"Mau bicara apa?" tanya Lyla.
"Bisa kita bicara sambil duduk?" Lyla menganggukkan kepalanya, dan akhirnya beranjak duduk, begitu pula dengan Christ.
"Jadi apa yang mau kau bicarakan?"
Christ terdiam sejenak, sembari memainkan jari-jarinya.
"Pasti sebenarnya berat bagi mu harus berpisah dengan keluarga mu saat ini dan ikut aku, tapi aku sama sekali tidak menghargai keberadaan mu di sini." Ujar Christ, Lyla hanya diam menyimak.
"Kau tahu? Bukannya aku tidak mau mencoba membuka hati untuk mu, tapi aku khawatir akan berujung kekecewaan. Aku tidak merasa, dan sama sekali tidak bisa membayangkan akan benar-benar menjalin hubungan dengan mu. Kau tampak lebih nyaman hanya dijadikan teman. Aku takut kalau aku berjanji pada mu untuk membuka hati ku, ternyata aku malah tidak bisa melakukannya, padahal kau sudah berharap."
"Aku tahu kau mungkin hanya menganggap ini alasan, tapi sungguh, aku tidak mau melukai mu."
"Itu memang alasan murahan." Jawab Lyla, yang membuat Christ terkejut. "Kau bilang aku hanya lebih nyaman dijadikan teman. Bukankah pasangan memang seorang teman? Bedanya dia akan menemani mu sampai akhir hayat. Kita tidak pernah menjalin pertemenan sebelumnya, bukankah aneh sekarang kita baru berteman, padahal terikat pernikahan."
"Katanya kau bilang aku lebih nyaman dijadikan teman, tapi kau tidak sadar kalau kontak kita sudah lebih dari itu."
"Ko-kontak apa?" tanya Christ mendadak gugup.
"Banyak hal tidak wajar yang dilakukan kita untuk sebuah hubungan 'pertemanan'. Kecuali kita sudah sohib sejak lama. Memangnya kita begitu? Kan tidak. Kita menjadi dekat setelah menjalin kerja sama ini."
Christ terdiam. Yah, benar juga. Berpelukan, tidur bersama, dan interaksi lainnya. Kalau hanya teman, tidak akan begitu, kecuali mereka teman lama. Christ sendiri tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Semuanya berjalan secara alami, tanpa ia sadari.
"Mungkin kau tidak menyadarinya, kadang aku juga tidak. Aku baru sadar sesaat setelah kita baru melakukannya, atau saat aku sedang sendirian dan melamun." Tutur Lyla.
Christ menarik ke belakang rambutnya. "Aku ingin mencoba," ucap Christ sembari menundukkan kepalanya.
"Mencoba apa?" tanya Lyla.
"Mencoba membuka hati ku untuk mu. Sungguh, aku tidak bermaksud menjadikan mu pelampiasan. Kau bisa sambil tetap dekat dengan William, tidak masalah. Agar saat aku mengecewakan mu, kau bisa bersama dengan William." Balas Christ.
"Aku tidak mau menjadikan Kak William pelarian. Kau tahu? Wanita itu paling susah membagi hatinya untuk dua pria, tidak seperti laki-laki yang bisa melakukannya. Kalau aku fokus pada Kak William, di saat kau mencoba membuka hati untuk ku. Bisa-bisa malah jadi terbalik, aku yang akan menolak mu nanti." Kata Lyla.
"Bukankah kau memang inginnya begitu?" tanya Christ.
"Aku hanya bercanda." Balas Lyla.
Lyla kemudian memainkan jari kakinya, sembari terkekeh kecil. "Aku tidak tahu kalau percintaan bisa serumit ini, aku pikir itu hanya hal yang sederhana. Apa karena aku dan kau terlalu hati-hati ya?" monolog Lyla.
Christ hanya diam tidak merespon, tapi ikut merenungkan apa yang Lyla bilang. Sampai akhirnya ia kemudian buka suara.
"Aku ingin mencoba membuka hati untuk mu, tapi kalau kau kecewa bagaimana?" tanya Christ.
"Aku... sudah terlalu sering merasakannya. Jadi tidak apa-apa." Balas Lyla.
"Justru karena itu!"
"Aku akan memberi mu hanya satu kesempatan." Kata Lyla sembari menatap Christ. "Aku akan menunggu mu sampai kau bisa membuka hati untuk ku, tapi hanya satu kali. Kalau kau membuat ku kecewa, aku tidak mau lagi, aku tidak akan berharap lagi, dan aku akan benar-benar fokus menyukai Kak William."
Christ terdiam sejenak untuk berpikir, sebelum menganggukkan kepalanya.
"Aku akan gunakan kesempatan itu sebaik mungkin." Ucap Christ yakin.
"Oke," balas Lyla. "Aku akan tetap bersikap seperti aku, jadi aku tidak akan berpura-pura agar kau bisa menyukai ku."
"Yah, begitu lebih baik." Gumam Christ. "Aku rasa kita memang lebih baik hati-hati tentang ini, agar tidak hancur di tengah jalan."
Lyla hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Christ tiba-tiba menggeser tubuhnya, jadi mendekat ke arah Lyla, membuat Lyla yang sebelumnya menundukkan kepalanya, otomatis jadi mendongak.
"Apa?" tanya Lyla.
Christ tidak menjawab, ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Lyla, membuat Lyla mematung dengan mata membola.
Salah satu tangan Christ ia lingkarkan di bahu Lyla, Christ kemudian mulai memiringkan kepalanya ke kanan saat pucuk hidungnya dengan Lyla bertemu.
Sementara Lyla yang awalnya terkejut, akhirnya memejamkan matanya dengan kedua tangan mengepal karena gugup.
Sampai akhirnya bibirnya dan Christ bertaut. Tangan Christ tak lama berpindah ke pinggang Lyla, ia kemudian mengangkat tubuh Lyla, dan meletakannya di atas pangkuannya, membuat Lyla otomatis melepas tautan bibir mereka. Ia menatap Christ dengan kening mengernyit.
"Kau bilang begitu bukan karena mau ini kan?" tanya Lyla.
Christ menatap Lyla bingung. "Mau ini apa?"
"Aish, kenapa posisinya begini?" Lyla hendak turun dari pangkuan Christ, tapi Christ dengan sigap langsung memeluk erat pinggang Lyla, sembari menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Lyla.
Lyla memegangi kepala Christ, sembari menggigit bibir bawahnya. Posisi ini membuatnya malu, gugup dan kurang nyaman.
Christ tiba-tiba mencium leher Lyla, membuat Lyla terkejut dan otomatis menjauhkan setengah badannya dari badannya.
"Kaget!" seru Lyla. Christ terkekeh melihat wajah Lyla yang merah padam.
"Yang tadi belum selesai." Kata Christ sembari memegangi kedua tangan Lyla.
"Yang tadi apa huh?" tanya Lyla ketus, yang Christ jawab dengan memajukan kedua bibirnya.
"Kenapa kita harus melakukan itu?" kata Lyla sambil mendengus.
"Bukankah itu menyenangkan?"
Mata Lyla memicing. "Benarkan? Kau bilang mau buka hati untuk ku, agar bisa modus begini."
"Hei, tidak, jangan salah paham dong." Kata Christ.
Lyla menggembungkan pipi. "Tidak percaya."
"Ya sudah hanya peluk."
"Tapi harus ya aku ada di pangkuan mu begini?"
"Bukannya ini nyaman?"
"Nyaman apanya? Aku mau turun." Meskipun Lyla sudah bilang begitu, Christ tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari pinggang Lyla.
"Sebentar lagi, oke? Setelah ini kita tidur." Kata Christ.
Lyla tidak merespon beberapa saat, sembari menatap Christ, tapi akhirnya menganggukkan kepalanya.
Lyla kira Christ akan kembali meletakan wajahnya di ceruk lehernya. Tapi rupanya Christ meraih tengkuknya dengan sebelah tangannya, dan menyatukan bibir mereka kembali.
•••
Ibu bangun lebih awal, dan rencananya mau membuatkan sarapan. Saat berjalan melewati ruang tengah, ia tercenung melihat Christ dan Lyla yang masih tidur dengan posisi berpelukan.
'Ini bukan akting seperti yang dibilang Pak Kim kan?' batin Ibu. 'Tidak mungkin Christ main-main dengan pernikahan, diakan sudah dewasa. Pak Kim pasti salah. Masak iya Christ dan Lyla hanya pura-pura?'
Ibu menghela napas, kemudian melangkahkan kembali kakinya ke dapur.
•••
Lyla mengernyitkan kening. Masih dengan mata terpejam, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Christ. Christ memeluk tubuhnya terlalu erat.
Dengan susah payah, Lyla akhirnya membuka matanya. Karena tidur terlarut, dia sekarang masih ngantuk.
"Christnn..." keluh Lyla sembari berusaha menarik tubuhnya, tapi Christ malah melingkarkan sebelah kakinya di atas kedua kaki Lyla.
Lyla mendengus. Ia akhirnya terpaksa mendorong tubuh Christ dengan sekuat tenaga, sampai mengerang dengan keras. Seperti sedang mendorong mobil atau lemari yang berat. Tapi Christ tidak bergeming.
"Christ, kau tidak matikan?" tanya Lyla, sembari menempelkan telinganya di d**a Christ.
"Dasar cabul." Lyla terkejut tiba-tiba mendengar suara Christ, dan otomatis mencubit dadanya, membuat Christ mengaduh kesakitan, sembari menjauhi Lyla.
"Akh!!! Sakit! Seperti ada yang copot." Keluh Christ sembari memegangi d**a kanannya, yang tadi Lyla cubit.
"Masak copot?"
Christ meringis. "Kau keras sekali mencubitnya tahu, ya ampun. Sekali pun tidak copot, jadi lecet! Bayangkan itu mu yang lecet!"
"Ya habis kau memeluk ku sangat kencang, aku hampir mati! Pakai mengatai aku c***l lagi!"
"Terus kenapa menempelkan telinga mu di d**a ku?"
"Aku hanya memastikan kau masih hidup atau tidak?"
"Aish, sialan!"
"Christ, kenapa mengumpat pada istri mu?!" Christ seketika menutup mulutnya, saat mendengar teguran Ayahnya.
"Dia mencubit p****g ku." Adu Christ sembari menutupi d**a kanannya dengan telapak tangan.
"Maaf..." ucap Lyla. "Habis kau hampir membuat ku mati sesak napas!"
Ayah menggelengkan kepalanya. Awalnya dia sudah takut, tegurannya akan dibalas amarah Christ. Tapi Christ malah meresponnya dengan aduan dan ekspresi yang lucu.
Rasanya mau menangis. Batin Ayah.
•••
"Aku telat! Jam 9 ada rapat!"
"Kalau tahu telat kenapa bangun siang?! Aku juga telat! Atasan ku bisa memberiku tumpukan pekerjaan nanti."
"Aku kan atasan mu!"
"Aku punya atasan lain selain kau! Makanya naikkan jabatan ku dong!"
Ayah dan Ibu hanya bisa diam, memperhatikan Putra dan menantu mereka yang ribut sendiri karena hampir telat ke kantor.
"Kalau sudah tahu telat, seharusnya kalian langsung mandi dong." Celetuk Ibu.
Lyla dan Christ langsung menjentikkan jari. "Benar! Harusnya begitu!" seru Lyla dan Christ serempak.
"Karena tidur malam, jadinya kita ling lung begini, akhhh!!!" seru Christ sembari hendak memasuki kamarnya.
"Kan kau yang membuat ku tidur malam!" sahut Lyla, sambil hendak bergegas ke kamarnya sendiri, atau lebih tepatnya kamar tamu.
"Kenapa jadi aku sih?!" protes Christ.
Untuk sesaat mereka berdua tiba-tiba mematung, karena baru menyadari sesuatu. Lyla tak langsung berlari ke kamar Christ, dan mendorong pria itu untuk masuk ke kamar.
"Aku lupa!" seru Lyla dengan nada berbisik.
"Hampir saja kau masuk kamar tamu, kalau kau sudah masuk, orang tua ku pasti bertanya-tanya." Kata Christ.
Lyla menghela napas. "Yah, untung aku cepat sadar."
Mereka kemudian terdiam sejenak. "Jadinya... bagaimana sekarang?" tanya Lyla. "Kita antri mandinya?"
"Tidak bisalah, kitakan sama-sama telat." Kata Christ.
"Sekarang kau sedang modus agar kita mandi bersama ya?"
"Ha? Sorry sis, tubuh ku ini sangat berharga untuk diperlihatkan ke sembarangan orang, mengerti?"
Ekspresi Lyla langsung berubah datar. "Oh jadi begitu?" kata Lyla dengan nada dingin.
Christ seketika tersadar ia sudah salah ucap. "Maksud ku bukan begitu."
"Apa? Tidak mau diperlihatkan ke sembarangan orang. Berarti aku itu orang sembarangan?!" kata Lyla ketus.
"Bukan, tidak, maksud-" kalimat Christ terputus karena mendengar ponselnya berbunyi. Ia segera meraih ponselnya yang ada di saku celana pendeknya, sambil menjauh dari Lyla.
"Halo,"
"Halo, Pak. Bapak sekarang ada di mana ya? Sekarang sudah jam 8 lewat 48 menit. Apa Bapak tidak bisa masuk?"
Christ melirik jam dinding. Astaga, dengan bodohnya dia malah membuang-buang waktu untuk hal tidak jelas.
"Ahh... i-iya, hari ini aku rasa tidak bisa masuk, orang tua ku datang ke rumah. Maaf ya aku tidak bilang dari awal, tapi bahan rapat hari ini sudah aku siapkan kok, minta pada Sekretaris ku."
"Oke, baik Pak."
Sambungan telfon terputus. Ia kemudian melirik Lyla yang sedang menunggunya selesai telfon.
"Kau izin saja tidak masuk hari ini." Titah Christ.
"Apa alasannya? Di kantorkan tidak banyak yang tahu kalau aku sudah menikah."
"Tapi para atasan kan tahu."
"Ck," Lyla berdecak sembari mengambil ponselnya.
Selama Lyla menelfon, Christ memeluk Lyla dari belakang, dengan kepala bersandar di bahu kanan Lyla. Christ tidak tahu kenapa rasanya dia mau menempel terus pada Lyla, sebelumnya dia masih sungkan, tapi sejak pembicaraan mereka semalam, Christ jadi memberanikan diri.
"Iya, maaf, terimakasih." Kata Lyla sebelum menyudahi telfonnya.
"Kenapa kita jadi tidak masuk?" tanya Lyla setelah sambungan telfon terputus.
"Karena sudah telat." Balas Christ.
"Ya sudah kalau begitu aku mau langsung sarapan saja." Kata Lyla sembari ingin melepas pelukan Christ, tapi tentu saja Christ tidak mau melepaskan Lyla begitu saja.
"Tidak mandi dulu?" tanya Christ.
"Kasihan Ayah dan Ibu sudah menunggu lama." Balas Lyla.
"Yah, minimal cuci muka dan gosok gigi kan?"
"Ya sudah, lepaskan tangan mu, aku mau cuci muka dan gosok gigi."
Christ akhirnya melepaskan pelukannya, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan ototnya, sebelum menghempaskan tubuhnya di kasur.
"Akh, aku ingin tidur lagi rasanya!" seru Christ.
"Jangan tidur lagi." Kata Lyla yang tidak digubris Christ. Dia malah meraih guling dan memeluknya sambil memejamkan mata.
Lyla mendengus melihatnya, tapi memilih mengabaikan Christ juga, dan masuk ke kamar mandi.
•••
"Jadinya kalian tidak masuk hari ini?" tanya Ibu.
"Iya, sudah telat, Christ juga masih ngantuk." Balas Lyla.
"Jadi sekarang dia masih tidur?" giliran Ayah yang bertanya.
Lyla menganggukkan kepalanya, sembari duduk di salah satu meja makan.
"Kalian ini harusnya bulan madu saja." Kata Ayah.
"Ahh, nanti mungkin, sekalian libur natal dan tahun baru." Balas Lyla. "Setelah itukan semua pekerjaan juga sudah selesai."
"Yah, karena musim dingin kalian harus bulan madu ke negera tropis. Kalau musim dinginkan, malah tidak enak keluar rumah." Tutur Ibu, yang Lyla balas dengan anggukkan.
"Sebenarnya ada yang ingin Ayah dan Ibu tanyakan, tapi kalau ada Christ di sini besar kemungkinan dia akan ngamuk dan salah sangka dengan pertanyaan kami." Ujar Ayah dengan raut wajah serius.
"Apa itu Yah?" tanya Lyla.
"Kalian... menikah sungguhan kan?" mata Lyla seketika melebar mendengar pertanyaan Ayah.
"Te-tentu saja, kenapa Ayah bisa tanya begitu?"
"Kami punya orang kepercayaan, namanya Pak Kim, dia selalu mendampingi Ayah, dimulai dari membantu mengurus perusahaan, mencari informasi yang dibutuhkan oleh keluarga Bang, dan lain-lain. Istrinya dulu juga asisten rumah tangga kami sebelum meninggal. Dan baru-baru ini dia memberikan informasi, katanya kau dan Christ menikah di atas kontrak. Kalian akan berpisah setelah setahun atau dua tahun menikah, setelah kontrak berakhir. Kakak mu juga, sebagai karyawan langsung mendapat jabatan cukup tinggi di perusahaan, karena kau menyepakati kontrak itu."
"Karena Ayah sakit, Ayah tidak tahu bagaimana kondisi perusahaan sekarang."
Jantung Lyla seketika berdecak sangat kencang. Sepertinya aroma busuk dari bangkai sudah mulai tercium.
Dia harus menjawab perkataan Ayah Christ dengan santai dan tidak boleh gugup. Kalau gugup akan ketahuan kalau ia bohong.
"Pernikahan ku dan Christ, tidak seperti yang orang kepercayaan Ayah dan Ibu itu bilang kok. Mana ada yang seperti itu?" kata Lyla setelah mengumpulkan banyak keberanian, juga menyusun kalimat apa yang harus ia tuturkan pada orang Christ.
"Itu sebenarnya umum," sahut Ibu. "Umum, tapi tidak lazim."
"Yah, tapi aku dan Christ tidak begitu. Dan soal Kakak ku, kata Christ kinerjanya bagus kok, dia juga dapat training dulu sebelum menerima jabatannya yang sekarang." Kata Lyla.
"Ahh begitu. Yah, Ayah dan Ibu lega kalau memang begitu." Kata Ayah.
"Ayah dan Ibu ke sini untuk memastikan itu?" tanya Lyla.
"Iya, maaf ya Ayah dan Ibu begini. Kami hanya khawatir. Tapi melihat kalian berdua tampak biasa saja... ya, sepertinya apa yang dikatakan Pak Kim memang tidak benar."
"Tidak apa-apa kok, wajar Ayah dan Ibu seperti itu. Tapi kalau itu benar, apa yang akan terjadi?" tanya Lyla sembari berusaha membuat nada bicaranya terdengar seperti dia sedang bercanda.
"Entahlah, Ayah dan Ibu juga tidak punya ide. Tentu saja minta penjelasan Christ dan kau dulu, sebelum ambil tindakan selanjutnya." Kata Ayah.
"Ah sudahlah, dari pada membicarakan itu terus, lebih baik sekarang dimakan sarapannya, keburu dingin." Timpal Ibu.
•••
Bahu Lyla langsung turun, setelah Ayah dan Ibu baru saja pergi untuk kembali ke rumah sakit. Di sebelahnya ada Christ yang menatapnya bingung.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Christ.
"Pernikahan kontrak kita hampir ketahuan." Balas Lyla sembari menghela napas. Ia kemudian menatap Christ, yang masih menatapnya tidak mengerti.
"Kita bicarakan di dalam, tidak mungkin ngobrol sambil berdiri di teras beginikan?"
Christ menganggukkan kepala setuju. Mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah, dan tak lupa menutup pintu.
Mereka kemudian duduk di atas sofa, dengan posisi kedua kaki yang sama-sama ditekuk.
Lyla mengambil napas terlebih dahulu, sebelum menceritakan pembicaraannya dengan Ayah dan Ibu Christ tadi pagi.
"Kau lupa atau bagaimana kalau di keluarga mu ada orang seperti Pak Kim itu?" tanya Lyla setelah menyudahi ceritanya.
"Aku kira kalau Ayah sedang sakit dia tidak akan melakukan apapun." Balas Christ. "Yah, tapi kitakan sedang mencoba menjalin hubungan sungguhan, iyakan? Jadi kau tidak perlu khawatir."
Lyla menghela napas. "Yah, kalau itu berhasil." Ucap Lyla sembari menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit rumah.
Christ tiba-tiba meraih sebelah tangan Lyla, kemudian menggenggamnya, membuat Lyla otomatis menoleh kan kepala ke arahnya.
"Mau bersenang-senang?" tanya Christ.[]