Mom kembali ke New York pukul 08.00 pagi ini.
Setelah kejadian semalam dengan Patt kuputuskan untuk berada di Pennington sampai liburan Tahun Baru berakhir. Tak ada yang memprotesku, toh masa kuliahku tinggal tiga hari sebelum liburan musim dingin tiba.
“ Hentikan Mom, aku takkan pergi kemana-mana" ujarku dengan suara berat akibat kesulitan bernafas karena pelukannya.
Mom melepaskan pelukan lalu mencium pipiku. “ Jangan bertindak bodoh selama tidak bersamakuk ujarnya setengah mengancam. Membuatku dan Dad memutar mata secara berbarengan.
Charlie memelukku erat. “ Jaga dirimu baik-baik, aku tahu ada Ayahmu disini tapi...”
“ Kamu juga Ayahku" potongku cepat seraya memberikan senyuman paling lebar.
Charlie merasa terharu. Setelah menjabat tangan Dad, dia dan Mom segera masuk kebagian kursi penumpang Mercedes Benz merahnya. Howard melemparkan salam sopan padaku, lalu segera menstarter mobil. Mom melambaikan tangan dan dengan gaya kunonya meneriakkan kalimat kasih sayang untukku, yang dapat membuat warga seisi penghuni perumahan sekitar, yang sedang beraktifitas memperhatikanku sejenak.
“ Benar-benar perpisahan ala Creyson ya"
Suara kalem Simon membuatku nyaris terlonjak, aku berbalik menghadapnya. Pemuda itu secerah matahari pagi, mata abu-abunya seindah awan yang menggantung diatasku. Sekelebatan bayangan antara diriku dan Patt semalam membuatku kaku, rasanya sulit menatap Simon saat ini setelah mengetahui perasaan sebenarnya terhadapku. Juga fakta rasa manis ciuman Patt telah menempel seperti lem dalam ingatanku.
“ Hai...” kataku gugup.
Simon mencondongkan tubuhnya kedepan, aroma citrus bercampur bodywash khasnya kembali mencerahkan hatiku. Sudut matanya menelisikku dari bawah hingga ujung kepala. “ Ada apa Tix? Kamu tampak panik"
Sial! Batinku. Orang terakhir didunia ini yang tak bisa kutipu selain Mark dan Dad adalah Simon. Dia teramat cerdas dan sifatnya begitu peka sehingga bisa mengetahui kebohongan seseorang dalam beberapa detik.
“ Hanya sedikit melankolis karena Ibuku" jawabku berusaha tampak biasa. “ Ayo, kita sarapan seperti biasa" tanganku menarik lengannya menuju rumah.
Simon menahanku. “ Sebetulnya, aku ingin mengajakmu sarapan diluar. Keberatan?"
Menolak Simon sama sulitnya dengan tak menghiraukan rayuan Patt. “ Ok. Tentu saja. Tunggu sebentar, aku mau mengambil jaket" tukasku. Entah kenapa mendadak bersemangat.
Aku segera berbalik masuk kedalam rumah, mengambil sweater seadanya. Kamarku masih berantakan, dan piamaku semalam tergeletak begitu saja diatas kasur. Pikiranku melayang kembali pada Patt, mendadak sebuah ide nakal terbersit. Kuambil ponselku dan mengiriminya pesan.
To : ‘Patt’ B.
“ S mengajakku sarapan" - Tixxie –
Tak sampai semenit terdengar bunyi pesan terkirim. Kumasukkan ponselku kedalam saku celana dalam kondisi diam, setelah menata rambut sebentar aku bergegas menuju halaman depan. Simon tersenyum saat melihatku.
“ Jadi kita mau kemana?" tanyaku saat melangkah masuk kebagian bangku depan Ford silvernya.
“ Itulah arti K-E-J-U-T-A-N, manis" jawabnya lembut sambil membukakan pintu.
Aku tersenyum gembira. Sebab kejutan dalam kamus seorang Simon Tuddington bermakna ‘Luar biasa' dan ‘ Tak terlupakan'
Simon membawaku ke Danau Penn yang terletak ditengah Pennington Wood, dulu kami bertiga sangat sering menghabiskan waktu ditempat ini. Selain berpemandangan indah, air jernih hingga bisa melihat kekedalamannya, udara disekitar sini juga sangat hangat bahkan dimusim berangin kencang seperti sekarang.
Biasanya Danau Penn selalu dipenuhi turis, salah satu objek wisata paling wajib dikunjungi jika berkunjung ke Pennysylvania. Tapi beruntung pagi ini tak seramai biasanya, sehingga bisa mendapatkan tempat yang enak. Aku memilih karang raksasa tak terlalu berongga, Simon memarkir mobilnya tepat disebelah kami.
Aku memperhatikan punggung Simon yang mulai basah akibat sengatan matahari. Kaos hitam longgarnya tak mampu menutupi keindahan tubuhnya. Tampak sibuk menurunkan taplak meja untuk piknik, rantang serta beberapa kaleng soda. Rupanya Simon mengajakku sarapan sambil piknik pagi, hal sederhana tapi berkesan. Begitulah aku mengingat dirinya.
“Kamu sendiri yang membuat semuanya?" air liurku menetes melihat kelezatan sandwich ayam, canape tuna, dan salad buah.
Simon tersenyum simpul. “ Jangan lupa, aku keturunan seorang Juliete"
Juliete Hall Tuddington adalah ahli masak ternama dari Pennington, kudengar sejak dua tahun lalu sengaja membuka cabang restaurannya di Chicago agar bisa dekat dengan Suaminya yang juga tengah sibuk mengurusi perusahaan besi mereka disana.
“ Jadi, sudah berapa banyak pria yang kamu patahkan hatinya?" tanya Simon sambil menggigit pelan ujung sandwichnya.
“ Ermm....baru tiga, tapi percayalah mereka semua menyebalkan" jawabku sambil sibuk mengunyah satu gigitan besar sandwich. “ Kamu sendiri?"
Simon tertawa. “ Dengan yang terakhir, empat" jawabnya.
“ Mengapa kalian putus? Pasti kamu dianggap terlalu cerdas" godaku.
“ Karena semua mantanku menyadari aku tak pernah benar-benar bersama mereka" suara Simon berubah serius. Mata abu-abunya menatapku intens.
Susah payah kutelan sandwichku.’ Oh tidak', batinku, sesuatu dalam diriku mendadak goyah. Rasanya aku berhenti bernafas saat dia menundukkan kepalanya padaku, bibir kami begitu dekat. Aku nyaris berpikir dia akan menciumku saat tangannya mengelap sudut bibirku.
“ Saus...” tukasnya sambil nyengir. Lalu kembali fokus pada makanannya sendiri.
Dalam hati menggerutu. Aku lupa, sampai kapanpun Simon tetap akan menjadi ‘ Pangeran berkuda putih' untukku. Yang artinya dia akan melakukan segalanya sesuai aturan.