TERDAKWA

685 Words
“Lain  kali kita  harus mencobanya  lagi" celoteh Simon  bersemangat.      Sepanjang  perjalanan pulang  Simon berubah menjadi  sangat cerewet, serta tak  berhenti tersenyum, aku sendiri  kebingungan tak tahu apa penyebabnya.      “ Boleh  saja, berikutnya  aku yang memasak, bagaimana?" tawarku.      Simon  menurunkan  alisnya, menampakkan  ekspresi sok cemas. “ Bukannya  kamu tak bisa membedakan tepung  terigu dan jagung?"      Aku  menyikut  sikunya dan  dia tertawa lepas.       Simon  memutar  stir mobil  dan mengambil  jalur kiri menuju  area perumahan. Kulihat  trotoar menjadi macet oleh  mobil dan masyarakat sekitar, mobil  kepolisian berjejer rapi disepanjang sisi  kanan perumahan, sekitar dua lusin petugas berseragam  berlalu lalang keluar dari dalam sebuah rumah yang telah  diberi garis kejahatan polisi.      “ Astaga! Bukankah  itu rumah keluarga  Kendrall!" teriakku spontan.      Simon  pada mulanya  hanya memperlambat  laju mobil, mata abu-abunya  tampak serius menelisik keadaan  disekitar. Mendadak mataku melebar  saat melihat sosok tinggi atletis digiring  petugas kepolisian keluar dari dalam rumah Kendrall.      “ Patt! “ jerit  kami berbarengan.    Tanpa  berpikir  panjang Simon  memarkir mobilnya  sembarangan, kami segera  melompat keluar dan berlari  mengejar Patt.      “ Patt! Pattrick!...”  jeritku nyaring. Kami berhasil  mensejajari langkahnya. “ Apa yang  terjadi?" tanyaku dengan nada meninggi.      Patt  menggelengkan  kepalanya murung, saat  itu kulihat petugas medis  memasukkan keranda kosong kedalam  rumah keluarga Kendrall. Adrenalinku  mengalir cepat, nafasku memburu.      “ Ada  apa sebenarnya?!" Simon  menahan lengan Patt diantara  petugas kepolisian.      Polisi  muda yang  berdiri disamping  kanan Patt segera mencegah  Simon. “ Maaf, bisakah anda mundur, terdakwa  harus segera kami bawa ke kantor polisi untuk  dimintai keterangan “      “ Terdakwa? Apa  maksud kalian?! " nadaku meninggi, menuntut jawaban.      Namun  tak ada  satupun dari  mereka memberi  keterangan lebih  lanjut. Patt digiring  paksa masuk kedalam mobil, dia  sempat menoleh pada kami dan berteriak.      “ Apapun  yang terjadi  percayalah padaku! Dan  katakan pada Winona agar  tak perlu cemas!"  Setelah  berkata demikian  tubuh Patt masuk kedalam  mobil. Gema suaranya bergaung  kencang didalam kepalaku berbarengan  dengan raung sirene mobil polisi yang berjalan semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pandanganku pada tikungan.       “ Ini  tak benar!" tukasku  tak percaya, membalikkan  badan.      “ Kamu  mau kemana?" tanya  Simon, suaranya cemas.      Aku  tak menjawab  pertanyaannya dan  langsung berlari masuk  kedalam rumah keluarga Kendrall. Halaman  depannya dipenuhi tetangga sekitar, beberapa  petugas penyidik harus berusaha keras untuk menghalangi  mereka. Diantara banyaknya pasukan keamanan aku berhasil menemukan  sosok pria paruh baya, berambut pirang pucat, bertubuh gempal dan bermata  gelap. Keluargaku memanggilnya Benhurr, tapi  dikalangan  kepolisian dia  dijuluki Kapten Ben, sepupu  jauh Pannabaker. Kemarin dia hadir  dipemakaman cukup lama meski absen diacara  makan malam keluarga akibat tugas.      “ Paman  Ben!" teriakku  mencoba mengalahkan  berisiknya suara kerumunan, dibantu  Simon aku berhasil merangsek mendekatinya.      Wajahnya  berubah dari  cerah menjadi panik. “ Apa  yang kamu lakukan disini. Pergilah  ini bukan tempatmu!" perintahnya. Seakan  aku anak buahnya dan mau saja menurut.      “ Apa  yang terjadi? Kenapa  mereka membawa Patt kekantor  polisi dan menyebutnya terdakwa?!”  tuntutku.      Paman  Ben melirik  sekitar, menyadari  semua anak buahnya  sedang memperhatikan kami, tapi  aku tak peduli     “ Dengarkan  aku Tish, sebaiknya  jauhi masalah ini. Temanmu  itu menjadi satu-satunya tersangka  kejahatan terberat yang pernah terjadi  sepanjang Pennington" bisik Paman Ben saat aku mendekatinya.      Darahku  terasa bergemuruh  hingga ke telinga mendengar  perkataan Paman Ben barusan. Simon  akhirnya maju, menggunakan seluruh kharismanya  dia berbicara.      “ Kita  semua tahu  Sir, Tisha takkan  pergi semudah itu sebelum  mendapat penjelasan"      Paman  Ben menghela  nafas panjang, dia  tahu Simon benar.       “Baiklah" ujarnya  menyerah. “ Orangtua  Karen Kendrall baru kembali  dari Jerman tadi pagi, saat mereka  menyadari pintu seluruh rumah terkunci  dari dalam. Karena tak membawa serep dan  kesulitan menghubungi putrinya Mr. Kendrall terpaksa  mendobrak pintu belakang dan....” berhenti cukup lama.      “ Dan  apa?!" paksaku.      Paman  Ben tampak  sangat berat  hati untuk melanjutkannya. “.....mereka  menemukan temanmu, Pattrick Blaze dan putrinya...”      Belum  sempat Paman  Ben melanjutkan, keranda  mayat yang tadi dimasukkan  ke dalam rumah lewat tepat disampingku. Bedanya  kali ini benda itu sudah tak lagi kosong seperti  sebelumnya. Diikuti tangisan keras Mrs. Kendrall serta  sang Suami, mengiringi keranda dimasukkan kedalam mobil  ambulans. Secara tak sengaja angin kencang menghembuskan penutupnya, memperlihatkan  bagian atas tubuh diatas keranda.      Terdengar  suara jeritan  ngeri penduduk sekitar, seketika  itu isi perutku seperti di kuras  dari dalam.       Simon  berusaha  menutupi mataku, tapi  terlambat aku sudah terlanjur  melihatnya.      Itu  adalah  mayat Karen  Kendrall.      Dan  bukan  sekedar  badan orang  mati biasa...      Melainkan  bagian atas  tubuh yang terpotong  dengan isi perut terbuai....      Sekarang  aku tahu apa  kelanjutan kalimat  Paman Ben selanjutnya.      “ Pattrick  Blaze berdiri  disamping mayat  Karen Kendrall dalam  kondisi bermandikan darah  sambil membawa pisau.....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD