Kekacauan.
Adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Seekor serigala paling besar, dan kemungkinan terjelek yang pernah kulihat dalam hidupku muncul!
Disini!
Didalam area pemakaman!
Selama beberapa saat kurasa duniaku membeku.
Aku bisa mendengar gerakan tetesan embun jatuh ketanah.
Derap kaki puluhan orang dibagian depan pemakaman.
Suara desing kumbang atau kepakan sayap kupu-kupu.
Kuperhatikan serigala berbulu hitam didepanku, bekas luka memanjang dari area mata hingga wajahnya menambah kengerian atas sosoknya, kaki dan bagian perutnya dipenuhi luka yang sudah separuh sembuh. Moncong panjangnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Simon.
Simon......
Angin menampar keras pipiku. Seketika aku tersadar karena jeritan Simon.
“ Kenapa diam saja! Cepat pergi dari sini!! Patt bawa dia!" teriak Simon dengan nada marah serta memerintah yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Patt, berdiri dihadapanku, menangguk mengerti. Dia menarik tubuhku yang masih terjengkang ditanah memandangi Simon dan si serigala dalam jarak tak lebih dari lima meter dariku.
Aku baru sepenuhnya pulih ketika merasakan cengkraman kuat dan gerakan kasar Patt mendorongku untuk berlari. Si serigala memperhatikan gerakan kami, dia menoleh siap mengejar namun gertakan dari Simon mengalihkan perhatiannya lagi, dan itu cukup memberikan waktu bagi Simon untuk kabur. Masuk kedalam hutan yang berbatasan dengan halaman belakang pemakaman.
“ Apa yang dia lakukan!" jeritku mencoba memberikan perlawanan pada Patt.
Saat melihat serigala itu mengejar Simon kedalam hutan barulah aku paham apa yang tengah dia lakukan. Jantungku rasanya amblas kebawah perutku.
Dengan sekuat tenaga aku berhasil melepaskan diri dari Patt, tanpa berpikir dua kali langsung mengejar Simon. Aku tak mempedulikan teriakan mengancam Patt, satu-satunya yang ada dalam otakku adalah Simon dan nyawanya dalam bahaya.
Jejak Simon membawaku sampai perbatasan sisi luar hutan yang menghilang pada jalan bercabang tiga dibagian hutan dalam. Patt berhasil mengejarku, dia menarik bahuku hingga menghadap tubuhnya, wajahnya sangat marah.
“ Apa kamu sudah gila?!" bentaknya tepat dimukaku.
Kepalaku mendidih karena emosi. “ Kamu tak melihat tadi? Serigala itu mengejar Simon masuk kedalam hutan! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya!" erangku marah
“ Demi Tuhan Tish mengapa kamu tidak paham juga! Simon ingin kita mencari bantuan selagi dia menjadi pengalih perhatian, kalau tidak berapa banyak korban bisa jatuh karena ulah makhluk b******k itu dipemakaman tadi! Dan sekarang usahanya jadi sia-sia akibat sikap bodohmu!" Patt sangat frustasi.
Hatiku mencelos, kangguru didalam perutku terjungkal jatuh kebawah, pipiku memerah malu, saat batinku memaki diri sendiri.
“ Maaf, aku tidak mengerti kalau....” kalimat penyesalanku tertahan diujung lidah karena Patt telah mengentakkan tangan serta setengah menyeretku.
“ Kita harus segera pergi dari sini, terlalu berbahaya. Aku yakin Simon akan baik-baik saja dia sudah cukup sering menghadapi makhluk buas saat kami berburu" tukasnya, kali ini nadanya lebih melembut.
Kali ini aku tak melawan, menyadari kesalahan besar yang kubuat. Mendadak hawa dingin aneh menyergap tengkukku, mengirimkan sinyal buruk ke kepalaku, hal sama juga dirasakan Patt. Punggungnya mendadak tegak, matanya setajam elang tampak awas, jalannya juga mulai melambat, dia berdiri persis didepanku tampak protektif.
“ Siapapun itu keluarlah!" teriakkan Patt menggema diseisi hutan.
Sedetik kemudian kerlipan sisa sinar matahari dari mendungnya awan meredup, kegelapan samar memenuhi seisi hutan, aura dingin dan kelam terangkat dari atas permukaan tanah, kabut hitam pekat turun menghalangi pandanganku. Saat itulah terdengar derap langkah pelan dikejuhan. Aku menangkap kecemasan menguar melalui gerakan kaku Patt didepanku, dia tampak seperti seorang pengawal yang coba memblokir segala hal buruk dari majikannya.
“ Tetap dibelakangku apapun yang terjadi, dan berjanjilah saat kusuruh pergi kamu harus menurut. Mengerti!" perintah Patt tanpa menolehkan kepalanya.
Kupererat jemariku dalam genggaman tangannya tanda mengiyakan, langkah kaki didepan kami terasa semakin dekat. Patt menyiapkan kuda-kuda didepan, sementara aku memaksakan mataku memperhatikan sekitar, kabut terlalu tebal membuatku tak bisa melihat apapun dan udara dingin mulai mengurunku dalam tembok ketakutan. Aku sadar kami terjebak.
Suara derap itu mendadak hilang, dari samping tubuhnya aku bisa melihat kekhawatiran Patt yang teramat sangat. Aku bisa mencium bau anyir darah menggantung disekitarku, bersamaan dengan itu angin penuh kelembapan menampar hidungku, kikikan tawa mengerikan memenuhi indra pendengaranku. Aku mendengar suara gaduh dari atasku dan ketika menengadah tiga buah bola merah raksasa meluncur cepat, terjatuh tepat didepanku. Patt mengerang keras, membuatku nyaris terlonjak kebelakang, tapi tangannya terlalu kuat dijemariku.
“ Pattrick Blaze, sudah sangat lama ya sejak pertemuan terakhir kita"
Suara serak bergaung, diikuti kemunculan tiga tubuh jangkung berdiri tegap dalam jarak sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku menyadari mereka adalah manusia dalam balutan terusan panjang jubah berwarna merah darah, wajah kesemuanya tertutupi tudung.
“ Maaf, aku sedang tidak ada waktu untuk bermain poker denganmu saat ini, Dex" kata Patt sinis, kurasa ditunjukkan untuk pemilik sosok suara serak yang berdiri ditengah.
Sosok bertudung merah disamping kanan pria bernama Dex itu tertawa, dari suaranya aku bisa menebak dia seorang perempuan.
“ Dan kamu pikir kami punya waktu untuk meladeni makhluk rendahan seperti dirimu" tukas perempuan bertudung tersebut dengan nada paling menghina yang bisa dilakukan seseorang kepada orang lain.
Patt mengernyitkan dagu. “ Halo Leigh, kamu pasti merindukanku mengingat pertemuan terakhir kita dirimu sangat ingin berada diatas tubuhku" ejek Patt tak kalah menyakitkan. Aku mendengus tertahan.
Sosok bertudung terakhir yang berdiri disisi kanan Dex mengertakkan gigi marah. Dari siluet tubuhnya aku bisa tahu badannya lebih besar daripada kedua temannya.
“ Jaga bicaramu Nak, kalau tak mau berakhir didalam perutku" erangannya menyerupai binatang kelaparan.
Patt tertawa merendahkan. “ Wajar saja Gus, mengingat kamu anjing mereka" telunjuknya menuding sosok Dex dan Leigh itu secara bergantian, dengan angkuh.
Dalam hati aku ingin mencengkram tubuh Patt. Siapapun ketiga orang ini, mereka pastilah ada hubungannya dengan masa lalu Patt, dan satu hal kata untuk menggambarkan mereka adalah. Berbahaya.
“ Dasar b******k! Sebaiknya kita habisi saja bocah tengik ini!" teriak Gus marah, dia mencoba maju, namun ditahan oleh gerakan kepala dari Dex.
“ Kita tidak boleh melukainya. Kedatangan kita kali ini dalam damai" Dex seakan mengingatkan.
Dari cara Gus kesal namun tetap menuruti perintah pria yang berbadan paling tinggi itu, tahulah aku kalau Dex memiliki kuasa atas mereka berdua.
“Kami tak ingin berduel denganmu. Kami datang secara baik-baik" Dex berdiplomasi.
Patt mendengus kesal. “ ‘Dalam damai?’ yang benar saja. Kehadiran kalian selalu diakhiri dengan darah tertumpah. Jadi tak usah basa-basi lagi!"
Leigh tertawa. “ Baiklah.Kami ingin gadis itu" tangannya menuding balik tubuh Patt.
Jantungku terasa melompat dari rongganya, Patt bergetar karena kemarahan.
“ Kalau begitu kalian harus berusaha sangat keras "