“ Berhenti bermain petak umpet Simon! Beritahu aku siapa pelakunya. Aku yakin kamu sudah tahu melihatnya ekspresi anehmu saat mendapatkan benda itu. Sesungguhnya itu gelang apa?" tuntutku.
Kami sudah berada didalam mobil, perjalanan pulang. Setelah menerima gelang perak dipenuhi ukiran asing bagiku, dibagian dalamnya dari Mrs. Kendrall. Simon menjadi bertingkah aneh dan tak biasa.
Belum pernah seumur hidup aku melihat karakter Simon yang ini, menjadi pemarah, dipenuhi dendam, serta emosi dalam. Simon bahkan tak mengucapkan sepatah kalimatpun saat kami berpamitan pulang dari kediaman Kendrall, yang dia lakukan hanya memandangi gelang perak tersebut.
“ Simon! Tolong jawab aku!" teriakku frustasi.
Tapi Simon tetap diam seribu bahasa, bibirnya tertutup rapat sementara dia menyetir gila-gilaan. Alih-alih menuju rumah kami dia malah membelokkan mobil ke blok belakang, aku langsung tahu kemana arah tujuannya.
Simon memarkir mobil secara sembarangan didepan rumah Patt, tanpa menungguku dia melompat turun dan berlari menyusuri sangat cepat menyusuri halaman depan. Setibanya didepan pintu Simon menggedor pintu sembari meneriakkan nama Patt seperti orang gila. Untungnya aku berhasil menghentikannya sebelum dia menjebol sesuatu.
“ Simon hentikan!" bentakku menahan tangannya. “ Ada apa sebenarnya?! Mengapa kamu menjadi begini liar"
Pintu rumah dibuka, memperlihatkan sosok Patt yang hanya mengenakan jeans biru belel dan bertelanjang d**a. Tampak berantakan sambil mengucek-ucek matanya. Belum sempat dia memprotes karena kelakuan Simon, sebuah tinju berhasil melayang telak di pipi kanan Patt. Membuatnya tersungkur ketanah, kesadarannya kembali seutuhnya.
Aku menjerit tertahan, kudorong tubuh Simon kebelakang sebelum dia berhasil mem-berikan pukulan ke tubuh Patt lagi. "Berhenti Simon Tuddington! Atau kamu akan menyesal seumur hidup!" Aku mengamui. Berusaha menyadarkannya.
Kemarahanku seperti mantra baginya. Simon berdiri ditempat menahan pukulan diudara, dadanya naik turun karena emosi, kuperhatikan adrenalin yang mengalir kencang diwajahnya mengendur perlahan, ekspresinya sedikit melembut.
Patt bangkit lalu berdiri disampingku. “ Apa kamu sudah gila?!" teriaknya pada Simon.
Pemuda itu tak menjawab, dia mengeluarkan gelang perak dari saku jeansnya kepada Patt. Sambil melotot dia berkata sinis. “ Masih ingat benda itu?!"
Patt berjalan perlahan untuk mengambil gelang perak dari tangan Simon, kuperhatikan tubuhnya sedikit gemetar. Bahunya turun “ Darimana kamu......” pertanyaanya terhenti, matanya tampak sangat putus asa.
“ Keluarga Kendrall memberikannya padaku. Jadi, sampai kapan kamu mau menanggung semuanya sendirian lagi?!" Simon sangat amat marah. “ Apa sampai tubuhmu ditemukan tergantung tak bernyawa!"
“ Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan!" potongku berani. Kekesalan karena tak dianggap melandaku.
“ Ini bukan urusanmu Tish!" tukas Patt kasar.
“ Oh, tentu saja ini menjadi urusanku! Aku sudah terlanjur terlibat meskipun kamu tidak mau, aku baru tak mau tahu jika diriku didepak selamanya dari kehidupan kalian!" ancamku.
Simon melirikku. “ Tish benar, dia pantas tahu kebenarannya"
“ Tidak!! Apa kamu sudah gila!" bentak Patt marah.
“ YA!" balas Simon, dengan berani menantang Patt lalu mendekatiku. “ Namanya gelang pemilik Tish, benda itu sangat berharga bagi kami dulunya karena itu menandakan kepemilikian kami atas seorang Pemimpin…"
Patt mengerang marah, dia berbalik dan menarik kerah baju Simon. “ Kubilang hentikan! Dia tak berhak tahu dan tak boleh! Apa kamu mau selamanya Tisha menderita! Karena itukan tujuan kita selama ini, MELINDUNGINYA!"
“ Cukup Patt!!" aku maju dan mendorong tubuh Patt hingga melepaskan Simon. “ Jangan pernah menjadikan alasan keselamatanku untuk menutupi kepengecutanmu!"
Kupandangi kedua sahabatku dengan wajah terluka. “ Kalau kalian tak mau memberitahuku tak masalah, aku bisa mencari tahu sendiri! Dan ingat, jangan pernah minta aku tak ikut campur jika masih menginginkanku!"
Tanpa sepatah kata lagi aku membalikkan badan dan berlari keluar dari rumah Blaze. Aku masih mendengar teriakan Patt serta kemarahan Simon padanya, namun tak ada satupun dari mereka yang cukup bodoh untuk menyusulku saat ini. Mereka terlalu memahami diriku.
Dalam hati bersumpah, apapun rahasia yang mereka miliki aku akan membongkarnya tanpa atau dengan bantuan mereka. Lagipula aku sudah terlanjur berjanji pada Mrs. Kendrall untuk menangkap pembunuh asli putrinya. Penyelidikan akan kumulai dari awal,
Dan semuanya dimulai dari Gelang pemilik...