“Nyonya Santi?” Loli refleks menoleh. Santi berdiri beberapa langkah dari meja mereka, tinggi, angkuh, dan salah kostum total untuk warung ayam penyet pinggir jalan. Gaun sutra ungu, heels berkilat, lengkap dengan kipas tangan motif batik Jawa versi sultan. Ia mengipas hidungnya dramatis, seperti mencium bau neraka. “Jadi… bener kalian makan di sini?” Suaranya terdengar mengejek. “Astaga. Sambal terasi?” Ivan, yang baru saja meneguk air putih, hampir batuk. Bukan karena pedas, tapi karena ‘malu atas nama bumi.’ Loli merapikan tissue bekas di mejanya dengan tenang. “Kenapa, Nyonya. Santi? Mau ikutan duduk? Tapi kursinya plastik, takutnya patah… dalam artian bermacam-macam.” Santi mendengus. “Aku cuma mau bilang… gara-gara kamu, Ivan jatuh miskin. Dan kamu masih cinta juga sama dia?”

