INVESTIGASI.

778 Words
     Aku  tak bisa  tidur hingga  dini hari karena  memikirkan perkataan  Patt padaku setelah dia  dibebaskan dari penjara. Rasa  bersalah mencambukiku, mendadak aku  merasa tak bedanya dengan w************n.      Kutatap  bayanganku  dicermin. Apa  yang kurasakan, apa  keinginanku, segala sesuatunya  bertambah kacau.     Bagaimana  bisa aku membalas  ungkapan cinta Patt  jika separuh hatiku masih  mengharapkan Simon. Sungguh mustahil  jika aku mencintai mereka berdua, aku  peduli pada Patt sejak dulu seperti dengan  Simon, tapi menyangkut cinta. Aku tak yakin pada  diriku sendiri. Hal terakhir yang tak kuinginkan adalah  menyakiti mereka berdua.      Perenunganku  terusik oleh bunyi  dering ponsel, saat melihat  nama Simon tertera dilayarnya  sulit bagiku untuk tak tersenyum.      “ Belum  tidur?" tanya  suara merdu dan  menenangkan dari ujung  saluran.     “ Kamu  sendiri?" tanyaku  balik, menahan diri  tak tertawa ditelpon.      “ Berhenti  menahan tawamu  Miss. Pannabaker Lawlett"  godanya.      Aku  meringis. ‘ Sial!’  batinku.       “ Apa  nanti pagi  kamu sibuk?" tanya  Simon, suaranya kembali  serius.      Aku  menggigit  bibir. “ Tergantung, kalau  kamu mengajakku piknik lagi  maka jawabannya ‘ya’"      Simon  tertawa. “ Sayangnya  bukan. Aku ingin memintamu  menemaniku menemui keluarga Kendrall"      Isi  perutku  terasa melorot, “ Apa?" tanyaku  dengan mata melebar ditempatku sekarang.       “ Paman  Ben sudah  banyak bercerita  mengenai detail kejadian  pembunuhan Karen, kurasa siapapun  pelakunya memang sengaja ingin menjebak  Patt. Menurutmu apa tidak aneh, kata Patt  pintu depan rumah Kendrall tak terkunci, pengakuannya  bertolak belakang dari Orang Tua Karen. Itu hanya faktor  pertama, masih banyak lagi hal lain yang sulit dinalar dan  mengganjal pikiranku"      Isi  kepalaku  seperti peti  harta karun terkunci  yang baru dibuka pemiliknya. “ Kamu  benar!" batinku bersorak girang.      Artinya  semakin banyak  bukti mengarah pada  ketidak bersalahan Patt  dalam kasusnya.      “ Kujemput  pukul 06.00 pagi, oke. Kurasa  saat itu keluarga Kendrall masih  berada dirumah untuk mengurus segala  keperluan pemakaman Karen" tukas Simon.      “ He-eh"  jawabku bersemangat.      “ Dan, Tish, tolong  satu hal lagi. Jangan  beritahu Patt soal ini. Dia  masih dalam masa percobaan, aku  tak ingin dia melakukan hal bodoh  yang bisa membuat tuduhan padanya semakin  berat. Lagipula keluarga Kendrall bisa langsung  mendepak kita jika melihat calon terdakwa satu-satunya  pembunuh putrinya dibebaskan dan berdiri didepan pintu rumah mereka. Setidaknya saat ini mereka masih sulit berpikir jernih" suara  Simon terdengar serius.      “ Baiklah  aku mengerti" jawabku  meyakinkan. Sebagian diriku  merasa bersalah.      Setelah  mengucapkan  selamat tidur  Simon menutup telponnya, meninggalkanku  dalam kebimbangan malam.      Simon yang begitu baik, mau berjuang untuk sahabatnya sendiri. Sementara Patt dan aku terlibat hubungan serius dibelakangnya. Hubungan yang aku sendiri masih bingung hingga sekarang, menyebutnya apa.     Aku  terlihat  meyakinkan  layaknya seorang  investigator dengan  skinny jeans abu-abu, kaos  v-neck ungu polos lengan panjang, dan  sepatu datar putih. Ketika Simon menjemputku  tepat waktu. Aroma favoritnya, citrus dan bodywash  memenuhi seisi mobilnya saat aku masuk kedalam bangku  penumpang depan. Terlihat menawan meski hanya memakai kaos  merah tua ketat, jeans hitam, dan sandal. Penampilannya sangat  kasual untuk ukuran detektif dadakan.      “ Pagi, Nancy Drew" godanya sambil  tersenyum lebar, memperlihatkan barisan  gigi putih kokoh terawat.      “ Siap  untuk menjadi  detektif amatir?" godaku  menyenggol lengannya.      Tubuh  Simon menegang  secara halus saat  kulit kami bersentuhan, dia  hanya mampu menjawabku dengan  ringisan. Mobil dilajukan dengan  kecepatan sedang, kami membahas pertanyaan  apa saja yang akan diajukan kepada pasangan  Kendrall, cara halus membuat mereka agar mau membuka  mulut tentang kisah selengkapnya tanpa harus melukai hati  pasangan malang yang masih sangat berduka itu.        Tak  sampai  sepuluh menit  kami sudah tiba  didepan rumah Kendrall, garis  polisi masih terpasang rapi. Banyak  warga sekitar berhenti disekitar tempat  itu, kebanyakan dari mereka asyik bergosip  sambil melakukan aktifitas pagi dan sesekali memberikan  pandangan penuh ingin tahu kedalam rumah. Tapi kediaman  Kendrall tampak sepi, dan suram, meski aku tahu penghuninya  masih berada didalam.      “ Siap?" tanya  Simon melepaskan  sabuk pengaman.      Aku  mengangguk, melepaskan  sabuk pengamanku dan membiarkan  pemuda itu memimpin jalan. Kami harus  menunggu setidaknya setengah jam ketika wajah  pucat Mrs. Kendrall muncul dari balik pintu, rambut  pirangnya acak-acakan, piamanya berantakan, kantung dibawah  matanya sebesar bola pingpong. Tampaknya dia habis menangis  semalaman.      “ Pagi  Mrs. Kendrall. Maaf  menggangu anda sedini  ini, namaku Simon Tuddington  dan dia....”      “ Aku  tahu siapa  kalian. Apa mau  kalian!" bentaknya  tanpa basa-basi.      Aku  menelan  ludah susah  payah, sekarang  baru menyadari betapa  beratnya tugas seorang penyidik.      “ Tolong  ijinkan kami  masuk, ada yang  harus kami bicarakan  dengan anda" tukas Simon  tenang, tak terpancing emosi.      “ Maaf, kami  sibuk!" tukas Mrs. Kendrall  cepat. Dia sudah akan membanting  pintu, namun tubuh Simon bukan tandingannya. Satu tangannya mampu menahan pintu kayu tersebut.      “ Aku  tahu apa  yang terjadi  sebenarnya Mrs.Kendrall, Pattrick  Blaze hanyalah korban kambing hitam. Sebelum  kuserahkan bukti sebenarnya pada polisi, sebaiknya  ijinkan kami bicara baik-baik dengan kalian" mata Simon  berkilat marah, meski nada bicaranya terasa datar.      Aura  dominasinya  membuatku yang  bahkan sudah mengetahui  sandiwara ini menjadi terpukau.    Mrs. Kendrall  tampak sangat terkejut, harus  kuakui akting  Simon memang luar  biasa sebab detik berikutnya  Mr.Kendrall yang tampaknya sejak  tadi bersembunyi disamping Istrinya, memutuskan mengizinkan kami masuk dan membuka  pintu rumah lebar-lebar dan berbicara dengan suara sangat parau.  “ Masuklah, sebelum  aku berubah pikiran"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD