Aku tak bisa tidur hingga dini hari karena memikirkan perkataan Patt padaku setelah dia dibebaskan dari penjara. Rasa bersalah mencambukiku, mendadak aku merasa tak bedanya dengan w************n.
Kutatap bayanganku dicermin. Apa yang kurasakan, apa keinginanku, segala sesuatunya bertambah kacau.
Bagaimana bisa aku membalas ungkapan cinta Patt jika separuh hatiku masih mengharapkan Simon. Sungguh mustahil jika aku mencintai mereka berdua, aku peduli pada Patt sejak dulu seperti dengan Simon, tapi menyangkut cinta. Aku tak yakin pada diriku sendiri. Hal terakhir yang tak kuinginkan adalah menyakiti mereka berdua.
Perenunganku terusik oleh bunyi dering ponsel, saat melihat nama Simon tertera dilayarnya sulit bagiku untuk tak tersenyum.
“ Belum tidur?" tanya suara merdu dan menenangkan dari ujung saluran.
“ Kamu sendiri?" tanyaku balik, menahan diri tak tertawa ditelpon.
“ Berhenti menahan tawamu Miss. Pannabaker Lawlett" godanya.
Aku meringis. ‘ Sial!’ batinku.
“ Apa nanti pagi kamu sibuk?" tanya Simon, suaranya kembali serius.
Aku menggigit bibir. “ Tergantung, kalau kamu mengajakku piknik lagi maka jawabannya ‘ya’"
Simon tertawa. “ Sayangnya bukan. Aku ingin memintamu menemaniku menemui keluarga Kendrall"
Isi perutku terasa melorot, “ Apa?" tanyaku dengan mata melebar ditempatku sekarang.
“ Paman Ben sudah banyak bercerita mengenai detail kejadian pembunuhan Karen, kurasa siapapun pelakunya memang sengaja ingin menjebak Patt. Menurutmu apa tidak aneh, kata Patt pintu depan rumah Kendrall tak terkunci, pengakuannya bertolak belakang dari Orang Tua Karen. Itu hanya faktor pertama, masih banyak lagi hal lain yang sulit dinalar dan mengganjal pikiranku"
Isi kepalaku seperti peti harta karun terkunci yang baru dibuka pemiliknya. “ Kamu benar!" batinku bersorak girang.
Artinya semakin banyak bukti mengarah pada ketidak bersalahan Patt dalam kasusnya.
“ Kujemput pukul 06.00 pagi, oke. Kurasa saat itu keluarga Kendrall masih berada dirumah untuk mengurus segala keperluan pemakaman Karen" tukas Simon.
“ He-eh" jawabku bersemangat.
“ Dan, Tish, tolong satu hal lagi. Jangan beritahu Patt soal ini. Dia masih dalam masa percobaan, aku tak ingin dia melakukan hal bodoh yang bisa membuat tuduhan padanya semakin berat. Lagipula keluarga Kendrall bisa langsung mendepak kita jika melihat calon terdakwa satu-satunya pembunuh putrinya dibebaskan dan berdiri didepan pintu rumah mereka. Setidaknya saat ini mereka masih sulit berpikir jernih" suara Simon terdengar serius.
“ Baiklah aku mengerti" jawabku meyakinkan. Sebagian diriku merasa bersalah.
Setelah mengucapkan selamat tidur Simon menutup telponnya, meninggalkanku dalam kebimbangan malam.
Simon yang begitu baik, mau berjuang untuk sahabatnya sendiri. Sementara Patt dan aku terlibat hubungan serius dibelakangnya. Hubungan yang aku sendiri masih bingung hingga sekarang, menyebutnya apa.
Aku terlihat meyakinkan layaknya seorang investigator dengan skinny jeans abu-abu, kaos v-neck ungu polos lengan panjang, dan sepatu datar putih. Ketika Simon menjemputku tepat waktu. Aroma favoritnya, citrus dan bodywash memenuhi seisi mobilnya saat aku masuk kedalam bangku penumpang depan. Terlihat menawan meski hanya memakai kaos merah tua ketat, jeans hitam, dan sandal. Penampilannya sangat kasual untuk ukuran detektif dadakan.
“ Pagi, Nancy Drew" godanya sambil tersenyum lebar, memperlihatkan barisan gigi putih kokoh terawat.
“ Siap untuk menjadi detektif amatir?" godaku menyenggol lengannya.
Tubuh Simon menegang secara halus saat kulit kami bersentuhan, dia hanya mampu menjawabku dengan ringisan. Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang, kami membahas pertanyaan apa saja yang akan diajukan kepada pasangan Kendrall, cara halus membuat mereka agar mau membuka mulut tentang kisah selengkapnya tanpa harus melukai hati pasangan malang yang masih sangat berduka itu.
Tak sampai sepuluh menit kami sudah tiba didepan rumah Kendrall, garis polisi masih terpasang rapi. Banyak warga sekitar berhenti disekitar tempat itu, kebanyakan dari mereka asyik bergosip sambil melakukan aktifitas pagi dan sesekali memberikan pandangan penuh ingin tahu kedalam rumah. Tapi kediaman Kendrall tampak sepi, dan suram, meski aku tahu penghuninya masih berada didalam.
“ Siap?" tanya Simon melepaskan sabuk pengaman.
Aku mengangguk, melepaskan sabuk pengamanku dan membiarkan pemuda itu memimpin jalan. Kami harus menunggu setidaknya setengah jam ketika wajah pucat Mrs. Kendrall muncul dari balik pintu, rambut pirangnya acak-acakan, piamanya berantakan, kantung dibawah matanya sebesar bola pingpong. Tampaknya dia habis menangis semalaman.
“ Pagi Mrs. Kendrall. Maaf menggangu anda sedini ini, namaku Simon Tuddington dan dia....”
“ Aku tahu siapa kalian. Apa mau kalian!" bentaknya tanpa basa-basi.
Aku menelan ludah susah payah, sekarang baru menyadari betapa beratnya tugas seorang penyidik.
“ Tolong ijinkan kami masuk, ada yang harus kami bicarakan dengan anda" tukas Simon tenang, tak terpancing emosi.
“ Maaf, kami sibuk!" tukas Mrs. Kendrall cepat. Dia sudah akan membanting pintu, namun tubuh Simon bukan tandingannya. Satu tangannya mampu menahan pintu kayu tersebut.
“ Aku tahu apa yang terjadi sebenarnya Mrs.Kendrall, Pattrick Blaze hanyalah korban kambing hitam. Sebelum kuserahkan bukti sebenarnya pada polisi, sebaiknya ijinkan kami bicara baik-baik dengan kalian" mata Simon berkilat marah, meski nada bicaranya terasa datar.
Aura dominasinya membuatku yang bahkan sudah mengetahui sandiwara ini menjadi terpukau.
Mrs. Kendrall tampak sangat terkejut, harus kuakui akting Simon memang luar biasa sebab detik berikutnya Mr.Kendrall yang tampaknya sejak tadi bersembunyi disamping Istrinya, memutuskan mengizinkan kami masuk dan membuka pintu rumah lebar-lebar dan berbicara dengan suara sangat parau.
“ Masuklah, sebelum aku berubah pikiran"