CHANGE

1369 Words
-2 years later- Setelah Teguh pindah, ia sempat benar-benar marah pada Bina. Namun, ketakutan Bina itu tidak terjadi, karena akhirnya mereka berbaikan dan bermain seperti biasa. Bina pun berkenalan dengan teman Teguh yang berasal dari sekolah barunya. Selama dua tahun ini banyak sekali yang terjadi. Kakek Teguh yang menjadi kesayangan Bina itu dipanggil oleh tuhan dan itu membuatnya sangat sedih. Lalu Kakak pertama Bina menikah. Dan sialnya Bina diharuskan menggunakan kacamata sekarang. "CIEHHH TEGUH PUNYA GEBETAN NIH!" Teriak Kakanya Teguh, Bina yang memang sedang main dikamar Teguh bisa mendengar suara teriakan itu. Sakit, ya hati Bina terluka sedikit. Bisa terdengar Teguh dan Kakanya itu mulai bercekcok dilantai bawah. Bina sebenarnya sedang menunggu Teguh yang tengah mengambilkan buku PRnya, karena Teguh meminta Bina untuk membantunya dalam pelajaran bahasa inggris. Tak lama, Teguh pun datang sembari membawa beberapa camilan. "Maaf ya, kakak gua emang suka rada sedeng." Ucap Teguh, karena sudah beranjak dewasa dan pergaulan yang berkembang, kini cara bicara dan suara mereka berdua sedikit berubah. "Santai." Bina segera turun dari kasur Teguh dan duduk diatas karpet. Teguh membukakan buku soal dan menyodorkannya pada Bina. "Di bayar pake apa nih gua? hm?" Tanya Bina dengan nada bercanda. Teguh pun bergaya seakan-akan ia berpikir. "Cinta." Ujar Teguh dengan gaya alaynya sembari menampakan jari yang berbentuk hati. Bina berakting akan muntah. Mereka pun tertawa dan memulai pembelajaran mereka. "Setelah gua baca, ini tugasnya disuruh nyanyi bikin video." Ujar Bina, Teguh pun segera mengambil ponsel blackberrynya dan mengetik sesuatu. Bina yang bosan pun segera menyantap camilan yang tadi Teguh suguhkan untuknya. Ting! Ponsel Teguh berbunyi. "Iya katanya, tugasnya buat video nyanyi." Ujar Teguh sembari membalas pesan itu. Bina hanya mengangguk dan terus menikmati camilan itu, karena itu adalah camilan favoritnya. Namun, saat ia sadar akan kalori yang ada didalamnya, tiba-tiba ia merasa mual dan bergegas menuju kamar mandi. Teguh yang bingung pun mengikutinnya. "Lu gapapa?" Ucap Teguh sembari mengelus punggung Bina yang sedang berlutut didepan toilet itu. Tak lama Bina pun menyelesaikan muntahnya. Ia melihat kearah Teguh dan ia tertawa. "Malah ketawa lu ya, gua panik anjir." Omel Teguh, ia segera pergi meninggalkan Bina yang masih menertawakan dirinya sendiri sembari duduk didekat kloset. Ini sudah sering terjadi pada Bina. Ia jadi takut untuk makan karena takut beratnya naik lagi. Walau sebenarnya dari setahun kemarin beratnya sudah turuh lima kilo, tapi ia belum puas. Namanya juga manusia kan? Setelah merasa baikan, Bina kembali kekamar Teguh. Ia melihat Teguh yang sedang mengoprek bass-nya. Walau jarang bertemu, Teguh masih ada di tahta tertinggi didalam hati Bina. Teguh yang merasa ditatap itu mendongkak dan melihat kearah Bina yang bersandar ditembok. "Apa? tuh minum dulu air angetnya." Ucap Teguh dengan nada yang cukup cetus. Bina hanya tersenyum dan mengambil gelas kaca yang ada di atas meja. "Terima kasih." Ucap Bina. Ia memutuskan untuk duduk diatas kasur Teguh. Lelaki itu terlihat sangat serius, dan jika ia sedang serius ia selalu saja menampakan lesung pipitnya. "Kira-kira lagu apa ya Na?" Tanyanya secara tiba-tiba. Bina yang sedari tadi menatapnya itu berubah menjadi kikuk. Teguh yang melihat itu, segera menaruh bass-nya dan duduk disamping Bina. "Bina cantik kenapa sih? Cerita dong! Katanya sahabat kok gak pernah cerita sih." Ujar Teguh sembari mendekatkan wajahnya kearah Bina. Dengan gugup Bina mendorong pelan pipi Teguh agar menjauh dari wajah. "Gak ada apa apa njir. Masalah lagu, lu pilih aja yang emang lu suka dan hafal." Ujar Bina. Teguh pun melepas pelukannya dan mulai berpikir. Cukup lama ia berpikir, ia segera bangkit dan mengambil bass-nya. Ia meminta tolong pada Bina untuk merekamnya. Bina pun mengiyakannya dan mengambil kamera yang Teguh sodorkan padanya. "Siap?" Tanya Bina, kini mereka ada di rooftop rumah Teguh. Teguh kini sedang berdiri diatas sebuah box. Ia mengacungkan jempol kearah Bina. Dan ia pun mulai bernyanyi. Namun, lagu yang ia pilih itu berhasil membuat Bina tidak karuan. Lagunya adalah Just a friend to you yang dinyanyikan oleh Meghan Trainor. "...Everybody know you love me too.." Tanpa sengaja, mata mereka bertemu. "...I'm so much more than just a friend to you." Teguh pun memberi isyarat pada Bina untuk menghentikan rekamannya. Bina yang masih salah tingkah itu segera mematikan kameranya. Teguh segera menghampiri Bina karena ingin melihat video itu. "Bagus gak?" Tanyanya, wajah mereka sangat dekat. "B-bagus." Ujar Bina terbata-bata, ia segera memberikan kamera itu pada Teguh. Ia tidak mau salah paham dengan lagu itu, karena ia yakin pasti Teguh memiliki sahabat lain disekolah barunya. Bina pun segera berpamitan dengan alasan akan pergi bersama ayahnya. "Yah... Yaudah gapapa, makasih ya cantik." Ujar Teguh sembari mengantar Bina kedepan gerbang. Bina pun berjalan menuju rumahnya, karena sebenarnya rumah mereka hanya terlahang satu rumah. *** Kini Bina tidak pernah sendiri lagi dirumah, karena ayah tercintanya memutuskan untuk pensiun dini, dengan alasan masalah kesehatan. "Eh Bina, tumben udah pulang?" Tanya ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel sony kecil yang ia pakai untuk membaca sebuah cerita. "Udah, cuma sebentar hehe." Ucap Bina sembari duduk disamping Ayahnya itu. Ayahnya pun segera memeluk anak gadisnya itu dan mencium keningnya. "Mandi sana, bau!" Ledek Ayahnya, Bina pun menampakan wajah sebal lalu pergi kearah kamarnya. *** Baru saja menutup pintu kamarnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia segera menggapainya dan ternyata itu Raya, ia menelfonya. Semenjak kejadian yang menegangkan itu, hanya Raya yang berani berteman dengannya "Halo?" "LU PACARAN SAMA TEGUH?" Raya berteriak cukup kencang, yang membuat Bina harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya. "Apaan sih? Orang enggak kok." Jawab Bina. Ia sudah merasakan ada hal yang tidak beres. Raya menceritakan bahwa Teguh mengunggah video nyanyiannya itu di laman akun sosial medianya dengan caption 'for my bestfriend' dengan emot hati. Bina yang mendengar penjelasan Raya itu merasa bahagia dan cemas diwaktu yang bersamaan. "Bukan gua kali, gausah ngawur deh! Bye!" Ucap Bina lalu ia menutup sambungan telfon itu. Tanpa ia sadar ia mengukir bulan sabit dengan bibirnya. Ini seperti mimpi baginya, ia sangat senang. Namun, ada sesuatu didalam dirinya yang merasa cemas dan takut. Seperti ada sesuatu yang salah akan terjadi. *** Pagi pun tiba, kini Bina sedang dibantu Ayahnya untuk menguncir rambut. Walau tangan ayahnya sudah tidak kuat karena stroke ringannya, ayahnya itu masih memaksakan diri. "Nah dah selesai, bisa kan ayah." Ucap Ayahnya dengan nada yang sangat bangga. Bina pun tersenyum dan segera berpamitan pada Ayahnya. Baru saja ia keluar dari gerbang, ia melihat sosok Teguh yang akan berangkat sekolah juga. Anehnya, saat ia menyapanya, Teguh malah kembali masuk kedalam rumahnya. Bina yang penasaran pun berjalan menuju rumah Teguh. Ia bisa lihat Teguh bersembunyi darinya. Apakah karena video itu? batin Bina kini penuh dengan pertanyaan. Karena sudah merasa terlambat, Bina pun bergegas menuju kesekolah. Karena ia ada ulangan hari ini dan ia sudah duduk dikelas lima, jadi ia harus lebih rajin lagi untuk sekolah. Sesampainya disekolah, Raya segera menghampirinya dan menyerangnya dengan banyak pertanyaan soal ia dan Teguh. Bina yang memang tidak tahu harus menjawab apa, hanya diam dan berjalan duduk kearah bangkunya. "Gaje lu ma ah sebel." Gerutu Raya, Bina hanya tersenyum melihat tingkah temannya yang menggemaskan ini. Tak lama guru pun datang dan pelajaran pun dimulai. Sepanjang pelajaran ia memikirkan tentang Teguh, ia takut bahwa persahabatannya akan hancur karena video itu. "Minta perhatiannya." Ucap Guru yang membuat lamunan Bina buyar. Seorang anak lelaki masuk dan berdiri disamping guru itu. Anehnya, Bina tidak bisa mengalihkan pandanganya dari lelaki itu. Tak sengaja mata mereka pun bertemu. "Kita kedatangan murid baru," Ujar Guru itu sembari menyuruh lelaki itu memperkenalkan diri, ia terlihat sangat gugup. "Halo semua, perkenalkan nama saya Dimas. Saya pindahan dari Bandung, salam kenal." Jelasnya, guru itu menyuruhnya duduk dikursi kosong, dan sialnya kursi yang kosong hanya kursi Bina. Karena ia berkata tidak ingin duduk dengan siapapun selain Teguh, dan karena aksinya pada Nofal, seluruh murid jadi takut untuk berurusan dengannya. "Dimas." Ucap Dimas yang baru saja duduk disamping Bina. "Bina." Jawabnya. Mereka pun belajar seperti biasa. Walau Dimas selalu saja berusaha mengobrol dengannya. Bina hanya menjawab setiap pertanyaannya dengan singkat. Bel pulang pun akhirnya berbunyi. Bina yang sedang membenahi barang-barangnya itu tidak sengaja menjatuhkan kotak kacamatanya. Untung saja Dimas yang ternyata memiliki refleks yang bagus itu berhasil menangkapnya. "Terima kasih." Ucap Bina singkat. Setelah selesai berbenah, ia pun meningalkan Dimas yang masih membenahi barangnya. Diperjalanan pulang, ia menengok kearah rumah Teguh. Setelah melihat Teguh yang menghindarinya, ia jadi enggan dan ragu untuk menemuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD