Segenap alam ikut berduka kala pemakaman Karen, menurut Eliza sungguh bukan hal bagus dalam kurun waktu kurang dari seminggu sudah terjadi dua kali upacara pemakaman. Hanya saja kisah Karen adalah sesuatu yang berbeda, setidaknya kota kami menjadi terkenal karena kasusnya.
Seluruh media baik cetak ataupun online berlomba-lomba mengangkat berita kematian Karen. Paman Ben sudah memenuhi janjinya untuk mengembalikan nama baik Patt, dan keluarga Kendrall juga telah mencabut tuntutan mereka pada Patt serta meminta maaf secara tertulis. Dengan begitu penyelidikan pelaku pembunuhan Karen Kendrall telah resmi dibuka.
Kasus mutilasi terhadap gadis muda berumur duapuluh tahun disebuah kota kecil dibarat Pennysylvania telah membuat kota kami mendadak kebanjiran turis, baik dari kalangan wartawan atau jurnalis, hingga orang iseng yang sekedar ingin tahu. Hanya pemilik restauran dan Hotel yang merasakan dampak positifnya, pendapatan mereka merangkak drastis meski bukan musim liburan.
Gerbang luar Gereja telah penuh sesak oleh media, satu barikade polisi menjaga sisi luar halaman, sementara sisanya membaur menjadi satu bersama pelayat. Menurut hipotesis Paman Ben, ada kemungkinan pelaku sebenarnya ikut datang hari ini.
“ Rasanya seperti berada dalam film Jack reapers" bisik Simon yang berusaha mensejajariku. Tampak tampan dalam busana berduka dan aroma citrus bodywashnya. Alisku naik keatas saat melihatnya.
“ Oh ayolah Tish, jangan bilang kamu masih marah padaku" tukasnya memohon.
Aku menggelengkan kepala. “ Kamu tahu kalau aku paling tidak bisa mendiamkanmu berlama-lama" seulas senyum tipis kuberikan padanya.
Simon menjadi lebih bersemangat. “ Bagus. Karena aku sudah memutuskan untuk menceritakan segalanya padamu meskipun Patt tidak bakal suka" dia berbisik cepat ditelingaku, membuat seluruh bulu halusku berdiri.
Aku menegakkan tubuh, mataku menelisiknya serius. Simon tak pernah berbohong dan selalu menepati janjinya. Senyum lebarku mengembang. “ Jangan pernah merahasiakan apapun lagi dariku " ancamku.
Simon mengangguk memberi kepastian. Kami berjalan bersama menyusul keluargaku yang sudah memasuki Gereja, ruang kebaktian utama telah tumpah oleh para pelayat, saat mataku mencari-cari keberadaan Dad diantara kerumunan sebuah tangan gempal menepuk pundakku. Terkejut, aku menoleh cepat, menemukan sosok kekar David Tuddington dan wajah tegas Juliete.
“ Dave...” bisikku senang.
Ayah Simon memberiku pelukan lebar. “ Maafkan kami karena terlambat menghadiri pemakaman Mark, aku harus mengurus masalah yang terjadi di pabrik Chicago”
“ Tak masalah, kehadiran Simon sudah cukup mewakili kalian" jawabku saat kami melepaskan pelukan.
“ Aku sudah mendengar beritanya, mengerikan. Bagaimana mungkin mereka bisa mengkambing hitamkan orang begitu saja, kasihan Pattrick, anak malang" kata Juliete, berusaha mengalahkan kebisingan disekitar kami.
Aku tersenyum pada wanita itu, Tuddington memang selalu bisa diandalkan. Mereka adalah salah satu contoh orang kaya yang tidak memandang seseorang melalui statusnya, berpikiran terbuka, dan bisa melihat sisi positif dari seseorang. Semua orang elite harusnya mencontoh mereka.
Kami bertemu keluargaku didalam aula besar Gereja, pasangan Tuddington langsung sibuk berbincang dengan Dad dan Eliza, sementara aku dan Simon memanfaatkannya untuk mencari keberadaan Patt.
“ Apa dia tidak datang?" bisikku pada Simon disela-sela kerumunan. Mataku menjelajahi puluhan pelayat yang bertumpuk jadi satu, hawa dingin diluar akibat kabut dan hujan dikalahkan oleh suhu tubuh kumpulan manusia didalam sini.
“ Kuharap dia datang. Bagaimanapun juga Patt sudah tidak lagi dijadikan tersangka" timpal Simon.
Akhirnya dia menarik tanganku dan mengajakku duduk dibarisan keempat sisi kanan dari belakang. Diantara keluargaku dan kedua Orangtuanya.
Neil yang memimpin khotbah acara pagi ini, entah mengapa pemakaman Karen terasa jauh lebih suram dan menyedihkan daripada saat Mark. Aku mengingat Karen sebagai gadis penuh semangat tak pantang menyerah, kami berteman cukup akrab sejak TK meskipun waktuku banyak tersita untuk bersama Patt dan Simon.
Dengan wajah cantik, rambut pirang dilengkapi kepercayaan diri dia mampu memacari siapapun ketika kami beranjak SMP, tapi satu-satunya pemuda yang dia taksir sejak dulu hanyalah Patt, karena itu aku tak terlalu terkejut ketika Patt memberitahuku mereka akhirnya berpacaran. Meskipun aku tahu alasan Patt menerima Karen karena ketidak beradaanku di kota ini.
Dari kejauhan kulihat peti mati Karen telah ditutup rapat sebelum para pelayat datang, pasangan Kendrall bersikeras untuk tak memperlihatkan jasad putri mereka meskipun tim medis telah mengutuhkan Karen. Aku bisa memahami keinginan Mr. dan Mrs. Kendrall yang menginginkan anak mereka tetap dihormati hingga akhir.
Seusai acara pemberian kalimat perpisahan terakhir dari pihak keluarga dan kerabat Karen yang dipenuhi drama karena Mrs. Kendrall sempat jatuh pingsan, prosesi penguburan tetap bisa dilakukan dengan lancar. Hujan deras serta kabut tebal tak melemahkan niat para pelayat untuk tetap memberikan penghormatan terakhir mereka.
Saat aku dan Simon sedang melemparkan bunga mawar putih ke makam Karen, kulihat sekelebatan bayangan sosok Patt dari kejauhan. Tersembunyi diantara pepohonan, ditutupi payung hitam sewarna baju dan jaket kulitnya.
Aku bergerak keluar dari kerumunan perlahan, berusaha berhati-hati agar tak ada yang mengetahui kepergianku terutama Simon. Patt sudah akan berbalik pergi saat aku tiba ditempatnya. Aku menarik lengan Patt sehingga tubuh kami berdua berhadapan, dia cukup terkejut melihatku. “ Kenapa harus bersembunyi?" tuntutku.
Patt menggeleng sedih. “ Kehadiranku hanya akan merunyamkan semuanya"
“ Itu tidak benar" bantahku. “ Tidak ada satupun orang yang berhak memandangmu jelek seenaknya!"
“ Trims Tish, aku berharap semua orang bisa melihatku seperti kamu memandangku” suara Patt terdengar parau.
Aku tak kuat melihat rasa putusasanya, kesedihan akibat penolakan, kesepian karena ketidakpercayaan sekitar padanya. Kuletakkan tangan kananku diatas bahunya, mata hijau cemerlangnya menusukku intens. “ Jangan takut ya, kamu tahu aku akan selalu berada disisimu"
Mendadak kesedihan sirna dari raut wajahnya, Patt tersenyum liar. “ Aku tahu, itu sebabnya aku mencintaimu Tish"
Tanpa diduga Patt menjatuhkan payungnya dan menarikku ketubuhnya, bibir kami saling bertemu, tekanan lembut serta hawa panas darinya mencairkan seluruh kebekuan yang sejak tadi kurasakan ketika pemakaman.
Tak mempedulikan air yang mengguyur tubuh kami, aku membiarkan keindahan ini berlangsung cukup lama. Saat Patt melepaskan diri, dia tertawa cukup keras, aku bersyukur dia sudah kembali seperti semula.
“ Dan sekarang aku membuatmu basah" katanya geli, menatapku.
“ Maksudmu ‘membuat kita ‘ basah" kataku membenarkan. Aku menunduk untuk mengambil payung saat menyadari langkah seseorang dibelakangku.
“ Disini kalian rupanya “
Suara Simon nyaris membuatku jantungan, aku menoleh kebelakang, berusaha tak memikirkan hal buruk. Takut kalau-kalau dia melihat kejadian antara aku dan Patt barusan. Tapi melihat ekspresi tenangnya, kurasa dia tak mengetahui apapun.
“ Dan kenapa kalian basah kuyup?" Simon bertanya dengan mulut terkatup, alis turun, serta mata memincing.
“ Kami sedikit bertengkar" jawab Patt datar, dia mengambil payung miliknya lalu berkata pada kami berdua. “ Ayo, kita pergi dari sini. Kabutnya mendadak menjadi terlalu hitam" sengaja memberikan penekanan pada kata terakhir.
Patt dan Simon berpandangan penuh makna, seakan sedang berbicara melalui pikiran. Simon menangguk, mendadak raut wajahnya tegang. Karena merasakan keganjilan kuikuti mereka kearah parkiran tanpa membantah.
Simon sedang berusaha menggandengku saat sesuatu melompat kearah kami dengan cepat, mendadak, dan......