KAMPUNG HALAMAN

864 Words
Tak  ada kelas  Komunikasi Politik, gaun  mewah, sorotan kamera,atau  menghadiri  malam Gala  hari  ini. Semua  pikiran itu  hilang setelah  kabar duka yang  dibawa Ayahku pagi  ini.      Kakekku, Mark  Harrison meninggal  dunia tepat pada pukul  04.00 pagi tadi dalam usia  tujuhpuluh delapan tahun, menghembuskan  nafas terakhirnya diatas ranjang dalam  kondisi damai tanpa penyakit apapun. Disatu  sisi aku lega karena setidaknya Kakek tak merasakan  penderitaan, namun disaat bersamaan rasa perih menggerogoti  hatiku.      Segera  setelah mendapat  kabar, Mom menghambur  masuk kedalam kamar dan  menangis sesenggukan. Mark memang  mantan mertuanya, namun kedekatan antara  mereka selayaknya Ayah dan anak kandung. Mark  telah mengisi posisi seorang Bapak dihati Mom yang  kosong sejak ditingalkan Ayahnya akibat kecelakaan saat  usianya duabelas  tahun. Charlie baru bisa menenangkan Istrinya  setidaknya setelah dua jam, itupun berkat bantuan obat penenang dan wine, dia menemukanku  dikamar dalam kondisi tak jauh lebih buruk dari Mom.       Duduk  terpaku  didepan meja  belajar sambil  memandangi foto kebersamaanku  dan keluarga dulu sebelum perceraian  terjadi. Air membanjiri kedua pipi meski  mulutku tak mengeluarkan isakan. Charlie memberikan  semua yang kubutuhkan, pelukan menghangatkan, kalimat menenangkan, dan  kunci Escalla merahnya. Aku terkesiap saat menerima benda itu dari tangannya.      “ Pergilah  lebih dulu, nanti  kami akan menyusulmu  setelah Claire bangun, biar  Howard yang menemanimu. Lagipula  aku tak bisa meninggalkan perusahaan  begitu saja” tukas Charlie kalem. Sepasang  mata biru kehijauannya berpendar indah, rambut  warna tembaganya tampak berkilauan akibat tertimpa  cahaya matahari jendela kamarku.      Mataku  membalasnya  dengan ribuan  ucapan terimakasih. Setelah  menerima pelukan penyemangat  terakhir darinya, aku bergegas  bangkit, membersihkan diri sementara  Martha menyiapkan semua kebutuhanku dalam  satu tas ransel berukuran sedang.      Kuputuskan  memakai jeans  hitam dan atasan  kashmir lengan panjang  warna hitam, dipadu boot  coklat, kukuncir kuda rambut  ikal sepinggangku. Setelah mencium  kening Mom yang masih tertidur dikamarnya, Charlie  dan Martha mengantarku hingga parkiran, aku masuk kedalam  mobil dengan Howard yang melemparkan pandangan berduka untukku. Aku  siap pulang kembali ke kampung halaman.       Empat jam  empatpuluh sembilan  menit adalah jumlah  waktu yang harus kutempuh  dari New York ke Pennington  di Pennysylvania. Sepanjang perjalanan  aku teringat pertemuan terakhirku dengan  Kakek, dihari ulang tahunnya ke empatpuluh lima  Dad musim panas lalu di Vancouver Kanada. Mereka dirumah  keluarga Eliza, Istri barunya.       Mark  terlihat  sangat bugar  dan ceria seperti  biasa, dia bahkan memenangkan  pertandingan tenis dariku dengan  hasil ketat tanpa aku perlu mengalah  darinya. Segala hal tentang Mark merupakan  kenangan manis tak ternilai.       Tepat  siang hari  Escalla merah  memasuki gapura  raksasa pintu masuk  Pennington, secara garis  besar desa kecil seluas  delapan puluh ribu ekian kilometer peregi  ini tak banyak mengalami perubahan berarti  kecuali jumlah angka populasi pada papan penunjuknya, sebentar  lagi harus diubah dari 1.202 penduduk menjadi 1.201. Dipusat kota  berbagai toko tumbuh subur, mulai market serba ada, restoran makanan  cepat saji 24 jam, hingga beragam butik.         Howard  terus menembus  jalanan utama mengikuti  jalan satu arah menuju perumahan  Pennington  Valley  sesuai  petunjuk  navigasi. Mengajak  Howard Bukcshein adalah  pilihan tepat, pria berumur  awal enampuluhan adalah supir  paling cerdas, cermat, serta gesit  yang pernah bisa dimiliki seeorang  seperti Charlie.       Tak  mengejutkan  saat Mom berkata  padaku jika Howard  mantan anggota SEAL di masa  mudanya, mundur dari kesatuan setelah   sahabat baiknya meninggal dalam sebuah  pertempuran. Setelah itu Harvey Lawlett, Ayah  Charlie menarik pria tersebut ke sisinya, tidak  hanya sekedar menjadi upir tapi juga tangan kanan  terpercaya. Dan kesetiaan Howard terhadap keluarga ini  tak pudar hingga generasi selanjutnya.      Dari  kejauhan  mulai tampak  rumah mewah bergaya  neo-classic  bertingkat  dua, berwarna  abu-abu, dengan  aneka tanaman merambat  pada pilar-pilarnya. Kami  memasuki gerbang besi kokoh  bercat emas, puluhan mobil telah  memenuhi halaman depan hingga meluap  mencapai jalanan sejauh beberapa meter, tapi  Howard tahu selalu ada tempat bagi keluarga.Aku  tak menunggu pintu dibukakan untukku dan langsung  melompat turun. Kudapati Eliza dan Pamanku, Neil, telah  menanti kedatanganku sejak tadi.      Aku  menghambur  kepelukan Ibu  tiriku dengan tangis  pecah, hal yang telah kutahan  sepanjang perjalanan ini.        “ Kakekmu  ingin kamu  membacakan puisi  terbaikmu untuknya  besok” tukas Dad seraya  melipat kedua tangan didepan  d**a. Terlihat tegar seperti biasa, padahal  dialah orang pertama yang menemukan jasad Mark.      Aku  mengangguk, memunggunginya, berusaha  sekuat dia meski bahuku bergetar hebat. Mataku  masih tertuju pada foto bayiku dan Mark diatas  meja kerja, sekarang kami berdua berada dikamar tidurnya.      “ Mom  dan Charlie  akan berangkat  sore ini. Efek obat  tidurnya baru hilang beberapa  jam lalu, kurasa” kataku berusaha  terdengar santai.      Dad  mendengus. “ Sudah  waktunya dia berhenti  tergantung pada ‘benda’ itu”      Aku  memutar  tubuh hingga  menghadap Ayahku. “ Tanpa  ‘benda itu’ Mom akan menangis  histeris seharian. Seperti Dad tak  tahu kebiasaannya saja”      Dad  menatapku  tajam, mata  biru lautnya  terasa menusuk  hingga tulang. Aku  tahu dia berusaha menelisik  kondisiku saat ini, tapi Dad, selalu  menjadi Dad. “ Baiklah, sebaiknya kamu beristirahat  pasti lelah setelah perjalanan. Howard akan mendapat  kamar diujung lorong lantai atas” Dad menepuk bahuku lembut.  Namun sebelum pergi dia sempat mengecup keningku dalam.        Aku  merangsek  naik keatas  ranjang Mark, sejak  kecil aku sangat suka  menyusup masuk kedalam kamarnya  saat tengah malam hanya untuk mendengarkan  dia menceritakan kiah dongeng untukku. Dan sekarang, takkan  ada lagi tawa renyah darinya saat melontarkan lelucon, atau  ekspresi cemas berlebihan ketika tahu aku akan pergi berkencan  meskipun usiaku telah dewasa. Tanpa sadar, aku tertidur dalam posisi  membuat bantal basah karena air mata didalam gelungan lembut selimut beludru  abu-abu Mark. Benda terakhir yang kemungkinan membungkus tubuhnya.      Dalam  mimpi aku  merasa ada seseorang  yang masuk kedalam kamar  Mark, dia membetulkan selimutku  lalu mengecup dahiku dalam, ketenangan  merambatiku hingga rasanya selamanya.       Kuharap  barusan adalah  Mark.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD