PEMAKAMAN.

826 Words
    Tema  pagi ini  adalah serba  hitam.      Gaun  terusan  hitam lengan  pendek berenda  mencapai betis dipadu  sepatu flat hitam, awan  hitam, serta kantung hitam  dibawah mataku.      Eliza  dan Mom  membantu menutupi  muka mayatku dengan  make-up  yang  akhirnya  membuatku menyerupai  pejuang dalam film-film  bertemakan zombie.       “ Sebaiknya  rambutmu dikuncir  saja” saran Eliza. Tampak  manis dengan terusan kemeja  resmi lengan panjang selutut. Rambut  pirang platinum lurusnya dibiarkan tergerai  mencapai bahu.      Mom  menggelengkan  kepala, “ Mark selalu  suka rambutnya dibiarkan  bebas. Menurutnya, Tish selalu  terlihat lebih cantik dan alami”     Eliza  mengerutkan  dahi, tapi dia  tak memprotes dan  hanya tersenyum lembut  pada Mom. Dia perempuan yang  baik, aku merasa senang Dad mendapatkannya  bukan sekedar sebagai sosok pengganti Mom melainkan  seorang pelengkap. Eliza Dokter bedah di Rumah Sakit kota, dulunya  salah satu asisten Mark dan rekan sebidang Dad sebelum Ayahku memutuskan  membuka klinik anak didekat rumah.         Berbeda  dengan Mom  yang berkomitmen  tak mau melahirkan  lagi demi aku, Eliza  memiliki masalah pada rahimnya  tapi toh hal tersebut tak membuat  perasaan Dad padanya goyah. Aku bersyukur  karena hubungan Orang Tua kandung dan tiriku  sangat harmonis. Rasanya seperti memiliki dua orang  Ibu dan Ayah, saat ini memang itulah yang kubutuhkan.      Mom  pagi ini  tampil sempurna  seperti biasa. Terlihat  seksi dalam terusan sabrina  hitam diatas lutut beberapa senti, rambut  gelapnya tergerai indah, aroma jasmine  menguar   dari tubuhnya  mencapai hidungku. Wangi  kesukaan Mark dan almarhum  Jessie. Suaranya masih serak akibat  menangis semalam, tapi toh tetap tidak  mengurangi kecantikannya      Mom  menunduk  disebelah kursiku, sambil  menatap pantulan bayanganku  dicermin dia berkata. “ Ayo, semua  orang telah menunggumu. Mark menunggumu”      Aku  menatap  sosok tampan  Mark didalam peti  mati. Sangat tampan dibalut  setelan jas putih mahal, wajahnya  memancarkan kedamaian, rambut putihnya  berkilauan karena pantulan cahaya lampu  kristal gereja, dibalik kelopak mata tertutup  rapi itu dulunya terdapat sepasang mata biru awan  terindah yang selalu menatapku penuh cinta. Aku sangat  menyayangi pria tua itu, dan menyadari fakta sekarang wujud  fisiknya takkan pernah bisa lagi merangkulku, membuat retakan jurang  besar dihatiku.      “ Mark  terlihat  sangat damai. Harusnya  kamu bahagia Tish” suara  kalem dan menenangkan yang  tak asing muncul dibelakangku.      “ Aku  yakin sekarang  dia bisa bermain  tenis sepuasnya dalam  keabadian” Celetuk seseorang  bersuara lebih berat menimpali  dengan nada menggoda.        Tubuhku  gemetar sejenak, saat  kubalikkan badan ada sepasang  iris batu emerald dan mata abu-abu  indah balik menatapku.        Dua  orang  pemuda tampan  berdiri tegap dihadapanku. Mereka  terlihat sangat tegar seperti terakhir  kali kuingat lima tahun lalu.      “ Pattrick  Blaze! Simon!"   jeritku tak bisa  menahan diri, membuat  beberapa pelayat memandang  kearah kami. Tapi aku terlalu  gembira untuk memedulikan tanggapan orang.       Aku  menghambur  memeluk kedua  sahabat terbaikku, meskipun  terkejut tapi mereka tak menolak  dan menangkap tubuhku. Kami bertiga  berpelukan seperti saudara terpisah yang  baru bertemu setelah puluhan tahun.      Aroma  tembakau  milik Patt  bercampur dengan  bodywash dan citrus  punya Simon menciptakan  perpaduan bau yang sangat  harum. Aku menikmati berlama-lama  dalam pelukan keduanya, mereka begitu  kokoh, tangguh, dan menghangatkan.       Akhirnya  Simon melepaskan  diri pertama kali, mereka  membiarkanku terdiam selama  beberapa saat untuk mengamati.        Mereka tumbuh dengan begitu baik, puncak kepalaku hanya mencapai lengannya  Patt. Badannya tampak atletis, saat aku memeluknya tadi bisa kurasakan  otot-otot mengencang pada d**a, lengan, serta bahunya. Seingatku tubuhnya memang  sudah seksi sejak kami masih remaja mengingat dia sudah sering bertelanjang  d**a dihadapanku. Kurasa ratusan wanita rela antre agar bisa mengencaninya sekarang.       Sementara  sosok Simon  Tuddington yang  dulunya seorang remaja  kurus telah berubah menjadi  pemuda tampan bertubuh tegap, lebih  tinggi sekitar dua centi dari Patt, kulitnya  sudah tak sepucat dulu, rambut warna zaitunnya  berkilauan indah akibat pantulan cahaya. Satu-satunya  tak berubah dari dirinya adalah pesona kharismatik, kewibawaan  dan kecerdasan dibalik senyum simpulnya.      “ Woa! Kamu  tak berubah Trixxie,  tetap  aktif dan...” Patt  menghentikan kalimat  terakhirnya. Membuatku memelototinya. “ ....imutt...”  mimik mukanya tampak serius.      “ Yah, dan  selalu manja....” suara  merdu dan kalem menerobos  diantara kami.        Mom  muncul  dibelakang  kami, tersenyum  penuh makna dia  mengalihkan pandangan  secara bergantian kepada  kedua sahabatku. “ Pattrick, Simon, lama  tak jumpa. Dan kalian sudah tumbuh sangat, yeah...”  Mom  mencoba  menemukan  kalimat lanjutan  yang tepat.      “ Berhormon”  jawab  Patt pendek  sambil nyengir  lebar. Membuatku dan  Simon terbahak, Mom hanya  mampu memutar bola matanya.      Simon  maju dengan  ekspresi simpati. “ Sungguh  sangat disayangkan kita harus  bertemu dalam keadaan berduka seperti  sekarang Mrs. Lawlett "  dan menekankan  kalimat terakhir  penuh makna.      Mom  tertawa  “ Well, jarak  tak pernah  bisa menghentikan  kedekatan  kalian  ya?” lalu  melemparkan senyuman  menyindir padaku.      Terdengar  suara dengung  microfone dari atas  podium, panitia kebaktian  Gereja mengumumkan acara akan  segera dimulai. Kami berempat mengambil  tempat terdepan sisi kanan, bersebelahan dengan  Dad disisi kiri. Acara berlangsung khidmat, dimulai  khotbah Pendeta Downey William, anak sahabat Mark. Lalu  pemberian ucapan perpisahan dari keluarga dan kerabat. Aku  mendapat tepuk tangan meriah serta isakan haru Mom seusai membacakan  puisi untuk Mark, yang menjadi bagian akhir acara penghormatan.      Tiba waktunya kami harus mengantarkan Mark ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku  tak bisa lagi menahan tangis ketika tanah terakhir yang menutupi peti Mark dilemparkan  oleh Mom. Mendadak hujan gerimis turun membasahi tanah, seolah ikut berduka. Satu-persatu pelayat  mulai pergi. Patt dan Simon menggenggam bahuku kuat. Sambil memandangi kuburan aku teringat ucapan  Mark dulu.                  ‘ Manusia  pasti mati, namun  ingatan tentang mereka  selalu dikenang dihati yang  ditinggalkan, dan kami harus terus  melanjutkan hidup'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD