Aku nyaris menancapkan pisau ke d**a Patt malam itu. Siapa suruh dia muncul seperti pencuri, mengendap-endap naik keatas balkon masuk kedalam kamarku. Untungnya kemampuan bertarung Patt lebih hebat dari dugaanku, tanpa meyakitiku dia berhasil menjatuhkan pisau lipat milikku kelantai kayu lalu menjatuhkanku keatas ranjang. Ketika dia berada dalam posisi menindihku itulah aku mengenali sosok aslinya.
“ Patt!! Dasar gila! Apa yang kamu lakukan!!" jeritku, masih dalam posisi tubuhnya diatasku. “ Hampir saja aku mem....” kata-kataku terputus.
Duniaku terasa membeku. Jarum jam seakan tak berdetak lagi. Aku terdiam dan bisa mendengar nyaris segalanya.
Aku mampu mendengar suara jangkrik diluar, kaokan burung Gagak yang menakutkan diatas rumah. Suara tetesan air dari kran yang kurang rapat ditutup dari dalam kamar mandi. Hingga degupan jantungku yang berdebar begitu kencang.
Karena, secara tiba-tiba, bibir lembut Patt mendarat didalam mulutku.
Awalnya aku sangat bingung. Namun saat lidahnya mendorong masuk kedalam mulutku, rasa manis bercampur sensasi kenikmatan bergelenyar kesekujur tubuh. Kubiarkan bibirku membalas ciumannya, lidah kami saling bertautan, rangsangan untuk berbuat lebih memenuhi otakku. Patt memelukku erat saat ciuman kami terhenti, ketika membuka mata kurasakan nafas kami berdua terengah-engah. Mata emerald cerdasnya menusukku hingga ke tulang.
‘ Oh, Tuhan, tidak’ batinku dalam hati, seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“ Aku mencintaimu Tish. Selalu...” bisik Patt lembut didaun telingaku, menimbulkan sensasi menggelitik luar biasa.
Spontan aku bangkit dari ranjangku, nyaris menendangnya hingga terjatuh. Kupeluk tubuhku erat, kukencangkan ikatan piamaku.
“ Itulah yang ingin kusampaikan padamu sejak dulu, saat pesta ulang tahun terakhirmu disini lima tahun lalu. Dan, kumohon, tolong jangan takut padaku" bisiknya berdiri dari ranjangku.
Melakui cahaya lampu taman, aku dapat melihat kecemasannya, ketakutannya dan juga gairah didalam matanya.
Otakku berusaha mencerna segalanya dengan cepat. “ Menurutmu gadis mana yang tak takut saat sahabat baiknya mengendap-endap tengah malam masuk kekamarnya, menyergapnya, lalu menyatakan cinta" kataku dengan nada meninggi. Masih sulit menerima kenyataan dari kata-katanya barusan.
Patt menggelengkan kepalanya. “ Maafkan aku, melihatmu dan Simon, memikirkan kedekatan kalian, membuatku begitu cemburu dan tak bisa menahannya lagi" dia menatapku dengan ekspresi sedih sesungguhnya.
Aku tahu dia jujur.
Perutku terasa melorot. “ Simon? “
Patt mengangguk. “ Mengingat banyaknya perbedaan diantara kami justru sungguh lucu karena kesamaan kami adalah mencintai gadis yang sama. Selama bertahun-tahun ini"
Jantungku bertalu-talu dirongganya. “ Sejak kapan?" tanyaku dengan suara tercekat.
Patt tampak murung. “ Saat kamu koma tujuh tahun lalu akibat jatuh dari atas tebing ketika kita sedang berkemah, masih ingat. Simon nyaris menjadi gila, dan rasanya aku mau mati saja. Ketika memikirkan apa yang bisa kulakukan tanpamu jika waktu itu matamu tak terbuka lagi....rasanya sangat... " kalimatnya tertahan diujung lidahnya.
Patt maju menghampiriku, kali ini aku tak menghindar. Tangan kokohnya memegang lembut pipiku, meski kasar terasa sangat menyenangkan.
“ Aku tak bisa menjadi diriku sendiri saat kamu pergi Tish. Tukang mabuk, doyan berkelahi, dan sejak kuliah nyaris bercinta dengan wanita berbeda tiap malam, aku benar-benar nyaris gila! Aku tahu ini alasan yang payah karena bagaimanapun juga aku sadar aku tetap melakukan semua hal buruk itu tapi itulah kenyataannya. Aku menjadi sangat kacau"
“ Patt aku...”
“ Aku ingin sekali menemuimu di New York, tapi terlalu pengecut untuk mengungkapkan kebenarannya. Dan ketika bertemu secara langsung denganmu lagi setelah lima tahun tadi pagi, keberanianku kembali muncul. Dan saat Simon berkata padaku kalau akan mengutarakan perasaannya padamu, monster dalam diriku meledak. Aku dipenuhi kecemburuan Tish, dan aku sadar bahwa sudah tak ada waktu untuk menunggu lebih lama lagi"
Patt mencengkram kuat bahuku, nafasnya tersenggal-sengal seolah menyatakan cinta sama dengan perlombaan lari maraton. Dia menungguku berbicara.
“ Darimana aku tahu kalau kalian tak mempermainkanku?"tanyaku. Memberanikan diri mengungkapkan ketakutanku.
Mata Patt memerangkap jiwaku, mencoba mengajakku jatuh bersamanya ke jurang terdalam. Tanpa ragu dia menundukkan kepalanya lalu menciumku lagi. Kali ini kurasakan tak ada nafsu menggebu seperti sebelumnya, hanya sebuah kepastian, jawaban atas pengharapan. Dalam, dan sangat indah....
Aku tak bisa menahan diri lagi.
Kubiarkan Patt menggendongku keatas ranjang, sementara bibirnya masih berada di mulutku. Aku mengerang pelan saat tangan panasnya menyentuh pahaku, membuat piama terusan selututku tersingkap naik keatas. Mendadak Patt melepaskan dirinya secara perlahan dari atas tubuhku.
“ Itulah buktinya...” tukasnya dengan nafas tersenggal.
Bulu halusku berdiri, seluruh syarafku menegang meminta lebih.
“ Aku tahu kamu memiliki perasaan pada Simon sejak dulu, tapi dari caramu menciumku kurasa aku tetap boleh berharap bukan? " Patt mengerling padaku. Tapi bukan sebagai bentuk menggoda, melainkan sebuah harapan.
Susah payah aku menelan ludah, tenggorokanku terasa perih karena kering. “ Kamu memberiku waktu?"
Patt membantuku bangun dari ranjangku. “ Kami, lebih tepatnya. Aku tahu tak bisa memaksamu Tixxie, dan juga takkan pernah mau mendapatkanmu dengan cara yang...” kalimatnya terpotong, matanya membara menatap kearah kasurku.
“ Aku masih perawan “ kataku berani. Tak pernah merasakan malu saat menyampaikan pada seseorang mengenai fakta ini. Aku justru menganggapnya sebagai sebuah kebanggaan.
Patt tertawa. “ Aku tahu.Karena itu". Dia meraihku kedalam pelukannya. “ Aku hanya ingin melindungimu Tixxie, dari apapun didunia. Bahkan dari diriku sendiri. Dan akan tetap kulakukan meskipun nantinya bukan aku yang dipilih...”
Kesedihan dan ketakutannya menjalariku, kudongakkan kepala dan menciumnya tanpa aba-aba, meski sempat terkejut tapi Patt menikmatinya.
Kami berciuman cukup lama sebelum dia memutuskan pergi dari kamarku sebelum terpergok. Dia memberiku kecupan dalam didahi sesaat sebelum melompat keluar dari balkon. Sambil memandangi sosok gelapnya menyusup diantara jalanan, hatiku tak bisa menahan diri untuk bersenandung riang.
‘ Ksatria hitam itu milikku'