BERITA DUKA
Aku sudah merasakan firasat buruk sejak terbangun lebih awal satu jam dari biasanya dihari Selasa pagi itu, kelas Komunikasi Politik baru akan di mulai pukul 08.00 nanti, artinya masih ada dua jam waktuku senggang. Kuputuskan untuk mengerjakan paper mata kuliah Sejarah Jurnalisme yang sebetulnya dikumpulkan Rabu depan. Tapi beginilah aku, paling benci menumpuk pekerjaan dan selalu menjadi orang pertama menyerahkan tugas diatas meja dosen.
Di Columbia, aku memiliki julukan Nona-Perawan-Membosankan mungkin itulah sebabnya selama dua tahun berada disana kebanyakan pemuda yang mengajakku berkencan adalah tipe pemikir. Tapi toh aku tak peduli, saat ini pendidikan adalah prioritas utama. Aku memiliki keberuntungan mendapat kemudahan atas segala hal, jadi sudah seharusnya tak boleh menyia-nyiakan peluang.
Pintu kamarku dibuka dari luar, sesosok wanita berusia awal kepala empat melenggang masuk sambil memelukku manja dari belakang.
“ Selamat pagi matahariku” bisik Mom genit.
“ Hentikan Mom! Serius deh, umurku sudah duapuluh tahun bukan dua tahun” dengusku kesal, tapi tak melepaskan pelukannya.
Mom memberikan senyuman secantik Dewi Yunani, sambil memandangi laptop dengan alis melengkung ke atas. Dalam balutan piama sutra merah bermotif lotus, dia memang menyerupai Dewi. Sungguh mengesalkan, bagaimana Ibuku bisa tampak SEMPURNA bahkan disaat baru bangun tidur?
“Kalau caramu seperti ini terus bisa-bisa aku mendapat memberiku cucu diumur tujuhpuluh tahun” sindirnya.
“ Yeah, kalau aku mengikuti saran Mom, bisa-bisa belum lulus sudah memberimu dua orang cucu ” jawabku sinis.
Mom memberikan pandangan mengingatkan. “ Jaga bicaramu anak muda, aku ini masih Ibumu ingat? Aku hanya ingin alien pergi dari otak putriku sejenak agar dia bisa bersenang-senang”
Kutatap sepasang mata hazelnut indah Mom yang dia wariskan padaku penuh kegelian, tak lama kemudian tawa kami berdua meledak. “Mom, kumohon berhenti menggangguku. Sebisa mungkin makalah ini harus kuselesaikan sebelum berangkat “
“ Apa yang membuatmu bangun seawal ini?” tanya Mom.
“ Mom sendiri, tumben bisa bangun pagi?” aku balik bertanya. Membuatnya jengkel.
“ Bisakah, sekali saja pertanyaanku tidak kamu bala dengan pertanyaan juga?” Mom menggelengkan kepala tampak frustasi. “ Klein meminta barang pesanannya dikirim lebih awal, acara Port-e-Portier di gedung kota tampaknya bakal dimajukan sore nanti”
Aku mengangguk, mencoba menyesapi tiap kalimat yang diucapkan Ibuku. Mom Berprofesi sebagai Desaigner aksesoris, karirnya semakin melesat semenjak kami pindah ke New York lima tahun lalu, meskipun juga menjadi alasan utama perceraiannya dengan Dad. Dan nama Clarisse Creyson menjadi topik utama ditiap majalah gosip kota ini setelah dia menambahkan kata Lawlett pada nama belakang, sesudah pernikahan menggemparkannya dengan milyuner terpandang seantero kota. Charlie Lawlett. Secara otomatis namaku menjadi ikut terangkat, apalagi pria tampan tersebut tak memiliki anak dari pernikahan sebelumnya.
“ Jadi, kamu bisa datang kan?” tanya Mom, mendadak dengan nada merayu.
Aku menelan ludah susah payah, “Harus ya?” bisikku sambil memaki dalam hati.
“ Tentu saja! Semua orang tahu Tisha Lawlett adalah inspirasi terbesar seorang Clarisse” Mom menatapku, serius. “ Kumohon, datanglah sayang, demi Ibumu” pintanya, seraya memberikan tatapan mata ala anak kucing sulit ditolak.
Aku menghembuskan nafas panjang. “ Baiklah, aku akan datang” kataku terpaksa.
“ Bagus! Pukul 16.00 sore, Gedung Utama Balai Kota. Jangan terlambat, oke, gaunmu sudah kusiapkan kamu pasti akan berterimakasih malam ini padaku” Mom mengerling penuh makna.
‘ Sudah kusiapkan?’ Ya Ampun, Ibuku benar-benar menyebalkan.
Aku sudah siap memprotes saat Martha, wanita separuh baya pelayan setia keluarga Lawlett sejak generasi Ibunya, masuk kedalam kamarku dalam kondisi tergopoh-gopoh. Melihat raut muka paniknya serta caranya melupakan sopan santun saat masuk ke kamar majikannya sambil membawa telpon, membuatku yakin apapun kabar yang dibawa si penelpon pastilah sangat buruk.
Mom kebingungan saat Martha menyerahkan telpon warna merah darah ketangannya. Tapi Ibuku tak menunggu pemberitauan dan langsung meraih benda itu.
Aku terdiam ditempat, jantungku terpacu cepat. Oh tidak, apa firasat burukku pertanda sesuatu? Apa yang akan terjadi setelah ini? Charlie masih ada dikamarnya sekarang, jadi jelas ini bukan tentangnya. Lalu siapa? Apa mungkin Lauren? Adik kandung Mom di California? Ataukah Cici? Nenek dari pihak Ibuku?
Apakah mungkin?! Oh Tuhan, semoga tidak terjadi apapun pada Ayahku.
Keceriaan terenggut jelas dari wajah Ibuku, aku semakin bertambah panik saat Mom menyerahkan telpon itu padaku dengan mata berkaca-kaca.
“ Aku tidak mau, kalau itu kabar buruk....” suaraku bergetar hebat.
“ Ini tentang Mark sayang, dia...dia” Mom tak bisa menerukan kalimatnya.
“ Ayah anda mengabari jika Tuan Mark Pannabaker, Kakek anda, meninggal dunia dini hari barusan....” tukas Martha melanjutkan dengan tegas dan wajah dipenuhi tekad.
Perutku terasa merosot, dan tanah tempatku berpijak seperti jungkir balik.