KSATRIA HITAM.

833 Words
Aku  nyaris  menancapkan  pisau ke d**a  Patt malam itu. Siapa  suruh dia muncul seperti  pencuri, mengendap-endap naik  keatas balkon masuk kedalam kamarku. Untungnya  kemampuan bertarung Patt lebih hebat dari dugaanku, tanpa  meyakitiku dia berhasil menjatuhkan pisau lipat milikku kelantai  kayu lalu menjatuhkanku keatas ranjang. Ketika dia berada dalam posisi  menindihku itulah aku mengenali sosok aslinya.      “ Patt!! Dasar  gila! Apa yang kamu  lakukan!!" jeritku, masih  dalam posisi tubuhnya diatasku. “ Hampir  saja aku mem....” kata-kataku terputus.      Duniaku  terasa membeku. Jarum  jam seakan tak berdetak lagi. Aku terdiam dan bisa mendengar nyaris segalanya.     Aku  mampu  mendengar  suara jangkrik  diluar, kaokan burung Gagak yang menakutkan  diatas rumah. Suara tetesan air dari kran yang kurang rapat ditutup dari dalam kamar mandi. Hingga degupan jantungku yang berdebar begitu kencang.      Karena, secara tiba-tiba, bibir  lembut Patt mendarat didalam mulutku.      Awalnya  aku sangat  bingung. Namun  saat lidahnya mendorong  masuk kedalam mulutku, rasa  manis bercampur sensasi kenikmatan  bergelenyar kesekujur tubuh. Kubiarkan  bibirku membalas ciumannya, lidah kami saling  bertautan, rangsangan untuk berbuat lebih memenuhi  otakku. Patt memelukku erat saat ciuman kami terhenti, ketika  membuka mata kurasakan nafas kami berdua terengah-engah. Mata emerald  cerdasnya menusukku hingga ke tulang.       ‘ Oh, Tuhan, tidak’ batinku  dalam hati, seakan tahu apa  yang akan terjadi selanjutnya.      “ Aku  mencintaimu  Tish. Selalu...”  bisik Patt lembut  didaun telingaku, menimbulkan  sensasi menggelitik luar biasa.      Spontan  aku bangkit  dari ranjangku, nyaris  menendangnya hingga terjatuh. Kupeluk  tubuhku erat, kukencangkan ikatan piamaku.      “ Itulah  yang ingin  kusampaikan padamu  sejak dulu, saat pesta  ulang tahun terakhirmu disini  lima tahun lalu. Dan, kumohon, tolong  jangan takut padaku" bisiknya berdiri  dari ranjangku.       Melakui cahaya lampu taman, aku dapat melihat kecemasannya, ketakutannya dan juga gairah didalam matanya.       Otakku  berusaha  mencerna segalanya  dengan cepat. “ Menurutmu  gadis mana yang tak takut  saat sahabat baiknya mengendap-endap  tengah malam masuk kekamarnya, menyergapnya, lalu  menyatakan cinta" kataku dengan nada meninggi. Masih sulit menerima kenyataan dari kata-katanya barusan.      Patt  menggelengkan  kepalanya. “ Maafkan  aku, melihatmu dan Simon, memikirkan  kedekatan kalian, membuatku begitu cemburu  dan tak bisa menahannya lagi" dia menatapku  dengan ekspresi sedih sesungguhnya.      Aku tahu dia jujur.      Perutku  terasa melorot. “ Simon? “   Patt  mengangguk. “ Mengingat  banyaknya perbedaan diantara  kami justru sungguh lucu karena  kesamaan kami adalah mencintai gadis  yang sama. Selama bertahun-tahun ini"      Jantungku  bertalu-talu  dirongganya. “ Sejak  kapan?" tanyaku dengan  suara tercekat.      Patt  tampak  murung. “ Saat  kamu koma tujuh  tahun lalu akibat  jatuh dari atas tebing  ketika kita sedang berkemah, masih  ingat. Simon nyaris menjadi gila, dan  rasanya aku mau mati saja. Ketika memikirkan  apa yang bisa kulakukan tanpamu jika waktu itu  matamu tak terbuka lagi....rasanya sangat... " kalimatnya  tertahan diujung lidahnya.       Patt  maju menghampiriku, kali  ini aku tak menghindar. Tangan  kokohnya memegang lembut pipiku, meski  kasar terasa sangat menyenangkan.    “ Aku  tak bisa menjadi  diriku sendiri saat  kamu pergi Tish. Tukang  mabuk, doyan berkelahi, dan  sejak kuliah nyaris bercinta  dengan wanita berbeda tiap malam, aku  benar-benar nyaris gila! Aku tahu ini alasan yang payah karena bagaimanapun juga aku sadar aku tetap melakukan semua hal buruk itu tapi itulah kenyataannya. Aku menjadi sangat kacau"      “ Patt  aku...”      “ Aku  ingin sekali  menemuimu di New  York, tapi terlalu pengecut  untuk mengungkapkan kebenarannya. Dan  ketika bertemu secara langsung denganmu  lagi setelah lima tahun tadi pagi, keberanianku  kembali muncul. Dan saat Simon berkata padaku kalau  akan mengutarakan perasaannya padamu, monster dalam diriku  meledak. Aku dipenuhi kecemburuan Tish, dan aku sadar bahwa sudah  tak ada waktu untuk menunggu lebih lama lagi"      Patt  mencengkram  kuat bahuku, nafasnya  tersenggal-sengal seolah  menyatakan cinta sama dengan  perlombaan lari maraton. Dia menungguku  berbicara.      “ Darimana  aku tahu kalau  kalian tak mempermainkanku?"tanyaku. Memberanikan  diri mengungkapkan ketakutanku.     Mata  Patt memerangkap  jiwaku, mencoba mengajakku  jatuh bersamanya ke jurang terdalam. Tanpa  ragu dia menundukkan kepalanya lalu menciumku  lagi. Kali ini kurasakan tak ada nafsu menggebu  seperti sebelumnya, hanya sebuah kepastian, jawaban atas  pengharapan. Dalam, dan sangat indah....      Aku  tak bisa  menahan diri  lagi.      Kubiarkan  Patt menggendongku  keatas ranjang, sementara  bibirnya masih berada di mulutku. Aku  mengerang pelan saat tangan panasnya menyentuh  pahaku, membuat piama terusan selututku tersingkap  naik keatas. Mendadak Patt melepaskan dirinya secara  perlahan dari atas tubuhku.     “ Itulah  buktinya...” tukasnya  dengan nafas tersenggal.      Bulu  halusku  berdiri, seluruh  syarafku menegang  meminta lebih.      “ Aku  tahu kamu  memiliki perasaan  pada Simon sejak dulu, tapi  dari caramu menciumku kurasa aku  tetap boleh berharap bukan? " Patt mengerling  padaku. Tapi bukan sebagai bentuk menggoda, melainkan  sebuah harapan.      Susah  payah aku  menelan ludah, tenggorokanku  terasa perih karena kering. “ Kamu  memberiku waktu?"      Patt  membantuku  bangun dari  ranjangku. “ Kami, lebih  tepatnya. Aku  tahu tak bisa  memaksamu Tixxie, dan  juga takkan pernah mau  mendapatkanmu dengan cara  yang...” kalimatnya terpotong, matanya  membara menatap kearah kasurku.      “ Aku  masih perawan “  kataku berani. Tak  pernah merasakan malu  saat menyampaikan pada seseorang  mengenai fakta ini. Aku justru menganggapnya  sebagai sebuah kebanggaan.      Patt  tertawa. “ Aku  tahu.Karena itu". Dia  meraihku kedalam pelukannya. “ Aku hanya  ingin melindungimu Tixxie, dari apapun didunia. Bahkan  dari diriku sendiri. Dan akan tetap kulakukan meskipun  nantinya bukan aku yang dipilih...”   Kesedihan  dan ketakutannya  menjalariku, kudongakkan  kepala dan menciumnya tanpa  aba-aba, meski sempat terkejut  tapi Patt menikmatinya.    Kami  berciuman  cukup lama  sebelum dia memutuskan  pergi dari kamarku sebelum  terpergok. Dia memberiku kecupan  dalam didahi sesaat sebelum melompat  keluar dari balkon. Sambil memandangi sosok  gelapnya menyusup diantara jalanan, hatiku tak bisa menahan diri untuk bersenandung  riang.                            ‘ Ksatria  hitam itu milikku'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD