SOSOK-SOSOK BERTUDUNG MERAH.

982 Words
Kekacauan.      Adalah  kata yang  tepat untuk  menggambarkan kondisi  saat ini.     Seekor  serigala  paling besar, dan  kemungkinan terjelek  yang pernah kulihat dalam  hidupku muncul!      Disini!      Didalam  area pemakaman!      Selama  beberapa  saat kurasa  duniaku membeku.      Aku  bisa mendengar  gerakan tetesan embun  jatuh ketanah.      Derap  kaki puluhan  orang dibagian  depan pemakaman.      Suara  desing kumbang  atau kepakan sayap  kupu-kupu.      Kuperhatikan  serigala berbulu  hitam didepanku, bekas  luka memanjang dari area  mata hingga wajahnya menambah  kengerian atas sosoknya, kaki dan  bagian perutnya dipenuhi luka yang  sudah separuh sembuh. Moncong panjangnya  hanya berjarak beberapa centi dari wajah  Simon.       Simon......     Angin  menampar  keras pipiku. Seketika  aku tersadar karena jeritan  Simon.      “ Kenapa  diam saja! Cepat  pergi dari sini!! Patt  bawa dia!" teriak Simon dengan  nada marah serta memerintah yang  belum pernah kudengar sebelumnya.      Patt, berdiri  dihadapanku, menangguk  mengerti. Dia menarik tubuhku  yang masih terjengkang ditanah  memandangi Simon dan si serigala  dalam jarak tak lebih dari lima meter dariku.         Aku  baru sepenuhnya  pulih ketika merasakan  cengkraman kuat dan gerakan  kasar Patt mendorongku untuk berlari. Si  serigala memperhatikan gerakan kami, dia menoleh  siap mengejar namun gertakan dari Simon mengalihkan  perhatiannya lagi, dan itu cukup memberikan waktu bagi  Simon untuk kabur. Masuk kedalam hutan yang berbatasan dengan  halaman belakang pemakaman.      “ Apa  yang dia  lakukan!" jeritku  mencoba memberikan perlawanan  pada Patt.       Saat  melihat  serigala itu  mengejar Simon  kedalam hutan barulah  aku paham apa yang tengah  dia lakukan. Jantungku rasanya  amblas kebawah perutku.     Dengan  sekuat tenaga  aku berhasil melepaskan  diri dari Patt, tanpa berpikir  dua kali langsung mengejar Simon. Aku  tak mempedulikan teriakan mengancam Patt, satu-satunya  yang ada dalam otakku adalah Simon dan nyawanya dalam bahaya.       Jejak  Simon membawaku  sampai perbatasan  sisi luar hutan yang  menghilang pada jalan bercabang  tiga dibagian hutan dalam. Patt berhasil  mengejarku, dia menarik bahuku hingga menghadap  tubuhnya, wajahnya sangat marah.        “ Apa  kamu sudah  gila?!" bentaknya  tepat dimukaku.      Kepalaku  mendidih karena  emosi. “ Kamu tak  melihat tadi? Serigala  itu mengejar Simon masuk  kedalam hutan! Bagaimana jika  terjadi sesuatu padanya!" erangku  marah      “ Demi  Tuhan Tish  mengapa kamu  tidak paham juga! Simon ingin  kita mencari bantuan selagi dia  menjadi pengalih perhatian, kalau tidak  berapa banyak korban bisa jatuh karena ulah  makhluk b******k itu dipemakaman tadi! Dan sekarang  usahanya jadi sia-sia akibat sikap bodohmu!" Patt sangat  frustasi.      Hatiku  mencelos, kangguru  didalam perutku terjungkal  jatuh kebawah, pipiku memerah  malu, saat batinku memaki diri  sendiri.      “ Maaf, aku  tidak mengerti  kalau....” kalimat  penyesalanku tertahan  diujung lidah karena Patt  telah mengentakkan tangan serta  setengah menyeretku.      “ Kita  harus segera  pergi dari sini, terlalu  berbahaya. Aku yakin Simon akan  baik-baik saja dia sudah cukup sering  menghadapi makhluk buas saat kami berburu" tukasnya, kali  ini nadanya lebih melembut.      Kali  ini aku  tak melawan, menyadari  kesalahan besar yang kubuat. Mendadak  hawa dingin aneh menyergap tengkukku, mengirimkan  sinyal buruk ke kepalaku, hal sama juga dirasakan  Patt. Punggungnya mendadak tegak, matanya setajam elang  tampak awas, jalannya juga mulai melambat, dia berdiri persis  didepanku tampak protektif.      “ Siapapun  itu keluarlah!" teriakkan  Patt menggema diseisi hutan.      Sedetik  kemudian kerlipan  sisa sinar matahari  dari mendungnya awan meredup, kegelapan  samar memenuhi seisi hutan, aura dingin dan  kelam terangkat dari atas permukaan tanah, kabut  hitam pekat turun menghalangi pandanganku. Saat itulah  terdengar derap langkah pelan dikejuhan. Aku menangkap kecemasan  menguar melalui gerakan kaku Patt didepanku, dia tampak seperti seorang  pengawal yang coba memblokir segala hal buruk dari majikannya.      “ Tetap  dibelakangku  apapun yang terjadi, dan  berjanjilah saat kusuruh pergi  kamu harus menurut. Mengerti!" perintah  Patt tanpa menolehkan kepalanya.      Kupererat  jemariku dalam  genggaman tangannya  tanda mengiyakan, langkah  kaki didepan kami terasa semakin  dekat. Patt menyiapkan kuda-kuda didepan, sementara  aku memaksakan mataku memperhatikan sekitar, kabut terlalu  tebal membuatku tak bisa melihat apapun dan udara dingin mulai  mengurunku dalam tembok ketakutan. Aku sadar kami terjebak.        Suara  derap itu  mendadak hilang, dari  samping tubuhnya aku bisa  melihat kekhawatiran Patt yang  teramat sangat. Aku bisa mencium  bau anyir darah menggantung disekitarku, bersamaan  dengan itu angin penuh kelembapan menampar hidungku, kikikan  tawa mengerikan memenuhi indra pendengaranku. Aku mendengar suara  gaduh dari atasku dan ketika menengadah tiga buah bola merah raksasa  meluncur cepat, terjatuh tepat didepanku. Patt mengerang keras, membuatku nyaris  terlonjak kebelakang, tapi tangannya terlalu kuat dijemariku.      “ Pattrick  Blaze, sudah  sangat lama ya  sejak pertemuan terakhir  kita"  Suara  serak bergaung, diikuti  kemunculan tiga tubuh jangkung  berdiri tegap dalam jarak sekitar beberapa meter  dari tempatku berdiri. Aku menyadari mereka adalah  manusia dalam balutan terusan panjang jubah berwarna merah  darah, wajah kesemuanya tertutupi tudung.       “ Maaf, aku  sedang tidak  ada waktu untuk  bermain  poker  denganmu  saat ini, Dex" kata  Patt sinis, kurasa ditunjukkan untuk    pemilik sosok suara serak yang berdiri  ditengah.      Sosok  bertudung  merah disamping  kanan pria bernama  Dex itu tertawa, dari  suaranya aku bisa menebak  dia seorang perempuan.      “ Dan  kamu pikir  kami punya waktu  untuk meladeni makhluk  rendahan seperti dirimu" tukas  perempuan bertudung tersebut dengan  nada paling menghina yang bisa dilakukan  seseorang kepada orang lain.      Patt  mengernyitkan  dagu. “ Halo Leigh, kamu  pasti merindukanku mengingat  pertemuan terakhir kita dirimu  sangat ingin berada diatas tubuhku" ejek  Patt tak kalah menyakitkan. Aku mendengus tertahan.      Sosok  bertudung  terakhir yang  berdiri disisi kanan  Dex mengertakkan gigi marah. Dari  siluet tubuhnya aku bisa tahu badannya  lebih besar daripada kedua temannya.        “ Jaga  bicaramu  Nak, kalau  tak mau berakhir  didalam perutku" erangannya  menyerupai binatang kelaparan.      Patt  tertawa  merendahkan. “ Wajar  saja Gus, mengingat kamu  anjing  mereka" telunjuknya  menuding sosok Dex dan  Leigh itu secara bergantian,  dengan angkuh.      Dalam  hati aku  ingin mencengkram  tubuh Patt. Siapapun  ketiga orang ini, mereka  pastilah ada hubungannya dengan  masa lalu Patt, dan satu hal kata  untuk menggambarkan mereka adalah. Berbahaya.       “ Dasar  b******k! Sebaiknya  kita habisi saja bocah  tengik ini!" teriak Gus marah, dia  mencoba maju, namun ditahan oleh gerakan  kepala dari Dex.      “ Kita  tidak boleh  melukainya. Kedatangan  kita kali ini dalam damai" Dex  seakan mengingatkan.       Dari  cara Gus  kesal namun  tetap menuruti  perintah pria yang  berbadan paling tinggi  itu, tahulah aku kalau Dex  memiliki kuasa atas mereka berdua.       “Kami tak  ingin berduel  denganmu. Kami datang  secara baik-baik" Dex berdiplomasi.      Patt  mendengus  kesal. “ ‘Dalam  damai?’ yang benar  saja. Kehadiran kalian  selalu diakhiri dengan darah  tertumpah. Jadi tak usah basa-basi  lagi!"      Leigh  tertawa. “ Baiklah.Kami  ingin gadis itu" tangannya  menuding balik tubuh Patt.      Jantungku  terasa melompat  dari rongganya, Patt  bergetar karena kemarahan.       “ Kalau  begitu kalian harus  berusaha sangat keras "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD