KABUT HITAM.

1036 Words
     Segenap  alam ikut  berduka kala  pemakaman Karen, menurut  Eliza sungguh bukan hal bagus  dalam kurun waktu kurang dari seminggu  sudah terjadi dua kali upacara pemakaman. Hanya  saja kisah Karen adalah sesuatu yang berbeda, setidaknya  kota kami menjadi terkenal karena kasusnya.      Seluruh  media baik  cetak ataupun  online berlomba-lomba  mengangkat berita kematian  Karen. Paman Ben sudah memenuhi  janjinya untuk mengembalikan nama  baik Patt, dan keluarga Kendrall juga  telah mencabut tuntutan mereka pada Patt  serta meminta maaf secara tertulis. Dengan begitu  penyelidikan pelaku pembunuhan Karen Kendrall telah  resmi dibuka.        Kasus  mutilasi  terhadap gadis  muda berumur duapuluh tahun  disebuah kota kecil dibarat Pennysylvania  telah membuat kota kami mendadak kebanjiran  turis, baik dari kalangan wartawan atau jurnalis, hingga  orang iseng yang sekedar ingin tahu. Hanya pemilik restauran  dan Hotel yang merasakan dampak positifnya, pendapatan mereka merangkak  drastis meski bukan musim liburan.      Gerbang  luar Gereja  telah penuh sesak  oleh media, satu barikade  polisi menjaga sisi luar halaman, sementara  sisanya membaur menjadi satu bersama pelayat. Menurut  hipotesis Paman Ben, ada kemungkinan pelaku sebenarnya ikut  datang hari ini.      “ Rasanya  seperti berada  dalam film Jack  reapers" bisik  Simon yang  berusaha mensejajariku. Tampak  tampan dalam busana berduka dan  aroma citrus bodywashnya. Alisku naik  keatas saat melihatnya.       “ Oh  ayolah  Tish, jangan  bilang kamu masih  marah padaku" tukasnya  memohon.      Aku  menggelengkan  kepala. “ Kamu tahu  kalau aku paling tidak  bisa mendiamkanmu berlama-lama" seulas  senyum tipis kuberikan padanya.      Simon  menjadi  lebih bersemangat. “ Bagus. Karena  aku sudah memutuskan untuk menceritakan  segalanya padamu meskipun Patt tidak bakal  suka" dia berbisik cepat ditelingaku, membuat seluruh  bulu halusku berdiri.      Aku  menegakkan  tubuh, mataku  menelisiknya serius. Simon  tak pernah berbohong dan selalu  menepati janjinya. Senyum lebarku mengembang. “ Jangan  pernah merahasiakan apapun lagi dariku " ancamku.      Simon  mengangguk  memberi kepastian. Kami  berjalan bersama menyusul  keluargaku yang sudah memasuki  Gereja, ruang kebaktian utama telah  tumpah oleh para pelayat, saat mataku  mencari-cari keberadaan Dad diantara kerumunan  sebuah tangan gempal menepuk pundakku. Terkejut, aku  menoleh cepat, menemukan sosok kekar David Tuddington  dan wajah tegas Juliete.      “ Dave...” bisikku  senang.       Ayah  Simon memberiku  pelukan lebar. “ Maafkan  kami karena terlambat menghadiri pemakaman  Mark, aku harus mengurus masalah yang terjadi  di pabrik Chicago”      “ Tak  masalah, kehadiran  Simon sudah cukup mewakili  kalian" jawabku saat kami melepaskan  pelukan.      “ Aku  sudah mendengar  beritanya, mengerikan. Bagaimana  mungkin mereka bisa mengkambing hitamkan  orang begitu saja, kasihan Pattrick, anak malang" kata  Juliete, berusaha mengalahkan kebisingan disekitar kami.      Aku  tersenyum  pada wanita  itu, Tuddington  memang selalu bisa  diandalkan. Mereka adalah  salah satu contoh orang kaya  yang tidak memandang seseorang melalui  statusnya, berpikiran terbuka, dan bisa melihat  sisi positif dari seseorang. Semua orang elite harusnya mencontoh  mereka.      Kami  bertemu  keluargaku  didalam aula  besar Gereja, pasangan  Tuddington langsung sibuk  berbincang dengan Dad dan Eliza, sementara  aku dan Simon memanfaatkannya untuk mencari  keberadaan Patt.      “ Apa  dia tidak  datang?" bisikku  pada Simon disela-sela  kerumunan. Mataku menjelajahi  puluhan pelayat yang bertumpuk  jadi satu, hawa dingin diluar akibat  kabut dan hujan dikalahkan oleh suhu tubuh  kumpulan manusia didalam sini.      “ Kuharap  dia datang. Bagaimanapun  juga Patt sudah tidak lagi  dijadikan tersangka" timpal Simon.       Akhirnya  dia menarik  tanganku dan mengajakku  duduk dibarisan keempat sisi  kanan dari belakang. Diantara keluargaku  dan kedua Orangtuanya.     Neil yang  memimpin khotbah  acara pagi ini, entah  mengapa pemakaman Karen  terasa jauh lebih suram dan  menyedihkan daripada saat Mark. Aku  mengingat Karen sebagai gadis penuh semangat  tak pantang menyerah, kami berteman cukup akrab  sejak TK meskipun waktuku banyak tersita untuk bersama  Patt dan Simon.       Dengan  wajah cantik, rambut  pirang dilengkapi kepercayaan  diri dia mampu memacari siapapun  ketika kami beranjak SMP, tapi satu-satunya  pemuda yang dia taksir sejak dulu hanyalah Patt, karena  itu aku tak terlalu terkejut ketika Patt memberitahuku mereka  akhirnya berpacaran. Meskipun aku tahu alasan Patt menerima Karen  karena ketidak beradaanku di kota ini.      Dari  kejauhan  kulihat peti  mati Karen telah  ditutup rapat sebelum  para pelayat datang, pasangan  Kendrall bersikeras untuk tak memperlihatkan  jasad putri mereka meskipun tim medis telah  mengutuhkan Karen. Aku bisa memahami keinginan Mr. dan  Mrs. Kendrall yang menginginkan anak mereka tetap dihormati  hingga akhir.      Seusai  acara pemberian  kalimat perpisahan  terakhir dari pihak  keluarga dan kerabat Karen  yang dipenuhi drama karena Mrs. Kendrall  sempat jatuh pingsan, prosesi penguburan tetap  bisa dilakukan dengan lancar. Hujan deras serta  kabut tebal tak melemahkan niat para pelayat untuk  tetap memberikan penghormatan terakhir mereka.       Saat  aku dan  Simon sedang  melemparkan bunga  mawar putih ke makam  Karen, kulihat sekelebatan  bayangan sosok Patt dari kejauhan. Tersembunyi  diantara pepohonan, ditutupi payung hitam sewarna  baju dan jaket kulitnya.      Aku  bergerak  keluar dari  kerumunan perlahan, berusaha  berhati-hati agar tak ada yang  mengetahui kepergianku terutama Simon. Patt  sudah akan berbalik pergi saat aku tiba ditempatnya. Aku  menarik lengan Patt sehingga tubuh kami berdua berhadapan, dia  cukup terkejut melihatku. “ Kenapa harus bersembunyi?" tuntutku.      Patt  menggeleng  sedih. “ Kehadiranku  hanya akan merunyamkan  semuanya"      “ Itu  tidak benar"  bantahku. “ Tidak  ada satupun orang  yang berhak memandangmu  jelek seenaknya!"       “ Trims  Tish, aku  berharap semua  orang bisa melihatku  seperti kamu memandangku” suara  Patt terdengar parau.      Aku  tak kuat  melihat rasa  putusasanya, kesedihan  akibat penolakan, kesepian  karena ketidakpercayaan sekitar  padanya. Kuletakkan tangan kananku  diatas bahunya, mata hijau cemerlangnya  menusukku intens. “ Jangan takut ya, kamu  tahu aku akan selalu berada disisimu"       Mendadak  kesedihan sirna  dari raut wajahnya, Patt  tersenyum liar. “ Aku tahu, itu  sebabnya aku mencintaimu Tish"      Tanpa  diduga Patt  menjatuhkan payungnya  dan menarikku ketubuhnya, bibir  kami saling bertemu, tekanan lembut  serta hawa panas darinya mencairkan seluruh  kebekuan yang sejak tadi kurasakan ketika pemakaman.      Tak  mempedulikan  air yang mengguyur  tubuh kami, aku membiarkan  keindahan ini berlangsung cukup  lama. Saat Patt melepaskan diri, dia  tertawa cukup keras, aku bersyukur dia  sudah kembali seperti semula.      “ Dan  sekarang  aku membuatmu  basah" katanya geli, menatapku.      “ Maksudmu  ‘membuat kita  ‘ basah" kataku  membenarkan. Aku menunduk  untuk mengambil payung saat  menyadari langkah seseorang dibelakangku.      “ Disini  kalian rupanya “     Suara  Simon nyaris  membuatku jantungan, aku  menoleh kebelakang, berusaha  tak memikirkan hal buruk. Takut  kalau-kalau dia melihat kejadian antara  aku dan Patt barusan. Tapi melihat ekspresi  tenangnya, kurasa dia tak mengetahui apapun.      “ Dan  kenapa kalian  basah kuyup?" Simon  bertanya dengan mulut  terkatup, alis turun, serta  mata memincing.      “ Kami  sedikit bertengkar" jawab  Patt datar, dia mengambil payung  miliknya lalu berkata pada kami berdua. “ Ayo, kita  pergi dari sini. Kabutnya mendadak menjadi terlalu hitam" sengaja  memberikan  penekanan pada  kata terakhir.     Patt  dan Simon  berpandangan  penuh makna, seakan  sedang berbicara melalui  pikiran. Simon menangguk, mendadak  raut wajahnya tegang. Karena merasakan  keganjilan kuikuti mereka kearah parkiran  tanpa membantah.     Simon  sedang berusaha  menggandengku saat  sesuatu melompat kearah  kami dengan cepat, mendadak, dan......     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD