REUNI

853 Words
    Patt  dan Simon  datang tepat  pukul 19.00 untuk  acara makan malam keluargaku. Keduanya  tampak sangat tampan dalam cara bertolak  belakang.        Patt  terlihat  santai dalam  kaos ketat putih  memperlihatkan bisep  perutnya, jeans biru robek, dan  sandal. Sementara Simon tampil rapi  mengenakan hem lengan pendek merah, jeans  hitam, sepatu kets coklat. Aku tak bisa tak  berpuas diri saat mereka memandangiku dalam kebisuan, efek  dari hot  pants  biru, dan kaos  hitam ketat berkerah  yang kupakai malam ini.      Eliza  mempersilahkan  mereka masuk, dan  Simon, seperti biasa  selalu tahu cara mengesankan  seseorang. Dia memberikan rangkaian  lili, mawar putih, dan anggrek ungu yang  sebetulnya bunga-bunga favoritku kepada Ibu  Tiriku. Eliza tersenyum pada Simon lalu mengerling  kearahku secara sembunyi-sembunyi ketika kami menuju  meja makan.      Dad, Charlie, dan  Neil sedang membicarakan  proyek terbaru drainase kota. Mom, dan  Eliza dibantu beberapa pelayan baru keluarga  Pannabaker sibuk menata peralatan makan diatas meja. Senang  rasanya melihat keluarga ‘besarku’ akur, dalam hati berdoa agar  kondisi seperti ini akan berlangsung selamanya. Aku rasa Mark juga  pasti senang.      Kupandangi  kursi diujung  kanan meja makan  berbentuk ovale. Bangku  favorit Mark sekarang kosong, dan  kurasa selamanya akan dibiarkan seperti  itu, karena Kakekku memang takkan pernah tergantikan.      Patt  dan Simon  meremas kedua  bahuku secara bersamaan, mereka  selalu tahu apa yang ada dipikiranku  tanpa perlu kuutarakan. Aku tersenyum penuh  rasa terimakasih pada keduanya.      “ Makan  malam siap!"  teriak Mom bersemangat, waktu  Eliza meletakkan senampan besar  kalkun panggang makanan favorit Mark  keatas meja.      Dad  duduk  disebelah  bangku favorit  Mark, disebelahnya  Eliza dan Neil mengambil  tempat. Mom berhadapan dengan  Dad, lalu Charlie. Aku diapit oleh  Patt dan Simon dibarisan bangku Mom. Neil  memimpin doa, mengingat dia sekarang telah resmi  diangkat menjadi Pendeta rasanya sudah merupakan kewajiban  tak tertulis baginya untuk selalu memimpin setiap kegiatan ritual  didalam keluarga ini.      “ Jadi, bagaimana kabar para pemuda tampan dihadapanku ini?  Kudengar  kalian berdua  mengambil Hukum  di Universitas Pennyslvania?"  tanya Mom diantara kunyahan salad  kentang salmon saus lemonnya.      “ Ya, Mrs. Lawlett. Tapi  sekarang kami mengambil jalur  berbeda. Patt pidana, sedangkan saya  perdata, kami berdua mengambil libur Natal  lebih cepat demi Mark" jawab Simon sopan.       Membuatku  dan Patt memutar  mata geli padanya. Sungguh  deh, kalau tak ada Charlie bersama  kami berani taruhan dia tak bakal seformal  itu pada Ibuku.      Mom  melambaikan  tangan kearah  Simon. “Panggil aku  Claire seperti biasanya  saja"      “ Oh, ya. Tentu  saja" tukas Simon  canggung seraya mengunyah sepotong besar steak salmon.      Membuat  Patt menggigit bibir bawahnya menahan tawa.        “ Kurasa  kalian sudah  lama tidak bertemu  Tish secara langsung  seperti sekarang" kata  Neil sambil memotong salmonnya.      “ Lima  tahun tepatnya. Tiga tahun  lalu saat Tixxie mengabari  akan menghabiskan liburan musim  panas disini, kami berdua sudah terbang  ke Bali" jawab Simon dan melemparkan senyum  manisnya padaku.       “ Yeah, dan  itu membuatmu  nyaris terbang pulang  dan membatalkan acara liburan  kita" sahut Patt, tangannya menaruh  sepenuh pasta ravioli keju kedua diatas  piringnya.      “ Dan  siapa yang  menjadi pemarah  sepanjang hari karena  kehabisan tiket untuk pulang" balas  Simon.      Patt  sudah akan  membalas, namun  buru-buru kuhentikan  mereka sebelum terjadi  adu debat.       “ Kawan-kawan, sungguh, terimakasih  atas perhatiannya. Tak kusangka kalian  bisa semanis itu" kataku dengan nada manja  dibuat-buat.      Patt  dan Simon  mengangkat alis  membuat mimik muka pura-pura  jijik, Dad dan Neil melemparkan  pandangan penuh arti padaku.      “ Jadi, berapa  banyak gadis yang  sudah kalian kencani  selama tak bertemu putriku"  tanya Mom blak-blakkan.       Simon  tersedak  karenanya dan  mata Patt melebar. Charlie memutar  bola mata pada Mom tapi Ibuku malah  memandangi Ayah tiriku seakan menantang. “ Kenapa? Memangnya  ada yang salah?"       “ Tidak  Mrs. Law....maksudku  Claire. Sangat wajar anda  menanyakan hal itu mengingat  betapa menariknya kami berdua sekarang" kata  Patt dengan rasa percaya diri berlebihan.       Dia  menyeringai  nakal pada Mom. Membuat  Ibuku terkikik pelan, bahkan  aku melihat seulas senyum diwajah  Eliza.      “ Jadi  sekarang  kalian single  atau bagaimana?" pertanyaan  Mom semakin menjurus.      Oh, demi  Tuhan. Terkadang  yang sering membuatku malu adalah Ibuku. “ Mom?!"      “ Claire?!"      Teriakku  dan Charlie  berbarengan. Penuh  nada mengingatkan. Dad  menarik nafas panjang melihat  kelakuan Ibuku yang tak pernah  berubah, dan kurasa takkan pernah.      Patt  dan Simon  seperti habis  menelan kodok hidup. “ Well, sulit  dijelaskan. Antara 'ya' dan 'tidak' "  jawab Simon kalem, berusaha tetap tenang.      “Apa bisa lebih kau perjelas, anak muda?" tuntut  Mom. Nada bicaranya begitu santai, tak mempedulikan  fakta semua orang tengah memelototinya      “ ‘Tidak’  untukku dan  ‘Ya’ untuknya " tukas  Simon tenang, menuding pemuda  disebelah kiriku.      Tampang  Patt seperti  habis menginggit  lidahnya sendiri. “ Hei, semua  itu hanya hubungan satu malam"  semburnya tanpa berpikir panjang.      Seisi  ruangan  dibuat terpana  oleh jawaban Patt, butuh  waktu cukup lama baginya untuk  menyadari efek perkataannya. “ Maksudku  kencan satu hari"    Patt  berusaha  membetulkan ucapannya.     Dad berdeham, Charlie tampak kaku, namun sudah terlambat, Eliza terlanjur  memberikan penilaian negatif melalui  sudut matanya. Dan itu bukan hal  baik. Eliza memang terbilang 'kuno' mengenai hubungan percintaan ketimbang Ibuku. Meskipun sebetulnya itu hal baik juga.      Aku  memelototi  Mom, merasa kesal  karena dia paling jago  merusak suasana. Untungnya  guyonan Dad dan Charlie mampu  mencairkan suasana hingga makan malam  berakhir.      “ Kamu  lihat raut  muka Ibu tirimu? Kupikir  dia akan melemparkan pisau ke  dahiku" canda Patt.      Kami  bertiga  berada diberanda  depan sekarang. Simon  dan aku melemparkan pandangan  mematikan kearahnya.      Patt  melirik  arlojinya, wajahnya  mendadak cerah. “ Hei! Aku  ada ide bagus untuk melewatkan  malam pertama pertemuan kita dengan  Tix.." lalu menyeringai nakal padaku.      Dan  aku benci  setiap kali  Patt mempraktekkan  rencana bodoh yang ada dalam kepalanya. Sebab biasanya selalu berakhir dengan kami terlibat masalah bersama       Semoga kali ini tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD