Setengah jam kemudian aku sudah berada diatas rumah kayu tanpa berpamitan dulu pada keluargaku, tempat permainan favorit kami bertiga sejak kecil. Secara tak tertulis telah menjadi rumah kedua kami, nyaris setiap hari sepulang sekolah aku, Patt, dan Simon datang kemari meski hanya sekedar tidur siang. Terkadang kami juga suka membuat pesta sendiri apabila salah satu dari kami hendak berulang tahun dimalam sebelumnya. Intinya. Ini adalah tempat penuh memori kebahagiaan yang menjadi saksi hidup persahabatan kami sejak kecil.
Rumah kayu dibangun diatas pohon elm raksasa bagian halaman belakang keluarga Tuddington, Dad dan Eric, Ayah Simonlah yang membuatkannya untuk kami. Setelah rengekan tak kunjung henti selama dua minggu lamanya.
Terbuat dari mahoni, ruangan seluas dua belas kali sepuluh meter ini mampu masih berisikan beberapa barang kami saat masih kecil.
Terdapat rak kecil disudut kiri, dulu diisi oleh aneka komik favorit kami tapi sekarang mereka sudah menggantinya dengan berbagai majalah dewasa khusus pria. Sebagai tambahan ada tv kecil, playstation tiga, dan kasur air ukuran single. Tempat favorit kami berebutan untuk tidur.
“ Kalian pasti sudah bekerja keras untuk merawatnya...” kataku tak bisa menyembunyikan kegembiraan, sembari mataku melahap seisi ruangan.
“ Maksudmu ‘aku sudah bekerja keras merawatnya’?" timpal Simon membenarkan dengan nada menyindir.
Kami bertiga tertawa bersama.
“ Hei! Jangan lupa akulah yang membuat rumah kayu ini menjadi berwarna" potong Patt tak terima.
Sepanjang dinding terpasang foto kami masa kecil. Aku mengenal mereka berdua sejak duduk dibangku taman kanak-kanak, secara teknis keluargaku dan Simon menjadi tetangga dekat karena rumah kami berhadapan namun kehadiran Blaze sebagai penghuni baru diblok belakang rumah kami semakin menambah warna. Patt yang aktif, dan si cerdas Simon langsung menjadi sahabat baik.
Seiring berjalannya waktu, Patt telah menjadi Kakak, sahabat, sekaligus pengawal terbaikku. Enam tahun lalu dia pernah pulang kerumah dipenuhi tubuh memar akibat melindungiku dari godaan senior bertubuh lebih besar dua kali darinya, saat dimarahi habis-habisan oleh Ibunya, Patt bahkan tak membela diri.
Berbeda jauh dengan Simon yang selalu mendapat cap ‘anak baik-baik’, Patt tak mempedulikan anggapan orang lain terhadapnya, namun aku mengenal pemuda itu lebih baik dari dirinya sendiri.
Patt akan melakukan apapun demi orang-orang yang dia cintai meski nyawa taruhannya, keloyalan dan kesetiannya telah dibuktikan melalui persahabatan kami. Dia rela menomorduakan keinginan pribadinya demi kami. Itulah alasan mengapa terkadang aku lebih merindukan Patt ketimbang Simon.
“ Masih ingat ini?" suara Simon menyadarkanku dari lamunan pada Patt.
Aku melirik kotak berbentuk peti harta karun ditangan Simon, cat keemasannya sudah terkelupas, namun gemboknya masih terpasang ditempat. Jelas sekali benda itu telah dijaga cukup baik.
“ Kotak harta karun!" teriakku kegirangan.
“ Terakhir kali kita memasukkan ‘rahasia’ kedalam peti ini enam tahun lalu, kita berjanji untuk membukanya jika saatnya tepat. Kurasa malam ini adalah waktunya" tukas Patt. Menatap kotak itu cukup lama.
Aku melompat kegirangan mengambil kotak tersebut dari tangan Simon, dengan penuh semangat mengulurkan tanganku kearah Patt. “ Berikan padaku kuncinya"
Ekspresi wajah Patt berubah geli sesaat, dia berjalan kearah rak disudut ruangan lalu mengambil kunci usang dari dalam toples putih kecil dan memberikannya padaku. Kami bertiga duduk membentuk lingkaran, mata kami tampak sangat waspada seakan kotak tersebut berisi harta karun sungguhan.
Terdengar bunyi ‘klik’ dan aroma lembab langsung menyerbu penciumanku. Sewaktu masih kecil kotak ini tampak begitu besar, tapi sekarang, dibandingkan brangkas milik Mom rasanya tak ada sepersepuluhnya.
Kami secara bergiliran mengeluarkan satu persatu isinya. Mulai dari komik Spiderman edisi awal milik Simon, buku cerita ‘Peterpan’ pemberian Dad dihari ulangtahun ketigaku, kaos kaki usang punya Patt saat merayakan natal bersama kami diusia tujuh, serta masih banyak lagi benda berharga yang kami anggap rahasia saat masih kecil.
“ Apa ini?" tanyaku. Seraya mengeluarkan benda terakhir dari dalam kotak.
Sebuah cincin dan mahkota dari akar bunga liar, warnanya sudah tak hijau seperti dulu lagi namun masih tetap berbentuk. Mataku melebar saat sepercik kenangan masuk kedalam memoriku, dan akupun tak bisa berhenti tertawa sesudahnya.
“ Bukankah ini....” ucapan Simon terputus.
“Benda yang kalian pakai untuk melamarku dihari ulang tahunku ke sembilan. Apakah kalian masih ingat?" tanyaku pada kedua pemuda dengan mata berair akibat tawa.
Tapi reaksi yang kudapatkan dari mereka berdua justru sebaliknya. Patt dan Simon tampak tersinggung, alih-alih ikut tertawa raut wajah mereka menampakkan keseriusan.
“ Itu adalah hari dimana aku dan Simon melamarmu secara bersamaan" nada bicara Patt menjadi berat.
Aku berhenti tertawa. “ Ya. Kalian ingin aku memilih siapa yang nanti bakal menjadi calon suamiku didepan altar"
Patt dan Simon membisu seribu bahasa, mendadak aku merasakan aura tak nyaman.
“ Oh, ayolah. Itu kan cuma janji bodoh anak kecil" godaku berusaha mencairkan suasana.
Tanpa diduga mimik muka Patt berubah mengeras, dengan rahang terkatup dia menjawab. “ Ya. Benar, Cuma janji bodoh"
Hatiku mencelos, ya ampun, mereka berdua tak mungkin serius kan?
Aku mencoba meminta bantuan pada Simon, takut kalau-kalau Patt berusaha mengerjaiku. Sayangnya kepastian yang kudapat melalui sepasang mata abu-abu Simon justru membuatku semakin cemas dan merasa tidak enak.
Simon mengalihkan muka, dia berdiri dan berkata dengan suara tegas. “ Sebaiknya kita segera kembali, hari sudah mulai larut. Apalagi tadi kamu belum berpamitan pada keluargamu kalau mau pergi ke tempat ini kan, Tixxie?"
Tanpa membantah aku menurutinya, menyadari kecanggungan aneh menyeruak. Kami memberesi barang-barang dalam diam, bahkan saat mereka berdua mengantarku pulang sampai ke pintu depan tak satupun berbicara. Satu-satunya yang kutahu adalah, ekspresi seperti orang saat patah hati mereka berdua sebelum pintu kututup.
Aku tahu, karena dulu, aku pernah memperlihatkan ekspresi seperti itu pada salah satu dari mereka.