“Lain kali kita harus mencobanya lagi" celoteh Simon bersemangat.
Sepanjang perjalanan pulang Simon berubah menjadi sangat cerewet, serta tak berhenti tersenyum, aku sendiri kebingungan tak tahu apa penyebabnya.
“ Boleh saja, berikutnya aku yang memasak, bagaimana?" tawarku.
Simon menurunkan alisnya, menampakkan ekspresi sok cemas. “ Bukannya kamu tak bisa membedakan tepung terigu dan jagung?"
Aku menyikut sikunya dan dia tertawa lepas.
Simon memutar stir mobil dan mengambil jalur kiri menuju area perumahan. Kulihat trotoar menjadi macet oleh mobil dan masyarakat sekitar, mobil kepolisian berjejer rapi disepanjang sisi kanan perumahan, sekitar dua lusin petugas berseragam berlalu lalang keluar dari dalam sebuah rumah yang telah diberi garis kejahatan polisi.
“ Astaga! Bukankah itu rumah keluarga Kendrall!" teriakku spontan.
Simon pada mulanya hanya memperlambat laju mobil, mata abu-abunya tampak serius menelisik keadaan disekitar. Mendadak mataku melebar saat melihat sosok tinggi atletis digiring petugas kepolisian keluar dari dalam rumah Kendrall.
“ Patt! “ jerit kami berbarengan.
Tanpa berpikir panjang Simon memarkir mobilnya sembarangan, kami segera melompat keluar dan berlari mengejar Patt.
“ Patt! Pattrick!...” jeritku nyaring. Kami berhasil mensejajari langkahnya. “ Apa yang terjadi?" tanyaku dengan nada meninggi.
Patt menggelengkan kepalanya murung, saat itu kulihat petugas medis memasukkan keranda kosong kedalam rumah keluarga Kendrall. Adrenalinku mengalir cepat, nafasku memburu.
“ Ada apa sebenarnya?!" Simon menahan lengan Patt diantara petugas kepolisian.
Polisi muda yang berdiri disamping kanan Patt segera mencegah Simon. “ Maaf, bisakah anda mundur, terdakwa harus segera kami bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan “
“ Terdakwa? Apa maksud kalian?! " nadaku meninggi, menuntut jawaban.
Namun tak ada satupun dari mereka memberi keterangan lebih lanjut. Patt digiring paksa masuk kedalam mobil, dia sempat menoleh pada kami dan berteriak.
“ Apapun yang terjadi percayalah padaku! Dan katakan pada Winona agar tak perlu cemas!"
Setelah berkata demikian tubuh Patt masuk kedalam mobil. Gema suaranya bergaung kencang didalam kepalaku berbarengan dengan raung sirene mobil polisi yang berjalan semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pandanganku pada tikungan.
“ Ini tak benar!" tukasku tak percaya, membalikkan badan.
“ Kamu mau kemana?" tanya Simon, suaranya cemas.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan langsung berlari masuk kedalam rumah keluarga Kendrall. Halaman depannya dipenuhi tetangga sekitar, beberapa petugas penyidik harus berusaha keras untuk menghalangi mereka. Diantara banyaknya pasukan keamanan aku berhasil menemukan sosok pria paruh baya, berambut pirang pucat, bertubuh gempal dan bermata gelap. Keluargaku memanggilnya Benhurr, tapi dikalangan kepolisian dia dijuluki Kapten Ben, sepupu jauh Pannabaker. Kemarin dia hadir dipemakaman cukup lama meski absen diacara makan malam keluarga akibat tugas.
“ Paman Ben!" teriakku mencoba mengalahkan berisiknya suara kerumunan, dibantu Simon aku berhasil merangsek mendekatinya.
Wajahnya berubah dari cerah menjadi panik. “ Apa yang kamu lakukan disini. Pergilah ini bukan tempatmu!" perintahnya. Seakan aku anak buahnya dan mau saja menurut.
“ Apa yang terjadi? Kenapa mereka membawa Patt kekantor polisi dan menyebutnya terdakwa?!” tuntutku.
Paman Ben melirik sekitar, menyadari semua anak buahnya sedang memperhatikan kami, tapi aku tak peduli
“ Dengarkan aku Tish, sebaiknya jauhi masalah ini. Temanmu itu menjadi satu-satunya tersangka kejahatan terberat yang pernah terjadi sepanjang Pennington" bisik Paman Ben saat aku mendekatinya.
Darahku terasa bergemuruh hingga ke telinga mendengar perkataan Paman Ben barusan. Simon akhirnya maju, menggunakan seluruh kharismanya dia berbicara.
“ Kita semua tahu Sir, Tisha takkan pergi semudah itu sebelum mendapat penjelasan"
Paman Ben menghela nafas panjang, dia tahu Simon benar.
“Baiklah" ujarnya menyerah. “ Orangtua Karen Kendrall baru kembali dari Jerman tadi pagi, saat mereka menyadari pintu seluruh rumah terkunci dari dalam. Karena tak membawa serep dan kesulitan menghubungi putrinya Mr. Kendrall terpaksa mendobrak pintu belakang dan....” berhenti cukup lama.
“ Dan apa?!" paksaku.
Paman Ben tampak sangat berat hati untuk melanjutkannya. “.....mereka menemukan temanmu, Pattrick Blaze dan putrinya...”
Belum sempat Paman Ben melanjutkan, keranda mayat yang tadi dimasukkan ke dalam rumah lewat tepat disampingku. Bedanya kali ini benda itu sudah tak lagi kosong seperti sebelumnya. Diikuti tangisan keras Mrs. Kendrall serta sang Suami, mengiringi keranda dimasukkan kedalam mobil ambulans. Secara tak sengaja angin kencang menghembuskan penutupnya, memperlihatkan bagian atas tubuh diatas keranda.
Terdengar suara jeritan ngeri penduduk sekitar, seketika itu isi perutku seperti di kuras dari dalam.
Simon berusaha menutupi mataku, tapi terlambat aku sudah terlanjur melihatnya.
Itu adalah mayat Karen Kendrall.
Dan bukan sekedar badan orang mati biasa...
Melainkan bagian atas tubuh yang terpotong dengan isi perut terbuai....
Sekarang aku tahu apa kelanjutan kalimat Paman Ben selanjutnya.
“ Pattrick Blaze berdiri disamping mayat Karen Kendrall dalam kondisi bermandikan darah sambil membawa pisau.....”