Kami didudukkan di sofa merah berbentuk huruf ‘U’ruang keluargaKendrall. Mrs. Kendrall jelas terlihat kesal dengan keputusan Suaminya untuk memasukkan kami, duduk didepanku sambil menyilangkan kaki, wajahnya tampak mengerikan.
Tapi Mr. Kendrall tampak tak terpengaruh, masih mengenakan piama biru kotak-kotak putih, berdiri dihadapan kami seakan menantang.
“ Jadi anak muda, bisa kamu jelaskan padaku apa maksud ancamanmu didepan pintu rumahku tadi?" kata Mr. Kendrall dengan pandangan menyelidik pada Simon.
Aku berusaha keras tampak berani dihadapan mereka.
“ Bukankah harusnya anda yang memberitahu kami, Sir. Mengenai kebenaran dimalam kematian putri anda" ujar Simon tenang. Dia menyandarkan punggung dengan santai pada jok sofa, bibirnya ditarik kesudut menampakkan sisi cerdas sekaligus liciknya.
Wajah Mr. Kendrall memerah karena emosi. “Apa maksudmu?! Apa kalian ingin mempermainkanku!" bentaknya.
Kedua tanganku menekan lutut sekuatnya agar tak melonjak, sementara Simon, tetap tak terpengaruh dan tampak sangat menikmati permainannya.
“ Baiklah, karena anda tak mau mengaku juga" Simon berdiri dan mengeluarkan secarik kertas yang telah dilipat kecil dari sakunya.
Dengan ponggah dia mengacungkan kartu AS nya kedepan wajah Mr. Kendrall.
“ Aneh rasanya jika sepasang Suami Istri yang sedang merayakan hari perkawinan mereka dengan berbulan madu keluar negri memajukan hari kepulangannya dua hari lebih cepat dari seharusnya. Biasanya hal tersebut hanya terjadi apabila ada urusannyang dirasa amat penting. Apa anda bisa menjelaskan pada kami alasannya? Atau anda lebih memilih menjelaskan kepada pihak Kepolisian?"
Mrs. Kendrall bangkit dari duduknya, dipenuhi kemarahan merebut kertas dari tangan Simon, membukanya, lalu bersama-sama Suaminya membaca isinya.
“Darimana kamu mendapatkannya!" teriak Mrs. Kendrall dengan mata melebar.
Simon melipat kedua tangannya didepan d**a, “ Bagaimana mengatakannya ya. Pernah dengar kalimat, ‘ karena dia seorang Tuddington' " lalu tersenyum penuh kesombongan.
Mrs. Kendrall merobek kertas berisi daftar tiket pesawat, hotel, dan segala pengeluaran mereka saat berada di Jerman. Wajahnya menyerupai monster sekarang. “ Kamu tak tahu apa-apa dan tak berhak menyudutkan kami seperti ini!" teriaknya.
Sekarang, alih-alih takut aku justru semakin mencurigai mereka.
“ Silahkan saja anda merobeknya, itu hanya fotocopyan. Dan jika anda bicara soal menyudutkan, memberikan keterangan secara tak lengkap serta mengkambinghitamkan pelaku pembunuhan, hukumannya sama berat dengan si tersangka" ujar Simon. Terlihat sangat serius dengan ucapannya, aura keberaniannya terpancar begitu besar diseluruh ruangan.
Bulu halusku sampai berdiri, dan kurasa hal sama juga dialami para pemilik rumah.
Mr. Kendrall terduduk lemas diatas sofa. Kemarahan lenyap diganti kesedihan, mata gelapnya dipenuhi keputusasaan. “ Kita harus memberitahu mereka" tukasnya lemah pada Istrinya.
Mrs. Kendrall seperti tersambar petir, duduk disebelah Suaminya. “Tidak boleh! Memangnya apa yang bisa mereka lakukan selain lebih merepotkan kita!" bentaknya.
Aku yang sejak tadi hanya duduk diam tak bisa berpangku tangan saat ini, “ Kalau begitu anda tak ada bedanya dengan si Pembunuh! Mengapa anda begitu tega membiarkan orang tak bersalah menanggung beban atas dosa yang tidak diperbuatnya! Apakah ini sikap Orang Tua sejati? Pembunuh anaknya masih berkeliaran, kalian tahu dan membiarkan? Sungguh, apa kalian betul-betul Orang Tua Karen?"
Nafasku tersengal-sengal seusai berbicara, cukup sulit mengatakan kejujuran dibawah tekanan ketakutan. Simon memandangiku, tampak bangga. Pasangan Kendrall membisu sesaat melihat keberanianku, aku bisa merasakan mereka luluh juga melalui kepedihan didalam bola mata mereka.
Mrs. Kendrall menghembuskan nafas panjang, dia menutup mata seakan menyerah. “ Baiklah, akan kukatakan pada kalian yang sejujurnya" matanya membuka lagi. Dia bangkit dari duduk sambil menggengam erat lengan kananku. “ Tapi bersumpahlah padaku, kalian akan menemukan pembunuh putri kami!"
Kutatap wajahnya lurus-lurus. “ Karen dan aku mengenal cukup baik sejak kecil, apa anda juga bisa membayangkan perasaanku melihat dia mati dalam kondisi seperti itu? "
Mrs. Kendrall terlihat puas pada jawabanku. Akhirnya untuk pertamakalinya wanita itu bisa tersenyum. “ Terimakasih Tish" bisiknya.
Aku mengangguk dan Mrs. Kendrall kembali ketempatnya. Kami semua duduk berhadap-hadapan, menunggu dengan sabar sampai pasangan Suami Istri ini siap bersuara.
“ Kami mendapat telpon sore itu di Hotel, suara seorang pria. Dari aksen britishnya aku langsung tahu dia berkebangsaan Inggris atau mungkin orang Eropa. Pria ini memberitahu kami jika nyawa putri kami takkan bertahan sampai matahari terbit, setelah itu dia menutup telponnya. Pada awalnya kami tak menggubris dan menganggap perbuatan iseng putri kami, namun hal sama berulang setiap satu jam sekali. Dan tepat pukul tujuh malam waktu Berlin, ponselku dihubungi nomor rumah, saat kuangkat hanya ada isakan tangis serta jeritan Karen meminta pertolongan, panik kami segera memesan tiket pulang malam itu juga. Saat diperjalanan menuju bandara pria asing tersebut menelpon lagi, untuk terakhir kalinya memperdengarkan suara Karen yang ternyata adalah ucapan perpisahannya”
Mr. Kendrall berhenti bercerita, dia menangkupkan kedua tangan didepan wajah dan mulai terisak kencang. Istrinya memeluknya erat, memberikan kekuatan. Harus kuakui Mrs. Kendrall salah satu perempuan terkuat yang pernah kutemui.
“ Saat kami pulang keadaan sudah sangat kacau, Pattrick ada disamping mayat Karen. Dia bersumpah bukan dia pelakunya dan kami percaya. Kami menceritakan kejadian tentang si penelpon misterius, diluar dugaan Pattrick malah mengambil pisau lalu meminta kami menghubungi polisi. Meski bingung kami mengikuti permainannya, katanya ‘ Cuma ini satu-satunya cara agar kami terbebas' anak itu bersikeras kalau pembunuh Karen mengincarnya serta berusaha menjebaknya" Mrs. Kendrall berhenti bicara untuk mengambil nafas.
Mataku melebar dipenuhi ketidak percayaan. Jadi Pattrick sengaja menjadikan dirinya pelaku pembunuhan? Tapi atas alasan apa? Aku merasa bisa gila sebentar lagi.
Mrs. Kendrall mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja dan memberikannya pada Simon. “ Ini bukan milik Karen, kurasa pelakunya tanpa sengaja meninggalkan. Kuharap bisa membantu kalian"
Mata Simon berkilat marah, tangannya menggengam erat gelang keperakan tersebut seakan ingin menelannya. “ Tentu saja, akan kupastikan pelakunya mengalami penderitaan dua kali dari yang Karen rasakan" suaranya dipenuhi kebencian.
Kurasakan udara disekitarku menjadi dingin dan saat kutatap wajah Simon, berubah mengerikan. Ekspresi itu belum pernah kulihat sebelumnya. Hatiku mencelos dan mendadak aku merasa kalau dia tahu, apa arti dari gelang itu.