Aku pulang kerumah dalam kondisi mengenaskan.
Setelah sukses muntah-muntah sebanyak dua kali dikediaman Kendrall, Paman Ben memberiku obat penenang dari petugas medis. Dan Simon mengantarku pulang dengan keadaan kesadaran mulai hilang katanya.
Saat terbangun kudapati Simon dan Eliza sedang berbincang-bincang disisi ranjangku. Eliza terlihat gembira, dia langsung berlari turun memanggil Ayah dan Pamanku, sedangkan Simon tetap duduk diam disampingku. Tetap tenang meski auranya memancarkan kecemasan.
“ Berapa lama aku tidur?" tanyaku dengan suara parau. Mulutku terasa pahit.
Simon tersenyum simpul. “ Baru delapan jam...”
Aku mencoba bangkit duduk dibantu Simon, ketika pintu kamar terbuka dan seluruh Pannabaker masuk kedalam. Dad memelukku dipenuhi segenap kekhawatiran khas seorang Ayah, tapi aku tak bisa diam menunggu hingga kondisi tenang.
“ Bukan Pattrick pelakunya. Aku yakin dia dijebak" ujarku penuh keyakinan.
Dad melepaskan pelukannya dariku,dia menoleh pada Eliza yang memberi tatapan simpatik padaku.
“Masalahnya tak segampang itu Tish. Pasangan Kendrall menangkap basah Patt bersama barang bukti disamping mayat putri mereka, rasanya sulit mematahkan argumen kemarahan Orang Tua yang baru saja melihat kematian anak tunggalnya" tukas Neil. Dahinya berkerut dalam tanda kekhawatiran.
“ Tapi yang sedang kita bicarakan ini Patt! Kita mengenalnya seumur hidup! Jangankan memutilasi orang, membunuh burung saja dia tak tega!" emosiku meledak. Kutatap mata abu-abu Simon dalam, “Kamu juga berpikiran sama denganku kan?"
Simon tampak berpikir keras. “ Tentu saja! Masalahnya kita tak mempunyai bukti, andai saja ada alibi yang menguatkan Patt semalam disaat kejadian itu terjadi"
Kangguru didalam perutku melonjak. “ Apa maksudmu semalam? Bukannya Karen terbunuh tadi pagi?"
Dad menggelengkan kepalanya. “ Ben sudah memberitahu kami dan beritanya belum dipublikasikan. Menurut Tim Forensik, dilihat dari lama waktu kematian, Karen Kendrall dinyatakan tak bernyawa sepuluh jam sejak keluarganya menemukan. Artinya peristiwa keji tersebut terjadi tepat pada pukul sebelas malam, anehnya kamera pengawas dihalaman depan rumah Kendrall hanya menangkap gambaran aktivitas setelah jam 08.00 pagi tadi, sehingga hanya bagian Pattrick masuk kedalam rumah saja yang terekam. Seperti disetting seseorang dengan sengaja untuk menjebak Pattrick"
Kangguru didalam perutku melompat-lompat gembira. “ Jadi artinya, apabila ada alibi yang menguatkan keberadaan Patt semalam, maka dia bisa bebas"
Eliza memandangku gamang. “ Masalahnya dia tak mau menjelaskan pada polisi keberadaannya semalam. Kudengar itulah alasan dia ditetapkan sebagai tersangka sementara"
Aku dari atas ranjang dipenuhi tekad. “ Ayo Simon, aku tahu bagaimana cara menolong Patt"
Semua orang didalam ruangan memandangiku seakan sudah gila.
“ Tisha Pannabaker, jangan bertindak yang bisa kausesali....”
“ Dad!" potongku. “ Aku tahu alibi yang menguatkan penangguhan tuduhan terhadap Pattrick"
“ Dan apa itu?" tanya Simon curiga, melipat kedua tangan depan d**a.
“ Nanti kalian juga akan tahu, tapi sebelum kita ke kantor polisi aku harus menemui seseorang" suaraku dipenuhi tekad.
Rumah keluarga Blaze jauh lebih suram dari terakhir kali kuingat. Rumput liar dibiarkan tumbuh hingga sebatas betisku, tanaman merambat memenuhi dinding bagian luar, rumah bertingkat dua gaya kolonial dihadapanku menyerupai setting dalam film horor.
Winona Blaze memang bukan tipikal Ibu rumah tangga sejati, perempuan itulah alasan Patt tumbuh menjadi pemuda seperti sekarang. Patt lahir tanpa Ayah, Winona masih muda saat dia dihamili dan ditinggal pergi. Wanita itu bersikap membenci anaknya hanya karena fisiknya menyerupai b******n yang telah mencampakannya. Meskipun begitu masih ada setitik keyakinan dalam diriku jika Winona mencintai putranya setelah segala permasalahan mereka selama ini. Kalau tidak, mana mungkin dia repot-repot mempertaruhkan nyawa demi melahirkan Patt kedunia.
Kulihat lampu didalam rumah menyala, artinya Winona sudah pulang. Kami harus menekam bel sampai tiga kali barulah pintu dibukakan, ekspresi muramnya berubah saat melihatku.
“ Tisha!" serunya, menghambur memelukku.
Winona bisa jadi Ibu paling menyebalkan bagi seorang anak didunia, tapi dia tahu cara memperlakukan orang lain dengan tulus. Sama seperti putranya. Aku tersenyum sambil melepaskan diri darinya, kuperhatikan wajahnya menjadi tegang saat menghadapi Simon, yeah, kurasa sudah seharusnya mengingat pemuda itu terlalu berkharisma untuk ukuran semurannya.
“ Masuklah" katanya sambil melirik sekitar seakan takut ada yang memata-matainya.
Dengan terburu-buru kami masuk kedalam rumah, tempat ini tetap lembap, campuran tembakau dan bir memenuhi setiap sudut ruangan. Satu kelemahan Winona selain emosi adalah, minuman keras.
Saat kami dipersilahkan duduk dikursi ruang tamunya tanpa basa-basi aku langsung mengungkap alasan kedatanganku.
“ Pattrick tidak bersalah, aku tahu bagaimana cara menolongnya" kataku cepat.
Winona menggelengkan kepalanya. “ Terimakasih Tish, aku tahu niat baikmu tapi kurasa anak itu tak bisa diselamatkan lagi...”
Ini dia, sudah waktunya. Kupandangi Simon yang masih melemparkan raut wajah datar, sambil menelan ludah susah payah aku berkata.
“ Alibi Patt adalah aku. Dimalam kejadian itu Pattrick menyusup masuk kekamarku...”