RUMAH KAYU.

854 Words
     Setengah  jam kemudian  aku sudah berada  diatas rumah kayu tanpa  berpamitan dulu pada keluargaku, tempat  permainan favorit kami bertiga sejak kecil. Secara  tak tertulis telah menjadi rumah kedua kami, nyaris  setiap hari sepulang sekolah aku, Patt, dan Simon datang  kemari meski hanya sekedar tidur siang. Terkadang kami juga suka membuat pesta sendiri apabila salah satu dari kami hendak berulang tahun dimalam sebelumnya. Intinya. Ini adalah tempat penuh memori kebahagiaan yang menjadi saksi hidup persahabatan kami sejak kecil.      Rumah  kayu dibangun  diatas pohon elm  raksasa bagian halaman  belakang keluarga Tuddington, Dad  dan Eric, Ayah Simonlah yang membuatkannya  untuk kami. Setelah rengekan tak kunjung henti  selama dua minggu lamanya.      Terbuat  dari mahoni, ruangan  seluas dua belas kali sepuluh meter  ini mampu masih berisikan beberapa barang  kami saat masih kecil.       Terdapat  rak kecil  disudut kiri, dulu  diisi oleh aneka komik  favorit kami tapi sekarang  mereka sudah menggantinya dengan  berbagai majalah dewasa khusus pria. Sebagai  tambahan ada tv kecil, playstation tiga, dan kasur  air ukuran single. Tempat favorit kami berebutan untuk tidur.      “ Kalian  pasti sudah  bekerja keras  untuk merawatnya...”  kataku tak bisa menyembunyikan  kegembiraan, sembari mataku melahap  seisi ruangan.      “ Maksudmu  ‘aku sudah bekerja  keras merawatnya’?" timpal  Simon membenarkan dengan nada  menyindir.      Kami  bertiga  tertawa bersama.    “ Hei! Jangan  lupa akulah yang  membuat rumah kayu  ini menjadi berwarna" potong  Patt tak terima.       Sepanjang  dinding terpasang  foto kami masa kecil. Aku  mengenal mereka berdua sejak  duduk dibangku taman kanak-kanak, secara  teknis keluargaku dan Simon menjadi tetangga  dekat karena rumah kami berhadapan namun kehadiran  Blaze sebagai penghuni baru diblok belakang rumah kami  semakin menambah warna. Patt yang aktif, dan si cerdas Simon  langsung menjadi sahabat baik.       Seiring  berjalannya  waktu, Patt telah  menjadi Kakak, sahabat, sekaligus  pengawal terbaikku. Enam tahun lalu  dia pernah pulang kerumah dipenuhi tubuh  memar akibat melindungiku dari godaan senior  bertubuh lebih besar dua kali darinya, saat dimarahi  habis-habisan oleh Ibunya, Patt bahkan tak membela diri.       Berbeda  jauh dengan  Simon yang selalu  mendapat cap ‘anak baik-baik’, Patt  tak mempedulikan anggapan orang lain  terhadapnya, namun aku mengenal pemuda itu  lebih baik dari dirinya sendiri.      Patt  akan melakukan  apapun demi orang-orang  yang dia cintai meski nyawa  taruhannya, keloyalan dan kesetiannya  telah dibuktikan melalui persahabatan kami. Dia  rela menomorduakan keinginan pribadinya demi kami. Itulah  alasan mengapa terkadang aku lebih merindukan Patt ketimbang  Simon.      “ Masih  ingat ini?" suara  Simon menyadarkanku  dari lamunan pada Patt.      Aku  melirik  kotak berbentuk  peti harta karun  ditangan Simon, cat  keemasannya sudah terkelupas, namun  gemboknya masih terpasang ditempat. Jelas  sekali benda itu telah dijaga cukup baik.      “ Kotak  harta karun!" teriakku  kegirangan.       “ Terakhir  kali kita memasukkan  ‘rahasia’ kedalam peti  ini enam tahun lalu, kita  berjanji untuk membukanya jika  saatnya tepat. Kurasa malam ini adalah  waktunya" tukas Patt. Menatap kotak itu cukup  lama.      Aku  melompat  kegirangan  mengambil kotak  tersebut dari tangan  Simon, dengan penuh semangat  mengulurkan tanganku kearah Patt. “ Berikan  padaku kuncinya"      Ekspresi  wajah Patt  berubah geli  sesaat, dia berjalan  kearah rak disudut ruangan  lalu mengambil kunci usang dari  dalam toples putih kecil dan memberikannya  padaku. Kami bertiga duduk membentuk lingkaran, mata  kami tampak sangat waspada seakan kotak tersebut berisi  harta karun sungguhan.      Terdengar  bunyi ‘klik’  dan aroma lembab  langsung menyerbu penciumanku. Sewaktu  masih kecil kotak ini tampak begitu besar, tapi  sekarang, dibandingkan brangkas milik Mom rasanya tak  ada sepersepuluhnya.      Kami  secara  bergiliran  mengeluarkan  satu persatu isinya. Mulai  dari komik Spiderman edisi awal  milik Simon, buku cerita ‘Peterpan’ pemberian  Dad dihari ulangtahun ketigaku, kaos kaki usang  punya Patt saat merayakan natal bersama kami diusia  tujuh, serta masih banyak lagi benda berharga yang kami  anggap rahasia saat masih kecil.      “ Apa  ini?" tanyaku.  Seraya mengeluarkan  benda terakhir dari dalam  kotak.      Sebuah  cincin dan  mahkota dari  akar bunga liar, warnanya  sudah tak hijau seperti dulu  lagi namun masih tetap berbentuk. Mataku  melebar saat sepercik kenangan masuk kedalam  memoriku, dan akupun tak bisa berhenti tertawa  sesudahnya.      “ Bukankah  ini....” ucapan  Simon terputus.      “Benda  yang kalian  pakai untuk melamarku  dihari ulang tahunku ke sembilan. Apakah kalian masih ingat?" tanyaku  pada kedua pemuda dengan mata berair akibat tawa.       Tapi  reaksi  yang kudapatkan  dari mereka berdua  justru sebaliknya. Patt  dan Simon tampak tersinggung, alih-alih  ikut tertawa raut wajah mereka menampakkan  keseriusan.      “ Itu  adalah hari  dimana aku dan  Simon melamarmu secara  bersamaan" nada bicara Patt  menjadi berat.      Aku  berhenti  tertawa. “ Ya. Kalian  ingin aku memilih siapa  yang nanti bakal menjadi calon  suamiku didepan altar"      Patt  dan Simon  membisu seribu  bahasa, mendadak aku  merasakan aura tak nyaman.      “ Oh, ayolah. Itu  kan cuma janji bodoh  anak kecil" godaku berusaha  mencairkan suasana.      Tanpa  diduga mimik  muka Patt berubah  mengeras, dengan rahang  terkatup dia menjawab. “ Ya. Benar, Cuma  janji  bodoh"      Hatiku  mencelos, ya  ampun, mereka berdua  tak mungkin serius kan?      Aku  mencoba  meminta bantuan  pada Simon, takut  kalau-kalau Patt berusaha  mengerjaiku. Sayangnya kepastian  yang kudapat melalui sepasang mata  abu-abu Simon justru membuatku semakin  cemas dan merasa tidak enak.      Simon  mengalihkan  muka, dia berdiri  dan berkata dengan  suara tegas. “ Sebaiknya  kita segera kembali, hari  sudah mulai larut. Apalagi tadi  kamu belum berpamitan pada keluargamu kalau mau pergi ke tempat ini  kan, Tixxie?"  Tanpa  membantah  aku menurutinya, menyadari  kecanggungan aneh menyeruak. Kami  memberesi barang-barang dalam diam, bahkan  saat mereka berdua mengantarku pulang sampai  ke pintu depan tak satupun berbicara. Satu-satunya  yang kutahu adalah, ekspresi seperti orang saat patah hati  mereka berdua sebelum pintu kututup.         Aku tahu, karena dulu, aku pernah memperlihatkan ekspresi seperti itu pada salah satu dari mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD