengan baik?" tanya Christ.
"Dia baik, sangat baik, tapi kami masih belum mengenal jauh. Jadi sering canggung. Dia bahkan masih memanggil ku Senior, padahal aku lebih muda meskipun duluan berkarir dari pada dia. Kalau seperti itu terus, entah kapan bisa dekatnya." Celoteh Tania. "Ditambah penggemar perempuan dia itu banyak sekali, dan cukup mengerikan. Jeffrey sangat tampan, dan terkenal sempurna. Sedangkan aku bahkan dipanggil jalang. Kalau aku benar-benar mau menjalin hubungan dengannya harus pikir ulang. Itu sangat berat."
"Abaikan saja apa kata orang, yang penting kau bahagia. Masih ada yang mendukung mu, coba yang kau ingat-ingat hanya orang yang mendukung mu." Jawab Christ.
Tania menghela napas. "Aku... akan mencobanya."
"Maaf, pada akhirnya hubungan kita tetap berakhir." Kata Christ.
"Tidak apa-apa, aku sudah tahu akan begini. Kasihan juga Lyla, dia sudah lama menyukai mu, kau memang sudah seharusnya mencoba membuka hati mu untuknya. Aku dengar dia gadis yang baik." Kata Tania.
"I-iya, dia memang baik." Gumam Christ.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, Manajer ku sudah menunggu ku di depan. Aku hanya mau menjelaskan itu." Kata Tania sembari bangkit berdiri.
"Cepat sekali, kau bahkan belum pesan apapun." Kata Christ.
"Aku memang tidak mau makan atau minum apapun kok. Maaf sudah menyita waktu mu, aku permisi dulu."
Christ menghela napas, saat Tania akhirnya melengos pergi. Jujur, dia jadi merasa bersalah, tapi dia sudah memutuskan untuk bersama Lyla. Kalau pada akhirnya dia kembali bersama Tania, dia akan melukai Lyla.
Christ mengambil ponselnya, untuk mengirim pesan pada Tania.
To: Tania
Kau tidak apa-apakan?
From: Tania
Aku akan segera baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir atau merasa bersalah.
'Iya, Tania tidak akan apa-apa. Sekarang hanya pikirkan Lyla. Dia sudah memberi ku kepercayaan.' Batin Christ.
•••
Elise memegangi kedua bahu Lyla, dan menatapnya dengan tatapan tidak percayai.
"Hei! Kau gila?! Kenapa kau melakukan itu?!" seru Elise.
Cora yang duduk di sebelah Elise, langsung membekap mulutnya dari belakang, karena suara Elise terlalu keras.
"Tida apa-apakan?" tanya Lyla dengan tampang polos.
Elise menjilat tangan Cora agar bekapannya terlepas, dan caranya berhasil. Cora berteriak histeris sembari menatap telapak tangan kanannya yang basah dengan air liur Elise.
"Lyla, jangan bodoh dong. Bagaimana kalau pada akhirnya Christ tetap tidak bisa membuka hatinya untuk mu? Harusnya tunggu sampai dia benar-benar mencintai mu dulu, baru kau setuju untuk melakukan itu!" oceh Elise.
Lyla tercenung. Hah, benar juga, kenapa dia baru kepikiran? Lyla benar-benar terlena kemarin.
"Masih untung kau tidak sampai melakukan hubungan badan dengannya, lain kali jangan mau lagi! Cukup sekali itu." Peringat Elise.
Lyla hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, kemudian ia termenung. Sementara Elise dan Cora mulai bertengkar di sebelahnya, tapi itu tidak mengganggu Lyla sama sekali.
'Christ bisa membalas perasaan ku kan? Tolonglah ya Tuhan, ahh bodohnya aku kemarin.' Batin Lyla.
"KAK WILLIAM!" Lyla tersentak saat tiba-tiba mendengar suara teriakan Elise yang memanggil nama seseorang.