Patt dan Simon datang tepat pukul 19.00 untuk acara makan malam keluargaku. Keduanya tampak sangat tampan dalam cara bertolak belakang.
Patt terlihat santai dalam kaos ketat putih memperlihatkan bisep perutnya, jeans biru robek, dan sandal. Sementara Simon tampil rapi mengenakan hem lengan pendek merah, jeans hitam, sepatu kets coklat. Aku tak bisa tak berpuas diri saat mereka memandangiku dalam kebisuan, efek dari hot pants biru, dan kaos hitam ketat berkerah yang kupakai malam ini.
Eliza mempersilahkan mereka masuk, dan Simon, seperti biasa selalu tahu cara mengesankan seseorang. Dia memberikan rangkaian lili, mawar putih, dan anggrek ungu yang sebetulnya bunga-bunga favoritku kepada Ibu Tiriku. Eliza tersenyum pada Simon lalu mengerling kearahku secara sembunyi-sembunyi ketika kami menuju meja makan.
Dad, Charlie, dan Neil sedang membicarakan proyek terbaru drainase kota. Mom, dan Eliza dibantu beberapa pelayan baru keluarga Pannabaker sibuk menata peralatan makan diatas meja. Senang rasanya melihat keluarga ‘besarku’ akur, dalam hati berdoa agar kondisi seperti ini akan berlangsung selamanya. Aku rasa Mark juga pasti senang.
Kupandangi kursi diujung kanan meja makan berbentuk ovale. Bangku favorit Mark sekarang kosong, dan kurasa selamanya akan dibiarkan seperti itu, karena Kakekku memang takkan pernah tergantikan.
Patt dan Simon meremas kedua bahuku secara bersamaan, mereka selalu tahu apa yang ada dipikiranku tanpa perlu kuutarakan. Aku tersenyum penuh rasa terimakasih pada keduanya.
“ Makan malam siap!" teriak Mom bersemangat, waktu Eliza meletakkan senampan besar kalkun panggang makanan favorit Mark keatas meja.
Dad duduk disebelah bangku favorit Mark, disebelahnya Eliza dan Neil mengambil tempat. Mom berhadapan dengan Dad, lalu Charlie. Aku diapit oleh Patt dan Simon dibarisan bangku Mom. Neil memimpin doa, mengingat dia sekarang telah resmi diangkat menjadi Pendeta rasanya sudah merupakan kewajiban tak tertulis baginya untuk selalu memimpin setiap kegiatan ritual didalam keluarga ini.
“ Jadi, bagaimana kabar para pemuda tampan dihadapanku ini? Kudengar kalian berdua mengambil Hukum di Universitas Pennyslvania?" tanya Mom diantara kunyahan salad kentang salmon saus lemonnya.
“ Ya, Mrs. Lawlett. Tapi sekarang kami mengambil jalur berbeda. Patt pidana, sedangkan saya perdata, kami berdua mengambil libur Natal lebih cepat demi Mark" jawab Simon sopan.
Membuatku dan Patt memutar mata geli padanya. Sungguh deh, kalau tak ada Charlie bersama kami berani taruhan dia tak bakal seformal itu pada Ibuku.
Mom melambaikan tangan kearah Simon. “Panggil aku Claire seperti biasanya saja"
“ Oh, ya. Tentu saja" tukas Simon canggung seraya mengunyah sepotong besar steak salmon.
Membuat Patt menggigit bibir bawahnya menahan tawa.
“ Kurasa kalian sudah lama tidak bertemu Tish secara langsung seperti sekarang" kata Neil sambil memotong salmonnya.
“ Lima tahun tepatnya. Tiga tahun lalu saat Tixxie mengabari akan menghabiskan liburan musim panas disini, kami berdua sudah terbang ke Bali" jawab Simon dan melemparkan senyum manisnya padaku.
“ Yeah, dan itu membuatmu nyaris terbang pulang dan membatalkan acara liburan kita" sahut Patt, tangannya menaruh sepenuh pasta ravioli keju kedua diatas piringnya.
“ Dan siapa yang menjadi pemarah sepanjang hari karena kehabisan tiket untuk pulang" balas Simon.
Patt sudah akan membalas, namun buru-buru kuhentikan mereka sebelum terjadi adu debat.
“ Kawan-kawan, sungguh, terimakasih atas perhatiannya. Tak kusangka kalian bisa semanis itu" kataku dengan nada manja dibuat-buat.
Patt dan Simon mengangkat alis membuat mimik muka pura-pura jijik, Dad dan Neil melemparkan pandangan penuh arti padaku.
“ Jadi, berapa banyak gadis yang sudah kalian kencani selama tak bertemu putriku" tanya Mom blak-blakkan.
Simon tersedak karenanya dan mata Patt melebar. Charlie memutar bola mata pada Mom tapi Ibuku malah memandangi Ayah tiriku seakan menantang. “ Kenapa? Memangnya ada yang salah?"
“ Tidak Mrs. Law....maksudku Claire. Sangat wajar anda menanyakan hal itu mengingat betapa menariknya kami berdua sekarang" kata Patt dengan rasa percaya diri berlebihan.
Dia menyeringai nakal pada Mom. Membuat Ibuku terkikik pelan, bahkan aku melihat seulas senyum diwajah Eliza.
“ Jadi sekarang kalian single atau bagaimana?" pertanyaan Mom semakin menjurus.
Oh, demi Tuhan. Terkadang yang sering membuatku malu adalah Ibuku. “ Mom?!"
“ Claire?!"
Teriakku dan Charlie berbarengan. Penuh nada mengingatkan. Dad menarik nafas panjang melihat kelakuan Ibuku yang tak pernah berubah, dan kurasa takkan pernah.
Patt dan Simon seperti habis menelan kodok hidup. “ Well, sulit dijelaskan. Antara 'ya' dan 'tidak' " jawab Simon kalem, berusaha tetap tenang.
“Apa bisa lebih kau perjelas, anak muda?" tuntut Mom. Nada bicaranya begitu santai, tak mempedulikan fakta semua orang tengah memelototinya
“ ‘Tidak’ untukku dan ‘Ya’ untuknya " tukas Simon tenang, menuding pemuda disebelah kiriku.
Tampang Patt seperti habis menginggit lidahnya sendiri. “ Hei, semua itu hanya hubungan satu malam" semburnya tanpa berpikir panjang.
Seisi ruangan dibuat terpana oleh jawaban Patt, butuh waktu cukup lama baginya untuk menyadari efek perkataannya. “ Maksudku kencan satu hari"
Patt berusaha membetulkan ucapannya.
Dad berdeham, Charlie tampak kaku, namun sudah terlambat, Eliza terlanjur memberikan penilaian negatif melalui sudut matanya. Dan itu bukan hal baik. Eliza memang terbilang 'kuno' mengenai hubungan percintaan ketimbang Ibuku. Meskipun sebetulnya itu hal baik juga.
Aku memelototi Mom, merasa kesal karena dia paling jago merusak suasana. Untungnya guyonan Dad dan Charlie mampu mencairkan suasana hingga makan malam berakhir.
“ Kamu lihat raut muka Ibu tirimu? Kupikir dia akan melemparkan pisau ke dahiku" canda Patt.
Kami bertiga berada diberanda depan sekarang. Simon dan aku melemparkan pandangan mematikan kearahnya.
Patt melirik arlojinya, wajahnya mendadak cerah. “ Hei! Aku ada ide bagus untuk melewatkan malam pertama pertemuan kita dengan Tix.." lalu menyeringai nakal padaku.
Dan aku benci setiap kali Patt mempraktekkan rencana bodoh yang ada dalam kepalanya. Sebab biasanya selalu berakhir dengan kami terlibat masalah bersama
Semoga kali ini tidak.