KEJUJURAN.

895 Words
     Kami  didudukkan  di sofa merah berbentuk  huruf ‘U’ruang keluargaKendrall. Mrs. Kendrall  jelas terlihat kesal dengan keputusan Suaminya  untuk memasukkan kami, duduk didepanku sambil menyilangkan  kaki, wajahnya tampak mengerikan.    Tapi  Mr. Kendrall  tampak tak terpengaruh, masih  mengenakan piama biru kotak-kotak  putih, berdiri dihadapan kami seakan  menantang.       “ Jadi  anak muda, bisa  kamu jelaskan padaku  apa maksud ancamanmu didepan  pintu rumahku tadi?" kata Mr. Kendrall  dengan pandangan menyelidik pada Simon.        Aku  berusaha  keras tampak  berani dihadapan  mereka.    “ Bukankah  harusnya anda  yang memberitahu  kami, Sir. Mengenai  kebenaran dimalam kematian  putri anda" ujar Simon tenang. Dia menyandarkan  punggung dengan santai pada jok sofa, bibirnya ditarik  kesudut menampakkan sisi cerdas sekaligus liciknya.      Wajah  Mr. Kendrall  memerah karena  emosi. “Apa maksudmu?! Apa  kalian ingin mempermainkanku!"  bentaknya.      Kedua  tanganku  menekan lutut  sekuatnya agar tak  melonjak, sementara Simon, tetap  tak terpengaruh dan tampak sangat  menikmati permainannya.      “ Baiklah, karena  anda tak mau mengaku  juga" Simon berdiri dan  mengeluarkan secarik kertas  yang telah dilipat kecil dari  sakunya.      Dengan  ponggah dia mengacungkan  kartu AS nya  kedepan  wajah Mr. Kendrall.       “ Aneh  rasanya jika  sepasang Suami  Istri yang sedang  merayakan hari perkawinan  mereka dengan berbulan madu  keluar negri memajukan hari kepulangannya  dua hari lebih cepat dari seharusnya. Biasanya hal tersebut hanya terjadi apabila ada urusannyang dirasa amat penting. Apa  anda bisa menjelaskan pada kami alasannya? Atau anda lebih memilih menjelaskan kepada pihak Kepolisian?"      Mrs. Kendrall  bangkit dari duduknya, dipenuhi  kemarahan merebut kertas dari tangan  Simon, membukanya, lalu bersama-sama Suaminya  membaca isinya.      “Darimana  kamu mendapatkannya!" teriak  Mrs. Kendrall dengan mata melebar.      Simon  melipat  kedua tangannya  didepan d**a, “ Bagaimana  mengatakannya ya. Pernah dengar  kalimat, ‘ karena  dia seorang  Tuddington' " lalu  tersenyum penuh  kesombongan.      Mrs. Kendrall  merobek kertas  berisi daftar tiket  pesawat, hotel, dan segala  pengeluaran mereka saat berada  di Jerman. Wajahnya menyerupai monster  sekarang. “ Kamu tak tahu apa-apa dan tak  berhak menyudutkan kami seperti ini!" teriaknya.      Sekarang, alih-alih takut aku justru semakin mencurigai mereka.      “ Silahkan  saja anda merobeknya, itu  hanya fotocopyan. Dan jika anda  bicara soal menyudutkan, memberikan  keterangan secara tak lengkap serta  mengkambinghitamkan pelaku pembunuhan, hukumannya  sama berat dengan si tersangka" ujar Simon. Terlihat  sangat serius dengan ucapannya, aura keberaniannya terpancar  begitu besar diseluruh ruangan.       Bulu  halusku  sampai berdiri, dan  kurasa hal sama juga  dialami para pemilik rumah.      Mr. Kendrall  terduduk lemas  diatas sofa. Kemarahan  lenyap diganti kesedihan, mata  gelapnya dipenuhi keputusasaan. “ Kita  harus memberitahu mereka" tukasnya lemah pada Istrinya.      Mrs. Kendrall  seperti tersambar  petir, duduk disebelah  Suaminya. “Tidak boleh! Memangnya  apa yang bisa mereka lakukan selain  lebih merepotkan kita!" bentaknya.      Aku  yang sejak  tadi hanya duduk  diam tak bisa berpangku  tangan saat ini, “ Kalau begitu  anda tak ada bedanya dengan si Pembunuh! Mengapa  anda begitu tega membiarkan orang tak bersalah menanggung  beban atas dosa yang tidak diperbuatnya! Apakah ini sikap Orang  Tua sejati? Pembunuh anaknya masih berkeliaran, kalian tahu dan membiarkan? Sungguh, apa kalian betul-betul Orang Tua  Karen?"      Nafasku  tersengal-sengal  seusai berbicara, cukup  sulit mengatakan kejujuran  dibawah tekanan ketakutan. Simon  memandangiku, tampak bangga. Pasangan  Kendrall membisu sesaat melihat keberanianku, aku  bisa merasakan mereka luluh juga melalui kepedihan  didalam bola mata mereka.      Mrs. Kendrall  menghembuskan nafas  panjang, dia menutup mata  seakan menyerah. “ Baiklah, akan  kukatakan pada kalian yang sejujurnya"  matanya membuka lagi. Dia bangkit dari duduk  sambil menggengam erat lengan kananku. “ Tapi bersumpahlah  padaku, kalian akan menemukan pembunuh putri kami!"      Kutatap  wajahnya lurus-lurus. “ Karen  dan aku mengenal cukup baik sejak  kecil, apa anda juga bisa membayangkan  perasaanku melihat dia mati dalam kondisi seperti  itu? "      Mrs. Kendrall  terlihat puas pada  jawabanku. Akhirnya untuk  pertamakalinya wanita itu bisa  tersenyum. “ Terimakasih Tish" bisiknya.      Aku  mengangguk  dan Mrs. Kendrall  kembali ketempatnya. Kami  semua duduk berhadap-hadapan, menunggu  dengan sabar sampai pasangan Suami Istri  ini siap bersuara.      “ Kami  mendapat  telpon sore  itu di Hotel, suara  seorang pria. Dari aksen  britishnya aku  langsung  tahu dia berkebangsaan  Inggris atau mungkin orang Eropa. Pria  ini memberitahu kami jika nyawa putri  kami takkan bertahan sampai matahari terbit, setelah  itu dia menutup telponnya. Pada awalnya kami tak menggubris  dan menganggap perbuatan iseng putri kami, namun hal sama berulang  setiap satu jam sekali. Dan tepat pukul tujuh malam waktu Berlin, ponselku  dihubungi nomor rumah, saat kuangkat hanya ada isakan tangis serta jeritan Karen  meminta pertolongan, panik kami segera memesan tiket pulang malam itu juga. Saat diperjalanan  menuju bandara pria asing tersebut menelpon lagi, untuk terakhir kalinya memperdengarkan suara Karen  yang ternyata adalah ucapan perpisahannya”      Mr. Kendrall  berhenti bercerita, dia  menangkupkan kedua tangan  didepan wajah dan mulai terisak  kencang. Istrinya memeluknya erat, memberikan  kekuatan. Harus kuakui Mrs. Kendrall salah satu  perempuan terkuat yang pernah kutemui.      “ Saat  kami pulang   keadaan sudah sangat  kacau, Pattrick ada disamping  mayat Karen. Dia bersumpah bukan  dia pelakunya dan kami percaya. Kami  menceritakan kejadian tentang si penelpon  misterius, diluar dugaan Pattrick malah mengambil  pisau lalu meminta kami menghubungi polisi. Meski bingung  kami mengikuti permainannya, katanya ‘ Cuma ini satu-satunya cara  agar kami terbebas' anak itu bersikeras kalau pembunuh Karen mengincarnya  serta berusaha menjebaknya" Mrs. Kendrall berhenti bicara untuk mengambil nafas.      Mataku  melebar dipenuhi  ketidak percayaan. Jadi  Pattrick sengaja menjadikan  dirinya pelaku pembunuhan? Tapi  atas alasan apa? Aku merasa bisa  gila sebentar lagi.      Mrs. Kendrall  mengeluarkan sesuatu  dari dalam laci meja  dan memberikannya pada Simon. “ Ini  bukan milik Karen, kurasa pelakunya tanpa  sengaja meninggalkan. Kuharap bisa membantu kalian"        Mata  Simon berkilat  marah, tangannya menggengam  erat gelang keperakan tersebut  seakan ingin menelannya. “ Tentu saja, akan  kupastikan pelakunya mengalami penderitaan dua  kali dari yang Karen rasakan" suaranya dipenuhi  kebencian.       Kurasakan udara disekitarku  menjadi dingin dan saat kutatap  wajah Simon, berubah mengerikan. Ekspresi itu belum pernah kulihat sebelumnya. Hatiku mencelos dan mendadak aku merasa kalau dia tahu, apa arti dari gelang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD