PANGERAN BERKUDA PUTIH.

734 Words
Mom  kembali  ke New York  pukul 08.00 pagi  ini.      Setelah  kejadian semalam  dengan Patt kuputuskan  untuk berada di Pennington  sampai liburan Tahun Baru berakhir. Tak  ada yang memprotesku, toh masa kuliahku tinggal  tiga hari sebelum liburan musim dingin tiba.      “ Hentikan  Mom, aku takkan  pergi kemana-mana"  ujarku dengan suara  berat akibat kesulitan  bernafas karena pelukannya.      Mom  melepaskan  pelukan lalu  mencium pipiku. “ Jangan  bertindak bodoh selama tidak  bersamakuk ujarnya setengah mengancam. Membuatku  dan Dad memutar mata secara berbarengan.      Charlie  memelukku  erat. “ Jaga  dirimu baik-baik, aku  tahu ada Ayahmu disini tapi...”      “ Kamu  juga Ayahku"  potongku cepat  seraya memberikan  senyuman paling lebar.      Charlie  merasa terharu. Setelah  menjabat tangan Dad, dia  dan Mom segera masuk kebagian  kursi penumpang Mercedes Benz merahnya. Howard  melemparkan salam sopan padaku, lalu segera menstarter  mobil. Mom melambaikan tangan dan dengan gaya kunonya meneriakkan  kalimat kasih sayang untukku, yang dapat membuat warga seisi penghuni  perumahan sekitar, yang sedang beraktifitas memperhatikanku sejenak.      “ Benar-benar  perpisahan ala  Creyson ya"        Suara  kalem Simon  membuatku nyaris  terlonjak, aku berbalik  menghadapnya. Pemuda itu secerah  matahari pagi, mata abu-abunya seindah  awan yang menggantung diatasku. Sekelebatan  bayangan antara diriku dan Patt semalam membuatku  kaku, rasanya sulit menatap Simon saat ini setelah mengetahui  perasaan sebenarnya terhadapku. Juga fakta rasa manis ciuman Patt  telah menempel seperti lem dalam ingatanku.      “ Hai...” kataku  gugup.      Simon  mencondongkan  tubuhnya kedepan, aroma  citrus bercampur bodywash  khasnya kembali mencerahkan  hatiku. Sudut matanya menelisikku  dari bawah hingga ujung kepala. “ Ada  apa Tix? Kamu tampak panik"      Sial! Batinku. Orang  terakhir didunia ini  yang tak bisa kutipu selain  Mark dan Dad adalah Simon. Dia  teramat cerdas dan sifatnya begitu peka sehingga  bisa mengetahui kebohongan seseorang dalam beberapa  detik.      “ Hanya  sedikit melankolis  karena Ibuku" jawabku  berusaha tampak biasa. “ Ayo, kita  sarapan seperti biasa" tanganku menarik  lengannya menuju rumah.      Simon  menahanku. “ Sebetulnya, aku  ingin mengajakmu sarapan diluar. Keberatan?"      Menolak  Simon sama  sulitnya dengan  tak menghiraukan rayuan  Patt. “ Ok. Tentu saja. Tunggu  sebentar, aku mau mengambil jaket" tukasku. Entah kenapa  mendadak bersemangat.      Aku  segera  berbalik  masuk kedalam  rumah, mengambil  sweater seadanya. Kamarku  masih berantakan, dan piamaku  semalam tergeletak begitu saja  diatas kasur. Pikiranku melayang kembali  pada Patt, mendadak sebuah ide nakal terbersit. Kuambil  ponselku dan mengiriminya pesan.      To : ‘Patt’ B.      “ S  mengajakku  sarapan" - Tixxie –      Tak  sampai  semenit terdengar  bunyi pesan terkirim. Kumasukkan  ponselku kedalam saku celana dalam  kondisi diam, setelah  menata rambut  sebentar aku bergegas  menuju halaman depan. Simon  tersenyum saat melihatku.      “ Jadi  kita mau  kemana?" tanyaku  saat melangkah masuk  kebagian bangku depan Ford  silvernya.      “ Itulah  arti K-E-J-U-T-A-N, manis" jawabnya  lembut sambil membukakan pintu.      Aku  tersenyum  gembira. Sebab  kejutan dalam kamus  seorang Simon Tuddington  bermakna ‘Luar  biasa' dan  ‘ Tak  terlupakan'      Simon  membawaku  ke Danau Penn  yang terletak ditengah  Pennington Wood, dulu kami  bertiga sangat sering menghabiskan  waktu ditempat ini. Selain berpemandangan  indah, air jernih hingga bisa melihat kekedalamannya, udara  disekitar sini juga sangat hangat bahkan dimusim berangin kencang  seperti sekarang.       Biasanya  Danau Penn  selalu dipenuhi  turis, salah satu  objek wisata paling  wajib dikunjungi jika  berkunjung ke Pennysylvania. Tapi  beruntung pagi ini tak seramai biasanya, sehingga  bisa mendapatkan tempat yang enak. Aku memilih karang  raksasa tak terlalu berongga, Simon memarkir mobilnya tepat  disebelah kami.        Aku  memperhatikan  punggung Simon  yang mulai basah  akibat sengatan matahari. Kaos  hitam longgarnya tak mampu menutupi  keindahan tubuhnya. Tampak sibuk menurunkan  taplak meja untuk piknik, rantang serta beberapa  kaleng soda. Rupanya Simon mengajakku sarapan sambil  piknik pagi, hal sederhana tapi berkesan. Begitulah aku  mengingat dirinya.      “Kamu  sendiri  yang membuat  semuanya?" air  liurku menetes melihat  kelezatan sandwich ayam, canape  tuna, dan salad buah.      Simon  tersenyum  simpul. “ Jangan  lupa, aku keturunan  seorang Juliete"      Juliete  Hall Tuddington  adalah ahli masak  ternama dari Pennington, kudengar  sejak dua tahun lalu sengaja membuka  cabang restaurannya di Chicago agar bisa  dekat dengan Suaminya yang juga tengah sibuk  mengurusi perusahaan besi mereka disana.      “ Jadi, sudah  berapa banyak pria  yang kamu patahkan hatinya?" tanya  Simon sambil menggigit pelan ujung sandwichnya.       “ Ermm....baru  tiga, tapi percayalah  mereka semua menyebalkan" jawabku  sambil sibuk mengunyah satu gigitan  besar sandwich. “ Kamu sendiri?"      Simon  tertawa. “ Dengan  yang terakhir, empat"  jawabnya.      “ Mengapa  kalian putus? Pasti  kamu dianggap terlalu  cerdas" godaku.      “ Karena  semua mantanku  menyadari aku tak  pernah benar-benar bersama  mereka" suara Simon berubah serius. Mata  abu-abunya menatapku intens.      Susah  payah kutelan  sandwichku.’ Oh tidak', batinku, sesuatu dalam diriku mendadak goyah. Rasanya  aku berhenti bernafas saat dia menundukkan kepalanya padaku, bibir kami begitu  dekat. Aku nyaris berpikir dia akan menciumku saat tangannya mengelap sudut bibirku.     “ Saus...”  tukasnya sambil  nyengir. Lalu kembali  fokus pada makanannya sendiri.      Dalam  hati menggerutu. Aku  lupa, sampai kapanpun Simon  tetap akan menjadi ‘ Pangeran  berkuda putih'  untukku. Yang  artinya dia akan  melakukan segalanya  sesuai aturan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD