Tema pagi ini adalah serba hitam.
Gaun terusan hitam lengan pendek berenda mencapai betis dipadu sepatu flat hitam, awan hitam, serta kantung hitam dibawah mataku.
Eliza dan Mom membantu menutupi muka mayatku dengan make-up yang akhirnya membuatku menyerupai pejuang dalam film-film bertemakan zombie.
“ Sebaiknya rambutmu dikuncir saja” saran Eliza. Tampak manis dengan terusan kemeja resmi lengan panjang selutut. Rambut pirang platinum lurusnya dibiarkan tergerai mencapai bahu.
Mom menggelengkan kepala, “ Mark selalu suka rambutnya dibiarkan bebas. Menurutnya, Tish selalu terlihat lebih cantik dan alami”
Eliza mengerutkan dahi, tapi dia tak memprotes dan hanya tersenyum lembut pada Mom. Dia perempuan yang baik, aku merasa senang Dad mendapatkannya bukan sekedar sebagai sosok pengganti Mom melainkan seorang pelengkap. Eliza Dokter bedah di Rumah Sakit kota, dulunya salah satu asisten Mark dan rekan sebidang Dad sebelum Ayahku memutuskan membuka klinik anak didekat rumah.
Berbeda dengan Mom yang berkomitmen tak mau melahirkan lagi demi aku, Eliza memiliki masalah pada rahimnya tapi toh hal tersebut tak membuat perasaan Dad padanya goyah. Aku bersyukur karena hubungan Orang Tua kandung dan tiriku sangat harmonis. Rasanya seperti memiliki dua orang Ibu dan Ayah, saat ini memang itulah yang kubutuhkan.
Mom pagi ini tampil sempurna seperti biasa. Terlihat seksi dalam terusan sabrina hitam diatas lutut beberapa senti, rambut gelapnya tergerai indah, aroma jasmine menguar dari tubuhnya mencapai hidungku. Wangi kesukaan Mark dan almarhum Jessie. Suaranya masih serak akibat menangis semalam, tapi toh tetap tidak mengurangi kecantikannya
Mom menunduk disebelah kursiku, sambil menatap pantulan bayanganku dicermin dia berkata. “ Ayo, semua orang telah menunggumu. Mark menunggumu”
Aku menatap sosok tampan Mark didalam peti mati. Sangat tampan dibalut setelan jas putih mahal, wajahnya memancarkan kedamaian, rambut putihnya berkilauan karena pantulan cahaya lampu kristal gereja, dibalik kelopak mata tertutup rapi itu dulunya terdapat sepasang mata biru awan terindah yang selalu menatapku penuh cinta. Aku sangat menyayangi pria tua itu, dan menyadari fakta sekarang wujud fisiknya takkan pernah bisa lagi merangkulku, membuat retakan jurang besar dihatiku.
“ Mark terlihat sangat damai. Harusnya kamu bahagia Tish” suara kalem dan menenangkan yang tak asing muncul dibelakangku.
“ Aku yakin sekarang dia bisa bermain tenis sepuasnya dalam keabadian” Celetuk seseorang bersuara lebih berat menimpali dengan nada menggoda.
Tubuhku gemetar sejenak, saat kubalikkan badan ada sepasang iris batu emerald dan mata abu-abu indah balik menatapku.
Dua orang pemuda tampan berdiri tegap dihadapanku. Mereka terlihat sangat tegar seperti terakhir kali kuingat lima tahun lalu.
“ Pattrick Blaze! Simon!" jeritku tak bisa menahan diri, membuat beberapa pelayat memandang kearah kami. Tapi aku terlalu gembira untuk memedulikan tanggapan orang.
Aku menghambur memeluk kedua sahabat terbaikku, meskipun terkejut tapi mereka tak menolak dan menangkap tubuhku. Kami bertiga berpelukan seperti saudara terpisah yang baru bertemu setelah puluhan tahun.
Aroma tembakau milik Patt bercampur dengan bodywash dan citrus punya Simon menciptakan perpaduan bau yang sangat harum. Aku menikmati berlama-lama dalam pelukan keduanya, mereka begitu kokoh, tangguh, dan menghangatkan.
Akhirnya Simon melepaskan diri pertama kali, mereka membiarkanku terdiam selama beberapa saat untuk mengamati.
Mereka tumbuh dengan begitu baik, puncak kepalaku hanya mencapai lengannya Patt. Badannya tampak atletis, saat aku memeluknya tadi bisa kurasakan otot-otot mengencang pada d**a, lengan, serta bahunya. Seingatku tubuhnya memang sudah seksi sejak kami masih remaja mengingat dia sudah sering bertelanjang d**a dihadapanku. Kurasa ratusan wanita rela antre agar bisa mengencaninya sekarang.
Sementara sosok Simon Tuddington yang dulunya seorang remaja kurus telah berubah menjadi pemuda tampan bertubuh tegap, lebih tinggi sekitar dua centi dari Patt, kulitnya sudah tak sepucat dulu, rambut warna zaitunnya berkilauan indah akibat pantulan cahaya. Satu-satunya tak berubah dari dirinya adalah pesona kharismatik, kewibawaan dan kecerdasan dibalik senyum simpulnya.
“ Woa! Kamu tak berubah Trixxie, tetap aktif dan...” Patt menghentikan kalimat terakhirnya. Membuatku memelototinya. “ ....imutt...” mimik mukanya tampak serius.
“ Yah, dan selalu manja....” suara merdu dan kalem menerobos diantara kami.
Mom muncul dibelakang kami, tersenyum penuh makna dia mengalihkan pandangan secara bergantian kepada kedua sahabatku. “ Pattrick, Simon, lama tak jumpa. Dan kalian sudah tumbuh sangat, yeah...” Mom mencoba menemukan kalimat lanjutan yang tepat.
“ Berhormon” jawab Patt pendek sambil nyengir lebar. Membuatku dan Simon terbahak, Mom hanya mampu memutar bola matanya.
Simon maju dengan ekspresi simpati. “ Sungguh sangat disayangkan kita harus bertemu dalam keadaan berduka seperti sekarang Mrs. Lawlett " dan menekankan kalimat terakhir penuh makna.
Mom tertawa “ Well, jarak tak pernah bisa menghentikan kedekatan kalian ya?” lalu melemparkan senyuman menyindir padaku.
Terdengar suara dengung microfone dari atas podium, panitia kebaktian Gereja mengumumkan acara akan segera dimulai. Kami berempat mengambil tempat terdepan sisi kanan, bersebelahan dengan Dad disisi kiri. Acara berlangsung khidmat, dimulai khotbah Pendeta Downey William, anak sahabat Mark. Lalu pemberian ucapan perpisahan dari keluarga dan kerabat. Aku mendapat tepuk tangan meriah serta isakan haru Mom seusai membacakan puisi untuk Mark, yang menjadi bagian akhir acara penghormatan.
Tiba waktunya kami harus mengantarkan Mark ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tak bisa lagi menahan tangis ketika tanah terakhir yang menutupi peti Mark dilemparkan oleh Mom. Mendadak hujan gerimis turun membasahi tanah, seolah ikut berduka. Satu-persatu pelayat mulai pergi. Patt dan Simon menggenggam bahuku kuat. Sambil memandangi kuburan aku teringat ucapan Mark dulu.
‘ Manusia pasti mati, namun ingatan tentang mereka selalu dikenang dihati yang ditinggalkan, dan kami harus terus melanjutkan hidup'