Tak ada kelas Komunikasi Politik, gaun mewah, sorotan kamera,atau menghadiri malam Gala hari ini. Semua pikiran itu hilang setelah kabar duka yang dibawa Ayahku pagi ini.
Kakekku, Mark Harrison meninggal dunia tepat pada pukul 04.00 pagi tadi dalam usia tujuhpuluh delapan tahun, menghembuskan nafas terakhirnya diatas ranjang dalam kondisi damai tanpa penyakit apapun. Disatu sisi aku lega karena setidaknya Kakek tak merasakan penderitaan, namun disaat bersamaan rasa perih menggerogoti hatiku.
Segera setelah mendapat kabar, Mom menghambur masuk kedalam kamar dan menangis sesenggukan. Mark memang mantan mertuanya, namun kedekatan antara mereka selayaknya Ayah dan anak kandung. Mark telah mengisi posisi seorang Bapak dihati Mom yang kosong sejak ditingalkan Ayahnya akibat kecelakaan saat usianya duabelas tahun. Charlie baru bisa menenangkan Istrinya setidaknya setelah dua jam, itupun berkat bantuan obat penenang dan wine, dia menemukanku dikamar dalam kondisi tak jauh lebih buruk dari Mom.
Duduk terpaku didepan meja belajar sambil memandangi foto kebersamaanku dan keluarga dulu sebelum perceraian terjadi. Air membanjiri kedua pipi meski mulutku tak mengeluarkan isakan. Charlie memberikan semua yang kubutuhkan, pelukan menghangatkan, kalimat menenangkan, dan kunci Escalla merahnya. Aku terkesiap saat menerima benda itu dari tangannya.
“ Pergilah lebih dulu, nanti kami akan menyusulmu setelah Claire bangun, biar Howard yang menemanimu. Lagipula aku tak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja” tukas Charlie kalem. Sepasang mata biru kehijauannya berpendar indah, rambut warna tembaganya tampak berkilauan akibat tertimpa cahaya matahari jendela kamarku.
Mataku membalasnya dengan ribuan ucapan terimakasih. Setelah menerima pelukan penyemangat terakhir darinya, aku bergegas bangkit, membersihkan diri sementara Martha menyiapkan semua kebutuhanku dalam satu tas ransel berukuran sedang.
Kuputuskan memakai jeans hitam dan atasan kashmir lengan panjang warna hitam, dipadu boot coklat, kukuncir kuda rambut ikal sepinggangku. Setelah mencium kening Mom yang masih tertidur dikamarnya, Charlie dan Martha mengantarku hingga parkiran, aku masuk kedalam mobil dengan Howard yang melemparkan pandangan berduka untukku. Aku siap pulang kembali ke kampung halaman.
Empat jam empatpuluh sembilan menit adalah jumlah waktu yang harus kutempuh dari New York ke Pennington di Pennysylvania. Sepanjang perjalanan aku teringat pertemuan terakhirku dengan Kakek, dihari ulang tahunnya ke empatpuluh lima Dad musim panas lalu di Vancouver Kanada. Mereka dirumah keluarga Eliza, Istri barunya.
Mark terlihat sangat bugar dan ceria seperti biasa, dia bahkan memenangkan pertandingan tenis dariku dengan hasil ketat tanpa aku perlu mengalah darinya. Segala hal tentang Mark merupakan kenangan manis tak ternilai.
Tepat siang hari Escalla merah memasuki gapura raksasa pintu masuk Pennington, secara garis besar desa kecil seluas delapan puluh ribu ekian kilometer peregi ini tak banyak mengalami perubahan berarti kecuali jumlah angka populasi pada papan penunjuknya, sebentar lagi harus diubah dari 1.202 penduduk menjadi 1.201. Dipusat kota berbagai toko tumbuh subur, mulai market serba ada, restoran makanan cepat saji 24 jam, hingga beragam butik.
Howard terus menembus jalanan utama mengikuti jalan satu arah menuju perumahan Pennington Valley sesuai petunjuk navigasi. Mengajak Howard Bukcshein adalah pilihan tepat, pria berumur awal enampuluhan adalah supir paling cerdas, cermat, serta gesit yang pernah bisa dimiliki seeorang seperti Charlie.
Tak mengejutkan saat Mom berkata padaku jika Howard mantan anggota SEAL di masa mudanya, mundur dari kesatuan setelah sahabat baiknya meninggal dalam sebuah pertempuran. Setelah itu Harvey Lawlett, Ayah Charlie menarik pria tersebut ke sisinya, tidak hanya sekedar menjadi upir tapi juga tangan kanan terpercaya. Dan kesetiaan Howard terhadap keluarga ini tak pudar hingga generasi selanjutnya.
Dari kejauhan mulai tampak rumah mewah bergaya neo-classic bertingkat dua, berwarna abu-abu, dengan aneka tanaman merambat pada pilar-pilarnya. Kami memasuki gerbang besi kokoh bercat emas, puluhan mobil telah memenuhi halaman depan hingga meluap mencapai jalanan sejauh beberapa meter, tapi Howard tahu selalu ada tempat bagi keluarga.Aku tak menunggu pintu dibukakan untukku dan langsung melompat turun. Kudapati Eliza dan Pamanku, Neil, telah menanti kedatanganku sejak tadi.
Aku menghambur kepelukan Ibu tiriku dengan tangis pecah, hal yang telah kutahan sepanjang perjalanan ini.
“ Kakekmu ingin kamu membacakan puisi terbaikmu untuknya besok” tukas Dad seraya melipat kedua tangan didepan d**a. Terlihat tegar seperti biasa, padahal dialah orang pertama yang menemukan jasad Mark.
Aku mengangguk, memunggunginya, berusaha sekuat dia meski bahuku bergetar hebat. Mataku masih tertuju pada foto bayiku dan Mark diatas meja kerja, sekarang kami berdua berada dikamar tidurnya.
“ Mom dan Charlie akan berangkat sore ini. Efek obat tidurnya baru hilang beberapa jam lalu, kurasa” kataku berusaha terdengar santai.
Dad mendengus. “ Sudah waktunya dia berhenti tergantung pada ‘benda’ itu”
Aku memutar tubuh hingga menghadap Ayahku. “ Tanpa ‘benda itu’ Mom akan menangis histeris seharian. Seperti Dad tak tahu kebiasaannya saja”
Dad menatapku tajam, mata biru lautnya terasa menusuk hingga tulang. Aku tahu dia berusaha menelisik kondisiku saat ini, tapi Dad, selalu menjadi Dad. “ Baiklah, sebaiknya kamu beristirahat pasti lelah setelah perjalanan. Howard akan mendapat kamar diujung lorong lantai atas” Dad menepuk bahuku lembut. Namun sebelum pergi dia sempat mengecup keningku dalam.
Aku merangsek naik keatas ranjang Mark, sejak kecil aku sangat suka menyusup masuk kedalam kamarnya saat tengah malam hanya untuk mendengarkan dia menceritakan kiah dongeng untukku. Dan sekarang, takkan ada lagi tawa renyah darinya saat melontarkan lelucon, atau ekspresi cemas berlebihan ketika tahu aku akan pergi berkencan meskipun usiaku telah dewasa. Tanpa sadar, aku tertidur dalam posisi membuat bantal basah karena air mata didalam gelungan lembut selimut beludru abu-abu Mark. Benda terakhir yang kemungkinan membungkus tubuhnya.
Dalam mimpi aku merasa ada seseorang yang masuk kedalam kamar Mark, dia membetulkan selimutku lalu mengecup dahiku dalam, ketenangan merambatiku hingga rasanya selamanya.
Kuharap barusan adalah Mark.