Dari pintu utama Aureola, Nayla melangkah keluar dengan wajah menegang. Hak sepatunya mengetuk trotoar basah dengan tempo terburu-buru, seakan ia sedang melarikan diri dari sesuatu yang lebih menakutkan daripada hujan. Kata-kata Ivan barusan terus terngiang di telinganya, tajam dan dingin. “Berhenti berfantasi.” Hanya tiga kata, tapi cukup untuk mengiris harga dirinya sampai ke dasar. Sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan, mesin berderam pelan. Kaca jendelanya diturunkan, menampilkan wajah Santi yang tetap tampak anggun meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang kelam. “Nayla… masuklah. Jangan biarkan semua orang menatapmu seperti ini,” ucapnya lembut, hampir menyerupai bisikan perintah. Tanpa banyak pikir, Nayla meraih gagang pintu dan masuk ke dalam. Begitu pintu tertutup, dunia

