ALIBI

693 Words
Aku  pulang  kerumah dalam  kondisi mengenaskan.      Setelah  sukses muntah-muntah  sebanyak dua kali dikediaman  Kendrall, Paman Ben memberiku obat  penenang dari petugas medis. Dan Simon  mengantarku pulang dengan keadaan kesadaran  mulai hilang katanya.      Saat  terbangun  kudapati Simon  dan Eliza sedang  berbincang-bincang disisi  ranjangku. Eliza terlihat gembira, dia  langsung berlari turun memanggil Ayah dan  Pamanku, sedangkan Simon tetap duduk diam disampingku. Tetap  tenang meski auranya memancarkan kecemasan.      “ Berapa  lama aku tidur?" tanyaku  dengan suara parau. Mulutku  terasa pahit.      Simon  tersenyum  simpul. “ Baru  delapan jam...”      Aku  mencoba  bangkit duduk  dibantu Simon, ketika  pintu kamar terbuka dan  seluruh Pannabaker masuk kedalam. Dad  memelukku dipenuhi segenap kekhawatiran  khas seorang Ayah, tapi aku tak bisa diam  menunggu hingga kondisi tenang.      “ Bukan  Pattrick pelakunya. Aku  yakin dia dijebak" ujarku  penuh keyakinan.      Dad  melepaskan  pelukannya dariku,dia  menoleh pada Eliza yang  memberi tatapan simpatik padaku.       “Masalahnya  tak segampang  itu Tish. Pasangan  Kendrall menangkap basah  Patt bersama barang bukti  disamping mayat putri mereka, rasanya  sulit mematahkan argumen kemarahan Orang  Tua yang baru saja melihat kematian anak  tunggalnya" tukas Neil. Dahinya berkerut dalam  tanda kekhawatiran.      “ Tapi  yang sedang  kita bicarakan  ini Patt! Kita mengenalnya  seumur hidup! Jangankan memutilasi  orang, membunuh burung saja dia tak  tega!" emosiku meledak. Kutatap mata abu-abu  Simon dalam, “Kamu juga berpikiran sama denganku  kan?"      Simon  tampak berpikir  keras. “ Tentu saja! Masalahnya  kita tak mempunyai bukti, andai  saja ada alibi yang menguatkan Patt  semalam disaat kejadian itu terjadi"      Kangguru  didalam perutku  melonjak. “ Apa maksudmu  semalam? Bukannya Karen terbunuh  tadi pagi?"      Dad  menggelengkan  kepalanya. “ Ben  sudah memberitahu  kami dan beritanya  belum dipublikasikan. Menurut  Tim Forensik, dilihat dari lama  waktu kematian, Karen Kendrall dinyatakan  tak bernyawa sepuluh jam sejak keluarganya  menemukan. Artinya peristiwa keji tersebut terjadi  tepat pada pukul sebelas malam, anehnya kamera pengawas  dihalaman depan rumah Kendrall hanya menangkap gambaran aktivitas  setelah jam 08.00 pagi tadi, sehingga hanya bagian Pattrick masuk kedalam  rumah saja yang terekam. Seperti disetting seseorang dengan sengaja untuk menjebak  Pattrick"      Kangguru  didalam perutku  melompat-lompat gembira. “ Jadi  artinya, apabila ada alibi yang  menguatkan keberadaan Patt semalam, maka  dia bisa bebas"      Eliza  memandangku  gamang. “ Masalahnya  dia tak mau menjelaskan  pada polisi keberadaannya semalam. Kudengar  itulah alasan dia ditetapkan sebagai tersangka  sementara"      Aku    dari atas  ranjang dipenuhi  tekad. “ Ayo Simon, aku  tahu bagaimana cara menolong  Patt"      Semua  orang didalam  ruangan memandangiku  seakan sudah gila.      “ Tisha  Pannabaker, jangan  bertindak yang bisa  kausesali....”      “ Dad!" potongku. “ Aku  tahu alibi yang menguatkan  penangguhan tuduhan terhadap Pattrick"      “ Dan  apa itu?"  tanya Simon  curiga, melipat  kedua tangan depan  d**a.      “ Nanti  kalian juga  akan tahu, tapi  sebelum kita ke kantor  polisi aku harus menemui  seseorang" suaraku dipenuhi tekad.      Rumah  keluarga  Blaze jauh  lebih suram dari  terakhir kali kuingat. Rumput  liar dibiarkan tumbuh hingga sebatas  betisku, tanaman merambat memenuhi dinding  bagian luar, rumah bertingkat dua gaya kolonial  dihadapanku menyerupai setting dalam film horor.       Winona  Blaze memang  bukan tipikal Ibu  rumah tangga sejati, perempuan  itulah alasan Patt tumbuh menjadi  pemuda seperti sekarang. Patt lahir  tanpa Ayah, Winona masih muda saat dia  dihamili dan ditinggal pergi. Wanita itu bersikap  membenci anaknya hanya karena fisiknya menyerupai b******n  yang telah mencampakannya. Meskipun begitu masih ada setitik  keyakinan dalam diriku jika Winona mencintai putranya setelah  segala permasalahan mereka selama ini. Kalau tidak, mana mungkin  dia repot-repot mempertaruhkan nyawa demi melahirkan Patt kedunia.      Kulihat  lampu didalam  rumah menyala, artinya  Winona sudah pulang. Kami  harus menekam bel sampai tiga  kali barulah pintu dibukakan, ekspresi  muramnya berubah saat melihatku.       “ Tisha!" serunya, menghambur  memelukku.      Winona  bisa jadi  Ibu paling menyebalkan  bagi seorang anak didunia, tapi  dia tahu cara memperlakukan orang  lain dengan tulus. Sama seperti putranya. Aku  tersenyum sambil melepaskan diri darinya, kuperhatikan  wajahnya menjadi tegang saat menghadapi Simon, yeah, kurasa  sudah seharusnya  mengingat pemuda itu  terlalu berkharisma untuk  ukuran semurannya.      “ Masuklah" katanya  sambil melirik sekitar  seakan takut ada yang memata-matainya.       Dengan  terburu-buru  kami masuk kedalam  rumah, tempat ini tetap  lembap, campuran tembakau dan  bir memenuhi setiap sudut ruangan. Satu  kelemahan Winona selain emosi adalah, minuman  keras.      Saat  kami dipersilahkan  duduk dikursi ruang  tamunya tanpa basa-basi  aku langsung mengungkap alasan  kedatanganku.       “ Pattrick  tidak bersalah, aku  tahu bagaimana cara menolongnya" kataku  cepat.      Winona  menggelengkan  kepalanya. “ Terimakasih  Tish, aku tahu niat baikmu  tapi kurasa anak itu tak bisa  diselamatkan lagi...”      Ini  dia, sudah  waktunya. Kupandangi  Simon yang masih melemparkan  raut wajah datar, sambil menelan  ludah susah payah aku berkata. “ Alibi  Patt adalah  aku. Dimalam  kejadian itu Pattrick  menyusup masuk kekamarku...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD